Eternity Wish (PART IV)

Eternity Wish III

Tittle :

Eternity Wish IV

Author :

Yuuripico26

Art by :

EkhaLeeSunHi

Cast :

Kwon Yuri || Choi Sooyoung  || Choi Minho || Cho Kyuhyun

Im Yoona || Lee Donghae

Genree :

Romance – Friendship

Ratting :

PG-17

Length :

Chaptered

***

Tada! Hehe. I’m back.🙂 Sebelumnya terimakasih banyak buat yang udah kasih jejaknya di part-part kemarin #bow.

Nah sekarang langsung baca aja ya🙂

– READERS YANG BAIK PASTI NINGGALIN JEJAK.

TYPO IS AN ART IF WRITING

***

            Sooyoung berjalan pelan menyusuri jalan dengan pepohonan rindang di sisi kanan kirinya. Soohyun nampak tertidur pulas dalam gendongan yang ada di depan Sooyoung.

            “Delapan tahun. Tak banyak perubahan.” kata Sooyoung pelan.  “Yang berubah hanya keadaanku.”

Dia kembali meneruskan jalannya. Jalan ini. Jalan yang selalu di lalui Sooyoung jika pulang sekolah bersama Yuri dulu. Jalanan yang menjadi saksi betapa dulu Sooyoung dan Yuri merupakan sahabat yang selau berbagi senyum bersama.tapi sekarang. Sooyoung berjalan berdua dengan Soohyun. Tak ada sosok Yuri yang dulu menemaninya.

            “Ah jinjja. Aku bahagia mempunyai sahabat sepertimu, Yul.”

            “Aku juga, Sooyoungie.” sahut Yuri sedikit malu.

            “Pokoknya jika suatu hari salah satu dari kita berbuat kesalahan, yang satu lagi harus memaafkan ya!” ucap Sooyoung bersemangat.

            “Aku rasa kau benar, Sooyoung-ah!” Yuri dan Sooyoung tertawa bersama lalu meneruskan langkahnya..

            “Ya! Jinjja! Kalian hanya berjanji berdua saja kah?” Yuri dan Sooyoung berbalik. Rupanya di sana sudah ada Yoona yang berlari kecil mendekati mereka. Yuri dan Sooyoung saling tatap.

            “1. 2. 3. Lari!” teriak Sooyoung dengan menarik tangan Yuri menjauh.

            “Ya! Nappeun!” gertak Yoona ikut melajukan langkahnya mengejar Sooyoung dan Yuri yang berlari dengan tawa yang melebar.

            “Pada akhirnya aku lah yang membuat kesalahan, Yul. Apa kau mau memaafkanku?” lirih Sooyoung. Soohyun menggeliat kecil. Membuat perhatian Sooyoung tertuju padanya. Sooyoung menepuk-nepuk pelan tubuh Soohyun, hingga aegi kecil itu kembali nyaman di tidurnya.

“In!”

            Sooyoung menghentikan langkahnya. Dia menatap sebuah lapangan yang ada di dalam kawasan sekolah besar. Sooyoung menatap sendu beberapa Murid yang sedang berlatih tennis. Sooyoung tersenyum lirih lalu Ia memutar bola matanya. Gerbang berwarna putih itu kini terlihat kokoh. Jika melihatnya sekarang, tak ada yang tau jika gerbang ini menyimpan sebuah kenangan buruk untuk kehidupannya dan para sahabatnya. Di sini. Semuanya di mulai. Kecelakaan itu.

            “Mianhae.” desah Sooyoung. Sooyoung hendak meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya berhenti saat melihat sosok Yeoja yang hendak melewati gerbang itu.

            “Yoona?” Yoona berbalik. Tatapannya seketika memicing, terkesan datar. Sooyoung diam.

            “Kau. Sedang apa?” Sooyoung tersenyum.

            “Hanya ingin berjalan-jalan.”

            “Oh.”

Hening. Tak ada percakapan lagi di antara keduanya. Yoona dan Sooyoung sedikit menepi saat beberapa murid-murid Chun Ang menghambur keluar dari gerbang. Ada yang berjalan kaki. Ada yang mengendarai kendaraan pribadi dan ada pula yang di jemput. Sooyoung diam menyaksikan semua itu. Seragam mereka tak berubah. Persis seperti saat Sooyoung, Yoona dan Yuri bersekolah di sini.

            “Benar-benar seperti nostalgia.” kata Yoona singkat. Sooyoung mengangguk sekali.

            “Bagaimana keadaan Yuri?” tanya Sooyoung tiba-tiba.

            “Kenapa tak Kau tanyakan saja pada nampyeonmu?” kata Yoona menekankan kata di akhirnya kalimatnya. Sooyoung menyambut perkataan Yoona dengan senyum kecilnya “Aku rasa aku harus pergi ke rumah sakit sekarang.”

            “Yoona?” Yoona menghentikan langkahnya.

            “Tolong sampaikan salamku pada Yuri. Katakan padanya jika latihanku mengalami kemajuan dan jadwalnya semakin padat. Aku merindukannya.” Sooyoung mengatakan itu dengan menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Namun Sooyoung sekuat tenaga menahan kesedihannya. Yoona yang sedari tadi enggan memandang Sooyoung akhirnya berbalik.

            “Akan ku sampaikan. Dan keadaan Yuri, cukup baik.” Yoona dengan cepat membalik badannya dan berjalan cepat memberhentikan sebuah taksi. Yoona menghapus air matanya saat dia sudah sempurna masuk ke dalam taksi.

***

            Yuri diam. Dia terus menatap keluar jendela tanpa bergerak sedikit pun. Yuri berbalik saat mendengar sara pintunya terbuka. Senyum Yuri mendadak merekah saat melihat Kyuhyun muncul dari balik pintu itu dengan sebuket bunga Lily yang setiap hari selalu di bawanya.

            “Bagaimana keadaanmu?” tanya Kyuhyun sembari melangkah menuju vas bunga dan mengganti bunga yang kemarin dengan yang baru.

            “Baik. Bagaimana denganmu? Apa sekolahmu lancar?” Kyuhyun terdiam sejenak. Lalu Ia tersenyum dan menghampiri Yuri.

            “Semuanya lancar, Yuri-ya.”

            “Aku senang mendengarnya.” kata Yuri dengan senyumnya. “Kyu-ah?” Kyuhyun memandang Yuri.

            “Uhm?” sahutnya lembut.

            “Apa Aku tidak mengganggu waktumu?” Kyuhyun menautkan kedua alisnya.”Maksudnya, apa setiap hari datang menjengukku tidak mengganggu waktu persiapan ujianmu?” Kyuhyun menggeleng.

            “Anni. Kau jangan memikirkan hal itu. Cepatlah sembuh Yuri-ya. Lalu kita akan berlajar untuk ujian bersama-sama.” Yuri mengangguk kecil. Kyuhyun tersenyum melihat itu.

            Yuri mengambil tangan Kyuhyun dan memegangnya. Kyuhyun menautkan kedua alisnya heran dengan apa yang di lakukan Yuri. Yuri akhirnya menaruh tangan itu tepat di pipinya. Membuat Kyuhyun tak tahu harus berbuat apa.

            “Aku beruntung memilikimu, Kyu-ah.” Kyuhyun terdiam dengan perkataan Yuri. Dia memandang Yuri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Yuri tersenyum kaku dan meletakan kembali tangan Kyuhyun itu. “Mianhae.” katanya. Kyuhyun segera tersadar dan berusaha menunjukan senyumannya pada Yuri.

            “Aku pun juga beruntung memilikimu, Yuri-ya.” Yuri menatap Kyuhyun dengan merona. Kyuhyun mengalihkan pandangan matanya dari Yuri dengan mengecup singkat kening Yuri.

            “Istirahatlah, Yuri. Aku akan di sini menemanimu.” kata Kyuhyun. Yuri mengangguk patuh. Yuri akhirnya merebahkan tubuhnya yang tadi bersandar dengan di bantu oleh Kyuhyun.

            “Gomawo.” kata Yuri. Kyuhyun duduk dan terus menautkan tangannya pada tangan Yuri.

            “Cheonma. Cepatlah sembuh.” pinta Kyuhyun dengan mengelus kening Yuri.

***

            Minho menikmati cofee hangatnya di sebuah café dekat apartemennya. Sendiri. Seperti biasanya. Ponsel Minho bergetar di dalam saku jaket tebal yang sedang di gunakannya.  Minho merogoh sakunya dan segera menatap layar ponselnya.

            Sooyoung? Dengan cepat Minho mengusap layar ponselnya untuk menjawab telepon itu.

            “Yoboseyo?”

            “Yoboseyo, Minho-ya. Apa kau sedang berada di rumah sakit?” tanya Sooyoung sedikit terdengar panik.

            “Sooyoung? Kau kenapa?” tanya Minho khawatir.

            “Mollayo, Minho-ya. Soohyun sedang panas tinggi dan aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit sendiri. Aku sudah menelepon ponsel Kyuhyun berkali-kali, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Apa dia masih ada di Rumah Sakit?” Minho segera berdiri dari kursinya.

            “Tunggu saja di apartemenmu, Aku akan menjemputmu.” kata Minho dengan terburu.

            “tapi Minho-ya?” tanpa menjawab, Minho menekan tombol end untuk memutuskan percakapan itu. Dengan sedikit berlari dia menuju mobilnya.

***

            Sooyoung bernafas lega saat Dokter spesialis anak mengatakan bahwa Soohyun hanya mengalami demam biasa akibat pertumbuhan giginya. Minho mengambil alih gendongan Soohyun dan segera berjalan mendahului Sooyoung. Sooyoung mengikuti irama langkah Minho.

            “Apa sudah sering Kyuhyun pulang selarut ini?” tanya Minho saat mereka sudah berada di dalam mobil. Sooyoung diam.Tak tahu harus menjawab apa.

            “Bicaralah padanya bahwa Kau keberatan jika dia setiap hari datang menjenguk Yuri.” kata Minho.

            “Bukankah Kau bilang jika Yuri tidak boleh mengetahui semuanya?”

            “Tapi Kyuhyun juga tidak boleh meninggalkan tanggung jawabnya padamu dan terlebih pada Soohyun.”

Sooyoung menyandarkan kepalanya. “Rasanya ini hal yang pantas kuterima setelah apa yang kulakukan pada Yuri.” Minho melirik Sooyoung sekilas.

            “Kau tidak melakukan apapun padanya. Takdirlah yang sedang mempermainkan hidup kita.” Sooyoung memandang Minho.

            “Memainkan kita?”

            “Lupakan itu. Setidaknya jangan menangis dalam hati. Keluarkanlah jika memang ingin menangis.” Sooyoung menggigit bibirnya sendiri yang  mulai bergetar. Dia menunduk lalu makin mempererat pegangannya pada Soohyun.

            “Kenapa Kau masih berusaha mengertiku, Minho-ya? Bahkan setelah Aku meninggalkanmu untuk pergi bersama Kyuhyun. Kenapa Kau tak tertawa padaku, Minho-ya? Atau sekedar marah padaku.”

Minho menyunggingkan senyum kecilnya. “Marah. Aku tak pernah marah padamu. Hanya saja Aku pernah merasa kecewa padamu.”

            “Mianhae.” kata Sooyoung pelan.  Minho mengacak rambut Sooyoung dengan satu tangannya.

            “Lupakan!” ujarnya.

***

            Kyuhyun masuk ke dalam apartemennya. Kyuhyun sedikit terkejut melihat Sooyoung sudah berdiri di depannya.

            “Tadi aku meneleponmu berkali-kali.”

            “Menelepon? Mianhae Chagi, tadi ponselku dalam mode silent.”

            “Oh.” kata Sooyoung.

            “Mianhae Chagi. Pekerjaan kantorku tadi membuatku pulang terlambat dan–.”

            “Langsung menjenguk Yuri setelahnya.” Kyuhyun terdiam dan hanya mampu memandang Sooyoung yang mulai berjalan masuk meninggalkannya. Kyuhyun diam di tempatnya sejenak. Dia memandang tangannya sendiri. Kilasan bayangan saat dia menyentuh tangan Yuri teringat kembali. Kyuhyun segera berjalan menyusul Sooyoung dan meraih tubuh Sooyoung.

            “Mianhae.” kata Kyuhyun dengan memeluk Sooyoung dari belakang. Sooyoung hanya diam. Tak breaksi sama sekali. Kyuhyun menenggelamkan kepalanya di pundak Sooyoung. “Mianhae.”

            “Gwenchana Kyu-ah.” Sooyoung melepas tangan Kyuhyun dari tubuhnya dan berbalik menghadap Kyuhyun. “Gwenchana, Kyu-ah. Gwenchana.” kata Sooyoung bergetar memeluk Kyuhyun. Kyuhyun membalas pelukan Sooyoung dan mengelus rambut anaenya itu.

            Mianhae. Aku tak bisa mengelak dari keadaan ini. Mianhae, Sooyoung-ah. Yuri-ya.”

***

            “Bagaimana catatan kesehatan Yuri, Dr. Choi?” tanya Yoona.

            “Seperti biasa membaik. Hanya saja perasaannya terhadap waktu belum stabil. Itu yang Dr. Oh sampaikan padaku.” jawab Minho. Yoona mengangguk mengerti.

            “Sampai kapan? Aku lelah.” Minho memandang Yoona yang duduk di depannya dengan heran.

            “Lelah?”

            “Lelah tersenyum seakan aku bahagia melihat Kyuhyun selalu ada di samping Yuri. Lelah melihat senyum palsu dari Kyuhyun dan Lelah melihat kebahagiaan semu Yuri.”

Minho menghela nafas.

            “Bukan hanya Kau yang lelah. Kyuhyun juga mungkin lelah. Ahjumma, Donghae-hyung dan juga–”

            “Sooyoung.” sela Yoona. “Kau selalu memikirkan perasaan Sooyoung. Aku tahu Minho. Kita semua melakukan ini untuk kesembuhan Yuri. tapi, apa Kau pernah berfikir bagaimana perasaan Yuri jika dia tahu semuanya? Tahu bahwa selama dia sadar kita telah membohonginya?”

            “Bukankah Kau menyetujui dan meminta sendiri pada Kyuhyun untuk menemui Yuri? Lalu kenapa sekarang Kau begini?”

            “Karena semakin banyak yang tersakiti jika begini. Kau. Aku. Kyuhyun bahkan Sooyoung.” jawab Yoona akhirnya. Minho tersenyum mendengar jawaban Yoona.

            “Pada dasarnya Kau juga menghawatirkan Sooyoung, bukan?” Yoona memandang kesal pada Minho.

            “Bukan itu maksudku. Hanya saja–”

            “Semuanya cepat atau lambat akan berakhir, Yoona. Semuanya akan berakhir dengan salah satu yang paling tersakiti.”

            “Dan itu Yuri.”

Minho diam.

            “Sudahlah. Aku keluar dulu. Terimakasih sudah mendengarkanku, Dr. Choi!” ucap Yoona datar seraya mulai meninggalkan ruangan Minho. Selepas kepergian Yoona, Minho memijit kepalanya sendiri.

            “Pada dasarnya yang kuatlah yang bisa mengakhiri semua ini. Jinjja. Bahkan aku sendiri tidak tahu harus bagaimana.” gumam Minho pelan.

***

            Yuri duduk diam di dalam ruangannya. Bersandar sembari melirik bintang-bintang malam melalui jendela bening. Di samping Yuri ada Yoona yang sibuk mengupas apel.

            “Aku ingin mempunyai hubungan yang manis dan bertahan lama seperti Kau dan Donghae-oppa.” Yoona menghentikan kegiatannya dan segera menatap Yuri.

            “Apa Kau fikir Aku dan Kyuhyun bisa memiliki hubungan yang seperti itu, Yoong?” Yoona melanjutkan kembali kegiatannya.

            “Molla.” sahut Yoona. Yuri tersenyum dan melirik Yoona.

            “Aku rasa dia sedikit berubah dari Kyuhyun yang ku kenal sebelum kecelakaan ini.”

            “Sedikit berubah?”

            “Hu um. Dia terlihat sering menghidari tatapanku. Walau dia sering mengecup keningku, tapi entah kenapa Aku merasa dia melakukan itu sebagai peralihan perhatian. Memegang tanganku saja terasa berbeda. Yang lebih parah, Aku merasa dia tidak pernah mengucapkan kata cintanya lagi padaku.” Yoona melebarkan matanya mendengar terkaan Yuri. Yuri tersenyum kecil lalu menggeleng menatap Yoona. “Kau pasti heran mendengarnya, kan? Aku tahu Aku tidak boleh berfikiran seperti itu. Walau bagaimana pun dia sepertinya selalu berusaha menjengukku dan bagiku itu cukup menyenangkan.” kata Yuri dengan merona.

Yoona menyuapi sepotong kecil Apel pada Yuri. Yuri menyambut itu dengan senang hati.

            “Kyuhyun.”

            “Uhm?” heran Yuri saat Yoona mengatakan itu.

            “Bagaimana jika ternyata dia mengkhianatimu?” Yuri terdiam dan seketika menghujami Yoona dengan tatapan terkejutnya. Yoona tersenyum.

            “Aku bercanda, Yul-ah. Kyuhyun mencintaimu, Yul. Cepat sembuh dan bahagialah bersamanya.” kata Yoona dengan senyum yang di paksakan. Yuri mulai menyunggingkan senyum dan kembali menatap keluar jendela. “Aku merindukan Sooyoung. Apa jadwalnya begitu padat hingga dia tidak pernah menemuiku setelah hari itu?”

Yoona menggenggam kuat tangannya sendiri. “Latihannya semakin baik dan jadwal latihannya semakin padat. Dia bilang. Dia juga merindukanmu, Yul-ah.” Yuri tersenyum memandang bintang di luar sana. Rasanya lega sekali hanya dengan mendengar Sooyoung juga merindukannya.

***

            Donghae berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit untuk sekedar membuang  rasa jenuhnya.Yoona sedang berbincang santai dengan Yuri. Rasanya dia tak ingin menganggu. Donghae menghentikan langkahnya saat melihat sosok yang di kenalnya sedang duduk menyendiri di kursi yang ada di taman rumah sakit. Donghae ingin menghampirinya, namun niatnya terhenti saat sosok itu berdiri dari kursinya dan berjalan menjauh. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Donghae mengikuti Sosok itu.

Donghae terus berjalan dengan jarak yang sedikit jauh di belakang Sosok itu. Sosok itu rupanya masih tidak sadar dengan kehadiran Donghae. Sosok itu berhenti di depan ruang perawatan yang sangat di kenal Donghae. Sosok yang biasanya memakai Jas putih kini hanya mengenakan pakaian Kasual-nya. Sosok itu hendak membuka pintu ruangan, namun sepertinya tidak jadi. Mungkin karena melihat ada Yoona di dalam ruangan itu.

            “Sedang apa?” Sosok itu terkejut saat Donghae menegurnya tiba-tiba.

            “H-hyung? Mengagetkan saja!” keluhnya sembari menatap kaget pada Donghae.

            “Dr. Choi? Bukankah malam-malam begini Kau tidak perlu ada di Rumah Sakit? Oh Jinjja! Apa ada pasienmu yang sedang dalam kondisi gawat malam ini?”

            “Bukankah setiap hari Aku harus mengontrol pasienku, Hyung?”

            “tapi setahuku, Kau bisa meminta perawatmu melakukan itu untukmu, kan?” Minho menghela nafas mendengar perkataan Donghae.

            “Aku ingin melakukan itu sendiri, Hyung. Tidak ada larangannya, kan?”

            “Oh jadi begitu.” Donghae memasang tampang herannya. “Lalu kenapa Kau tidak masuk ke dalam? Bukankah Kau ingin mengontrol pasienmu?” Minho mengalihkan pandangannya dari Donghae.

            “Maksudku. Hanya mengontrol dari sini. Aku kan tidak bisa menemui Yuri.” jawab Minho tanpa memandang Donghae.

            “Ah benar juga ya. tapi mungkin Kau bisa melakukan itu jika dia tertidur.” Minho seketika memandang Donghae yang memasang tampang polosnya. “Ah, aku salah ya? Mianhae.” Minho mendengus kasar.

            “Aku rasa Aku harus pulang sekarang. Annyeong.” kata Minho datar sembari mulai berjalan meninggalkan Donghae. Donghae memandang Minho heran. Apa dia salah?

***

            Sooyoung berdiam diri di depan gedung besar Rumah Sakit ini. Pandangannya lurus sedangkan pikirannya menerawang kemana-mana. Dia maju satu langkah. Namun kembali mundur. Raut keraguan terpancar dari wajahnya.

            “Apa Aku boleh menjenguk Yuri? tapi Soohyun?” Sooyoung memantapkan hati. Ia ingin melihat Yuri sekarang. Sooyoung yakin sekarang Kyuhyun pasti sedang sibuk di kantornya.

            Sooyoung tertegun saat melihat Yoona sedang berbicara dengan senyum merekahnya bersama Donghae. Sooyoung terdiam kaku saat Yoona dan Donghae berjalan beriringan hendak keluar dari Rumah Sakit.

            Sooyoung mendadak ingin berbalik. Namun suara Donghae menghentikannya.

            “Sooyoung?” Sooyoung kembali berbalik, menatap Donghae yang sudah memandang ke arahnya dan juga Yoona yang seperti biasa, memandangnya tanpa ekspresi.

            “Apa kabar? Kau sedang apa?” tanya Donghae. Yoona hanya diam.

            “Aku baik. Bagaimana dengan kalian? Aku ke sini ingin–”

            “Tak ada Kyuhyun di sini.” potong Yoona cepat.

Sooyoung mencoba tersenyum pada Yoona.

            “Anni. Aku bukan ingin bertemu Kyu. Aku hanya ingin menjenguk Yuri.”

Yoona berdecak sinis.

            “Menjenguk Yuri? Apa Kau masih punya wajah untuk bertemu dengannya?” sinis Yoona.

            “Chagi, jangan seperti itu.” tegur Donghae. Yoona tak menggubrisnya.

            “Aku hanya ingin sekedar bertemu dengannya, Yoong. Apa bisa?” Yoona terkekeh pelan lalu mendekati Sooyoung.

            “Apa kau fikir setelah Kau menemui Yuri akan mengubah semuanya? Apa sebenarnya yang Kau ingin kan lagi, Sooyoung? Bukankah Kau sudah berhasil merebut Kyu dari Yuri? Lalu apa lagi yang Kau inginkan?” Sooyoung melebarkan matanya mendengar perkataan tiba-tiba Yoona.

            “Chagi-ya! Hentikan itu!” kata Donghae mencoba menarik pelan Yoona. Yoona menepis tangan Donghae dan menatap namjachingunya itu tajam. Donghae akhirnya diam. Yoona beralih menatap Sooyoung kembali.

            “Apa Kau tau? Setiap hari Kyuhyun datang ke sini untuk memberikan kebahagiaan semu untuk Yuri. Apa Kau tau, betapa sakitnya Aku menatap semua itu. Apa Kau tahu bagaimana aku kecewa dengan semua ini. Bagaimana Aku kecewa padamu. Tolong, jangan menambah rasa kecewaku.” kata Yoona dengan memandang   lurus pada Sooyoung. Sooyoung menelan pahit-pahit perkataan Yoona. Bulir-bulir krystal mulai bermunculan di pelupuk matanya. “Pergilah.”
ucap Yoona pelan. Sooyoung menutup mulutnya. Dengan segala kekuatannya, dia berbalik dan berjalan pelan menjauh dari Rumah Sakit.Donghae dapat melihat punggung Sooyoung bergetar.

            “Apa Aku keterlaluan?” Donghae melirik Yeojanya. Donghae seketika menarik Yoona ke dalam pelukannya. Yoona menangis. Donghae mengelus punggung Yoona.

            “Arra. Arra. Kau keras kepala. Kau berkata seperti itu karena tak ingin Sooyoung melihat Kyuhyun di dalam bersama Yuri, kan?” Donghae akhirnya mengajak Yoona pergi.

***

            Kyuhyun duduk diam menyaksikan Yuri yang sedang menatap keluar jendela. Hal yang sering di lakukan Yuri. Hening menemani keduanya.

            “Kyu?” panggil Yuri tanpa melirik pada Kyuhyun.

            “Uhm?” sahut Kyuhyun lembut.

            “Indah.” Kyuhyun menautkan alisnya sesaat.Namun, Ia akhirnya memandang keluar jendela saat mengerti maksud Yuri.

            “Kyeopta.” kata Kyuhyun. Yuri menunduk. Seolah menimbang-nimbang sesuatu yang ingin di katakannya.

            “Kyu? Apa Kau ingat kata-kata itu?” Kyuhyun kembali menatap heran pada Yuri. Yuri masih menunduk dan sesekali menyelipkan rambut panjangnya yang terjuntai saat Ia menunduk.

            “Kata-kata?”

Yuri menggeleng dan mengangkat kepalanya, menatap Kyuhyun dengan senyum. “Anni. Lupakan saja. Mungkin saat itu Kau hanya iseng mengatakannya padaku.”

Kyuhyun semakin heran di buat Yuri.

Yuri kembali menatap keluar jendela. “Entah kenapa Aku merindukan mantra itu. Mantra yang Kau ucapkan saat kita berdua berada di kamarku. tapi Lupakan lah.” Kini Yuri sudah tersenyum lebar memandang Kyuhyun. Kyuhyun diam dan memandang Yuri tanpa tahu harus berkata apa.

            “Baiklah jika Kau tak bisa, Aku tidak a–”

Kyuhyun dengan terburu mencoba memegang pipi Yuri. “Cepatlah sembuh dan saat kondisimu lebih baik lagi. Aku janji, akan mengatakan mantra yang bisa membuatku dan dirimu bahagia.”

Yuri memandang heran pada Kyuhyun. Melihat rona keseriusan Kyuhyun, Yuri akhirnya mengangguk dan tersenyum.

            “Mianhae.” kata Yuri tiba-tiba.

            “Mwo? Mianhae?”

            “Uhm… Sebenarnya Aku telah menyiapkan satu hadiah untukmu di hari janjian kita. tapi, Aku menghilangkannya.” Kyuhyun terdiam sejenak. Dia menatap ke sembarang arah.

            “Sebenarnya Aku juga sudah menyiapkan sesuatu untukmu. Buku.”

            “Buku?” Kyuhyun tersenyum.

            “Aku akan membawakannya nanti. Aku harap Kau mau bersabar, Arra?” Yuri mengangguk patuh dengan senyum terkulum.

Seorang namja yang sedari tadi berdiri di depan pintu membuang nafas beratnya. Dia akhirnya mundur selangkah dari pintu itu dan memasukan kedua tangannya pada saku jas panjang kedokterannya. Dengan pelan dia mulai berjalan menjauh dari tempat itu.

***

            Sooyoung memotong-motong sayuran untuk menyiapkan makan malam. Asyik memotong tanpa sadar Sooyoung menggores sedikit jarinya hingga berdarah..

            “Ouch!” ringis Sooyoung sembari mulai meniup telunjuknya. Sooyoung melirik jam dinding yang ada di ruang tengah. Sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi Kyuhyun belum juga pulang.

Sooyoung mencoba melirik ke arah Soohyun yang sedang sibuk bermain di dalam sebuah kotak khusus untuk balita.

            “Aegi pintar.” ucap Sooyoung dan kembali meneruskan kegiatannya. Sooyoung kembali teringat perkataan Yoona tadi siang. “Yoong, apa Kau begitu membenciku? Bukan hanya Kau yang merasa sakit. Bukan hanya Yuri. Aku juga. Aku juga sakit, Yoong. Aku memang salah telah merebut Kyuhyun dari Yuri.” Sooyoung terdiam sejenak lalu menengadahkan kepalanya. “Merebut, uh? Apa membuat Kyuhyun keluar dari keterpurukannya di sebut merebut?” Sooyoung akhirnya menggelengkan kepala lalu mulai melanjutkan pekerjaannya kembali.

            Sooyoung tersenyum menatap hidangan makan malam yang di siapkannya. Dia segera mengambil Soohyun dari dalam box bermainnya dan menggendong tubuh mungil itu.

            “Sekarang kita hanya perlu menunggu Appa. Eh, Kau ingin susu? Ayo kita ke kamar!”

            Beberapa puluh menit berlalu. Sooyoung masih betah menunggu Kyuhyun yang tak kunjung pulang. Bahkan Soohyun sudah tertidur pulas setelah Sooyoung memberikannya susu.

            “Aku pulang!” Sooyoung segera beranjak dari kamarnya menuju pintu utama.

            “Akhirnya Kau pulang juga. Ayo makan.” ajak Sooyoung. Kyuhyun tersenyum di balik wajah lelahnya dan mengelus pelan kepala Sooyoung.

            “Tunggu ne. Ada suatu hal yang penting yang harus ku cari dulu.” kata Kyuhyun seraya berjalan menuju kamarnya  meninggalkan Sooyoung. Sooyoung mencoba mengangguk mengerti dan memutuskan untuk menunggu Kyuhyun di ruang makan.

            Merasa Kyuhyun tak kunjung keluar dari kamar. Sooyoung memutuskan untuk menyusul Kyuhyun. Sooyoung menautkan alisnya saat melihat Kyuhyun terlihat mengeluarkan dus-dus yang sudah lama tak pernah di sentuh. Kyuhyun mencoba menyusuri setiap isi dari dus-dus itu.

            “Aku rasa aku menyimpannya di sini, tapi dimana?” Sooyoung masuk ke dalam kamar, mendekati Kyuhyun.

            “Chagi? Kau sedang mencari apa?” tanya Sooyoung akhirnya.

            “Bungkusan berwarna cokelat. Apa Kau melihatnya, Chagi?” tanya Kyuhyun tanpa memandang Sooyoung.

            “Bungkusan berwarna cokelat?”

            “Ah! Dapat!” Kyuhyun mengangkat sebuah bungkusan cokelat lusuh. Dia tersenyum kecil memandang bungkusan itu. Sekilas bayangan kecelakaan Yuri kembali bermain di ingatannya. Kyuhyun melepaskan bungkusan itu dan menutup terlinganya. “Mianhae!” kagetnya.

            “Chagi? Kau kenapa?” tanya Sooyoung khawatir. Kyuhyun mengatur nafasnya lalu kembali mengambil bungkusan itu.

            “Gwenchana. Bungkusan ini adalah milikYuri. Aku akan memberikannya besok.” Mimik wajah Sooyoung seketika berubah. Sulit di artikan.

            “Apa ini yang Kau katakan hal yang penting?” Kyuhyun terdiam dan mencoba memandang Sooyoung. “Tanpa Kau jawab aku sudah tahu. Aku lelah. Aku tidur duluan, ne. Kau jangan lupa makan.” kata Sooyoung memaksakan sebuah senyum sembari berjalan ke tempat tidurnya. Kyuhyun terdiam di tempatnya dan memandang bungkusan berwarna cokelat itu. Saat Kyuhyun membuka bungkus itu, sesuatu berwarna perak jatuh ke lantai. Cincin perak bermata poodle sudah tergelak tepat di sisi kaki Kyuhyun

            Bukankah cincin ini adalah………..

            Kyuhyun dengan cepat mengambil cincin itu dan memasukannya kembali ke dalam bungkusan itu lalu menyimpannya. Kyuhyun sedikit melirik punggung Sooyoung yang tidur membelakanginya. Kyuhyun hanya menghela nafas lalu keluar dari kamar.

Sooyoung akhirnya mulai terisak saat sadar Kyuhyun sudah tak berada di kamar.

            Pada dasarnya Kau memang milik Yuri. Apa Aku harus mengembalikanmu padanya?

***

            Minho memperhatikan keadaan di sekitar ruangan Yuri. Tak ada Yoona dan Donghae. Sepertinya mereka sedang keluar. Minho kembali mendekat ke ruangan Yuri. Mengintip?

Helaan nafas lega terdengar saat Minho tak menemukan Kyuhyun. Hanya ada Ny. Kwon yang tertidur di sofa. Sedangkan Yuri? Mata lentik itu kini tertutup rapat. Nafasnya naik turun dengan seirama. Minho mendorong pintu itu pelan. Nyaris tanpa suara. Tak ada jas putih yang melekat pada Minho.

            “Selamat malam.” ucap Minho pelan dengan mengelus pelan kening Yuri. Minho mulai mendekatkan wajahnya mengarah ke kening Yuri. Namun dengan cepat Minho mundur saat Yuri bergerak. Mata Yuri membuka.

Yuri mengernyitkan keningnya, mencoba melihat siapa di depannya kini. Minho memutuskan untuk segera pergi dari ruangan itu.

            “ Minho?” Minho berhenti. Dia diam.Tak ada tanda-tanda ingin berbalik.

            “Kau menjengukku?” Minho tersentak mendengar penyataan Yuri. Apa yang harus di jawabnya sekarang?

            “Kau Minho, kan?” sekali lagi Yuri mengeluarkan pertanyaannya. Minho akhirnya berbalik dan menatap Yuri.

            “Aku sedang mencari Sooyoung. Aku fikir dia ada di sini bersamamu.”

Yuri memandang Minho heran. Namun perlahan-lahan dia mulai tersenyum.          

            “Kau begitu menyukai Sooyoung, ne? Perkiraanku selama ini tidak salah.” Minho melebarkan sedikit matanya. “tapi sudah beberapa hari ini Sooyoung tidak menjengukku. Apa Kau juga susah bertemu dengannya?” Minho tak bisa menjawab. Hanya anggukkan kecil yang berhasil di lakukannya.

            “Apa jadwal Sooyoung begitu padat?” heran Yuri sendiri.

            “Sudahlah. Mungkin besok Aku akan bertemu dengannya. Sekarang Kau istirahat, Aku pergi dulu.” kata Minho terburu sembari ingin melangkah keluar.

            “Minho-ssi?” Minho berhenti. “Gomawo sudah datang. Hari ini adalah pertama kalinya Kau menjengukku dan ini adalah kali pertama Aku berbicara banyak padamu.” Minho tertawa pelan.

            “Cheonma.” kata Minho dengan segera melanjutkan langkahnya. Selepas kepergian Minho senyum Yuri mulai memudar. Dia menatap ke langit-langit ruangannya.

            “Sooyoungie? Kapan Kau akan menjengukku? Aku merindukanmu.” desah Yuri pelan.

***

             Senyum Yuri merekah saat  Kyuhyun memberikan sebuah bungkusan berwarna cokelat yang sepertinya sudah di perbaharui. Yuri semakin bertambah bahagia saat mendapati ternyata isi dari bungkusan tersebut adalah sebuah buku yang sangat di inginkannya.

            “Sudah sedikit lusuh. Mianhae.”

            “Gwenchana Kyu-ah. Ini sudah cukup bagiku. Gomawo.” kata Yuri bahagia.

            “Cheonma. tapi, mianhae. Pertemuan dengan penulis itu–”

            “Gwenchana. Aku hanya perlu membaca bukunya, kan?”  sela Yuri lembut. Kyuhyun tersenyum dan mengacak sekilas rambut Yuri.

            Kyuhyun kembali terdiam.

            “Kyu-ah?” panggil Yuri saat melihat ekspresi Kyuhyun. “Gwenchana?” tanya Yuri.

Kyuhyun seketika menggeleng. “Gwenchana.” Yuri terus menatap Kyuhyun. Kyuhyun yang merasa mendapat tatapan lurus dari Yuri tanpa bisa di cegah ikut memandang Yuri. Mata Kyuhyun seakan tak ingin melepaskan pandangannya dari Yuri. Perlahan wajah Kyuhyun bergerak mendekati wajah Yuri. Yuri seakan mengerti maksud Kyuhyun segera menggenggam kuat tangannya dan menunggu. Wajah mereka semakin dekat. Kyuhyun berhenti seketika dan matanya melebar saat bayangan Sooyoung lagi-lagi melintas di benaknya. Yuri menjadi bingung saat Kyuhyun memundurkan kepalanya dan menggeleng.

            “Kyu?”

            “Mianhae,Yuri-ya. Aku rasa sudah saatnya Aku pulang. Kau jaga kesehatan, Arra? Selamat malam.” Kyuhyun mengelus pipi Yuri sekilas lalu dengan cepat berbalik keluar dari ruangan. Yuri hanya mampu memandang heran kepergian Kyuhyun.

            “Sampai kapan?”  Kyuhyun sedikit terperanjat saat Yoona sudah ada di depan pintu. Ini kali pertamanya Yoona berbicara pada Kyuhyun setelah permohonan Yoona dulu menjadi kali terakhir Yoona berbicara padanya.

            “Maksudnya?” tanya Kyuhyun.

            “Apa kau tidak lelah bermain di dua hati Yeoja? Aku tahu Kau melakukan ini untuk kesembuhan Yuri, tapi–”

            “Sepertinya Aku sudah tahu maksudmu,Yoong. Mianhae. tapi Aku melakukan ini hanya sebagai bentuk rasa tanggung jawabku pada Yuri. Bukankah Kau yang memintaku untuk melakukan ini?”

            “Aku memang memintamu melakukan ini, tapi Aku tidak pernah memintamu memberikan harapan palsu untuknya. Karena ini sama saja membuatnya semakin berada di posisi tinggi dan seketika bisa jatuh ke dasar. Dan itu lebih menyakitkan.” Kyuhyun terdiam sejenak. “Kau tak perlu ke sini setiap hari. Buatlah Yuri melupakanmu sedikit demi sedikit.”

Kyuhyun menghela nafasnya. “Aku sudah jatuh dalam posisi yang salah. Keduanya berat.” Yoona memandang heran Kyuhyun. “Aku rasa Aku harus pergi dulu. Annyeong.” Yoona hanya bisa diam saat Kyuhyun mulai berbalik dan menjauh. Tangan Yoona mengepal.

            “Aku benar-benar tak tahan dengan ini!” geramYoona pelan. Dia menarik nafasnya dalam lalu membuangnya kasar. Senyum manis pun mulai di paksakan Yoona saat mulai masuk ke dalam ruangan Yuri.

***

            Sooyoung memainkan jari-jemarinya. Rasanya hidupnya benar-benar sendiri. Setiap hari hanya berdua dengan Soohyun. Tak ada lagi keceriaan di keluarga ini. Senyum Sooyoung pun terasa hanya di buat-buat saat Ia harus berhadapan pada aegi kecilnya.

            Rasanya aku sangat merindukan Kyuhyun. Dekat tapi jauh. Kyu-ah,bogoshipo desah Sooyoung dengan melirik foto pernikahan mereka di Kanada. Sooyoung memandang gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. Tak ada yang istimewa dari gelang itu saat Kyuhyun memberikannya. tapi entah kenapa Sooyoung sangat menyayangi gelang itu.

            “Cepatlah pulang Kyu-ah. Aku merindukanmu.” lirih Sooyoung.

***

            Kyuhyun nampak duduk termenung memandang kosong ke depan. Di sebuah taman yang sunyi Kyuhyun duduk menyendiri. Tangannya mengepal. Bibirnya bergetar. Dalam hitungan detik, Kyuhyun bergerak dan mulai mengacak rambutnya sendiri.

            “Apa yang harus ku lakukan?! Aku tidak bisa begini. Aku tidak bisa selalu meninggalkan Sooyoung, tapi Aku juga tak bisa meninggalkan Yuri.” Kyuhyun berhenti pada kegiatan menyakiti diri sendirinya. Dia mengambil sesuatu di saku jaketnya. Sebuah cincin perak bermata poodle itu kini di pandangannya dengan lirih.

            Aku tak bisa memberikan ini pada Yuri. Aku sungguh tak bisa.

Kyuhyun berdiri dan hendak melemparkan cincin itu ke sembarang arah. Namun, dia terdiam. Di urungkannya niat itu dan kembali dia memasukan cincin itu ke dalam saku jaketnya.

            Aku sungguh payah!

***

            Ny. Kwon dengan penuh kasih mengelus-elus puncak kepala Yuri. Mata Yuri sesekali terlihat berpejam namun tak lama terbuka lagi.

            “Yuri-ya, tidurlah. Kau masih sangat butuh istirahat.” Yuri tak menjawab. Dia malah mengarahkan bola matanya pada sosok sang Eomma.

            “Eomma?” panggil Yuri pelan.

            “Ne, chagi?”

            “Apa Kyuhyun mencintaiku?” Ny. Kwon melebarkan matanya saat mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Yuri. Ny. Kwon berusaha menyembunyikan semua perasaannya dan mencoba tersenyum lembut. Dia kembali mengelus puncak kepala Yuri.

            “Jika dia tidak mencintaimu bagaimana mungkin dia selalu ada untukmu?” Yuri termangu. Perlahan dia mulai mengalihkan pandangannya.

            “Eomma. Jika seorang Putri Salju tidak mendapat ciuman dari sang Pangeran, apa yang akan terjadi?” Ny. Kwon semakin menautkan alisnya. Yuri tertawa kecil lalu berbalik pada sang Eomma. “Saranhae, Eomma.” kata Yuri lembut. Ny. Kwon mencoba kembali tersenyum.

            “Nado anak Eomma.”

***

            Yuri bersandar pada tempat tidurnya. Mimik wajahnya terlihat serius membaca baris demi baris dari Buku berjudul Bakemonogatari yang di berikan Kyuhyun untuknya.  Yuri merasa sedikit bosan dan akhirnya melirik jam. Entah kenapa rasanya sekarang waktu berjalan begitu lambat. Tidak seperti biasanya. Pintu ruangan Yuri akhirnya terbuka. Yuri sedikit terkejut saat melihat Kyuhyun sudah berada di depannya.

            “Bukankah harusnya Kau masih ada di sekolah?” Kyuhyun berjalan masuk dan seperti biasa meletakan bunga Lily baru di vas bunga.

            “Ini Minggu, Yuri-ya. Apa Kau lupa?” Yuri tertawa kecil lalu memukul kepalanya sendiri.

            “Kyu? Kemarilah.” panggil Yuri dengan menunjuk sebuah kursi tepat di samping tempat tidurnya. Kyuhyun menurut. “Kyuhyun apa Aku boleh bertanya sesuatu padamu?” Kyuhyun sedikit heran melihat tatapan serius Yuri untuknya.

            “Tanyakan saja.”

            “Apa Kau masih ingat tentang mantra itu?”

Kyuhyun sedikit tersentak saat Yuri lagi-lagi bertanya tentang itu. Yuri tersenyum dan menundukkan pandangannya sedikit. “Apa Kau mulai tidak mencintaiku?”  Kyuhyun semakin terkejut dan heran mendengar pertanyaan Yuri yang tiba-tiba membahas cinta.

“Apa Kau mulai menyukai Yeoja lain?”  Kyuhyun lagi-lagi semakin tersentak. Dia kaku saat mendapat tatapan penuh selidik dari Yuri. Mata itu memancarkan tatapan yang sama seperti delapan tahun yang lalu. Kyuhyun menggenggam kuat tangannya sendiri. Déjà vu?

 

Merasa tak kunjung mendapat jawaban   Yuri mulai tertawa kecil lalu memegangi kepalanya sendiri. “haha, harusnya aku tidak menanyakan hal itu. Mianhae.” kekeh Yuri menyalahkan dirinya sendiri. Kyuhyun akhirnya menunduk.

            “Selalu menunggumu.” Yuri seketika terdiam memandang Kyuhyun. Kyuhyun memejamkan matanya kuat seakan meyakini sesuatu dalam hatinya. Ia mencoba memandang Yuri.

            “Aku…” Yuri semakin memandang Kyuhyun yang menggantung perkataannya. Kyuhyun mencoba tersenyum pada Yuri. “Mencintaimu. Selalu.” Yuri menutup mulutnya. Air matanya sukses mengalir. Di sungguh bahagia mendengar pernyataan Kyuhyun. Hal yang sepertinya sudah lama tak dikatakan Kyuhyun padanya. Kyuhyun memegang tangan Yuri. Di genggamnya lembut tangan itu seolah tak ingin melepaskan pegangan itu lagi.

            “Nanti malam kita akan ucapkan mantra itu. Di depan bintang-bintang.” ucap Kyuhyun lembut. Yuri mengangguk bahagia.

            “Ah jinjja, akan semakin sulit melepaskan mereka.” Yoona meremas tangannya sendiri. dengan sedikit menghentakan kaki dia meninggalkan Minho yang berdiri di depan pintu yang bermaksud melihat perkembangan Yuri. Minho tersenyum kecil lalu menggenggam kuat tangannya. Minho ingin melangkah pergi. Namun suara pintu ruangan Yuri yang terbuka menghentikan langkahnya.

            “Minho?” Minho tak langsung berbalik. “Apa keadaan Yuri semakin membaik?” Minho menghela nafas dan dengan pelan dia memasukan kedua tangannya pada saku jas dokternya, memberikan kesan tegas.

            “Bukankah Kau yang lebih tahu perkembangan Yuri daripada Aku?” kata Minho datar dengan melirik sedikit pada Kyuhyun. Kyuhyun mengernyitkan keningnya pada Minho. Minho ikut memandang Kyuhyun. Akhirnya Minho menghela kecil dan berpaling dari Kyuhyun. “Semakin lama semakin susah melepaskan. Perhatikan Anae dan Anakmu.” Kyuhyun hendak menjawab perkataan sinis dari Minho. Namun, dia mengurungkan niatnya saat Minho sudah berjalan menjauh dari tempat mereka. Kyuhyun sedikit memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing. Dengan menarik nafas panjang akhirnya Kyuhyun ikut pergi dari tempat itu.

***

            Sooyoung lagi-lagi harus menatap nanar makan malam yang sudah di masaknya. Baru saja tadi sore Kyuhyun pulang dari menjenguk Yuri. tapi sekarang? Kyuhyun kembali pergi dengan bilang ada sesuatu hal penting yang harus di lakukannya. Sooyoung meremas tangannya sendiri dengan kuat. Nafasnya mulai ikut terasa berat.

            “Memangnya apa lagi yang lebih penting selain Yuri?” Sooyoung memegang dadanya dan mencoba menengadahkan kepalanya. Kau tak boleh egois Sooyoung-ah. batinnya mencoba menguatkan diri sendiri. Sooyoung memandang gelas juga cincin pernikahannya bersama Kyuhyun dua tahun yang lalu. Sooyoung tersenyum lirih memandangnya.

***

            Kyuhyun berjalan pelan menuju ruangan Yuri. Kyuhyun sedikit menunduk saat matanya bertemu tatap dengan Donghae yang sedang duduk di kursi depan ruangan Yuri. Donghae membalas. Kyuhyun akhirnya masuk ke dalam ruangan. Hal pertama yang menyambut Kyuhyun adalah senyum mengembang Yuri saat menyadari Kyuhyun sudah tiba. Yoona yang tadi bersenda gurau bersama Yuri berbali. Mata Yoona seketika menyipit memandang Kyuhyun. Kyuhyun dapat memaklumi arti tatapan Yoona itu. Yoona akhirnya hanya menelan kesalnya dan mulai berdiri.

            “Yul. Donghae-oppa pasti sudah menungguku di depan. Kau cepat istirahat, Arra?” kata Yoona dengan memegang kedua bahu Yuri. Yuri tersenyum dan mengangguk patuh.

            “Arra. Gomawo sudah menemaniku, Yoong. Kau juga cepat istirahat.” Kini giliran Yoona yang mengangguk. Dengan  langkah pasti Yoona berjalan keluar.

            “Cepatlah akhiri semuanya.” bisik Yoona saat melewati Kyuhyun. Kyuhyun hanya diam.

            “Kyu?” panggil Yuri saat melihat Kyuhyun yang masih berdiri mematung. Kyuhyun akhirnya kembali pada kesadarannya dan segera berjalan mendekati Yuri.

Kyuhyun kini duduk di sisi kanan Yuri. Kyuhyun dengan sedikit ragu mulai memegang tangan Yuri.

            “Bagaimana keadaanmu?”

            “Cukup baik. Tapi kakiku maih terasa kaku. Dr. Oh juga bilang jika Aku belum bisa mengikuti rehabilitasi untuk melatih pergerakan kakiku.” Kyuhyun mengangguk mengerti.

            “Hwaiting!” kata Kyuhyun dengan mengepal tangan kirinya ke atas. Yuri mengikuti hal yang di lakukan Kyuhyun.

            “Hwaiting!

Kyuhyun kembali diam. Perlahan dia mulai memandang keluar jendela dari kursinya.  Yuri ikut memandang obyek yang sedang di pandang oleh Kyuhyun. Apa aku harus melakukan ini? Haruskah? Ah~, mungkin hanya mantra tidak apa-apa? Benarkah?

            “Kyeopta.” kagum Yuri. Kyuhyun menarik nafasnya dalam lalu membuangnya tanpa suara. Yuri tersentak kaget saat merasakan tubuhnya sudah di peluk oleh Kyuhyun dari belakang.

            “Yuri-ya? Apa Kau masih ingin mendengar mantra itu?” Yuri mengangguk pelan dalam pelukan Kyuhyun. Kyuhyun memejamkan matanya kuat seolah ingin mendapatkan keyakinan.  Yuri mengernyitkan keningnya saat tak kunjung mendengar suara dari Kyuhyun. Yuri akhirnya memegang tangan Kyuhyunh yang sedang melingkar di tubuhnya dari belakang. “Kyu? Jangan paksakan dirimu jika kau tak ingat pada kata-kata yang Kau ucapkan beberapa bulan yang lalu. Aku mengerti.” Kyuhyun menggeleng dan memperdalam pelukannya.

            “Aku ingat. Akan selalu ingat.”

            “Bintang-bintang  dengarlah. Di sini, aku sedang memeluk seorang Yeoja yang sangat ku cintai. Aku mencintainya. Tolong selamanya jangan pisahkan kami. Aku ingin selamanya hanya bersamanya, Tuhan..” Kyuhyun melepas pelukannya dan membalik tubuh Yuri yang melebarkan mata untuk menghadapnya. Kyuhyun tersenyum dan memandang lurus pada manik mata Yuri. Bayangan wajah Yuri delapan tahun yang lalu kembali melintas. Yuri mulai menggigit bibir bawahnya yang bergetar dan segera memeluk Kyuhyun.

            “Saranghae Kyu-ah, Saranghae!” Kyuhyun melebarkan matanya. “Harusnya Aku tak meragukan cintamu. Mianhae.” Kyuhyun hanya bisa diam.Kyuhyun melepas pelukan Yuri. Mata mereka bertatap tanpa berpaling satu sama lain. Yuri merona dan mulai menundukan pandangannya. Kyuhyun tersenyum melihat itu. Tanpa di sadari Kyuhyun mulai mendekati wajah Yuri dengan wajahnya. Yuri menutup matanya saat menyadari wajah Kyuhyun semakin mendekat. Hangat kini di rasakan Yuri saat bibir Kyuhyun sudah menempel pada bibirnya. Di hadapan bintang-bintang, Kyuhyun terus memagut bibir mungil Yuri. Hanya perlu beberapa detik untuk Yuri membalas pagutan lembut dari Kyuhyun.

Bintang-bintang dengan setianya menyaksikan kedua pasangan itu saling berpagut. namun ternyata bukan hanya bintang-bintanglah yang menyaksikan itu. Di luar ruangan, seorang namja berjas putih sedang mengepal tangannya melihat hal itu. Namja itu akhirnya mengalihkan pandangannya dan bermaksud untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Yoona sudah ada di depannya.

            “Kau bukannya sudah pulang?” tanya Minho.

            “Sebenarnya iya, tapi tasku ketinggalan di dalam ruangan Yuri. Jadi aku kembali untk mengambilnya.” Minho mengangguk-angguk mengerti.

            “Tapi sepertinya Kau harus menunggu untuk mengambil tasmu itu. Mereka sedang sibuk.”

            “Mereka?” Tanpa Minho jawab ternyata Yoona sudah mengerti terlebih dahulu. “Aku hanya ingin mengambil tas, tak akan mengganggu mereka kan?” Yoona bermaksud melewati Minho. Namun, langkah Yoona berhenti saat melihat Yuri dan Kyuhyun saling menempelkan kening mereka.

            “Jadi apa benar Kau masih mencintaiku?”

            “Be –”

Brag! Yuri dan Kyuhyun serentak menoleh ke arah pintu.

            “Hentikan semua itu!” Kyuhyun melebarkan matanya melihat Yoona sudah menatap tajam ke arahnya.

            “Yoona? Ada apa?” tanya Yuri lembut.

            “Yul! Berhentilah bersikap seolah Kau tidak tahu apa-apa!” Kini Yuri lah yang mencadi sasaran tatapan tajam Yoona. Yuri mengernyitkan keningnya. “Kau tahu? Sudah berapa lama Kau tertidur?”

            “Yoona hentikan!” cegah Kyuhyun tanpa ingin melepas tautannya tangannya dari Yuri. Minho ingin mencegah Yoona, namun bagaimana dia bisa muncul di hadapan Yuri dengan jas putihnya sekarang? Sekali pun dengan baju biasa, apa tak aneh jika tiba-tiba dia ada di sini?

            “Kau sudah tertidur delapan tahun, Yuri! Kau sudah membuat Kami semua menunggumu selama itu!” Yuri terdiam seketika. Matanya melebar menatap Yoona. Mulut Yuri mulai membuka perlahan. Dadanya bergerak cepat seolah dia mencoba mengatur nafasnya yang semakin tak teratur.

            “Yuri-ya.”

Yoona menghapus air matanya kasar.

            “Aku sudah tidak tahan lagi melihat Kau seolah tak tahu apa-apa Yul! Kau harus tahu kalau sekarang Kau sedang dibohongi! Kau menyakiti semuanya dengan keadaanmu yang sekarang ini, Yul! Kau menyakiti semuanya!” Tepat saat Yoona mengakhiri perkataannya. Yuri meringis sekilas memegangi kepalanya. Yoona terdiam melihat reaksi Yuri yang terus menahan kesakitan di kepalanya dengan tertahan.

            “Yul?” kata Yoona khawatir pada reaksi Yuri.

            “Yuri-ya?” Kyuhyun terus berusaha memegang tangan Yuri. Tanpa bisa di cegah, tubuh Yuri lunglai. Matanya terpejam dan pegangan tangannya pada Kyuhyun terlepas.

            “YURI-YA!!!!” teriak Kyuhyun mencoba mengguncang-guncang tubuh Yuri yang sudah tak sadarkan diri. Dengan tergesa, Kyuhyun menekan-nekan tombol darurat untuk memanggil petugas kesehatan. Yoona terduduk lemah di lantai dingin itu. Dia menunduk dan menangis.

            “Apa yang baru saja kulakukan?” tangisnya.  Minho dengan sigap langsung masuk kedalam ruangan Yuri.  Dr. Oh dan beberapa perawat yang baru saja tiba segera menyusul  masuk ke dalam ruangan dan menghampiri tubuh lemah Yuri. Berbagai alat kesehatan mulai di pasangkan kembali. Kyuhyun hanya terdiam memandang Yuri yang sedang di tangani dengan cepat oleh Dr. Oh dan Minho.

***

            Yoona duduk dengan memandang kosong ke pintu ruangan Yuri. Tak ada gairah hidup sama sekali terpancar dari wajahnya. Berkali-kali dia sesenggukkan mengingat apa yang telah di lakukannya tadi siang. Di dekat Yoona ada Donghae yang sudah siap menjadi sandaran bagi Yeojanya. Di sisi lain, ada Ny. Kwon yang terus berdoa dan sesekali nampak menangis. Kyuhyun tertunduk tak berdaya dengan pandangan lurus ke depan.

            “Pada akhirnya terjadi juga.” kata Minho pada Dr. Oh. Pandangan Minho lurus menatap Yuri yang kembali tertidur dengan selang oksigen di hidungnya. Suara decit dari layar monitor kecil kembali terdengar di ruangan ini.

            “Pada dasarnya memang psikisnya masih lemah. Wajar jika dia menjadi begini setelah di serang fakta bertubi-tubi seperti itu.” ucap Dr. Oh. Minho menarik nafas lalu membuangnya. “Sudahlah, Aku keluar dulu. Setidaknya Kau sudah berhasil membuatnya tidak kembali ke keadaan itu.” ujar Dr. Oh seraya menepuk punggung Minho yang masih berdiri mematung di sisi kanan Yuri.

Minho tak kunjung melepaskan tatapan matanya dari mata Yuri yang tertutup itu. Sekali Minho membuang nafas lelahnya.

            “Nappeun Yeoja. Kau memang sudah tidak koma. Tapi tetap saja Aku tak tau kapan Kau akan membuka kedua mata itu kembali.” desah Minho seraya mulai berbalik ingin keluar. Sudah pasti banyak yang menunggu Yuri di luar sana.

            “Bagaimana Yuri?” tanya Ny. Kwon saat melihat Minho.

            “Bukankah Dr. Oh sudah mengatakannya?”

            “Dr. Oh bilang, Kau lah yang lebih pantas menjelaskannya.” Minho melirik ke arah Yoona yang masih diam dengan pandangan kosongnya. Matanya sembab karena selalu menangis hingga sesenggukkan. Di sisi lain ada Kyuhyun yang ikut menatap Minho seolah ingin tahu. Minho memandang tajam pada Kyuhyun, namun akhirnya Minho mengalihkan pandangannya.

            “Untuk beberapa waktu mungkin dia tidak akan sadar.” ucap Minho akhirnya. Ny. Kwon kembali terisak. Yoona memandang Minho penuh rasa bersalah. Minho menyadari tatapan Yoona. Minho menghampiri Yoona yang sepertinya sedang tidak memiliki Donghae yang biasanya akan menenangkan Yoona jika ada di sini.

            “Aku janji akan merawatnya, jangan salahkan dirimu lagi. Bukankah Kau ingin mengakhiri semua ini?”

            “tapi aku membuatnya shock Minho-ya. Aku jahat.” kata Yoona dengan parau.

            “Lebih jahat jika kita membiarkannya lebih lama lagi.” kata Minho sebelum akhirnya dia mulai berjalan menjauh. Kyuhyun mengepal tangannya dan ikut berdiri. Dia memutuskan untuk segera pergi.

***

Kenapa? Kenapa Aku tidak bisa menahan diriku jika di dekat Yuri? Kenapa?

Kyuhyun tersandar di lorong rumah sakit. Dia memandang nanar tangannya. Waeyo? Kenapa Aku melakukan hal tadi? Bukankah Aku menyakitinya lagi? Membuatnya tertidur lagi? Waeyo?

            Kyuhyun mengambil minuman dingin pada sebuah mesin penyedia minuman. Kyuhyun segera meletakan minuman kaleng itu pada keningnya. Entah kenapa dia merasakan pusing yang teramat sangat sekarang.  Dengan seluruh kekuatan yang di punyanya Kyuhyun segera pulang ke Apartemennya.

            Kyuhyun menautkan kedua alisnya ketika tak melihat keberadaan Sooyoung dan Soohyun saat dirinya tiba di Apartemen. Kyuhyun merogoh sakunya dan mengambil ponsel miliknya. Dengan sekali tekan dia mencoba menghubungi ponsel Sooyoung. Kyuhyun bernafas kecewa saat mendengar nada tak aktif dari sana.

            “Kau dimana Chagi? Mianhae Akhir-akhir ini Aku tidak ada waktu untukmu. Kau pasti mengerti, kan?” ucap Kyuhyun pelan. Wajah Kyuhyun semakin pucat. Tanpa bisa di tahannya lagi, Kyuhyun tersungkur di lantai dan matanya perlahan-lahan mulai terpejam.

***

Di sebuah taman yang sepi itu Sooyoung duduk menyendiri bersama Soohyun yang tertidur di dalam gendongan Sooyoung. Dia menangis. Rasanya kehampaan hatinya semakin lama semakin bertambah. Berada di apartemen sekarang sungguh akan membuatnya bertambah sedih.

            “Apa Aku harus mengembalikannya padamu, Yul? Apa harus?” gumam Sooyoung dalam tangisnya.

Sooyoung memutuskan untuk segera pulang menuju apartemennya dengan bis.

            Sesampainya di Apartemen Sooyoung mulai menekan beberapa digit angka untuk membuka pintu. Sooyoung seketika terlonjak kaget melihat tubuh Kyuhyun tertidur di lantai. Sooyoung dengan cepat menghampiri tubuh itu.

            “Kyu-ah? Kyu-ah? Kau kenapa?” tanya Sooyoung panik. Sooyoung semakin khawatir saat Kyuhyun tak kunjung menjawabnya. Sooyoung menyentuh kening Kyuhyun, betapa kagetnya Ia saat merasakan suhu tubuh Kyuhyun terasa panas sekali. Sooyoung berdiri dan dengan cepat meletakan Sooyoung ke dalam kamar.

Sooyoung berlari kecil kembali menghampiri Kyuhyun.

            “Gwenchana Chagi, Aku baik-baik saja.” kata Kyuhyun saat merasakan Sooyoung mulai berusaha memapahnya berdiri.

            “Baik-baik apanya? Kau demam!” ucap Sooyoung sedikit meninggi.

Sooyoung membuang nafas lelahnya. Kini dirinya sudah selesai meletakan handuk hangat tepat di kening Kyuhyun yang terlihat memejamkan matanya. Sooyoung memandang wajah Kyuhyun.

            “Kau itu terlalu memaksakan diri. Tidurlah.” kata Sooyoung pelan lalu mulai merapikan obat yang baru saja di berikannya pada Kyuhyun.

            “Yuri-ya.” langkah Sooyoung terhenti saat mendengar gumaman Kyuhyun dalam tidurnya. tapi perlahan Sooyoung tersenyum lirih. Bukankah dia sudah sering mendengar itu dulu? Dengan cepat Sooyoung meneruskan jalannya.

***

            Beberapa hari berlalu. Yuri masih betah dalam ketidak sadarannya. Membuat hati Yoona kian bertambah khawatir. Yoona duduk di tempat tidur kosong yang merupakan tempat di mana Yuri menjalani hari-harinya di rumah sakit ini, sejak koma dulu. Sejak saat Yuri kembali tidak sadar, Minho memindahkan Yuri ke ruang perawatan intensif.

            Yoona memandang bunga Lily yang selalu di bawa Kyuhyun untuk Yuri. Yoona mengambil bunga itu dan kemudian meletakannya kembali.

            “Apa Kau begitu merindukannya?” Yoona berbalik dan tersenyum lirih mendapati Minho sudah berada di ambang pintu. “Kau tenang saja. Sebentar lagi Yuri pasti akan kembali ke ruangan ini.” Yoona memasang wajah herannya pada Minho.

            “Uhm. Dia sudah sadar dan beruntungnya ingatan dia berhasil menerima waktunya yang hilang selama delapan tahun ini. tapi kondisinya masih sangat lemah oleh karena itu dia akan banyak tertidur akibat pengaruh obat.” Yoona memandang tak percaya pada Minho.

            “Benarkah?” Minho mengangguk.     

            “Bahkan dia sudah tahu Aku adalah seorang Dokter. tapi – ” Mimik wajah Minho mendadak menjadi ragu.

            “Tapi?”

            “Aku masih tak bisa mengatakan tentang semua kejadian delapan tahun itu. Dia nanti pasti akan bertanya semuanya padamu.” Yoona tak mejawab. Dia memandang keluar jendela dengan tatapan sendu. Minho ikut memandang keluar jendela.

***

            Kyuhyun berusaha membuka matanya yang berat. Sudah beberapa hari dia istirahat total dari kegiatan kantor juga, menjenguk Yuri? Ya, Yuri. Sudah beberapa hari ini dia tidak melihat wajah Yeoja itu. Kyuhyun mencoba duduk lalu mengedarkan pandangannya.

            “Kau sudah bangun, Chagi?” Kyuhyun mencoba tersenyum saat Sooyoung baru saja masuk ke dalam kamar bersama Soohyun di gendongannya.

            “Ne. Aku rasa aku sudah cukup baikkan.”

            “Syukurlah.”

            “Gomawo.” Sooyoung tersenyum ke arah Kyuhyun. Sooyoung meletakan Soohyun di sebelah Kyuhyun.

            “Kyu-ah? Soohyun begitu mirip denganmu, ne?” kata Sooyoung sembari mulai menepuk-nepuk kaki Soohyun agar si kecil tetap lelap di tidurnya. Kyuhyun tersenyum dan ikut memandang Soohyun.

            “Ne, tentu saja. Dia anakku.”

            “tapi dia juga anakku!” kekeh Sooyoung. 

Hening. Sooyoung sedikit melirik pada Kyuhyun yang sedang.

            “Kyu, apa Aku boleh bertanya sesuatu padamu?” Kyuhyun berbalik kecil pada Sooyoung lalu mengangguk.

            “Jika kita tidak menikah sekarang, apa Kau akan kembali pada Yuri?” Kyuhyun melebarkan matanya mendengar pertanyaan Sooyoung.

            “Apa maksudmu?” Sooyoung tersenyum lalu menggeleng.

            “Hanya ber-andai. Kau tahu? Selama Kau menjenguk Yuri, Aku dan Soohyun sedikit kesepian.”

            “Mianhae.” ucap Kyuhyun.

            “Gwenchana. Bukankah Kau sudah sering meminta maaf padaku?” Kyuhyun menundukan pandangannya. “Kyu? Apa menurutmu Minho menyayangiku? Rasanya dia sangat perhatian padaku, ne?” Kyuhyun diam. Sooyoung menghentikan kegiatannya dan memandang ke arah Kyuhyun. “Kyu?”

            “Mungkin Minho memang mencintaimu. Sepertinya begitu.” kata Kyuhyun dengan senyum. Sooyoung menatap Kyuhyun seakan terkejut dengan jawaban Kyuhyun. Sooyoung mulai terkekeh kecil dan dengan pelan melepaskan cincin pernikahan juga gelang berbandul S yang selama delapan tahun ini setia melingkar di pergelangan tangannya.

            “Kau tidak marah sama sekali jika namja lain perhatian pada anae-mu, uh?” Kyuhyun memandang Sooyoung heran. Sooyoung menunduk, tak memandang Kyuhyun.

            “Demi cintaku Aku sudah mengkhianati sahabatku. Menyerah pada impianku.” Kyuhyun masih diam memandang Sooyoung yang masih terus menunduk. “Selama ini, Aku sudah kehilangan sahabat-sahabatku. Kehilangan impianku. Aku bertahan hanya karena tak ingin kehilangan cintaku juga. Aku tak ingin kehilangan apapun lagi.” Kini suara Sooyoung mulai bergetar.

            “Chagi?”

            “Hentikan.. Hentikan!!” Kyuhyun menghentikan perkataannya saat Sooyoung sudah menatapnya dengan mata yang sudah berair. Wajah Sooyoungmemerah menahan amarah. “Aku sudah tak tahan. Aku menyerah, Kyu-ah. Selamanya Aku tidak akan bisa menggantikan sosok Yuri di hatimu. Aku tak bisa menggantikannya. Mungkin perceraian adalah jawabannya.”

Kyuhyun menggeleng dan bermaksud  memegang pipi Sooyoung. Namun, dia begitu terkejut saat Sooyoung menepis tangannya. Tanpa sepatah kata lagi Sooyoung  mengambil Soohyun yang sedang tertidur. Soohyun sedikit kaget sehingga membuatnya menangis. Sooyoung tak perduli itu. Dia berjalan keluar dari kamar dengan cepat. Kyuhyun bereaksi saat Sooyoung sudah menghilang dari pintu kamar. Kyuhyun beranjak dari tempat tidur dan bermaksud mengejar Sooyoung.

            “Chagi-ya! Tunggu!” panggil Kyuhyun. Namun sayang. Sooyoung sudah sukses menghilang dari hadapannya.  Kyuhyun terduduk di depan pintu apartemen dan sesekali mengatur nafasnya yang masih sedikit sesak.

***

Minho terlihat sedang santai menikmati kopi hangatnya di apartemen pribadinya. Dia mencoba meregangkan otot-otot tubuhnya seolah ingin melepas semua penat yang terasa. Minho sedikit mengangkat alisnya saat mendengar suara bell apartemennya berbunyi.  Siapa yang datang di siang hari seperti ini? Eomma? Appa? Minho seketika tersenyum miris. Tidak mungkin kedua orang tuanya akan datang menemuinya setelah dia menentang keinginan sang Appa beberapa tahun yang lalu.

Minho akhirnya segera beranjak dari kursinya saat mendengar bel apartemennya berbunyi lagi. Minho melebarkan matanya saat melihat Sooyoung yang sedang menggendong Soohyun melalui layar. Minho dengan cepat membuka pintu.

            “Sooyoung kena –”

Minho terdiam saat Sooyoung tiba-tiba menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Minho.

            “Pada akhirnya tetap saja.” Minho menautkan alisnya.

            “Sooyoung? Apa maksudmu?”

            “Kyuhyun adalah milik Yuri. Sekuat apapun Aku mempertahankan Kyuhyun tetap saja hati Kyuhyun hanya untuk Yuri. Aku menyerah.” Minho hanya bisa diam dan kemudian tangannya bergerak menuju kepala Sooyoung. Dengan pelan Minho mengelus kepala itu.

            “Arra. Arra. Kau bisa menangis sepuasnya di sini.” Sooyoung menatap Minho. Minho tersenyum lalu mulai mengajak Sooyong dan mengambil alih Soohyun untuk masuk ke dalam Apartemen Minho.

            Minho melirik sedikit pada Sooyoung yang sedang membuang pandangannya jauh keluar jendela. Soohyun tertidur pulas di atas tempat tidur empuk milik Minho. Minho menghela nafas dan berjalan mendekati Sooyoung dengan secangkir teh hangat.

            “Sooyoung?” Sooyoung dengan pelan berbalik dan Minho. “Minumlah.” kata Minho menyerahkan cangkir itu. Sooyoung tersenyum kecil lalu menyambut cangkir itu.

            “Jadi apa yang membawamu datang kemari?”

            “Aku akan segera bercerai dari Kyuhyun.” sahut Sooyoung cepat. Minho melebarkan matanya.

            “Bercerai?”

Sooyoung tak langsung menjawab. Dia mencoba menyeruput teh hangat yang di berikan Minho. Minho terlihat bingung akan sikap Sooyoung.

            “Soo – ”

            “Aku sudah tak tahan  Minho-ya. Aku tak tahan lagi untuk terus melihat betapa Kyuhyun masih sangat perhatian pada Yuri. Aku tak tahan akan waktu Kyuhyun yang semakin tidak ada untukku dan Soohyun.” Sooyoung meletakan cangkir berisi teh hangat itu dengan pelan. Sooyoung menatap cangkir itu dan mengelus tangkainya berkali-kali. “Bagaimana pun Aku ini tidak bisa jadi pengganti Yuri. Tidak bisa.”

            “Apa ada yang pernah berkata kalau Kau itu adalah pengganti Yuri?” Sooyoung berhenti mengelus-elus pinggiran cangkir itu. Pandangan Sooyoung lekat pada isi cangkir itu. Akhirnya Sooyoung menggeleng pelan. “Kau bukanlah pengganti Yuri bagi Kyuhyun. Kau itu anaenya. Dan Yuri hanyalah masa lalu untuknya.”

            “Aku juga ingin berfikir seperti itu, Minho. tapi kenyataan seakan merubuhkan kepercayaanku. Rasanya hatiku sakit sekali.” Sooyoung menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit kamar Minho. “Aku saja sesakit ini, bagaimana perasaan Yuri jika mengetahui semuanya.”

Minho menatap intens pada Sooyoung yang sedang menerawang langit-langit.

            “Bahkan saat Aku berkata Kau mencintaiku, tak ada sedikit pun rasa kesal apa lagi cemburu darinya. Bukankah itu sudah menunjukkan bagaimana perasaannya padaku?” Minho kembali membesarkan matanya. Dia hendak berkata sesuatu pada Sooyoung. Namun dia berhenti saat Sooyoung mulai menatapnya dengan senyum di paksakan. “Aku tahu. Kau tidak benar-benar mencintaiku. Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan Kyuhyun padaku.” Minho seketika tertawa kecil.

            “Bagaimana jika Aku benar-benar mencintaimu?” Sooyoung menatap Minho tak lama kekehan kecil pun terdengar dari Sooyoung. Minho menautkan alisnya menatap Sooyoung. “Apa ada yang lucu?” tanyanya sarkatis. Sooyoung menggeleng dan mengalihkan lagi pandangannya dari Minho.

            “Kau memang selalu ada untukku Minho-ya. Walau pun Aku selalu menyakiti hatiku karena keputusanku tapi Kau tidak pernah memalingkan bantuanmu untukku.” Sooyoung berbalik dan tersenyum pada Minho. “tapi cintamu  sejatinya bukan untukku.”

Minho terdiam untuk beberapa saat, sampai akhirnya dia menghela nafasnya. “Ah sudahlah, tidak usah di bahas.” Minho menghampiri Sooyoung dan memeluknya. “Aku mohon menangislah Sooyoung-ah. Aku tau, selama ini Kau selalu menyimpan kesedihanmu sendiri.” Sooyoung mulai menggigit bibirnya yang bergetar. Dengan pelan dia mulai membalas pelukan Minho. Dengan punggung yang bergetar hebat, Sooyoung menangis menumpahkan semua kesedihannya yang selama ini selalu di rasakannya sendiri pada Minho.

            “Uljima. Pertahankan cintamu, Sooyoung-ah. Jangan sampai usahamu selama delapan tahun ini sia-sia.” Minho terus mengelus kepala Sooyoung yang sesenggukan di pelukannya. “Jangan pula sepertiku yang membiarkan cintaku pergi bersama orang terdekatku.” Sooyoung seketika diam dan berusaha ingin memandang Minho, namun pelukan Minho semakin erat hingga Sooyoung mengurungkan maksudnya itu. Minho melempar pandangannya jauh entah kemana. Dia menggertakan giginya tanpa sepengetahuan Sooyoung.

            Kau sudah keterlaluan, Kyu.

***

            Yuri terbaring lemah di atas ruang perawatan inapnya kini. Alat kesehatan sudah tak terlihat melekat pada bagian tubuhnya. Hanya tertinggal selang infuse saja yang masih bertahan. Yoona memandang Yuri takut-takut dari luar ruangan. Baru saja beberapa jam lalu Yuri di pindahkan dari ruang perawatan intensif menuju ruang inap, tempatnya semula. tapi seperti kata Minho. Yuri masih akan lebih sering tertidur karena pengaruh obatnya.

            “Apa dia masih tertidur, chagi?” tanya Donghae. Yoona mengangguk pelan.

            “Entah kenapa aku sangat takut jika Yuri bangun nanti, Oppa. Dia pasti akan marah padaku dan bertanya banyak hal padaku.” ucap Yoona sedikit menggigit bibirnya. Donghae tersenyum dan meraih tangan dingin Yoona.

            “Kita memulainya bersama, jadi sudah pasti kita bertanggung jawab bersama. Aku akan menemanimu untuk menjelaskan semuanya pada Yuri.”

Yoona terpaku melihat Donghae. Namun Yoona segera mendapatkan kesadarannya kembali saat Donghae menggodanya.
“Ya! Chagi. Jangan terpukau padaku seperti itu, Aku kan jadi malu.”

            “Ya! Oppa! Kau ini.” Yoona segera memeluk tubuh Donghae yang senantiasa akan selalu membalas pelukan Yoona.

***

Yeay~ Akhirnya part IV selesai, Uhm? Makin gajekah? HeHe. Terimakasih banyak sudah menyempatkan diri untuk baca ceritanya sampai sini. Di harapkan sekali Kritik + Saran dari kalian, biar saya tau kalau kalian suka atau tidaknya sama cerita ini😀

Sekian😛

135 thoughts on “Eternity Wish (PART IV)

  1. riskaagustna Februari 12, 2014 pukul 11:56 am Reply

    annyeong eon, ff nya bgs. ditungu next part nya ya, bikin yg lebih seru lgi. Hwaiting!!

  2. yuricrown Februari 13, 2014 pukul 10:42 am Reply

    annyeong eon ^^ sihgi imnida. ff nya seru. next part ne🙂 kisahnya greget banget/? T_T aku tunggu eon next partnya

    • yuuripico26 Februari 23, 2014 pukul 2:30 am Reply

      annyeong Sihgi🙂 makasih ya ..:D

  3. yuricrown Februari 13, 2014 pukul 10:44 am Reply

    eon our future gaada lanjutannya kah??

  4. laras Februari 14, 2014 pukul 11:29 am Reply

    eon next part dooong please bgt buruan d publish,nunggu bft nih

    • yuuripico26 Februari 23, 2014 pukul 2:30 am Reply

      lg ada problem ama laptop kemarin.. mian :’)

  5. Desi Ansari Februari 15, 2014 pukul 2:03 am Reply

    Waaah bgus bget critanya sumpah keren …. eonni daebak . . bk wp lgsung bca part ini gx dr prtma.. eonni skrang Insya Allah bkl komen trus gk bkl jd silent ..
    eon d tggu part lanjutannya dan our future jg ya hehehe

  6. Desi Ansari (desi_ansariYS) Februari 18, 2014 pukul 11:21 am Reply

    waaah critanya mengharukan tntang kyuppa yg bingung hrus mmilih syapa yuri kah?sookah? tp mdh2an yulni. eonni bwat kyuri brsatu ya

  7. Ariesta Februari 22, 2014 pukul 12:34 am Reply

    Annyong mian baru komen dipart ini, baru baca part IV. Kasihan banget soo oenni harus mengalah terus dan ngorbanin perasaanx sama kyu bwt yuri, smga yuri cepat sadar dan sembuh. Soo harus pertahanin cinta kamu bwt kyu benar kata minho jgn sia2kn wktu mu 8th ini lw perlu minho bantu soo bwt kyu cemburu dan menyesal karna udah nggak peduliin soo sm anakx… Bwt kyuyoung bersatu thor… Dan minho dapatin cintanxa yuri. Next jgn lama2 cepat dipost ya thor! Fighting

    • yuuripico26 Februari 23, 2014 pukul 2:37 am Reply

      gwenchana..🙂
      hehe di usahain ya..😀
      makasih :*

    • yuuripico26 Maret 13, 2014 pukul 4:44 am Reply

      annyeong🙂
      hehehe makasih komentarnya😀

  8. autumn breeze Februari 23, 2014 pukul 4:25 pm Reply

    Annyeong, Author !
    New reader here.
    Salam kenal yaa😀
    Iseng-iseng browsing ketemu dengan FF kamu
    And I must say such a talent you have
    This story is heart breaking >.<
    Can't wait for the next chapter.
    Gemes banget sama Minho, sabar banget.
    Aku harap next chapter akan lebih banyak interaksi antara Minho dan Yuri.
    Till' next time, Author
    Fighting !

    • yuuripico26 Maret 13, 2014 pukul 4:50 am Reply

      annyeong😀 welcome to my place ya! hehe..
      salam kenal juga😀
      thanks~!😀
      ok.. wait for the next chapter ya.. #bow..🙂

  9. laras Maret 1, 2014 pukul 11:16 am Reply

    eon gak sabar next part nya nih

  10. riskaagustna Maret 7, 2014 pukul 4:41 am Reply

    ceritanya sedih bgt eon. huhu, cukup sedih waktu sooyoung menghianati yuri dg menikah sm kyu. tpi ada senangnya juga, krn yuri jd deket sm minho🙂 dtunggu next part nya ya eon. hwaiting🙂

  11. meirina Maret 9, 2014 pukul 8:41 am Reply

    Wuahhh.. Eon ceritanya daebakkkk… Next dong eon, d tunggu yaaaa … Fighting ..

  12. argandosri Maret 14, 2014 pukul 6:19 am Reply

    joha! joha! joha! daebak!
    aku slalu nungguin keluarnya nih ff.
    nextnya jngan kelamaan ya, thor…. jngan buat penasaran oke?
    palliiiiii…. kalo engga……….

    • yuuripico26 Maret 30, 2014 pukul 8:36 am Reply

      waduh >.< kalau engga kenapa tu? hehe

  13. Suci indah Maret 17, 2014 pukul 7:40 am Reply

    Eonni satuin minyul y! Ohya next part slnjt.a di tggu y

  14. yuyulk Maret 20, 2014 pukul 12:09 am Reply

    annyeong,aku reader baru disini,tapi langsung suka termasuk ama ni ff. ditunggu yah next chapternya🙂

  15. Kwon Blackpearl Yuri Maret 29, 2014 pukul 2:18 pm Reply

    Thor..sedih ngeliat MinYul ga bersatu
    Satuin MinYuk thor..ga suka liat kyuri

    Lanjutannya MinYul harus udah ada feel#maksa

    • yuuripico26 Maret 30, 2014 pukul 8:52 am Reply

      duh.. hehe🙂 di tunggu aja ya😀

  16. kwon yulsic yurisistable April 3, 2014 pukul 6:15 pm Reply

    Lanjut next part

  17. oeba yoonyul April 6, 2014 pukul 9:58 am Reply

    ohh jebal, yul shock bgt
    minho ya jaga yullll
    kyusoo jgn cerai

  18. Mrslee040420 April 18, 2014 pukul 10:32 am Reply

    Oh mantra itu romantis tis tis bgt ..
    Tpi knp mantra itu gk ditujukan minho untuk Yuri .. Malah mantra itu ditujukan kyuhyun untuk Yuri .. Kasian yuri harus menerima semuanya :’)

    • yuuripico26 April 29, 2014 pukul 7:26 am Reply

      Huhu… Minho blm kepikiran buat mantranya hehe

  19. sella mvp shawol Mei 19, 2014 pukul 2:45 pm Reply

    penuh emosi cerita ini.. kkkkkkkkkk
    mengharukan penuh air mata. . ㅜ.ㅜ

  20. rizkia tifanny Juli 2, 2014 pukul 1:50 pm Reply

    Hmm eonnie mian yah .. hehehe aku baru baca sekarang .. hehe baru semlat soalnya eonn 😊

Yuk tinggalin jejaknya (ʃƪ˘ﻬ˘)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: