Eternity Wish (PART III)

Eternity Wish III

Tittle :

Eternity Wish III

Author :

Yuuripico26

Art by :

EkhaLeeSunHi

Cast :

Kwon Yuri || Choi Sooyoung  || Cho Kyuhyun || Choi Minho

Im Yoona

Genree :

Romance – Friendship

Ratting :

PG-15

Length :

Chaptered

***

Tada! Hehehe I’m back bawa Eternity Wish part III… Kemarin pasti pada bingung kenapa KyuYoung udah nikah, kan? Hehe Aku sengaja buat penjabarannya ada di part ini.. Jadi, Yuk langsung aja…😀

Terima Kasih banyak buat yang udah kasih komentar + sarannya, ya.. :) 

– READERS YANG BAIK PASTI NINGGALIN JEJAK

– TYPO IS AN ART OF WRITING 

***

Eternity Wish III

***

            Kyuhyun tertunduk lemas di lantai dingin rumah sakit. Dia menangis.. Tangannya mengepal, giginya menggertak dan air matanya terus membanjiri kedua matanya yang sudah terlihat sangat sembab itu… Dirinya terus mengeluarkan kata-kata penyesalan yang cenderung memojokan dirinya sendiri.

            “Yuri-ya.. Mianhae…” kata Kyuhyun dalam tangisnya… Yoona masih berusaha menenangkan Ny. Kwon yang berkali-kali pingsan sejak mendengar Yuri mengalami kecelakaan hingga sekarang…

Sooyoung ikut terisak.. Hatinya berkecamuk…

            “Jangan menangis, Kyu… Jangan.. Akulah yang salah.. andai aku tak menahanmu untuk melihat stand itu… Mianhae…”

            “Sssttt.. Berhentilah berkata begitu, Sooyoung-ah,” bisik Minho sembari terus mengelus punggung Sooyoung. Minho menggenggam kuat gelang yang di belinya beberapa saat lalu…

Pintu ruangan Perawatan Darurat terbuka.. Memunculkan sesosok Dokter berumur sekitar 30-an tahun dengan seragam operasinya yang penuh darah…  Semua mata tertuju pada Dokter itu sekarang..

            “Bagaimana Dokter?” tanya Yoona membuka suara. Mewakili semua pertanyaan penuh kekhawatiran dari semuanya.

            “Operasi dadakan ini mungkin berhasil untuk membuatnya tetap bisa bertahan sampai sekarang, tapi….” Dr. Oh menggantung kata-katanya.. Menimbang-nimbang apa yang harus di katakannya dengan sebaik mungkin….  “Mianhae, Saya tak berhasil membuatnya membuka mata…” Perkataan tiba-tiba Dr. Oh membuat semuanya sukses melebarkan mata..

            “Mak.. maksud Dokter, apa?” tanya Yoona bergetar… Dr. Oh menggeleng..

            “Koma… Yuri jatuh ke dalam kondisi itu dan mianhae… Saya tak dapat menghindari hal ini…” Ny. Kwon memegang dadanya. Tubuh paruh baya itu mulai melemah dan hendak jatuh beruntung Donghae dengan sigap membantu Yoona menahan tubuh Ny. Kwon yang shock..

            “Jadi.. Kapan Yuri akan sadar, Dokter?” tanya Minho..

            “Mollayo… Saya mungkin tak dapat memperkirakan waktunya.. tapi sekarang harapannya untuk sadar sangat kecil… Benturan keras di kepalanya benar-benar membuatnya kehilangan kesadaran total. Kasarnya saya katakan, kehidupannya sekarang lebih di dominasi oleh bantuan alat-alat kesehatan itu…” Sooyoung menutup mulutnya.. Dia menangis kembali dalam pelukan Minho… Yoona menggelengkan kepalanya. Bibirnya bergetar, menahan suatu desakan yang memaksa keluar dari pelupuk matanya.. Donghae ikut menunduk, tanda dia benar-benar bersimpati mendengar kabar itu… Minho menunduk sebentar, sampai akhirnya Ia melirik Kyuhyun yang dari tadi tak bergerak…

            “Kyu?” panggil Minho saat melihat Kyuhyun terdiam dengan posisi yang masih terduduk di lantai dan melihat ke bawah…

            “Kyu-ah, mianhae…” kata Sooyoung…

Blam! Semua terkejut saat mendengar Kyuhyun memukul kuat lantai rumah sakit berkali-kali..

            “Bodoh kau Cho Kyuhyun-ah! Bodoh! Lihatlah apa yang sudah kau lakukan. Kau menyakiti Yeoja-mu!” marah Kyuhyun pada dirinya sendiri… Kyuhyun kembali menangis dan memukul-mukul lantai rumah sakit seolah sedang melampiaskan semua penyesalannya… Minho dan Sooyoung serentak bergerak memeluk sahabatnya yang sedang hancur itu. Sooyoung memeluk Kyuhyun kuat dengan air mata yang terus berderai.. Minho makin meremas gelang yang sedari tadi selalu di pegangnya… Tak di perdulikannya lagi bandul-bandul dari gelang itu menyakiti telapak tangannya…

***

            Sooyoung duduk bertopang dagu di kursinya. Kelas hari ini begitu ramai, tapi begitu hampa di hati Sooyoung. Sudah dua minggu berlalu sejak Yuri mengalami kecelakaan dan jatuh dalam kendisi koma, sejak saat itu juga lah Sooyoung merasa sendiri. Tak ada Yuri yang biasa akan berceloteh dengan sifat pemalunya sembari menemaninya latihan dan Kyuhyun yang selalu menggodanya dengan mengatainya Shikshin..

Sejak Yuri di nyatakan koma, tak sekali pun Kyuhyun terlihat masuk sekolah. Tapi ada satu yang tak berubah….

            “Ini…” Sooyoung melirik kecil sebuah kotak makanan yang kini sudah ada di depannya.. Sooyoung tersenyum kecil dan melihat siapa yang memberikan kotak makanan itu..  Ini lah yang tak pernah berubah bagi Sooyoung. Minho. Namja itu selalu berusaha ada untuknya. Walau begitu tetap saja ada kekosongan di hati Sooyoung..

Di tempat lain tepatnya di kelas 3-A ada Yoona yang duduk di kursi tempat biasa Yuri duduk. Yoona menerawang jauh tanpa tau apa sebenarnya yang ia lihat…

            “Yul-ah, bogoshipo…” desahnya…

***

            Sooyoung berjalan kecil menuju sebuah ruangan perawatan.. Ia ingin segera masuk ke dalam ruangan itu, tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang namja dengan setianya tidur di sisi Yeoja yang tertidur dengan alat-alat bantuan kesehatan.. Suara dari monitor kecil yang ada di dekat Yeoja itu seakan tak mengganggu tidur damai keduanya.. Sooyoung memegang dadanya.. Ia mengurungkan niat untuk menjenguk Yuri hari ini..  Melihat Yuri yang sudah tertidur selama satu bulan membuat Sooyoung meringis dalam hatinya. Di tambah melihat Kyuhyun yang tak pernah absen menjaga Yuri menambah suatu kesedihan mendalam bagi Sooyoung..

            “Sooyoungie? Kau tak latihan?” tanya Yoona yang baru saja tiba.. Sooyoung menggeleng..

            “Aku tak mendapat konsentrasiku Yoong…..” jawab Sooyoung seadanya..

            “Kau tak boleh begini, Sooyoung-ah.. Bukankah pertandinganmu sisa beberapa waktu lagi, jika kau tak latihan kau bisa….” Yoona menghentikan perkataannya saat merasa Sooyoung memeluknya dan saat itu juga punggung Sooyoung bergetar. Ia menangis.. Yoona menggigit bibir bawahnya. Dia membalas pelukan Sooyoung dan mengelus pelan kepala Sooyoung.. Yoona tau benar apa yang di rasakan Sooyoung. Dia pun juga merasakan itu.

***

            Bibir Kyuhyun terkatup rapat. Matanya terus memandang satu titik, mata sang Yeoja yang selalu tertutup. Tangan Kyuhyun tak henti-hentinya mengelus puncak kepala Yeojanya..

            “Kapan kau bangun, Chagi? Aku merindukanmu…” kata Kyuhyun pelan…  Tak ada sahutan satu kata pun dari perkataan Kyuhyun. Hanya kesepian dan suara alat kesehatan Yuri, juga detik jam yang menemani Kyuhyun… Kyuhyun tersenyum lalu Ia sedikit meninggikan dirinya dan mengecup lembut kening dingin milik Yuri..

            “Saranghae.. Cepat bangun Chagi… Aku merindukanmu…” Tak lama Kyuhyun mulai terkekeh pelan.. “Kau pasti bosan  mendengar kata-kataku yang selalu mengatakan aku merindukanmu selama dua bulan kau tidur di sini ne.. tapi kau tenang chagi, aku tak akan pernah bosan mengatakan itu.. Seperti aku tak pernah bosan berkata.. Saranghae dan Mianhae telah membuatmu seperti ini…”

Kyuhyun memeluk tubuh tertidur itu dengan lembut.. Ia menangis tanpa suara di dalam pelukannya sendiri pada Yuri..

Sooyoung mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang ada di depannya. Minho turut memperhatikan itu saat Ia datang kemari untuk menemani Sooyoung.. Yoona yang kebetulan selalu ikut menjenguk Yuri mulai terisak menangis… Donghae ikut merintih melihat itu, Ia memeluk Yeojanya mencoba menenangkan..

***

            “OUT!!!!” teriak Park-songsaenim sedikit kesal pada permainan Sooyoung …

            Sooyoung hanya tertunduk saat Park-songsaenim mulai mendekatinya…

            “Lihatlah permainan burukmu ini, Choi Sooyoung.. Jika terus begini kau tak akan pernah bisa masuk ke dalam turnamen itu! Bahkan dengan kemampuan seperti itu kau tak akan pernah pantas bertanding sekali pun itu hanya babak qualifikasi!” Sooyoung meremas raketnya… Ia tak berniat sedikit pun mengangkat kepalanya…

            “Aku tak tau apa yang membuatmu seperti ini. Aku hanya khawatir jika aku tak bisa menurunkanmu di pertandingan nanti. Kemampuanmu ini tak ada bedanya sama murid-murid lain yang baru bergabung dengan club tennis…” Perkataan terakhir Park-songsaenim sebelum meninggalkan Sooyoung terasa begitu menghujam hati Sooyoung.. Ia berjalan lemah, memasukan raketnya ke dalam tas..

            “Menurutku, dia pasti sedang mempunyai masalah dengan namja-nya…”

            “Ah, aku rasa pasti dia sudah di buang oleh namjanya setelah si namja mengambil semuanya..”

            “Ah jinjja, kalian jahat sekali berkata begitu… tapi aku rasa dia pantas mendapatkan itu, dulu dia sangat percaya diri bisa mengikuti turnamen itu.. Haha…” Sooyoung mengepal kuat tangannya. Ia berusaha tak memperdulikan obrolan-obrolan itu saat dirinya melewati ruang ganti untuk yeoja.. 

            Tanpa Sooyoung sadari Yoona mendengar kejadian itu…

Brag! Dengan geram Yoona membanting pintu ruang ganti itu hingga terbuka.. Sooyoung menghentikan langkahnya dan berbalik kembali..

            “Apa kalian hanya bisa mendumel di sini? Aku yakin kalian berbicara seperti itu karena cemburu pada kemampuannya, kan?!”

            “Ya! Kau siapa? Kami tak mengenalmu sana keluar!” ketus salah satu dari mereka..

            “Lagian untuk apa kami cemburu pada kemampuannya yang nyaris sama dengan kemampuan murid-murid yang baru bergabung? Sangat memalukan jika kita punya teman satu club yang terlalu membawa-bawa urusan pribadi-nya ke club!”

            “Yoong!” Yoona menghentikan maksudnya yang ingin segera memberi pelajaran pada yeoja-yeoja sombong di depannya.. “Sudahlah Yoong.. Lebih baik kita pergi saja..” ajak Sooyoung pada Yoona..

            “Sooyoungie! Kau dengar mereka berbicara apa tentangmu, kan? kenapa kau diam saja?!” kesal Yoona… Sooyoung menggeleng dan segera menarik pelan tangan Yoona keluar…

            “Sooyoung? Kenapa kau biarkan mereka mengataimu? Bukankah harusnya sebagai teman satu club mereka mendukungmu?” Sooyoung tersenyum ..

            “Sudahlah Yoong.. Aku sudah memutuskan.. Ayo pergi…” ajak Sooyoung…

“Memutuskan apa?” Sooyoung tak menjawab malah terus berjalan.. Yoona terdiam heran namun beberapa detik kemudian Ia ikut melangkahkan kakinya mengikuti Sooyoung.

“Aku tak akan mengikuti pertandingan itu…” putus Sooyoung akhirnya..

“Apa?! Sooyoungie, jangan bercanda…”

“Aku tak bercanda Yoong.. Apa aku terlihat sedang bercanda denganmu?” Yoona menggeleng.. Yoona mendekati diri pada Sooyoung.

“Waeyo? Kau tak boleh begini Sooyoung-ah… Jika kau menyerah, Yuri pasti akan……”

“Aku sudah memutuskan Yoong… Aku tak bisa jika tak ada Yuri di sampingku… Tak bisa…”

“Tapi….”

“Ayoooooooo….” kata Sooyoung panjang menarik tangan Yoona dan berjalan cepat…

***

“Sooyoungie?! Waeyo?!” pekik Minho saat melihat Sooyoung membuang raket tennisnya ke sebuah sungai…  Sooyoung terdiam melihat raketnya perlahan-lahan tenggelam.. Minho berdecak kesal dan hendak melompat ke sungai itu..

            “Jangan!” cegah Sooyoung dengan memeluk Minho dari belakang..

            “Kau gila Sooyoung! Kau membuang impianmu begitu saja karena omong kosong yang orang-orang itu katakan padamu?! Kau bodoh!” umpat Minho kesal.. Sooyoung menggeleng dan menangis.. Minho akhirnya menghela nafasnya lalu dengan lembut menghapus air mata Sooyoung.. “Kenapa? Kenapa kau begini? Turnamen itu akan di laksanakan besok dan lihat apa yang kau lakukan barusan?” ucap Minho lemah..

            “Minho aku menyerah Minho…. Aku tak bisa meneruskan cita-citaku di saat sahabatku yang selalu mendukungku terbaring tanpa kepastian….”

            “tapi ini begitu konyol, Sooyoung-ah.. Yuri juga pasti akan sedih mendengar ini…”  Sooyoung menatap Minho lama. Minho mengalihkan pandangannya.. Sooyoung mendekati Minho perlahan dan memeluk Minho..

            “Aku…. menyerah..” kata Sooyoung pelan.. Minho tak bisa berkata apapun lagi selain mengelus pelan rambut Sooyoung yang sedang memeluknya…

***

Yoona mengelus-elus kepala Yuri sejenak lalu dia mencoba tersenyum dengan menunjukan sebuah piala pada Yuri…

            “Yul? Lihatlah.. kau tau? Aku berhasil mendapatkan medali emas untuk cabang Taekwondo di pertandingan international itu.. Ah jinjja.. Rasanya latihanku tak sia-sia, aku berhasil membawa nama Negara kita beserta sekolah kita, Yul-ah!” girang Yoona dengan senyum mengembangnya. Perlahan, senyum itu sirna.. Yoona menurunkan medali itu. wajahnya menjadi sedih… “Aku tak tau, kenapa Sooyoung menyerah dari pertandingan itu, Yul-ah… Mianhae, aku tak bisa membujuk Sooyoung untuk tetap mengikuti pertandingan itu, padahal kau tau, dia sangat memimpikan pertandingan ini….” 

Yoona kembali memandang wajah damai milik Yuri… Yoona mulai sesenggukkan.. Dengan cepat nan lembut dia memeluk tubuh Yuri…

            “Bangun, Yul.. Aku mohon bangunlah…. Kami semua tak bisa jika tanpamu.. Aku mohon…” isak Yoona dalam pelukan kaku Yuri…

***

             Sooyoung memandang lurus kepala sekolah yang sedang menyampaikan sambutannya di upacara kelulusan. Selesai memberikan kata sambutan, semuanya mulai menyanyikan lagu kebangsaan Korea. Namun, Sooyoung hanya diam tanpa ekspresi… Dengan pelan dia mulai memandang sekitar, benar saja, tak ada Yuri atau Kyuhyun di sini… Sooyoung menghela nafas.. Minho dapat melihat sekilas ke arah Sooyoung. Di tengah-tengah banyaknya siswa-siswi yang berbaris mengikuti upacara ini Minho masih dapat melihat Sooyoung yang bersikap seperti orang linglung.

***

            Sooyoung berjalan terburu menuju apartemen Kyuhyun. Dengan memasukan beberapa digit angka Sooyoung dapat membuka pintu itu… Seperti biasa, kesepian lah yang menyambut Sooyoung. Sooyoung menghela nafasnya saat melihat Kyuhyun hanya duduk di atas tempat tidur dengan menutup semua dirinya dalam sebuah selimut…

            “Rupanya kau benar-benar tak menghadiri acara kelulusan ne? Waeyo? tadi sangat menyenangkan…” kata Sooyoung berusaha terdengar ceria.. tak ada jawaban dari orang di balik selimut itu.. Sooyoung kembali menghela nafasnya dan meletakan makanan beserta minuman yang di bawanya di atas meja kecil..

            “Aku harus pergi.. Aku harap kau mau memakan ini…” ujar Sooyoung sebelum ingin pergi..

            “Gomawo… Aku akan memakannya sebelum ke rumah sakit…” Sooyoung menghentikan langkahnya saat mendengar suara parau dari Kyuhyun. Sooyoung berbalik dan mendapati Kyuhyun sudah tersenyum padanya dengan wajah sendu dan mata yang sembab… Sooyoung tau, Kyuhyun pasti habis menumpahkan semua kesedihan yang tak bisa di tumpahkannya di depan Yuri.. Sooyoung bermaksud ingin mendekati Kyuhyun sekedar untuk menghapus airmata namja itu, namun Sooyoung mengurungkan niatnya. Dia akhirnya hanya tersenyum dan langsung berlari keluar…

Sooyoung menghentikan langkahnya saat mendapati Minho sudah berada di depan pintu apartemen Kyuhyun. Sooyoung menangis dan akhirnya berlari memeluk Minho…

***

            Di sini Sooyoung dan Minho. Di sebuah taman yang pernah mereka datangi bersama Kyuhyun dan Yuri..

            “Jadi, kenapa masih memperhatikannya?” kata Minho membuka pembicaraan.. Sooyoung masih diam.. “Kau tau? Perhatianmu padanya sangat berlebihan Sooyoungie.. Kau tak perlu melakukan itu. Kyuhyun sudah dewasa dan dia mampu memikirkan kehidupannya sendiri…”

Minho sedikit memandang Sooyoung yang memandang datar ke depan..

            “Kehidupan Kyuhyun benar-benar di penuhi kesedihan dan penyesalan atas keterlambatannya menjemput Yuri dulu, Minho-ya.. Setiap hari dia hanya diam lalu menangis di apartemen dan pergi dengan senyum palsu ke rumah sakit untuk melihat Yeoja yang dia cintai terbaring tanpa kepastian.. Apa aku salah memperhatikan Kyuhyun ? Aku rasa kau sebagai sahabatku dan sahabat Kyuhyun mengerti perasaanku…”

            “Perasaanmu yang mana yang tidak ku mengerti? Kau melakukan ini karena kau merasa bersalah pada Yuri kan? Ingatlah Sooyoung, Kau tak pernah bersalah atas kecelakaan itu. Kau dan Kyuhyun sama-sama tak bersalah, takdirlah yang mengatur semua ini….”

Sooyoung menunduk.. Dia kemudian mengigit bibir bawahnya..

            “Apa Yuri akan sadar, Minho-ya? Berapa lama lagi dia akan sadar? Aku tak tahan melihat semua ini… Aku menyayangi Yuri dan ….. Hiks… Aku mencintai Kyuhyun….” ucap Sooyoung akhirnya.. Minho melebarkan matanya… Tak lama Minho tersenyum miris saat menyadari Sooyoung memang pasti memiliki perasaan ini., Melihatnya begitu perhatian pada Kyuhyun dan selalu memakai gelang yang di beri Kyuhyun mampu menjadi alasan kuat untuk membuat Minho percaya jika Sooyoung sangat mencintai Kyuhyun..

            “Dia akan sadar… Pasti…. Yuri akan sadar.. Walau aku sendiri tak tau kapan itu terjadi..” Minho berdiri dan mulai mengelus gelang di saku celananya.. Gelang perak yang selalu di bawa Minho tanpa pernah memberikan kepada siapa gelang ini di tujukannya…

            “Aku… Akan akan memasuki sekolah kedokteran… Aku harap kita dapat melangkah maju ke depan bersama-sama.. Aku, Kau, Kyuhyun bahkan Yoona… Semuanya… Aku pikir itulah harapan Yuri yang sebenarnya…” kata Minho sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan Sooyoung yang masih tertunduk..

tes… Air mata Sooyoung menetes… Dia akhirnya terisak sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

            “Bagaimana aku bisa melangkah maju Minho-ya? Sedangkan orang yang kucintai masih berdiri di tempat yang sama…” kata Sooyoung di sela-sela isakannya..

***

 

            Kyuhyun mengepal tangannya dan memukul tembok apartemennya dengan kuat. Warna kemerahan mulai terlihat di tangannya.  Kyuhyun akhirnya terduduk.. Baru saja Ia mendapat telpon yang selama ini tak ingin di terimanya. Besok. Apppanya akan datang dari Kanada untuk menjemput Kyuhyun.. Appanya berang mengetahui Kyuhyun tak mengikuti ujian untuk masuk perguruan tinggi. Bahkan di acara kelulusan pun Kyuhyun tak menghadirinya…

            “Baik Appa.. Aku akan melanjutkan kuliahku… tapi tidak di Kanada. Aku akan tetap di Seoul! Selamanya aku tetap disini!” bentak Kyuhyun sebelum akhirnya dia menekan kasar tombol end pada ponselnya… Kyuhyun melirik ke atas meja belajarnya. Ada sebuah figura. Kyuhyun tersenyum lirih pada seorang Yeoja yang berada di pelukannya dalam foto itu..

            “Yuri-ya.. Bogoshipo..” desah Kyuhyun.. Dengan cepat Kyuhyun beranjak mengambil jaket tebalnya dan dengan terburu dia mulai meninggalkan apartemen.

***

Di tengah sepinya rumah sakit. Kyuhyun terus menyusuri rumah sakit ini untuk menuju ke sebuah ruangan. Kyuhyun langsung saja ingin membuka pintu ruangan itu.

            “Kyu-ah?” Kyuhyun mengurungkan niatnya saat Minho tiba-tiba berada di belakangnya. Kyuhyun sedikit menautkan alis. “Aku kemari menemani Sooyoung.. Dia ada di dalam bersama Yoona menjenguk Yuri.. Ahjumma sedang lembur…” kata Minho seolah mengerti keheranan Kyuhyun. Kyuhyun akhirnya duduk di kursi yang di sediakan untuk pengunjung, di depan ruangan itu…

            “Aku akan mengambil jurusan bisnis…” kata Kyuhyun akhirnya…

            “Mengambil jurusan bisnis? Kau akan masuk perguruan tinggi?”

Kyuhyun mengangguk pelan…

“ Aku pikir kau akan terus menunggui Yuri tanpa ingin melihat apapun lagi di sekelilingmu..”  kata Minho tanpa nada…  Kyuhyun menghembuskan nafasnya sesaat..

            “Hanya agar Appa tak memintaku untuk ikut ke Kanada…”

            “Hanya karena itu? Apa kau tak pernah berniat ingin melangkah maju?”

Hening.

Beberapa saat tak ada percakapan antara kedua namja ini… Sampai akhirnya Kyuhyun kembali menghela nafas dan menyandarkan kepalanya..

            “tak pernah sedikit pun terpikirkan untuk melangkah maju tanpa Yuri di sampingku, Minho-ya. Hidupku hanya untuknya… Dia dalam keadaan ini juga karenaku…” Minho dapat menangkap keseriusan dari perkataan Kyuhyun padanya..

            “tapi bagaimana dengan hidup Sooyoung?” tanya Minho akhirnya..

Kyuhyun memandang Minho penuh tanda tanya..

            “Hidup Sooyoung?”

Minho hanya memandang sebentar pada Kyuhyun. Minho akhirnya berdiri dan meregangkan tubuhnya..

            “Lupakan.. Aku hanya ingin kau melihat kesekitarmu. Melihat teman-temanmu. Bukan hanya terus terpuruk pada satu kesalahan…” ucap Minho sebelum pergi meninggalkan Kyuhyun sendiri… Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari punggung Minho yang mulai berjalan menjauh..

            “Aku tak bisa melangkah maju tanpa cintaku Minho-ya… tapi aku harap kau dan Sooyoung akan terus melangkah maju… Gomawo atas perhatian kalian untukku dan Yuri…” kata Kyuhyun pelan sembari mulai bersandar kembali pada kursi itu.. Rasanya ruangan Yuri dan kursi di depan ruangan ini seperti rumah bagi Kyuhyun.. Setiap hari ada di sini. Itu sudah menjadi kebiasaan Kyuhyun…

Kyuhyun melirik ke arah pintu saat pintu ruangan Yuri terbuka. tanpa sengaja mata Sooyoung bertemu tatap dengan mata Kyuhyun..

            “Apa kau sudah makan?” tanya Sooyoung.. Kyuhyun mengangguk… “Baguslah.. Kalau begitu aku pergi dulu, ne.. Minho pasti sudah menungguku di depan..” Kyuhyun tersenyum dan mencoba berdiri..

            “Gomawo, Shikshin-ya… Teruslah melangkah maju bersama Minho..” Sooyoung terdiam memandang Kyuhyun tak percaya. Rasanya sudah lama sekali Ia tak mendengar Kyuhyun memanggilnya seperti ini…  “tentu saja aku juga akan melangkah maju… dengan membawa Yuri bersamaku…” kata Kyuhyun saat melewati Sooyoung dan masuk ke ruang perawatan Yuri.. Sooyoung hanya diam sembari melihat keadaan di dalam melalui kaca berbentuk kotak yang ada di pintu…  Sooyoung memegang dadanya saat melihat Kyuhyun tersenyum lebar di dalam sana  sembari mulai meraih tangan Yuri dan mengecup kening Yuri…      

***

Tahun demi tahun berganti…

Sooyoung sibuk bekerja di sebuah kantor pemasaran sebagai karyawan biasa. Yoona mulai menjadi pelatih taekwondo dan Minho di sibukan oleh jadwal kuliah kedokterannya yang semakin hari semakin menyiksa otak. Kyuhyun tentu saja mulai pergi ke kampus untuk meneruskan pendidikannya, jika jam kuliah sudah selesai Kyuhyun akan dengan sangat tergesa   segera menghampiri Yuri dan menceritakan semua pengalamannya di kampus. Walau sepertinya Kyuhyun tak punya pengalaman menyenangkan seperti yang pernah di rasakannya dulu. Bukan tak pernah, Kyuhyun-lah yang selalu menghindari itu…

Melihat Kyuhyun yang terkadang masih memiliki tatapan kosong  yang sering kali tertangkap oleh Sooyoung membuat Sooyoung selalu berusaha berbuat  sesuatu untuk Kyuhyun.. Sebelum bekerja Sooyoung akan selalu memasakan sarapan dan saat pulang bekerja Sooyoung akan selalu setia membuatkan makan malam untuk Kyuhyun. Walau selalu mendapat perlakuan yang tak seperti harapannya, tapi Sooyoung selalu melakukan itu…

Hari ini, tepatnya lima tahun hubungan Kyuhyun dan Yuri.. Selama itu pula Yuri hanya tertidur tanpa menunjukan tanda-tanda kepulihannya.. Kyuhyun masih dengan setianya menggenggam tangan Yuri dan sesekali membisikan kata cinta dan penyesalan-nya lalu mengecup kening Yuri..

            “Chagi… Kau tau? Hari ini aku sudah menyelesaikan semuanya.. Besok. aku akan di wisuda.. Aku harap kau bisa menemaniku Chagi.. Oh ya.. Appa dan Eommaku akan datang ke Seoul besok untuk menghadiri acara wisudaku..” Sekali lagi Kyuhyun mengecup kening Yuri lalu bibir Yuri dengan singkat.. “Kau tenang saja.. Aku akan mengenalkanmu pada mereka besok.. Saranghae…”  kata Kyuhyun sembari kembali mengecup bibir kaku Yuri…

            “Terkadang aku sedikit kasihan padanya,” kata Donghae pelan dari luar ruangan…

Yoona memegang dadanya. Jika boleh jujur dia sangat sakit ketika melihat sesuatu yang menyakitkan seperti ini.. “Ayo kita pergi, Oppa..” ajak Yoona dengan suara bergetar. Donghae mengangguk setuju…

***

            Sooyoung masuk dengan perlahan ke dalam ruangan Yuri… Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Tak ada perubahan sedikitpun di ruangan ini..

            “Annyeong, Yul-ah..” sapa Sooyoung pelan tanpa ingin mengganggu Ny. Kwon yang tertidur di sofa dan Kyuhyun yang juga tertidur dengan setia di samping Yuri…

            “besok Kyuhyun akan di wisuda.. Kau tau? Semangatnya menyelesaikan itu adalah karena dirimu, jadi bangunlah Yul. Kau harus menyaksikan itu…” kata Sooyoung lembut.. Sooyoung memegang tangan dingin Yuri.. Semakin kurus saja, batin Sooyoung. Hati Sooyoung seketika menangis keras melihat keadaan Yuri sekarang terlebih ketika Sooyoung melihat wajah tertidur Kyuhyun yang terlihat begitu damai… “Apa selamanya akan begini Yul? Tertidur di sini selama lima tahun sangat menyakitkan, ne? tapi kau tau? Ini juga sangat menyakitkan untuk Kyuhyun, Ahjumma, Yoona  dan juga… Aku… hiks..” Sooyoung menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara tangisan sedikitpun…  Tanpa bisa di tahan oleh Sooyoung, air mata itu sudah sukses mengalir deras melalui pipinya.. Sooyoung mengelus sekali kepala Yuri sebelum akhirnya dia berlari keluar ruangan…

Sooyoung menghambur ke dalam pelukan seorang namja yang dengan setianya selalu ada di depan ruangan Yuri menunggu seseorang…  Jas putih namja itu rupanya sudah mulai basah akibat air mata Sooyoung..

            “Ssstt.. Jangan menangis di sini, ayo ikut aku. Aku igin memberi tahu sesuatu padamu…” ajak Minho.. Sooyoung mengangguk pelan lalu mengikuti kemana Minho membawanya…

Sooyoung sedikit membuka mulutnya kagum saat Minho mengajaknya ke taman rumah sakit. Sooyoung menengadahkan kepalanya, menatap bintang-bintang. Minho ikut tersenyum saat melihat Sooyoung sedikit menyunggingkan senyumnya.

            “Aku sudah diterima bekerja sebagai Dokter…” kata Minho tiba-tiba. Sooyoung seketika memandang Minho..

            “Jinjja? Chukkae, Minho-ya! Omo.. Aku baru sadar.. Seragam itu, cocok untukmu..” ucap Sooyoung dengan senyumnya. “Rumah sakit mana?”

Kini giliran Minho yang tersenyum, “di sini.”

Sooyoung menatap heran pada Minho…

            “dan kau tau? aku akan menjadi dokter yang menangani Yuri. Kata Dr. Oh, ini bisa melatihku.. Dia juga akan mengawasiku secara terus-menerus,” jelas Minho lagi.. Sooyoung mencoba tersenyum lalu kembali memandang bintang di langit malam itu…

            “Kyeopta…” kata Sooyoung pelan.. Minho ikut melihat bintang itu.. “bintang itu seperti Yuri.. begitu indah..”

            “kau pun tak kalah indahnya..” Sooyoung lagi-lagi menatap Minho dengan heran.. Minho terkekeh lalu mengacak gemas rambut Sooyoung.. “Jangan pura-pura tersenyum jika kau ingin menangis! Haha.. sudah berapa kali di ingatkan, jangan nangis di depan Yuri, Arra?” Sooyoung merapikan kembali rambutnya dengan bibir yang di-pout-kan…

            “Jadi kau mengajakku keluar hanya karena tak ingin aku menangis di depan Yuri?”

            “Kau tau kan, menurut beberapa ahli…..”

            “ne.. ne.. Dr. Choi!” ketus Sooyoung memotong perkataan Minho.. Minho kembali tersenyum…

            “Aku janji akan membuat Yuri sadar.. Doakan aku ne…” kata Minho sembari mulai berjalan.

***

            Kyuhyun berlari dengan kencangnya. Bajunya yang tadi terlihat rapi kini terlihat sedikit tak beraturan akibat pergerakan sembarangan Kyuhyun yang berlarian. Rambut Kyuhyun ikut menjadi sedikit berantakan dan wajahnya kini tengah menunjukan rona kekhawatiran mendalam.. Kyuhyun berhenti berlari. Dengan nafas tersenggal dia mencoba menatap satu-persatu orang-orang yang ada di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. Ada Ny. Kwon yang sedang di peluk oleh Yoona, ada Donghae yang setia menemani Yoona dan juga ada Sooyoung yang terus menutup mata seolah berdoa…

            “Yu…. Yuri kenapa?” Perhatian semuanya mendadak teralih ke arah Kyuhyun.. Sooyoung melebarkan matanya..

            “Kyuhyun? Bukankah kau…..”

            “Bagaimana keadaan Yuri?!” kini nada bicara Kyuhyun meninggi.. lelah karena berlari seolah terkalahkan oleh rasa khawatirnya sekarang..

            “Aku tadi mengabari Kyuhyun kalau keadaan Yuri mulai melemah…” kata Yoona pelan.. “tapi aku sungguh tak tau jika Kyuhyun akan segera berlari di hari kelulusannya…” lanjut Yoona sedikit menyesal..

Sooyoung mulai berjalan mendekati Kyuhyun.. “Minho dan Dr. Oh sedang berusaha menangani Yuri di dalam…  Kau kembalilah ke acara wisudamu….” Sooyoung menghentikan perkataannya saat mendapat tatapan tajam dari Kyuhyun..

            “Aku tak bisa, Aku akan tetap di sini menunggu Yuri…”

***

Sooyoung sesekali melirik ke arah Kyuhyun. Sudah lebih dari sejam Kyuhyun tiba di sini, selama itu pula Kyuhyun hanya mondar-mandir tak jelas, bahkan sesekali Kyuhyun akan duduk lalu menunduk tanpa tujuan. Sooyoung mengepal tangannya.. Ia menunduk…

            “Kyuhyun-ah!” suara tegas seorang namja paruh baya menggema… semua yang ada di situ seketika melihat ke arah asal suara.. Kyuhyun melebarkan matanya melihat melihat sang Appa dengan jas rapi  mendekat ke arahnya dengan berang…

Plak!

Semua mata melebar saat tamparan keras dari Appa Kyuhyun mendarat kasar di pipi kiri Kyuhyun.

            “Apa maksudmu melakukan ini pada Appa?!”

            “Sudah yeobo. jangan marahi Kyuhyun…” ucap Eomma Kyuhyun berusaha meredakan emosi nampyeonnya..

            “Ikut Appa!” titah Appa Kyuhyun mencoba menahan geramnya.,

Kyuhyun dengan sangat terpaksa mengikuti sang Appa.

***

            Appa Kyuhyun duduk dengan memijit kepalanya. Di samping Appa Kyuhyun ada Eomma Kyuhyun yang selalu mencoba menenangkan nampyeonnya…

            “Jadi kenapa kau tak menghadiri Wisudamu?” mulai Appa Kyuhyun..

            “….”

            “Jawab Appa…” kata Appa Kyuhyun sekali lagi. Kini suara itu lebih meninggi.

            “Kyuhyun-ah, jawablah pertanyaan Appa.. Arra?” ucap Eomma Kyuhyun lembut…

Kyuhyun menghela nafasnya, “Aku tak perduli pada wisudaku. Appa. Eomma… Cintaku sedang dalam keadaan kritis sekarang,”

            “Hanya karena Yeoja kau melewatkan peristiwa penting dalam hidupmu? Jangan bilang sama Appa kalau dia juga penyebab kau tak menghadiri hari kelulusanmu!” Appa Kyuhyun nampak menatap Kyuhyun yang berdiri di depannya dengan penuh selidik…

            “…..”

Tak ada jawaban dari Kyuhyun. Dia malah sibuk memikirkan bagaimana keadaan Yuri sekarang..

            “Kyuhyun! Jawab Appa!” Kyuhyun dan Eomma Kyuhyun tersentak mendengar suara bentakan Appa Kyuhyun, bahkan orang-orang yang tak sengaja berlalu  ikut terkejut karena itu…

            “Appa Yuri lebih dari segalanya untukku.. Aku tak perduli pada masa depanku jika Yuri tak ada di sampingku Appa! Aku harus segera melihat Yuri…”

Langkah Kyuhyun terhenti saat tangannya di tahan oleh sesuatu..  Kyuhyun berbalik….

PLAK!!!

            Eomma Kyuhyun menutup mulutnya saat lagi-lagi Ia menyaksikan nampyeonnya menampar keras pipi anaknya…

            “Lupakan dia! Appa akan urus semuanya! Minggu depan kau akan ke Kanada!”

            “tapi Appa….”

            “Tak ada tapi! Appa menyesal telah kemari dan meninggalkan semua pekerjaan Appa hanya untuk omong kosong ini! Ayo Yeobo…” Eomma Kyuhyun hanya menatap nanar anaknya yang terdiam. Dia sungguh tak tau harus berbuat apa selain mengikuti nampyeonnya.. Sungguh dia juga sangat kecewa pada Kyuhyun, tapi di sisi lain dia tau, tak mudah bagi Kyuhyun melupakan orang yang dia cintai begitu saja..

***

            Kyuhyun duduk dengan setia-nya di samping Yuri. Tangannya menggenggam kuat tangan Yuri dan menempelkannya pada pipi hangat milik Kyuhyun…Kyuhyun terus memandang mata Yuri yang tertutup tanpa pernah sekali pun mengalihkan pandangannya..

            “Jangan sedih Chagi-ya, Aku tak akan meninggalkanmu… Aku akan tetap di sini.. bersamamu…”  Dengan salah satu tangannya Kyuhyun mencoba mengelus lembut kening Yuri, menjauhkan anak-anak rambut dari sana..”Kau tau chagi? tadi adalah hari wisudaku, tapi mendengar kabarmu yang kolaps benar-benar membuatku takut.. takut kehilanganmu Chagi.. Aku sungguh takut…” kata Kyuhyun sembari mengecup tangan Yuri yang di genggamannya berkali-kali…

            “tadi kau tau? Minho dan Dr. Oh minta maaf padaku.. katanya, dia bisa mengatasi kolaps yang kau alami Chagi, tapi dia tak berhasil membuka matamu… Chagi aku mohon, bukalah matamu..Aaku merindukanmu…” kata Kyuhyun mulai bergetar.. Dia terus memegang tangan Yuri, seakan tak ingin melepaskannya..

            “Kyuhyun-ah, bisakah Ahjumma berbicara sebentar padamu?” Kyuhyun dengan pelan menghapus airmatanya dan berbalik kecil pada Ny. Kwon yang baru tiba.. “Kita berbicara di luar…” kata Ny. Kwon lagi sembari mulai berlalu keluar ruangan..  Kyuhyun menurut.. Sebelum pergi dia nampak mengecup kening Yuri yang sedang tertidur dengan selang oksigen yang terpasang melalui hidungnya.. Kyuhyun dapat melihat Yoona dan Donghae saling bersandar satu sama lain dengan mata tertutup. Mereka sungguh terlihat lelah…

            Kyuhyun sedikit heran saat Ny. Kwon berhenti di lobby rumah sakit. Di sana sudah sepi. Seperti malam-malam di rumah sakit pada umumnya.

            “Ahjumma? Jadi apa yang ingin Ahjumma bicarakan?” tanya Kyuhyun.. Ny. Kwon tak langsung menjawab.. Membuat Kyuhyun makin mengerutkan keningnya..

            “Apa kau mencintai Yuri?” tanya Ny. Kwon..

            “Tentu saja aku mencintainya, Ahjumma…” jawab Kyuhyun cepat..

Ny. Kwon terkekeh lirih… “Haha benar juga.. Jika kau tak mencintainya, mana mungkin kau bertahan lima tahun hanya untuk menungguinya tanpa kepastian…” Ny. Kwon menghela nafas lalu memijit keningnya…

            “Kyuhyun-ah.. Apa kau tau kapan Yuri akan sadar? Tahun depan? Dua tahun ke depan? Tiga tahun? Empat tahun?” Ny. Kwon memandang penuh tanda tanya pada Kyuhyun…

            “Ahjumma? Waeyo?” heran Kyuhyun.. Ny. Kwon menggeleng lemah..

            “Selama ini kau selalu beranggapan Yuri akan sadar. kan? tapi coba kau bayangkan jika dia tak akan pernah sadar… Apa kau masih bisa berada di sisinya untuk terus menunggu… Menunggu ketidakpastian…”

            “Ahjumma aku tak tau kenapa Ahjumma berkata seperti itu ,tapi Aku akan selalu berada di sisi Yuri.. Selama apapun itu.. sekali pun dia tak sadar lagi Aku akan tetap……..”

            “Hentikan itu Kyuhyun!” sergah Ny. Kwon tinggi.. Kyuhyun dapat melihat tatapan keraguan pada mata merah Ny. Kwon yang memandangnya..

            “Ahjumma?”

            “Kau punya masa depan Kyu-ah.. Kau harus terus melanjutkan hidupmu.. Jika kau selalu ada di sini dan menjaga Yuri kapan kau akan melangkah maju?”

            “Ahjumma… Apa maksud Ahjumma?” Ny. Kwon menghapus air matanya kasar dan memandang serius pada Kyuhyun…

            “Hentikan semua ini.. Pulanglah ke Kanada seperti kata Appamu… Demi masa depanmu Kyu-ah.. Mulai detik ini jangan pernah jenguk Yuri lagi..” Dengan suara bergetar Ny. Kwon menyampaikan suatu hal berat baginya dan juga bagi Kyuhyun…

Kyuhyun melebarkan matanya..” Ahjumma,Aaku tak mungkin bisa melakukan itu.. Aku sangat…”

            “Lima tahun sudah cukup untukmu  menderita akan cinta dan penyesalanmu Kyu-ah..sekarang hentikan semua ini.. Ahjumma mohon… Jangan jenguk Yuri lagi.. Dan perlu kau tau, kecelakaan Yuri bukan kesalahanmu.. Tolong mengerti itu, Kyu-ah…” mohon Ny. Kwon sembari membungkuk 90 derajat di depan Kyuhyun.. Kyuhyun menggeleng…

            “Tidak Ahjumma, Aku mohon jangan lakukan itu padaku Ahjumma…” Ny. kwon menggeleng..

            “Hentikan jengukanmu pada Yuri… Ahjumma, semuanya  dan pasti Yuri tak ingin kau begini Kyu-ah.. lanjutkan hidupmu tanpa Yuri….” kata Ny. Kwon. dengan menahan air matanya Ny. kwon berlari menjauh dari Kyuhyun yang terduduk di lantai..

            “Anniya.. Ini tidak benar.. Aku tak bisa meninggalkan Yuri.. Aku….” Kyuhyun mengacak rambutnya dan menjerit tertahan… Sooyoung yang kebetulan melihat semua kejadian itu dengan cepat berlari menghampiri Kyuhyun..

            “Kyu-ah hentikan! Jangan sakiti dirimu…” kata Sooyoung mencoba memeluk Kyuhyun..

            “Sooyoung-ah… Aku tidak akan bisa melakukan ini.. Aku tak bisa meninggalkan Yuri.. Bantu aku bicara pada Ahjumma, Sooyoung-ah.. bantu aku!!” tangis Kyuhyun pecah dalam pelukan Sooyoung.. Sooyoung hanya bisa diam dan ikut menangis…..

***

            Sooyoung menatap nanar Kyuhyun yang hanya duduk mematung  di atas tempat tidurnya. rasanya hanya ini yang selalu di lakukan Kyuhyun selama hampir seminggu dirinya tak menjenguk Yuri… Matanya sembab tanda ia jarang tidur dan sesekali Sooyoung dapat melihat Kyuhyun menangis. Hati sooyoung remuk melihat itu, namun saat Ia menyiapkan makan untuk Kyuhyun, Sooyoung selalu memaksakan sebuah senyum..

            Tiket pesawat dan passport untuk Kyuhyun dari Appa-nya sudah ada di atas nakas kecil dekat tempat tidur Kyuhyun… Sooyoung melirik itu…

            “Beberapa hari lagi kau akan ke Kanada… Kau harus semangat, Kyu-ah…” kata Sooyoung ceria.. Kyuhyun hanya diam tak berusaha menjawab perkataan Sooyoung.. “Kyu-ah?”

            “Aku tak akan berangkat Sooyoung-ah.. Aku akan di Korea selamanya.. Di tempat dimana Yuri berada…” Sooyoung bernafas kecewa saat mendengar jawaban datar dari Kyuhyun untuknya.. Sooyoung mencoba tersenyum dan meletakan tiket itu…

            “Kalau begitu ayo makan.. Kau pasti sudah sangat lapar…” kata Sooyoung.. Diam. Lagi-lagi Kyuhyun tak menjawab… Sooyoung mencoba menatap Kyuhyun. Sooyoung sedikit meringis dalam hati saat Kyuhyun hanya diam menerawang entah kemana dengan tatapan kosong.. Sooyoung mengepal kuat tangannya dan  segera berdiri kasar..

“Kau sok sekali memintaku dan Minho untuk melangkah maju tapi kau sama sekali tak pernah melangkah maju! Kau hanya terdiam pada keterpurukanmu.. Merasa hidupmu berakhir sekarang! Yuri pasti kecewa jika tau kau begini..” bentak Sooyoung seketika dengan nada tinggi.. Kyuhyun berbalik pelan dan menatap Sooyoung. Tatapan kosong…

“Hidupku memang sudah berakhir bersamaan dengan tertidurnya Yuri, Sooyoung-ah…” kata Kyuhyun pelan..

Plak!

Kyuhyun melebarkan matanya saat Sooyoung menampar kuat pipi kirinya… Mata Kyuhyun semakin melebar saat Sooyoung memeluknya dan mengecup bibirnya, lama…

“Aku mencintaimu sejak lama babo-ya! Lihatlah aku! Apa kau fikir aku tak sakit melihatmu terpuruk selama lima tahun ini? Melihatmu hanya memandang Yuri yang tertidur tanpa kepastian?  Melihatmu selalu menyesal dan melihatmu selalu memperlakukan Yuri seolah dia sadar?! Aku sakit Kyu-ah! Aku sakit melihat sahabat dan orang yang kucintai seperti itu…” isak Sooyoung tepat di depan wajah Kyuhyun.. Kyuhyun terlihat terkejut pada pernyataan Sooyoung itu…

“Mulailah hidup barumu.. Aku mohon.. Bawalah aku ke kanada Kyu-ah.. Mulailah hidup barumu bersamaku… Aku mencintaimu……” sekali lagi Sooyoung mencoba memeluk Kyuhyun.. Kyuhyun hanya diam..

Tanpa Sooyoung sadari Yoona mendengar semua itu… Yoona datang ke apartemen Kyuhyun karena sedikit khawatir pada Kyuhyun yang seminggu sudah tak datang menjenguk Yuri.. Mendapati pintu apartemen yang tak terkunci membuat Yoona mencoba masuk ke dalam, siapa sangka Yoona akan melihat kejadian yang sama sekali tak pernah di sangka oleh Yoona.. dengan sedikit kesal Yoona menghentakkan kakinya meninggalkan tempat itu. Sooyoung begitu terkejut menyadari Yoona melihat kejadian itu. Dia berusaha mengejar Yoona, namun sayang, Yoona sudah tak terlihat lagi.

***

Minho hanya sibuk dengan berkas-berkasnya tanpa melihat sooyoung yang sedari tadi berdiri di depannya..

“Minho?”

“Pergilah… pergilah jika kau ingin ikut dengan Kyu ke Kanada…” kata Minho tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas pasien..

“Minho mianhae…” kata Sooyoung mulai bergetar.. Minho meletakan kasar pena-nya.. Dia akhirnya berdiri. Minho memeluk tubuh Sooyoung yang langsung membalas pelukan Minho itu…

“Pergilah ke tempat yang memang bisa membuatmu tersenyum Sooyoung-ah… Aku akan di sini, menjaga sahabat-sahabatmu… “ Sooyoung makin terisak mendengar perkataan tulus dari Minho untuknya.. Sooyoung tau, Minho pasti sakit sekarang.. tapi Sooyoung benar-benar tak bisa menghindari ini.. Kyuhyun adalah segalanya untuk Sooyoung sekarang…

Minho akhirnya melepas cepat pelukannya dari Sooyoung.. “Pergilah.. sampaikan salamku untuk Kyuhyun….” kata Minho tanpa ingin melihat Sooyoung.. Sooyoung menatap Minho sebentar lalu mengangguk.. Sooyoung keluar dari ruangan Minho dengan menghapus air matanya…

Sooyoung menyempatkan diri untuk mampir ke depan ruang perawatan Yuri.. Dari kotak bening yang ada di pintu, Sooyoung dapat melihat Yuri yang masih tidak sadar.. Di samping Yuri ada Yoona yang dengan setianya menemani Yuri.. Ingin rasanya Sooyoung memeluk kedua Yeoja itu, tapi apa Ia masih merasa pantas melakukan itu? Yoona bahkan sudah sangat marah padanya…

“Selamat tinggal.. Yuri-ya.. Yoona-ya…” kata Sooyoung pelan sembari berbalik dan pergi dari tempat itu…

Yoona melirik pada pintu. Dia akhirnya menghela nafas dan kembali menatap Yuri.. Yoona dapat mendengar suara pintu terbuka lalu tak lama tertutup kembali..

            “Jadi dia sudah pergi?” tanya Yoona pada namja berjas putih yang berdiri tak jauh darinya..

            “Hu um… Dia sudah pergi…”

Yoona menyunggingkan senyum sinisnya, “Aku sungguh tak menyangka Sooyoung mencintai Kyuhyun selama itu dan pada akhirnya dia memilih untuk mengkhianati Yuri…” ucap Yoona .. Minho hanya menjawabnya dengan helaan nafas..

            “Cepatlah sadar, Yul…” kata Yoona pelan…

***

 

Tes…

Setetes air mata jatuh bebas dari manik mata Sooyoung saat Ia menerawang keluar jendela dan tanpa sengaja me-repiew kejadian delapan tahun yang lalu.. Sebuah hal yang berat untuk di lalui selama bertahun-tahun.  Sooyoung sedikit melirik saat merasakan sebuah tarikan kecil pada kakinya, seketika Ia tersenyum dan menghapus lembut air matanya saat mendapati sang aegi sedang tertawa kecil ke arahnya…

“Soohyun-ah, kau ingin bermain sama Eomma? Mianhae ne, Eomma malah sibuk dengan pemikiran Eomma sendiri…” kata Sooyoung sembari mengecup pipi Soohyun… Tak lama, Sooyoung memeluk tubuh mungil Soohyun….

“Bahkan saat kami ke Kanada Eomma tetap butuh perjuangan, juga waktu lebih dari setahun lamanya untuk membuat Appamu tersenyum pada Eomma dan dapat melihat kehadiran Eomma untuknya….” desah Sooyoung..

***

            Minho terdiam di tempatnya berdiri saat melihat Kyuhyun baru keluar dari ruangan Yuri.. Minho hanya diam tanpa bermaksud memanggil Kyuhyun yang terus berjalan menjauh tanpa menyadari adanya Minho di sana.. Minho melanjutkan jalannya saat Kyuhyun tak terlihat lagi..

“Rupanya sudah tertidur,” ucapnya pelan dari depan pintu.. Minho memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan. Dengan sangat pelan, Minho membuka pintu itu dan masuk ke dalam… Sepi. Tak ada Yoona, tak ada Ny. Kwon. dan juga tak ada suara alat monitor yang biasanya berbunyi. tapi tetap saja, seperti hari-hari sebelumnya. Yeoja ini tertidur, tapi tertidur yang sebenarnya.. Minho selalu menunggu keadaan seperti ini hanya untuk……

“Sekedar mengucapkan selamat malam padamu…” kata Minho sangat pelan saat sudah ada di samping tempat tidur Yuri… Minho nyaris tak mengeluarkan suara apapun saat tangannya berusaha bergerak pelan menuju kening Yuri… Di usapnya lembut kening itu. Namun, Minho segera menghentikan elusan itu saat Yuri menggeliat kecil..

“Minho kau sedang apa?” tanya Yoona tiba-tiba. Minho dengan cepat menarik tangannya dan memandang kaget pada Yoona..

“Memeriksa Yuri,” kata Minho bersikap seperti biasa…

“Oh jadi tidak sepenuhnya kau menyerahkan Yuri pada Dr. Oh?”

“Tentu saja tidak!” sahut Minho cepat…

Yoona menautkan alisnya..“Ya! Kenapa kau menjawabku seperti itu?” Minho terdiam… Yoona semakin heran di buat Minho..

“Setidaknya perawatan Yuri sudah menjadi tanggung jawabku.. Aku akan segera pulang.. Annyeong…” kata Minho yang segera berjalan keluar dari ruangan itu.. Meninggalkan Yoona yang terheran-heran padanya. Tapi seketika Yoona mengangkat bahunya dan mendekat pada Yuri yang masih tidur..

“Apa tebakanku benar?” tanya Donghae yang sedang duduk di depan ruang perawatan Yuri… Minho berbalik kecil pada Donghae..

“Apa yang kau tebak saja aku tak tau…” sahut Minho singkat sembari melanjutkan jalannya.. Donghae memandang Minho dari belakang…

Aku yakin… Tebakanku tak salah. tapi, apa hanya aku yang menyadarinya?Ah sebenarnya apa yang ku pikirkan sih? batin Donghae dengan memukul-mukul kedua pipinya sendiri.

***

            Kyuhyun masuk dengan lunglai ke dalam apartemennya. Raut lelah terpancar dari wajah putih pucatnya. Dia mengedarkan pandangan, tak ada Sooyoung dan Soohyun yang biasa akan menyambutnya jika pulang kerja atau pulang dari manapun.. Kyuhyun memaklumi hal ini saat melihat jam yang sudah menunjukan pukul 10 malam.. Sudah pasti Sooyoung ada di kamar menidurkan Soohyun..

Dengan sedikit dorongan, Kyuhyun membuka pintu kamar.. Benar saja. Wajah tertidur dari Soohyun dan Sooyoung menyambutnya kini.. Kyuhyun mengecup kecil pipi Soohyun.

“Mianhae untuk tidak menghabiskan waktu bersamamu hari ini, Chagi…” Kyuhyun beralih pada Sooyoung. Wajah Kyuhyun bergerak mendekati wajah Sooyoung. Namun, ia berhenti saat bayangan dirinya mencium kening Yuri tadi melintas di kepalanya. Dengan gelengan kuat Kyuhyun menepis semuanya.

“Mianhae Chagi-ya… Selamat tidur…” ucap Kyuhyun sembari mengecup bibir Sooyoung pelan…

***

Di tunggu Komentar + Saran-nya ya… Makasih buat semua #kecup😉

@yuuripico26

Tagged: , , , , , ,

106 thoughts on “Eternity Wish (PART III)

  1. Kim ji hyun April 4, 2014 pukul 1:21 pm Reply

    Huwaaaaa eonni..part 3 kok masih bkin nangis eon…huwaaa…
    ehhh minho cinta sama yul Eonni yahh??semoga aja minyul jadian hehehee..kan kyu oppa udah punya soo eonni…yoonhae makin so sweet aja..hehehee

    • yuuripico26 April 10, 2014 pukul 6:20 am Reply

      wahhh mianhae.. T.T
      Amin26x hehe.. yuk2 lanjut.

  2. oeba yoonyul April 6, 2014 pukul 9:49 am Reply

    minho tu cinta mati ya dr chap 1 dia udah sadar klo dia bodoh,, khhahh

  3. Mrslee040420 April 18, 2014 pukul 9:22 am Reply

    Oh my God !!
    Ny.Kwon knp kau tega pada Yuri anakmu ..
    Memisahkan Kyuhyun darinya ..
    Tapi sepertinya sekarang minho mulai menyukainya😀

    • yuuripico26 April 29, 2014 pukul 7:25 am Reply

      Ny. Kwon ga tega ama masa depan Kyu.. T.T berat jga dia suruh Kyu ninggalin Yul hehe..

  4. sella mvp shawol Mei 19, 2014 pukul 1:05 pm Reply

    wuahhhhh.. ternyata minho diam” suka sama yuri..

    seperti.a kyuhyun memang masih mencintai yuri..
    saat meninggalkan yuri dan pergi dgn sooyoung pun dia masih mencintai yuri..
    ny. kwon sih tega memisahkan kyuhyun dgn anak.a.. jadi kaya gini deh.. hiks hiks..😥

Yuk tinggalin jejaknya (ʃƪ˘ﻬ˘)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: