OUR FUTURE (PART 4)

156834_302585579880904_932986076_n

 

Tittle :

Our Future (PART 4)

Author :

@yuuripico26

Art by :

Kwonzhuwie19

Cast

Choi Minho || Kwon Yuri || Choi Seunghyun

Lee Donghae || Im Yoona ||  Yoogeun

Support :

Sunny || Taeyeon || Hyoyeon

Lenght :

Chaptered

Genree :

Marriage Life – Romance – Family

Ratting :

PG-17

– READERS YANG BAIK PASTI NINGGALIN JEJAK :P

– TYPO IS AN ART OF WRITING

– HAPPY READING

Previous Chapter Di sini

***

          Minho memandang pantulan dirinya dengan serius sembari terus mengikat simpul dasinya, sesaat setelah dasinya sempurna tersimpul Minho melepasnya kembali seolah ikatan simpul yang tadi tidak menyenangkan hatinya. Minho melirik kecil ke arah tempat tidurnya, di sana ada seorang wanita dengan rambut tergerai indah tengah memperhatikannya dengan serius.

“Oy!” panggil Minho dengan bass tinggi, membuat wanita itu sedikit tersentak.

“Y-Ya?” sahutnya.

“Kau bisa mengikat dasi?” tanya Minho, membuat wanita itu mengernyit heran.

“Mengikat dasi?”

“Ya, aku harap kau tidak cukup bodoh untuk tidak mengerti pertanyaanku.”

“Bo-bodoh?!”  kaget Yuri sedikit protes halus saat mendengar Minho memanggilnya bodoh.

“Jangan terlalu banyak mengeluarkan perkataan bodoh, kau hanya perlu menjawab kau bisa atau tidak?” Yuri akhirnya mengangguk cepat, rasa ingin protesnya sudah hilang seketika ketika menyadari sikap tegas Minho.

“Bagus, kalau begitu kemarilah.”

Minho berdiri tegas di hadapan Yuri yang berjalan ragu mendekatinya. Diam, hanya itu yang di lakukan Yuri saat kini ia sudah berada di depan Minho. Jemarinya mempermainkan kuku-kukunya sendiri, pertanda dia sedang bingung untuk melakukan apa.

Minho menyadari kediaman Yuri. Di biarkannya suasana hening dalam 10 detik, sampai akhirnya ia mendengus kesal.

“Cepatlah! Hari ini aku harus tiba di kantor dengan cepat!” ketus Minho. Yuri seketika tersentak lalu dengan cepat mulai menyentuh kerah baju Minho.

Tuhan, apa yang harus ku lakukan? Menyimpulkan dasi sendiri saja aku tidak pernah bagaimana mungkin aku menyimpulkan dasi untuknya? Bodoh kau Kwon Yuri, kenapa kau tidak bilang saja kalau kau tidak bisa?  Tapi jika aku katakan kalau aku tidak bisa sekarang, dia pasti akan mengataiku bodoh lagi.

          “Oy! Cepatlah!”bentak Minho membuyarkan lamunan Yuri.

“I-iya!” sahut Yuri yang sedikit terkejut dan langsung menarik dasi Minho dengan sembarang. Membuat simpulan yang tadi di longgarkan Minho terjerat cukup kuat di lehernya.

“YA! Uhuk! Uhuk!” tangan Minho tanpa sengaja menepis tangan Yuri dari lehernya, dengan cepat Minho melonggarkan kembali dasi itu dan saat itu pula ia kembali terbatuk cukup kuat.

“K-kau tidak apa-apa?” tanya Yuri takut melihat wajah Minho yang sudah sangat merah. Yuri begitu terkejut saat Minho kembali menepis tangannya dan menatapnya tajam.

“Gadis bodoh! Kenapa kau menariknya dengan keras?! Apa kau tidak berfikir kalau aku bisa mati karena ulahmu?!!” umpat Minho begitu kesal. Yuri hanya dapat menunduk.

“Mi-mianhae.” katanya.

“Ah sudahlah! Aku benar-benar akan terlambat!” Minho melepas dasi yang melingkar pada lehernya dan dengan kasar mengambil tas kerjanya yang ada di atas tempat tidur. “Apa gadis bodoh sepertimu berniat membunuhku? Ouch!” Minho sedikit mengaduh lalu memegang lehernya pelan.

Yuri yang menyadari Minho sudah berjalan meninggalkan ruangan mencoba menyusul Minho.

“Hyung! Cepat kau nyalakan mobil, hari ini kita akan ada meeting bersama client dari kota sebelah!” titah Minho dengan terus berjalan cepat menuju pintu utama.

“Heh? Berangkat sekarang? Kau tidak sarapan dulu?” tanya Donghae yang tadi sibuk menyantap kopinya.

“Tidak ada waktu untuk itu.” Donghae akhirnya menurut dan langsung menyusul Minho.

“Kau benar-benar terburu sekali sepertinya. Bahkan memakai dasi saja kau tak sempat?” tanya Donghae saat dirinya sudah berada di belakang kemudi.

“Bukan begitu. Hanya saja aku sudah memakainya tadi, tapi…”

“Kau membukanya lagi karena melihat anaemu di pagi hari?” potong Donghae polos.

“Hah?!” heran Minho yang langsung menatap tajam pada Donghae.

“Hehe… Benarkah? Wah wah, wajahmu merah!” Minho hanya memasang ekspresi dinginnya menyambut candaan Donghae.

“Wajahku memang merah karena batuk saat gadis bodoh itu mencekikku! Sudahlah cepat jalan!” kesal Minho. Donghae akhirnya menjalankan mobil yang sudah lebih dulu ia panaskan tadi dengan kekehan yang tidak hilang, membuat Minho menutup telinganya.

Yuri menghela nafas saat melihat mobil Minho dan Donghae sudah menjauh. “Aku ini, benar-benar tidak berguna. Wajar saja jika dia berfikir aku hendak membunuhnya. Perbuatanku tadi sungguh jahat.”

Dengan pasrah Yuri melangkahkan kakinya menuju kamar Yoogeun. Senyum kecil terukir di bibirnya menyaksikan malaikat kecilnya masih tertidur dengan nyenyaknya Yuri mendekati tubuh mungil itu lalu mulai mengelus rambut-rambut hitam nan halus milik lelaki kecil itu. Tak lama mata Yuri beralih pada dua bingkai foto yang ada di atas nakas kecil dekat tempat tidur Yoogeun.

“Selamat pagi, Appa, Eomma.” kata Yuri pelan. tak lama suara ketukan kecil dari pintu terdengar, membuat Yuri berbalik ke arahnya.

“Yuri-nim, sarapannya sudah siap.” ucap Sunny sopan. Yuri tersenyum lalu mengangguk.

“Baik, aku akan segera kesana setelah Yoogeun bangun. Terimakasih.” katanya ramah dan di sambut oleh tundukkan sekilas Sunny.

Ah jinjja! Aku benar-benar seperti Nyonya besar di rumah ini, tapi sebenarnya aku merindukan kehidupanku yang dulu

Yuri menghela nafas sembari bertopang dagu, sampai kapan aku dan namja itu akan terikat? Omo! Bukankah kami belum membicarakan tenggang waktunya? Jinjja! Aku harus menanyakan hal itu padanya! Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting itu?

Tak lama ekspresi Yuri berubah menjadi ragu,tapi bagaimana cara membicarakannya? Ummm… Melihatnya membentakku tadi rasanya aku jadi sedikit takut untuk berbicara padanya.

***

          “Gadis bodoh!” umpat Minho sembari menyandarkan diri di kursi kebesarannya. Masih jelas di ingatannya saat dirinya harus memakai terburu dasinya di dalam mobil. Donghae yang kebetulan berada di ruangan Minho meliriknya kecil.

“Apa yang baru saja kau katakan?”

Minho menghembuskan nafas lelah, “tidak ada. Lakukan saja pekerjaanmu, Hyung.” Donghae mendengus kesal lalu kembali meringsutkan diri.

“Apa ada masalah?” tanya Donghae yang sedari tadi rupanya memperhatikan tingkah Minho.

“Anni.”  sahut Minho yang mulai menyentuh dokumen-dokumen di atas mejanya. Mencoba bersikap biasa.

Donghae ber-oh ria sembari mengangguk-angguk.

“Oh ya Minho, sebenarnya…”

“Hyung nanti kau harus menanyakan pada bagian pemasaran tentang rencana pengoperasian mereka lalu minta mereka melaporkannya padaku,” kata Minho tanpa melihat Donghae.

“Ok, nanti akan aku aku tanyakan. Sebenarnya…”

“Dan ini Hyung,  tanyakan pada bagian produksi. Aku rasa rincian pembiayaan mereka ada sedikit kesalahan. Minta pada mereka untuk memperbaikinya lalu laporkan kembali padaku.”

“YA! Choi Minho, apa kau tidak bisa diam sebentar?” kesal Donghae.

“Tidak bisa Hyung. Kita tidak ada waktu banyak. Beberapa hari lagi perusahaan ini tidak kupegang lagi, aku harus menyelesaikan seluruh laporan kerja kita.” kata Minho cuek dengan terus melakukan pekerjaannya. Donghae memanyunkan bibirnya.

“Kita? Aku rasa hanya kau saja yang tidak di sini lagi. Cih, aku tidak tahu kau bisa atau tidak menghandel Choi’s Property jika seperti ini.” ejek Donghae.

“Tentu saja aku tidak bisa sendirian. Oleh karena itu aku akan membawamu Hyung.”

“Aku tidak mau!” kata Donghae sembari membuang wajahnya.

“Mau tidak mau kau harus membantuku.” kata Minho cuek.

“Dasar bocah pemaksa! Ah jinjja, aku lupa hendak menanyakan apa padamu. Menyebalkan. Aku kembali ke ruanganku sekarang, jika ada perlu telepon saja.” kata Donghae sebelum meninggalkan Minho.

Minho mengangguk mengiyakan kata-kata Donghae.

Baru saja kembali menyandarkan tubuh, ponsel Minho bergetar. Minho melirik malas nama pemanggil pada layar ponselnya, namun tak lama matanya membesar.

Minho mengangkat telepon itu tanpa memberi salam lebih dulu.

“Minho?” panggil seseorang di seberang sana, mencoba meyakinkan jika Minho sudah benar-benar mengangkat telepon.

“Ya, ini aku. Ada apa, Seunghyun-hyung?”

“Aku hanya ingin menyampaikan pesan Haraboji.”

Minho mengernyitkan kening, “Haraboji?”

“Ya. Beliau memintamu untuk menemuinya segera. Sepertinya ada hal penting yang ingin Haraboji sampaikan padamu.”

“Apa harus aku menemuinya?”

“Terserah padamu.” Minho akhirnya menghela nafas panjang.

“Baiklah. Aku akan kesana setelah urusan kantorku selesai.” tanpa menunggu balasan dari sana, Minho sudah lebih dulu menutup sambungan telepon itu.

Minho menghela nafas. Tak lama Minho meraih telepon kerja dan menekan nomor pintas ke ruangan Donghae.

“Lee Donghae di sini.” sambut Donghae dari seberang sana.

“Hyung! Aku harus pergi sekarang. Aku bawa mobil dan kau pulanglah dengan taksi.”

“YA! Minho tung-”

Flip! Minho menutup sambungan telepon. Dengan cepat di sambarnya kunci mobil yang ada di atas meja dan ia pun segera keluar dari ruangannya.

***

          Seunghyun bernafas berat dan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.

“Apa yang Appa minta padamu?” Seunghyun sedikit tersentak saat tiba-tiba saja ada yang bersuara di belakangnya. Ia sedikit berbalik karena itu.

“Anni. Bukan sesuatu yang perlu saya beritahu pada Samchoon.” sahut Seunghyun mencoba menjaga suara.

“Benarkah? Tidak ada hubungannya dengan Choi’s Property?” lanjut Ji Hoon.

Seketika raut wajah Seunghyun berubah menjadi sarkatis. “Ada apa memangnya jika ini berhubungan dengan Choi’s Property? Aku heran kenapa orang-orang di sini selalu membicarakan perusahaan itu? Membosankan.” kata Seunghyun sembari mulai berlalu, meninggalkan Ji Hoon yang menatapnya datar.

“Aku tidak yakin jika kau diam saja saat Haraboji lebih memilih memberikan Choi’s Property pada bocah tengik itu dari pada memberikannya padamu.” Seunghyun berhenti, tentu saja tanpa berbalik pada Ji Hoon. Sekali lagi Seunghyun mencoba menarik nafas lalu membuangnya kasar.

“Aku tidak perduli akan hal itu. Aku dan Minho mempunyai kemampuan yang berbeda dan perlu Samchoon tau, aku lebih memilih konsentrasi pada apa yang aku jalani sekarang dari pada harus iri padanya. Tidak seperti orang-orang di rumah ini yang membencinya tapi selalu iri padanya.”

“Apa?!” Ji Hoon membentak, namun dia semakin terlihat kesal saat Seunghyun sudah jauh meninggalkannya.

“Sepertinya dia sudah mulai membangkang seperti bocah itu.” oceh Sunmi yang rupanya mendengar pembicaraan Ji Hoon dan Seunghyun. Ji Hoon hanya menghentakkan kakinya lalu pergi dari tempat itu.

***

          Deru mobil terdengar di depan gerbang besar berwarna putih, membuat dua bodyguard yang berjaga ketat di sana segera menghampiri mobil tersebut. Minho menurunkan kaca mobilnya membuat kedua penjaga itu segera menunduk patuh padanya sembari membukanya gerbang besar itu yang dapat terbuka otomatis.

“Rasanya sudah cukup lama aku tak datang kemari dengan sendiri.” kata Minho pelan. Mobil Minho berhenti tepat di depan pintu utama mansion keluarga utama Choi’s. Pengawal yang berjaga di pintu itu segera menghampiri Minho untuk membantu memarkir mobil Minho.

“Tidak perlu. Aku hanya sebentar di sini.” sergah Minho datar, membuat pengawal itu menurutinya segera.

Kini Minho sudah mulai melangkahkan kaki memasuki mansion megah milik keluarga Choi. Pandangan Minho tegas memandang ke depan tanpa ingin melihat ke arah lain.

Sepi, seperti biasa. hanya ada segelintir pelayan yang sibuk menyiapkan makan malam pada jam segini. Ya, memang lebih baik begitu dari pada ….

“Sedang apa kau di sini?” Sorot mata Minho seketika menjadi datar saat Sunmi muncul di hadapannya kini.

“Apakah aneh jika aku berada di sini?”

Sunmi menyilangkan tangannya di depan dada dan berjalan penuh ejekan ke arah Minho.

“Bukankah kau tidak pernah suka berada di sini? Dan oh ya.. Aku harap kau tidak lupa saat dirimu memilih keluar dari rumah ini untuk memulai hidup sendiri tanpa bergantung pada keluarga ini.”

Minho hanya diam tak ingin melawani Imo-nya tersebut.

“Imo, aku sedang tidak ada waktu untuk membahas itu. Aku harus segera bertemu Haraboji.” Minho berjalan melewati Sunmi tanpa memberi salam apapun.

“Cih, walau sudah menikah rupanya kau masih tidak sopan. Mungkin jika keturunan memang susah, dasar! Eomma dan anak sama saja!” Minho berhenti seketika mendengar itu, namun tak lama ia hanya tersenyum kecut lalu meneruskan jalannya. Bukankah dia sudah sering mendengar kata-kata itu itu sejak kecil dulu?

Minho tiba di lantai atas. Seperti biasa di depan kamar Haraboji ada beberapa pengawal pribadi yang menjaganya. Salah satu pengawal itu melihat kedatangan Minho lalu ia memberi isyarat pada Minho untuk menunggu sebentar dengan sebuah tundukkan.

Tak lama menunggu, pintu Haraboji terbuka, menampakkan salah satu bodyguard yang melapor tadi dan Seunghyun di belakangnya.

“Kau datang juga rupanya, memang benar ya, Kau itu penurut sekali jika pada Haraboji.” kata Seunghyun saat dirinya berada di dekat Minho.

“Apa aku sudah bisa bertemu Haraboji sekarang?” Seunghyun bergeser sedikit memberi jalan untuk Minho.

“Silahkan, Haraboji telah menunggumu sedari tadi.” Minho berjalan melalui Seunghyun bersamaan dengan itu, pintu Haraboji tertutup.

“Kau datang juga?” sambut Haraboji yang sudah duduk bersandar di atas tempat tidur king size miliknya.

“Apa Haraboji mengharapkanku untuk tidak datang?” sungut Minho sembari mendekati tempat tidur Haraboji.

“Tentu saja aku mengharapkanmu datang! Haha.” kekeh Haraboji. “Kau hanya sendiri?” Haraboji terlihat celingak-celinguk mencari sesuatu.

“Tentu saja aku hanya sendiri Haraboji. Memangnya siapa lagi yang Haraboji harapkan untuk datang?”

“Tentu saja cucu menantuku!”

“Karena Haraboji memanggilku dengan mendadak jadi aku tidak sempat pulang ke rumah untuk mengajaknya.”

“Ah kau benar, harusnya aku memanggilmu dari kemarin. Padahal aku merindukannya.” sesal Haraboji.

“Lalu, apa yang ingin Haraboji bicarakan?” tanya Minho to the point.

Ekspresi Haraboji mulai serius. “Mengenai itu…” Haraboji menggantung perkataannya sembari meraih setumpuk dokumen yang ada di atas nakasnya lalu menyerahkan semuanya pada Minho. Minho menerima itu dengan heran.

“Itu adalah semua laporan dan catatan perkembangan Choi’s Property selama dua tahun terakhir, tahun-tahun sebelumnya sudah ku minta sekretaris pribadiku untuk menyiapkannya. Bacalah dengan teliti sebelum senin kau sudah mulai bekerja di sana.”Minho memandang setumpuk dokumen itu dan membukanya perlahan. Minho sedikit tercengang melihat hasil pendapatan Choi’s Property yang terus meningkat dengan jumlah ber-kali lipat dari perusahaan yang ia pegang sekarang. Tak lama Minho menutupnya dengan pelan.

“Haraboji, bagaimana mungkin Haraboji mempercayakan perusahaan sebesar ini padaku? Bukankah Seunghyun-hyung lebih pantas untuk ini? Bukankah dia yang membantu Haraboji dalam memimpin perusahaan ini?”

Haraboji memandang Minho dengan tegas, memperlihatkan character kepemimpinannya. “Kau benar. Selama ini Seunghyun telah membantuku oleh karena itu aku mempercayakan semua perusahaan Choi’s Family untuk dia pantau, tapi untuk Choi’s Property berbeda.”

“Berbeda?”

“Ya mungkin tidak di katakan berbeda. Hanya saja Haraboji merasa kau lah yang pantas mengurus Choi’s Property.”

“Bukankah jika membicarakan pantas atau tidaknya itu juga lebih ke Seunghyun-hyung? Mengingat dia sering membantu Haraboji di Choi’s Property sudah pasti ia lebih tahu bagaimana seluk beluknya cara untuk meneruskan pekerjaan Haraboji.”

“Kau salah bocah. Walau Seunghyun sering memegang dokumen-dokumen penting Choi’s Property tapi tak sekali pun ia membacanya.”

Minho melebarkan matanya.

“Semua data penting di olah dan di pegang dengan baik oleh asisten pribadi sekaligus sekretarisku. Seunghyun hanya menjalankan tugas yang kuberi untuk memantau perusahaan tanpa berani campur tangan karena memang Haraboji tidak pernah memintanya untuk itu.” Haraboji kembali memandang Minho dengan tatapan teduhnya, “Bukankah beberapa hari lalu kau sudah setuju untuk memenuhi permintaan Haraboji? Bahkan di depan cucu menantuku kau menyetujuinya. Haraboji sangat berharap kau mampu meneruskan pekerjaan Harabojimu yang sudah renta ini.” rengek Haraboji dengan nada di buat-buat. Minho mengernyitkan kening melihat itu.

“Haraboji menjijikkan.” cetus Minho lalu di sambut kekehan hangat Haraboji. Tak lama Minho tersenyum pada Haraboji-nya. Senyum penuh kemenangan yang ia samarkan dari dengan senyum penuh kharismanya.

***

Minho berjalan pelan. Fikirannya terus di penuhi oleh permintaan Haraboji, di tangannya kini terlihat beberapa dokumen yang baru saja di serahkan oleh Haraboji untuknya.

“Oppa?!”

Minho berhenti sejenak dan berbalik kecil ke arah suara.

“Kyaaaaa Oppa! Akhirnya kau datang, aku merindukanmu!” Jinri berlari menghampiri Minho. Minho hanya tersenyum kecil menyambut adik sepupunya itu. “Oppa ada perlu apa kemari? Ingin bertemu Haraboji?”

Minho menggangguk, “Ya. Tapi sekarang urusanku sudah selesai dan harus pulang.”

“Pulang? Pulang kemana? Bukankah di sini juga rumah Oppa?”

Minho terkekeh garing mendengar itu.

“Tentu saja pulang ke rumahku sendiri.”

“Oppa, jangan pergi.” Jinri menahan tangan Minho. “Menginaplah di sini, bukankah sudah lama Oppa tidak menemaniku bercerita?”

Minho menjauhkan tangan Jinri dengan lembut darinya. “Kau lupa? Sekarang sudah ada yang menungguku di rumah. Jadilah anak baik.” Minho menepuk-nepuk kepala Jinri, walau terlihat tegas dan dingin, saat ini Minho benar-benar terlihat seperti seorang Kakak yang baik. Jinri menggembungkan pipinya kesal.

“Aku pergi dulu.” Minho mulai berbalik arah dan melanjutkan jalannya. Minho sempat melirik kecil pada seseorang yang baru saja berpapasan dengannya dari arah berlawanan, namun hanya sebentar sampai Minho kembali memandang ke depan.

“Yoona-unnie! Temani aku berbelanja sekarang! Moodku sedang jelek!” rengek Jinri.

“Pergilah dengan pelayan, aku sedang ada urusan.” tolak Yoona dengan terus berjalan melewati Jinri yang semakin terlihat kesal. Di samping semua itu Seunghyun memperhatikan mobil Minho yang sudah mulai menjauh dari kediaman Choi’s Family.

***

          Yuri duduk termenung di ruang tengah sembari mempermainkan kuku-kuku tangannya sendiri. Sesekali matanya melirik jam antik yang berdiri kokoh di sudut ruangan.

“Kenapa waktu berjalan begitu lama?” Yuri menghela nafas lelahnya, “rasanya aku hanya lelah melihat jam tanpa melakukan apapun.” Lamunan Yuri buyar saat mendengar suara deru mobil terdengar. Ia segera berdiri dan membuka sedikit tirai jendela.  Seketika kening Yuri mengernyit saat menyaksikan Donghae turun dari taksi.

“Noona, ada apa?” Yuri berbalik kecil dan mendapati Yoogeun sudah berada di dekatnya.

“Gwenchana chagi.” jawab Yuri sembari menepuk-nepuk kepala Yoogeun.

“Ah! Dasar bocah tengil tidak sopan! Menyebalkan!” Yuri dan Yoogeun serentak berbalik saat mendengar ocehan penuh emosi dari Donghae.

“Donghae-ssi? Ada apa?” tanya Yuri. Donghae menggembungkan pipinya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

Yuri terlihat memperhatikan Donghae dan sekitarnya serius, berusaha mencari sesuatu.

“Apa Minho sudah pulang? Aku harus buat perhitungan dengannya!” umpat Donghae. “Um, Yuri? Kau kenapa?” heran Donghae ketika melihat Yuri yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

Yuri menengadahkan kepalanya dan menggeleng sembari tersenyum pada Donghae, “tidak ada apa-apa.”

Donghae mendaratkan dirinya di atas sofa ruang tengah. Yoogeun dengan segera menghampiri Donghae.

“Donghae-hyung ayo bermain!” ajak Yoogeun dengan mimik lucu.

“Yoogeun-ah, jangan seperti itu. Donghae-hyung sedang lelah.” sela Yuri. Yoogeun hanya menunduk mengerti.

Donghae tersenyum lalu menepuk-nepuk kepala mungil Yoogeun.

“Hey, jangan memasang wajah seperti itu. Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?”

“Jalan-jalan?” tanya Yoogeun. Donghae mengangguk.

“Besok Hyung tidak ingin ke kantor lagipula besok hanya ada meeting biasa yang bisa di atasi sendiri oleh Minho. Ya ini juga hitung-hitung pembalasan dendam pada bocah tengil itu.” kata Donghae dengan mengecilkan volume suaranya di akhir kalimat.

“Yeay! Jalan-jalan!” girang Yoogeun, tak lama Yoogeun memandang ke arah Noonanya. “Apa boleh, Noona?”

Yuri diam sejenak, lalu kemudian ia memandang Donghae. “Apa ia tidak akan merepotkanmu, Donghae-ssi?”

“Tentu saja tidak! Baiklah sekarang aku ingin mandi dulu.” Donghae meregangkan otot-ototnya sebelum ia ingin meninggalkan ruang tengah.

“Tunggu!” sergah Yuri menghentikan langkah Donghae. Donghae memandang heran Yuri. “Donghae-ssi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Sesuatu?”

Yuri mengangguk.

“Katakan saja.”

Yuri menunduk ragu dan mulai mempermainkan kembali kuku-kuku jemari tangannya.    “Um bisakah kau….”

Mata Donghae seketika melebar mendengar perkataan Yuri, namun tak lama ia terkekeh renyah. “Kau serius ingin tahu?”

Yuri mengangguk polos.

“Baiklah kalau begitu sini aku bisikkan sesuatu yang harus kau lakukan.” Donghae mulai mendekat pada Yuri dan membisikkan sesuatu. Yuri mengangguk-angguk, namun tak lama ia tercengang akibat perkataan Donghae.

“A-aku harus seperti itu?”

“Ya, harus. Memang begitulah harusnya. Kalau tidak begitu, selamanya  ia akan dingin padamu.” Yuri akhirnya mengangguk ragu.

“Tapi apa ia tidak marah?” Donghae memberi wink menyakinkan pada Yuri.

“Bocah itu tidak akan marah, percayalah padaku! Aku akan minta pada Taeyeon untuk memberikan sesuatu yang harus kau pakai nanti.” kata Donghae meyakinkan. Yuri akhirnya mengangguk pasti dan segera membawa Yoogeun meninggalkan Donghae yang juga akan berjalan menuju kamarnya.

Haha, polos sekali. Kita lihat saja bagaimana ekspresi si bocah itu! kekeh Donghae membatin.

***

          Minho mulai melangkah memasukki rumah besarnya. Sekali ia lirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia mendesah pelan.

Taeyeon, Sunny dan Hyoyeon serentak menunduk di tempat masing-masing saat melihat tuan besar mereka tiba. Minho mengangguk pelan menyambut sambutan itu lalu langsung melangkah menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya.

Minho berhenti sejenak di depan pintu kamar Yoogeun yang tertutup rapat. Namun hanya sebentar sampai ia kembali meneruskan jalannya hingga sampai ke kamar utama di rumah ini. Suara decitan pintu menggema, kamar kosong menyambut Minho, membuat satu alis Minho mengangkat sedikit.

Apa gadis bodoh itu ada di kamar bocah itu? Ah! Apa peduliku?

Minho membuang pikirannya cepat dan langsung menutup pintu kembali setelah ia masuk ke dalam.

Minho melempar tas kerjanya sekaligus dokumen Choi’s Property ke atas tempat tidur di susul tubuhnya. Minho mengatur nafas lelahnya sembari mencoba memejamkan matanya.

Lelah seperti biasanya.

Minho memandang lurus langit-langit kamarnya.

Choi’s Property, ‘uh? Entah kenapa ini seperti perang yang baru saja di mulai. Perang? Melawan sekumpulan keluarga tidak berguna itu? Cih!

Smirk dingin mulai di tunjukkan Minho saat memikirkan bagaimana wajah Sunmi saat bertemu dengannya tadi.

Cklek~

Lamunan Minho buyar saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Namun hal itu tidak membuat Minho segera berbalik, ia hanya sibuk memejamkan matanya. Mencoba me-relax-kan tubuhnya yang terasa lelah.

“K-kau baru pulang?”

“Seperti yang kau lihat.” sahut Minho datar. Ia masih betah untuk tidak melihat orang yang sedang bertanya padanya.

“Oh, iya kau benar.”

Wangi shampoo yang masih segar tercium di indera penciuman Minho. Membuat namja itu terbuai sesaat sampai akhirnya ia kembali mencoba focus.

“Um.. itu, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu.” Yuri mencoba memberitahu Minho dengan sedikit gugup.

“Menyiapkan air hangat? Itu bukan tugasmu.” jawab Minho singkat.

Yuri terdiam sesaat, lalu ia mencoba memandang Minho. “Te… Te-tentu saja itu tugasku. Aku anaemu.”

Minho membuka matanya seketika lalu menatap Yuri. Minho melebarkan matanya saat melihat Yuri yang hanya mengenakan gaun tidur yang cukup minim. Minho terpaku sejenak melihat penampilan gadis di depannya kini. Yuri yang menyadari kediaman Minho mulai menunduk malu dan mencoba menutup bagian atas dadanya yang terekpos.

“Se-selamat datang.” kata Yuri malu, mencoba menyambut kepulangan Minho.

Minho menggelengkan kepalanya kuat, lalu mencoba menatap sarkatis pada Yuri.

“Kenapa kau berpenampilan seperti ini?” tanya Minho. “Apa sebenarnya kau memang sering berpenampilan seperti itu?

Yuri menggeleng cepat. “T-tentu saja tidak! Ini kali pertamanya untukku. Hanya saja, aku ingin …” Yuri menggenggam kuat tangannya. “Ingin menjadi anae yang baik untukmu.”

“Anae yang baik?” heran Minho. “Oy, gadis bodoh! Apa kau lupa pernikahan ini hanya-”

“Formalitas. Tapi tetap saja aku seperti harus membayar apa yang sudah kau lakukan untukku dan Yoogeun.”

“Membayarnya dengan pakaian itu?”

Yuri melongo menatap Minho.

“Bu-bukan seperti itu. Hanya saja kata Donghae-ssi…” Yuri terdiam seketika lalu menutup mulutnya.

“Oh… Ikan itu yang membuatmu seperti ini? Apa yang dia katakan padamu?”

Yuri lagi-lagi hanya menggeleng cepat. Minho menatap intens pada Yuri dengan raut dinginnya, membuat Yuri menundukkan pandangan.

“Katakan.” kata Minho sembari berdiri malas menghadap Yuri.

“Apa yang harus aku katakan?”

“Katakan apa yang di katakan Ikan itu sampai kau mau seperti ini? Apa kau tidak sadar kalau kau bisa…”

Yuri terlonjak kaget saat merasakan tangan kekar mulai menjelajah leher belakangnya. Tangan Yuri masih betah menutupi bagian dadanya.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Yuri memberanikan diri saat merasakan hembusan nafas Minho mulai meniup-niup telinganya kecil. Yuri menahan  darahnya yang berdesir akibat itu, merinding? Ya, semua bulu kuduk Yuri seakan berdiri serentak akibat ulah Minho.

“Apa kau masih tidak mau mengatakan apa yang Donghae-hyung ajarkan padamu?” tanya Minho di sela-sela helaan nafasnya di telinga Yuri.

“Di-dia tidak mengajarkan apapun, hanya saja shhh…” Yuri semakin merinding saat bibir Minho mulai menyentuh kulit leher jenjangnya.

“Jadi kau tidak mau memberitahuku? Kalau begitu aku akan menyiksamu sampai kau mau mengatakannya padaku.”

“Menyiksa? Kyaa!!”

Yuri terkejut saat Minho mendorong tubuhnya sedikit kuat hingga ia terlentang di atas tempat tidur. Yuri semakin di kejutkan saat Minho langsung menindih tubuhnya hingga ia terdiam seketika melihat wajah Minho yang begitu dekat dengannya. Jantung Yuri berdegub kencang, merasakan wajah Minho semakin dekat dan semakin dekat dengannya.

“He-hentikan!” Yuri segera berguling ke sisi kanan saat dirinya berhasil menjauhkan wajah Minho dengan telapak tangannya.

“Ya! Gadis bodoh apa yang kau lakukan?!” umpat Minho kesal.

Yuri menunduk cepat saat menyadari perlakuannya barusan, “mi-mianhae. Habisnya kau begitu dekat denganku, aku hanya…”

“Cih! Bukankah tadi kau bilang ingin menjadi menjadi anae yang baik? Ah~ sudahlah lagi pula aku tidak tertarik sama sekali. Dan jika suatu hari kau ingin menggodaku, cobalah lakukan hal yang lebih menarik dari ini.” kata Minho yang kini sorot matanya kembali memancarkan sikap dinginnya pada Yuri. Yuri hanya terpaku diam melihat Minho mulai turun dari tempat tidur dan langsung melepas dasinya.

Yuri menunduk lama, tak berani menatap Minho. namun tak lama ia terkejut saat sesuatu sengaja di lemparkan Minho untuknya.

“Piyama?” heran Yuri dan langsung mengangkat kepalanya menatap Minho, namun rupanya Minho sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi. Yuri segera berdiri untuk berganti pakaian dari gaun tidur yang di berikan Donghae tadi menjadi piyama yang baru saja di lemparkan Minho untuknya.

Kenapa hal ini harus terjadi padaku? Hal tadi sungguh memalukan. Jinjja! Kenapa aku merasa benar-benar di permainkan olehnya? Menyedihkan T.T 

Di dalam kamar mandi,

Minho mengguyur tubuhnya di bawah shower. Ia menunduk dan sesekali menggelengkan kepalanya kuat.

“Ah, Gadis Bodoh! Bagaimana mungkin ia begitu polos mendengar ocehan si Ikan Mesum itu? Apa ia tidak tahu kalau hal itu sangat berbahaya untuk pernikahan konyol ini?”  umpat Minho sembari mengusap-usap kuat wajahnya di bawah guyuran shower.

***

          Minho terlihat serius membaca lembar demi lembar dokumen-dokumen penting Choi’s Property. Di dalam ruangan pribadinya, ia mencoba mempelajari seluruh isi dokumen itu. Lebih dari se-jam waktu berlalu sampai akhirnya Minho menutup seluruh dokumen itu.

“Cukup sulit.”  hela Minho.

Minho menyandarkan kepalanya sejenak, mencoba melepaskan diri dari tekanan. Matanya menerawang.

Dasar! Eomma dan anak sama saja!

Mata Minho mendadak memicing lurus. “Eomma. Apa kau dengar apa yang Imo katakan? Aku harap kau tidak mendengarnya, dia hanya membual!”

Mata sendu Minho seakan menutupi tatapan dinginnya selama ini. Namun itu tidak bertahan lama saat tatapan dinginnya kembali mendominasi kedua matanya.

“Kau tunggu saja, Eomma. Aku akan menemukannya. Pasti!”

Minho segera bangkit dari duduknya lalu berjalan pelan hendak meninggalkan ruang kerja pribadinya menggunakan pintu yang langsung terhubung ke dalam kamar utama. Ia berhenti sejenak ketika melihat seorang wanita telah terlelap di atas tempat tidur besarnya.

Minho melanjutkan langkahnya mendekati tempat tidur. Di pandanginya wajah teduh Yuri dengan seksama.

“A-apa yang sedang kau lakukan?”

Minho tersentak ketika menyadari Yuri menangkap dirinya sedang berdiri memandangi Yuri. Yuri memandang Minho dengan aneh, kejadian tadi pun sukses ter-reply  di pikiran mereka.

“Lanjutkan saja tidurmu. Aku tidak akan melakukan apapun padamu.” sahut Minho datar sembari mulai naik ke atas tempat tidur.

Yuri memandang punggung Minho yang terbaring membelakanginya. Tak lama Yuri mulai kembali mencoba memejamkan matanya lalu berbalik ke arah yang berlawanan dari Minho.

***

          Yuri menggeliat kecil sembari membuka matanya perlahan. Langit-langit kamar besar ini menyambut tatapan mata Yuri yang masih belum sempurna.

“Jinjja, kenapa aku merasa ngantuk sekali?” keluh Yuri pelan.

Ia mencoba melirik pelan ke samping, sejenak keningnya mengkerut heran.

“Mwo? Bukankah semalam dia tidur di sini? Apa aku kesiang…” Yuri menggantung perkataannya,  matanya mulai melebar sempurna mendapati jam menunjukkan pukul 07.30 pagi. “Omona.. Omonaaaa! Bagaimana mungkin aku bisa bangun jam segini?!” pekik Yuri pelan sembari dengan cepat menyerbu turun dari tempat tidur lalu berlari kecil menuju kamar mandi.

Yuri terdiam sejenak saat dirinya masuk sepenuhnya ke dalam kamar mandi. Tubuh pria dewasa di bawah guyuran shower tanpa sehelai benang pun kini terlihat tengah membelakanginya.

“A..A..A…”

Yuri terpaku tanpa bisa bergerak se-centi pun. Bahkan pandangannya pun terasa sulit sekali untuk beralih. Tubuh Yuri semakin kaku saat pria itu mulai menyadari kehadirannya dan menatapnya penuh keterkejutan.

Beberapa detik berlalu dalam keterkejutan membuat mereka yang tadinya saling bertatapan mulai mendapatkan kesadaran masing-masing.

“Bo-bodoh! Apa yang kau lakukan di sini?!” umpat Minho dingin sembari mulai menyambar handuk kecil lalu melilitkannya segera pada pinggulnya.

“Mi-mianhae!”

“Kau gadis aneh yang selalu mengganggu kegiatanku!” ketus Minho datar sembari mulai berjalan melewati Yuri yang masih betah mematung.

Tepat saat ingin melewati Yuri, handuk kecil yang melilit di pinggul Minho terlepas begitu saja. Wajah Yuri seketika memerah, dengan pandangan yang langsung tertuju pada pusatnya.

“KYAAAAAA!!!!”

***

          “A-apa yang baru saja kulihat di hari sepagi ini. Kenapa aku harus melihat hal itu? Kenapa?” sesal Yuri pelan sembari terduduk lemas di ruang tengah. Sesekali ia menghapus air matanya sendiri.

“Berhentilah menangis dan berkata seperti.  Itu seperti perlakuan kasar setelah kau melihat bagian tubuhku” sahut Minho yang sedang duduk di atas sofa sembari membaca Koran. Yuri akhirnya mulai diam, dan tidak terlihat lagi mengeluarkan air mata.

Yuri berbalik kecil menoleh pada Minho. “K-kenapa kau ada di rumah? Bukankah harusnya kau bekerja?” tanya Yuri sedikit ragu.

“Aku libur hari ini.”

“Li-libur? Bukankah kata Donghae-ssi kau ada rapat hari ini?” Minho melirik kecil pada Yuri.

“Ya harusnya aku memang ada rapat hari ini. Tapi sepertinya aku lupa memberitahu Donghae-hyung jika aku sudah membatalkan rapat karena mulai besok aku sudah akan bekerja di Choi’s Property.”

“Jadi, apa kau akan menghabiskan harimu di rumah?”

“Apa aneh jika aku menghabiskan waktu di rumahku sendiri?”

“Bu-bukan begitu maksudku. Hanya saja….” Yuri tidak meneruskan perkataannya. Dia menunduk sembari memainkan kembali kuku-kuku jemari tangannya. Minho kembali memperhatikan lembar demi lembar Koran yang ia baca sedari tadi.

Suasana hening kembali menghiasi. Yuri tidak tahu harus berbuat apa karena ini pertama kalinya Minho ada di rumah pada jam segini sejak ia berada di sini.

Kenapa suasanya menjadi aneh seperti ini?

“Apa setiap hari kau menghabiskan waktu dengan duduk di sini?”

“Eh?” Yuri mencoba memandang Minho, rupanya Minho berbicara padanya walau masih dalam keadaan tidak memandangnya.

“Apa kau tidak pernah mencoba untuk pergi keluar?” lanjut Minho.

Yuri menggeleng pelan, “bagaimana mungkin aku bisa pergi keluar? Aku tidak tahu kota ini. Lagi pula aku tidak memiliki uang.” jawab Yuri sejujurnya, bahkan terkesan polos.

“Oh.” kata Minho. Tidak ada lagi percakapan di antara keduanya. Yuri sibuk dengan pikirannya sendiri sedangkan Minho terlihat sibuk membaca Koran.

Kringgg…. Kringggg…

Yuri terlonjak kaget saat mendengar deringan telepon. Yuri mencoba menatap Minho, namun ia menjadi cengo saat Minho hanya diam tanpa sekali pun terlihat ingin mengangkat telepon itu.

Kringgg… Kringggg…

Telepon itu kembali berbunyi, membuat Yuri mencoba mengedarkan pandangan mencari keberadaan para pelayan di rumah ini.

“Jika kau berharap ada pelayan pada hari minggu sebaiknya cepat hilangkan harapan itu.” Yuri seketika memandang kecil pada Minho. “Mereka aku liburkan.”

Kringgg… Kringgg…

“Jadi apa aku harus mengangkatnya?” tanya Yuri polos.

“Tentu saja, bodoh!” ketus Minho sembari memberi tatapan tajam pada Yuri.

“Entah kenapa kau selalu mengataiku bodoh,” kesal Yuri, namun terdengar pelan. Minho hanya cuek kembali pada kegiatannya. Yuri mau tidak mau segera berdiri menuju telepon rumah untuk mengangkatnya.

“Yoboseyo? Dengan Choi Yuri sini.” kata Yuri.

Minho melirik langsung pada Yuri ketika mendengar Yuri mengatakan itu.

“Seunghyun…….  Oppa?”  Minho mencoba kembali focus pada korannya ketika Yuri melemparkan pandangan ke arahnya. “Minho-ssi, maksudku Oppa. Ini telepon untukmu.” kata Yuri mencoba menjaga suara.

“Dari?”  tanya Minho terdengar tidak tertarik, walau ia sendiri sudah tahu siapa yang menelepon itu.

“Dari Seunghyun-ssi.”

“Ssi? Bukankah kau memanggilnya dengan Oppa tadi?” tanya Minho yang langsung meletakkan korannya dan berdiri mendekati Yuri.

“Um?” heran Yuri akan perkataan Minho. Minho tidak menjawab dan langsung mengambil alih telepon dari Yuri.

“Ada apa, Hyung?” tanya Minho langsung.

“Minho, Haraboji ingin meminta pendapatmu. Apa kau ingin sebuah pesta penyambutanmu di Choi’s Property atau…”

“Jangan adakan pesta apapun. Aku tidak setuju. Katakan itu pada Haraboji.”

Flip!

Dengan kasar Minho mematikan sambungan telepon lalu meletakkan telepon itu dengan sembarang. Yuri hanya mampu diam sembari membenarkan letak telepon itu.

Namja seperti apa ini?

Minho berhenti sejenak lalu berbalik seketika memandang Yuri. Yuri ikut memandang Minho dengan sedikit takut.

“Kenapa kau ada di sini?”  Yuri menautkan alisnya heran mendengar pertanyaan Minho.

“A-aku…”

“Kenapa kau tidak ikut dengan Donghae-hyung dan Yoogeun?” tanya Minho lagi.

Yuri menarik nafas panjang lalu mulai menundukkan pandangan. “Karena aku hanya bergerak atas kehendak dan izinmu. Sejak kau membawaku ke sini, rasanya aku hanya boleh mendengar perkataanmu. Lagi pula mereka sudah pergi sebelum aku bangun.”

Minho melebarkan matanya mendengar perkataan Yuri.

“Bukankah kemarin kau mendengarkan perkataannya?”

Yuri tersentak lalu kemudian terkekeh kaku, “itu hal lain lagi. Kau membeliku maka artinya aku harus….” Yuri seketika terdiam saat bibirnya di kunci secara tiba-tiba oleh kecupan Minho. Yuri melebarkan matanya, terkejut dengan apa yang terjadi sekarang. Yuri hanya mampu terdiam mematung saat Minho terus mengulum bibirnya dengan hangat.

“Sudah berapa kali ku katakan padamu. Aku tidak membelimu. Aku hanya menolongmu dan kau juga harus menolongku.” kata Minho sesaat setelah ia melepas pagutan bibirnya dari Yuri. Yuri masih terdiam mematung memandang Minho yang juga memandangnya dengan dingin. Minho mengalihkan pandangannya dari Yuri. “Besok. Besok kau ikut aku ke Choi’s Property.” kata Minho sebelum akhirnya ia berbalik dan pergi meninggalkan Yuri yang mematung.

Semenit berlalu setelah kepergian Minho, Yuri segera menjatuhkan dirinya ke atas sofa empuk berwarma merah itu. Dengan pelan Yuri mulai menyentuh bibirnya.

Apa yang tadi itu? Kenapa? Kenapa dia melakukan hal itu tiba-tiba? Yuri memegang dadanya yang terasa berdegup kencang.

***

          Minho duduk santai di sofa panjang yang ada di dalam kamarnya. Matanya focus memandang layar tv besar, sesekali terlihat Minho menggonta-ganti tayangannya sampai akhirnya ia meletakkan kasar remote tv lalu mulai menyandarkan kepalanya.

“Setelah sekian lama baru kali ini aku merasakan libur bekerja. Fiuh… Aku sungguh bingung harus melakukan apa.” Minho menoleh sedikit pada jendela bening kamarnya, rimbunan pepohonan terlihat tengah menari-nari akibat hembusan angin yang menerpa dedaunanannya. Minho hanyut sejenak sampai akhirnya ia memejamkan matanya perlahan.

***

          Taman bermain terlihat begitu sesak di hari minggu cerah ini. Beberapa keluarga Nampak menghabiskan waktu mereka dengan bersenang-senang.

“Kyaaa! Donghae-hyung, Yoogeun mau naik itu, lalu itu dan itu!” girang Yoogeun saat dirinya sudah berada di area taman bermain.

“Yoogeun, kenapa kau terlihat begitu girang. Apa kau tidak pernah pergi ke taman bermain seperti ini?” tanya Donghae yang begitu terkejut dengan kegirangan Yoogeun yang melihat wahana-wahana permainan yang tersedia di sana.

“Tidak pernah Hyung. Di tempat Yoogeun dulu hanya ada taman kecil dan tidak ada permainan seperti ini.” oceh bocah berumur 4 tahun itu.

“Ah, kau benar juga.” desah Donghae mengingat dimana ia dan Minho bertemu dengan Yuri dan Yoogeun.

“Tapi walau dia pernah ke taman bermain seperti ini, tentu saja ia akan bereaksi sama jika kau ajak ke taman bermain. Itu sudah hukum alam seorang anak kecil.” Donghae dan Yoogeun serentak berbalik ketika mendengar suara seseorang yang tiba-tiba berbicara padanya. Yoogeun hanya diam heran melihat orang itu, sedangkan Donghae Nampak begitu terkejut. “Maaf sudah lancang. Permisih.”

“Tunggu!” sergah Donghae menahan kepergian Yeoja tinggi berkulit putih tersebut.

“Waeyo, Oppa?”

“Tidak. Hanya saja sedang apa kau kemari? Rasanya kebetulan sekali bisa bertemu denganmu di sini, Yoona.”

“Aku hanya sedang bosan berada di rumah Haraboji. Semua orang libur hingga berada di rumah, hal itu membosankan. Jadi tidak ada salahnya jika aku berada di sini, kan?” Donghae terkekeh kaku mendengar jawaban datar Yoona. Tidak lama, mata Yoona berpindah menangkap satu sosok mungil yang terus memegang tangan Donghae.

“Lama tidak bertemu rupanya kau sudah mempunyai jagoan sebesar ini.”

Donghae tersentak kaget mendengarnya, “ja-jagoan?” Yoona memandang polos pada Donghae.

“Ne, jagoan. Maksudku, seorang anak.” Seketika Donghae menggeleng cepat.

“Dia bukan anakku!” sergah Donghae cepat, membuat Yoona sedikit memundurkan kepalanya. Namun, tak lama kekehan ringan terdengar dari mulut Yoona. Donghae terdiam memandang senyum itu. “Reaksimu berlebihan Oppa. Haha.”

Yoona perlahan menghilangkan tawanya saat melihat Donghae hanya diam memandangnya. “Kalau begitu aku permisih!” Yoona hendak berbalik namun lagi-lagi Donghae menahannya.

“Yoona-ya tunggu!” Yoona berhenti namun tidak berbalik.

“Mianhae. Tadi aku hanya tertegun melihatmu tertawa setelah lama tidak melihatnya lagi.”

“Ya, itu karena kita lama tidak bertemu.”

“Anni. Ah lupakan. Umm… Maukah aku menghabiskan waktu bersamaku dan Yoogeun?” Yoona seketika berbalik.

“Apa?”

“Ma-maksudku, i-itu…” Yoona kembali tersenyum tipis lalu mencoba memandnag Yoogeun.

“Siapa dia Oppa? Jika tidak salah mengingat kau tidak punya seorang pun saudara, jadi pasti dia bukan keponakanmu.”

“Adik ipar Minho.”

Wajah Yoona kembali ke ekspresi datar memandang Yoogeun. Yoogeun sedikit mendempetkan diri pada Donghae saat Yoona menunduk menyamakan tingginya dengan Yoogeun.

“Apa Minho-oppa bersikap baik padamu?” tanya Yoona tiba-tiba, serius. Yoogeun melirik pada Donghae, namun Donghae terdiam memandang Yoona. “Hey, aku bertanya padamu.” timpal Yoona mencoba berbicara pada Yoogeun.

“Yoona-ya, hen..”

“Minho-hyung baik. Dia menyayangi Yoogeun dan Noona. Itu kata Donghae-hyung.”

“eh?!” kaget Donghae. Namun tak lama Donghae menatap Yoona kembali dengan sedikit ragu. Ekspresi kecewa nampak terpancar dari wajah cantik Yoona.

“Kau dan Noona-mu begitu beruntung.” desah Yoona dan kemudian mencoba berjalan meninggalkan Donghae dan Yoogeun. Donghae tidak bisa menahannya lagi saat ini, karena Donghae hanya mampu menatap kepergian Yoona yang mulai menjauh.

“Donghae-hyung. Donghae-hyung?!”  Donghae tersadar dan kemudian merendahkan dirinya. “Apa Yoogeun berkata tidak baik pada Noona tadi?” Donghae melebarkan matanya, namun tak lama ia menggeleng lembut.

“Anni. Yoogeun berkata benar. Sudahlah. Ayo kita bermain!” ajak Donghae dengan gaya biasanya. Yoogeun mengangguk antusias mengikuti gaya Donghae.

***

          Minho meregangkan tubuhnya dengan mata yang masih mengerjap kecil. Ia mengedarkan pandangan hingga matanya tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul 3 sore. Rasanya seperti biasanya, hari libur yang monoton bagi Minho. Tapi sepertinya Minho menyadari suatu hal yang sudah berubah. Ia segera berdiri lalu melangkah keluar dari kamarnya. Minho terdiam sejenak melihat seorang wanita tertidur pulas dengan posisi duduk lalu kepala yang di sandarkan pada pegangan sofa.

“Gadis itu? Bagaimana mungkin dia bisa tidur dalam posisi seperti itu?” heran Minho yang kemudian kembali hendak masuk ke dalam kamar. Namun tepat di ambang pintu langkah Minho berhenti. Lama ia diam dalam posisinya sampai ia mulai berbalik arah lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah.

Minho menatap wajah sendu milik Yuri saat ia tiba tepat di depan Yuri yang tertidur.  Wajahnya begitu polos, seakan gadis itu seperti anak kecil tanpa dosa yang sedang tertidur.

“Mianhae.”

Minho sedikit melebarkan matanya mendengar igauan Yuri. Sebutir air mata terjatuh bebas dari mata yang terpejam itu. Membuat Minho benar-benar terdiam.

Tanpa Minho sadari tangannya bergerak mendekati wajah Yuri. Sapuan lembut menghapus air mata itu menggunakan Ibu jarinya. Minho terkejut dan langsung menarik tangannya menjauh saat Yuri tiba-tiba membuka matanya. Yuri memandang Minho heran, begitu pun Minho yang ikut memandang Yuri.

Tak lama Minho mulai menajamkan pandangannya. “Apa yang kau lihat?!”

Yuri seketika bangun sepenuhnya lalu segera menggeleng. “Ti-tidak!” katanya sembari ingin menundukkan kepalanya, namun hal itu tercegah saat Minho menahan kepala Yuri dengan memegang dagu lancip itu.

“Masih tidak bisa memandangku dengan normal?”

Yuri tercekat saat wajah Minho kini sudah sangat dekat dengan wajahnya dengan tatapan tajam yang di pancarkannya. “Apa kau ingin aku ajari lagi, eoh?” Yuri seketika melebarkan mata lalu menggeleng cepat. Minho tersenyum dingin lalu semakin mendekatkan wajahnya hingga keningnya kini bersentuhan dengan kening Yuri. Deru nafas Minho terhembus jelas di rasakan Yuri, membuat jantung Yuri seketika berdegup kencang.

“Tapi sepertinya aku bebas melakukan hal apapun padamu.” kata Minho dengan nada di pelankan.

“A-apa maksudmu, Minho-ssi?”

Minho menatap Yuri tajam, membuat wanita itu seketika ingin menjauhkan kepalanya. Namun apa daya, Minho menahannya hingga posisi mereka saat ini tidak berubah. Yuri duduk di atas sofa sedang Minho berdiri di depannya dengan posisi sedikit membungkuk untuk menempelkan kening mereka. Yuri menyadari jika Minho mulai mendekatkan bibirnya menuju bibir ranum Yuri yang sedikit terbuka. Yuri memejamkan matanya kuat, pasrah, ya, pasrah dengan apa yang akan di lakukan namja di depannya kini. Tangannya menggenggam cukup kuat, seakan mencoba sekuat tenaga menekan rasa gugupnya.

Yuri mencoba membuka matanya saat suasana sepi tiba-tiba menyeruak. Bahkan sentuhan di bibirnya pun tidak kunjung ia rasanya. Yuri tercengang seketika saat menyaksikan Minho sudah tertidur di sampingnya dengan posisi duduk bersandar.

“M-mwo?! ” heran Yuri. Namun tak lama ia tersenyum memandang wajah Minho yang tertidur seperti anak kecil. Sembari terkekeh pelan Yuri memukul kepalanya sendiri. Babo! Apa tadi aku berharap dia benar-benar menciumku? Ah jinjja, pikiranku sudah sangat menyedihkan  kekeh Yuri dalam hati. Yuri ikut tersenyum kecil melihat wajah tidur Minho yang terlihat pulas walau tadi sepertinya ia tertidur tiba-tiba.

Minho sedikit terkejut lalu membuka salah satu matanya saat tiba-tiba ada sesuatu yang bersandar pada pundaknya. Namun tak lama ia kembali memejamkan matanya.

***

Donghae berjalan dengan girangnya sembari menggendong Yoogeun yang sedang asyik menyantap lollipop-nya. Donghae menghentikan langkahnya setelah ia masuk ke dalam rumah besar milik Minho.  Ia menurunkan Yoogeun dengan pelan sembari terus berfikir. Yoogeun memandang heran Donghae sembari terus menikmati lollipop-nya.

“Tunggu. Yoogeun, apa kau tidak merasa rumah ini begitu sepi? Tidak seperti biasanya bukan?”  Yoogeun hanya mengangguk lucu. Membuat Donghae kembali terlihat berfikir. Tak lama ia memekik sembari memukul kepalanya sendiri. “Babo! Jadi ini hari minggu? Omo! Tau gitu aku tidak perlu susah payah pergi jalan-jalan hingga sesore ini hanya untuk membalas perbuatan Minho! Menyebalkannnn!”  gerutu Donghae kesal. Yoogeun masih saja asyik menyantap lollipop-nya sembari terus memandang Donghae.

“Ayo Yoogeun.  Aku harus bertemu dengan si bocah itu untuk memarahinya.” ajak Donghae, Yoogeun hanya mengikuti perkataan Donghae.

Donghae terus berjalan melewati ruang tengah untuk menuju ruangan kerja pribadi milik Minho yang ada di lantai dua. Donghae mengembalikan langkahnya ke ruang tengah. Matanya melotot heran menyaksikan pemandangan di depannya.

“Noona?” Yoogeun yang melihat Yuri di sofa segera ingin berlari menghampiri Noona-nya. Tapi Donghae menahannya lalu menutup mata Yoogeun.

“Yoogeun, jangan ganggu merekane? Kita harus mandi dulu.” kata Donghae dengan memelankan suaranya. Yoogeun lagi-lagi menurut dan langsung naik ke punggung Donghae.

Donghae mendengus kesal memandang Minho yang tertidur pulas sembari mulai melangkah pergi. Kau beruntung kali ini bocah. Ah~ Kau memang butuh istirahat banyak untuk menghadapi hari esok. batin Donghae. Tak lama Donghae tersenyum sendiri sembari terus berjalan dengan menggendong Yoogeun di punggungnya. Ternyata mereka berdua sudah mulai akur, ne? Apa mereka selalu begini jika tidak ada orang di rumah? Ahaha rasanya aku harus sering-sering membuat mereka memiliki waktu berdua.

***

Ah~ Aku yakin banyak ni yg lupa ma cerita sebelumnya, bener kan? hehe Maaf ya. :’) 

Tungguin next part-nya ya, masih ada yg mau kan? Iya kan? T.T

Mohon kritik dan sarannya di kolom Komentar ya :D 

Terimakasih banyak :*

Tagged: , , ,

134 thoughts on “OUR FUTURE (PART 4)

  1. ifa Juli 2, 2014 pukul 11:09 pm Reply

    Ya ampun udah lama bgt ga baca ff unni pico.
    aaah seneng bgt :’)
    Ceritanya makin kereen..
    Cpt lanjut eon

  2. AinunMY (@ainunazizahawan) Juli 6, 2014 pukul 10:04 pm Reply

    Wahhh makin keren, makin seru, makin membuat penasaran ini
    Mian aku baru komen disini, aku bacanya di hape🙂

    Lanjutanya cepat datang ne unn ^^

  3. arianayulhae Juli 6, 2014 pukul 10:19 pm Reply

    Wahhhhh daebbak, ceritanya makin seru. Eon aku boleh minta pw weird wedding yaa, aku udah mention ke twitter. Gomawo

  4. tyas arin Juli 18, 2014 pukul 7:05 am Reply

    mastinnnn goooddd, ff ni daebakkkk . hehe
    maaf comment ny jd satu😛 baru maca, mian😦
    itu minho knp pula sm kluarganya, mslah besar agknya smpe gak ad yg suka gtu .
    yoona ska minho ? aduhh sm hae ajh ..
    yuri kalem amat d crta ini. mnta maaaf trus kyk bkn yuri . hehe
    tp suka.
    msa biar dkt nd yuri gak tkut natap mnho mesti dcium . hahaha tp suka

    lanjut ne🙂

  5. abelia September 30, 2014 pukul 1:14 pm Reply

    author please lanjutin our future dong…
    aku penasaran nih …
    soalnya seru banget ceritanya…
    please hehehe

  6. Fania Oktober 20, 2014 pukul 7:23 am Reply

    Wahh seru eon, disini yuri nya bner2 plos bnget .. Yogeun nya lucu ihh ank pinter dia🙂
    lnjutan nya di tnggu eon🙂

  7. yochasafita November 13, 2014 pukul 11:01 am Reply

    Eonni kapan ff ini bakalan dilanjutin eon?udah pada hak sabar nungguin kelanjutannya eon😦

  8. fina Desember 6, 2014 pukul 2:14 am Reply

    lanjutin dong ff ini.
    udah lama bgt gak di publish.
    udah gak sabar nih.

  9. nulnul29 Desember 10, 2014 pukul 9:26 am Reply

    Kapan ya di lanjut ni cerita??

  10. nana Januari 11, 2015 pukul 5:59 am Reply

    kereeennn
    ff nya kapan dilanjut eonie??^^

  11. lanybears Januari 13, 2015 pukul 5:39 am Reply

    Kren ffny thor. . . Kpan dlnjutin lgi?? -,-

  12. Anisya Kurnia Azhari Kotta Januari 25, 2015 pukul 7:15 am Reply

    kerren FFnya, castnya jg pas banget eonni.
    ditunggu next partnya

  13. nanaka2605 Februari 13, 2015 pukul 9:46 am Reply

    Eonie kapan dilanjut??udah lama banget nih 😭 aku tunggu ya..makasih eonie❤

  14. MeMinyul Juni 8, 2015 pukul 10:35 pm Reply

    Eonni kapan di lanjut OF nya??

  15. nana Juni 11, 2015 pukul 1:08 am Reply

    Eonie kapan di lanjut😭

    • yuuripico26 Juni 13, 2015 pukul 6:28 am Reply

      apanya di lanjut? #pura2 ga ngerti

  16. anisChoi Juni 30, 2015 pukul 3:43 pm Reply

    eoni kapan dilanjuut ni crita, ak ud bca ulang critanyaaaa sayang kalo gg dilanjut, uda setahun lebiih T.T

    • yuuripico26 Juli 29, 2015 pukul 6:01 am Reply

      huaaaa anis. maafin eonnie >< susah

  17. riskaagustna Juli 16, 2015 pukul 4:11 am Reply

    Eonniiiiiiiiiiiiiiiiiii!!! Ayo lanjutin our future nya. Huaaa..udh brp thn aku nunggu lanjutannya *eh
    Ini satu satu nya ff yg paling aku tunggu tunggu kelanjutannya. Soalnya eonni buatnya romantisssss bgt, jd aku suka. Keep writing ya eonni! Kasihanilah readers-mu ini*alay dan yg lain jg pasti sangat ingin cpt cpt baca next part nya. Palli juseyo eonni

    • yuuripico26 Juli 29, 2015 pukul 6:04 am Reply

      iyaaaaaaaaaaaaaaaaaa? >< susah nulis atuh skrg :') gimana dong?😄

  18. novia ulfah Juli 31, 2015 pukul 8:22 am Reply

    suka bgt sma crita ff ini pokoknya kerenn abiss..minyulnya kocak,
    dtunggu bgt next chapternya mdh”an cpet dpost🙂

    • yuuripico26 Agustus 3, 2015 pukul 1:16 pm Reply

      ga janji ini bsa lanjut apa gak :’)

  19. Risma Choi YunRi September 5, 2015 pukul 12:28 pm Reply

    lanjut dong ni ff thor,gantung banget😦

    pliiiiiiiiiiiiiis lanjuuuuuuuuuuut dooooooooooooong

    • yuuripico26 September 29, 2015 pukul 4:40 pm Reply

      hai hehe maaf susah buat lanjut ff lagi :’)

  20. MeMinyul Oktober 15, 2015 pukul 10:07 am Reply

    Eonni,,,,😥 kapan lanjut😥

    • yuuripico26 Oktober 16, 2015 pukul 5:57 am Reply

      idenya ngilang krna kelamaan :’) mianhae akan aku usahakan hehe

  21. cyardelia Januari 9, 2016 pukul 10:23 am Reply

    hai kak, nggak ada niatan nglanjuttin cerita ini? bagus banget lho hehehe. Tiba2 aku inget cerita ini dan akhir2 buka blog kakak dan aku baca berulang-ulang. Aku buka akhir2 ini kalau mungkin update, cuma mau menyampaikan aku pengen tau kelanjutannya. Maaf kak, aku cuma mau bilang ini dan maaf kalau kesannya memaksa hehehehe. Annyeong😆😆😆

    • yuuripico26 Januari 18, 2016 pukul 1:08 am Reply

      hehe maaf, aku emang lama ga nyentuh lg FF ini bahkan blognya. aku juga msh cari2 ide buat nerusinnya T.T maaf ya

  22. ainimusydah Juni 5, 2016 pukul 2:24 am Reply

    Makinnn seruuuu…lanjut min
    Min minta pw yang werid wedding

  23. nulnul9 Juni 11, 2016 pukul 2:37 am Reply

    apakah ini bakal dilanjut?

    • yuuripico26 Juni 11, 2016 pukul 2:52 pm Reply

      diriku masih mencari ilham, maaf :’)

  24. Taniaa Juni 21, 2016 pukul 2:44 am Reply

    Eon kerenn kenapa gak dilanjut” hmm diliat” udah lama jugaa. cerita nya keren banget penasaran sama lanjutan nya

    • yuuripico26 Juni 21, 2016 pukul 2:55 am Reply

      iya, harus d rombak dari part awal buat nerusinnya, soalnya udh lupa alurnya #oops hehe

Yuk tinggalin jejaknya (ʃƪ˘ﻬ˘)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: