Our Future (PART 3)

156834_302585579880904_932986076_n

Tittle :

Our Future

Author :

@yuuripico26

Art by :

Kwonzhuwie19

Cast

Choi Minho || Kwon Yuri || Choi Seunhyun

Lee Donghae ||  Yoogeun

Support :

Sunny || Taeyeon || Hyoyeon

Lenght :

Chaptered

Genree :

Marriage Life – Romance – Family

Ratting :

PG-17

– READERS YANG BAIK PASTI NINGGALIN JEJAK :P

– TYPO IS AN ART OF WRITING

– HAPPY READING

PART III

YURI POV

Aku membuka mataku perlahan. Langit-langit putih bersih menyambutku. Aku mengerjap-ngerjapkan pelan kedua mata sembari mulai mengangkat tubuhku yang terasa berat ini. Ternyata sudah jam 6 pagi. Aku turun dari tempat tidur. Kulihat sekilas Yoogeun yang nampaknya masih terjaga di mimpinya yang sepertinya indah. Aku melirik pada foto dua orang yang sangat berharga dalam hidupku di atas nakas. Aku tersenyum lalu mendekati foto itu dan menunduk memberi salam hormat beserta selamat pagiku.

“Selamat pagi, Umma.. Appa…” ucapku pelan. Aku mulai duduk di atas tempat tidur. Kurapikan sedikit rambutku dan ku ikat asal. Apa yang harus aku lakukan hari ini? Minho-ssi pasti masih marah padaku. Apa yang harus aku katakan jika aku bertemu dengannya nanti? Oh Tuhan.. Bahkan hari ini kami akan pergi ke kediaman Haraboji. Apa yang harus aku persiapkan?

“Yoogeun-ah.. Bantu Noona…” desahku pelan sembari mengelus puncak kepala Yoogeun yang sedang tertidur. Hal itu cukup membuatnya menggeliat kecil. Sangat lucu dan menggemaskan. Perlahan aku mulai memikirkan sesuatu. Sekali lagi ku kecup kening Yoogeun sebelum aku berdiri untuk membersihkan diri.

***

AUTHOR POV

            Minho terlihat berdiri di depan sebuah cermin sembari mulai menyimpulkan dasi di kerah kemejanya. Minho melirik kecil ke arah tempat tidur besar miliknya. Hanya sebentar sampai dia kembali menatap cermin.

“Pasti yeoja itu masih tidur dengan wajah anehnya…” ucap Minho pelan. Minho seketika menekuk wajahnya. “Apa yang baru saja aku katakan, babo,” kata Minho menggerutu. Dia mengambil tas kerja miliknya dan langsung berjalan dengan tegas meninggalkan kamar.

Minho terus berjalan dengan pembawaan tegasnya. Namun, langkahnya berhenti saat dia melewati kamar Yoogeun. Minho mencoba melihat ke lantai bawah, tak ada Donghae yang tadi malam tertidur pulas di atas sofa. Minho kembali mengalihkan perhatiannya pada pintu kamar Yoogeun yang masih tertutup rapat. Tanpa ragu Minho mulai menyentuh pintu itu. Ternyata pintu tersebut tidak terkunci. Minho sedikit terenyuh saat melihat Yoogeun tengah berdiri tepat di depan nakas dengan posisi membelakangi Minho. Minho mulai menautkan alisnya dan mengedarkan pandangannya. Tak ada sosok yang satu lagi. Kemana dia? batin Minho. Minho mulai menutup pintu itu lagi dan meneruskan jalannya. Saat menuruni tangga, Minho tak sengaja berpapasan dengan Donghae yang bermaksud ingin naik kelantai atas.

“Selamat pagi, Minho-sajangnim…” kata Donghae dengan nada di buat-buat. Minho membalas sapaan itu dengan helaan kecil.

“Selamat pagi.. Ikan…” Wajah Donghae seketika menekuk.

“Ya!! Kau!!” umpat Donghae.. Minho tak menggubrisnya dan meneruskan jalannya. Donghae mengangkat bahunya dan ikut meneruskan jalannya menuju kamar Yoogeun.

Minho terlihat mengedarkan pandangannya ke arah lain saat dia sudah sampai di ruang makan, tak ada keberadaan sosok orang asing yang harusnya sudah di lihat Minho sedari pagi.

“Sunny-ya? Apa kau tau dimana Yuri?” tanya Minho saat kebetulan Sunny baru saja selesai meletakkan peralatan makan di meja.

“Sedari tadi Yuri-nim ada di dapur, Minho-nim..” jawab Sunny dengan sopan. Minho melebarkan sedikit matanya.

“Di dapur?” Sunny seketika menunduk lebih dalam.

“Mi-mianhae.. tadi kami sudah mengatakan pada Yuri-nim kalau dia tidak perlu ke dapur. Tapi, Yuri-nim terus memaksa,” kata Sunny memberi penjelasan. Minho menghela nafas beratnya dan tanpa sepatah katapun mulai berjalan menuju dapur.

“Ada apa dengan bocah tengil itu?” gumam Donghae yang terlihat baru saja menuruni tangga dengan menggendong Yoogeun.

***

Yuri terlihat sedang asyik menata beberapa potong roti panggang yang di buatnya. Dengan rambut yang di ikat asal dan juga apron berenda pink, membuat Yuri terlihat begiru fresh pagi ini. Di sebelah Yuri ada Hyoyeon dan Taeyeon yang masih berusaha meminta Yuri segera meninggalkan dapur, bukan karena ingin mengusir tapi karena mereka takut pada Tuan mereka.

“Selesai!” ucap Yuri pelan sembari mengangkat sebuah bekal yang sudah siap. Yuri menautkan alisnya heran saat mendapati Hyoyeon dan Taeyeon terdiam sambil menunduk. “Hey.. ada apa? Apa ini terlihat aneh?” heran Yuri.

“Sedang apa kau di sini?” Yuri menoleh ke asal suara, tepatnya di ambang pintu dapur. Melihat sosok yang sedang berdiri tegas di sana, membuat Yuri terdiam sebentar sampai akhirnya dia mulai tersenyum  pada Minho.

“A-aku sedang membuat sarapan dan juga bekal untukmu dan Yoogeun.. Kau mau mencobanya?” tawar Yuri dengan senyum lembutnya. Minho terdiam sejenak. Namun tak lama wajah tampan milik Minho kembali tertekuk. Dengan cepat, Minho berjalan mendekati Yuri.

“Kau pikir apa yang kau lakukan di sini?! Kau tidak perlu masak, kau bisa minta Sunny dan yang lainnya membuat ini.. Kenapa kalian membiarkan dia masuk ke dapur?” umpat Minho pada Yuri, Hyoyeon dan Taeyeon. Yuri segera menatap sedikit takut pada Minho. Sedangkan Hyoyeon dan Taeyeon segera menunduk.

“Kami sudah katakan pada Yuri-nim untuk meninggalkan dapur.. Tapi dia memaksa…” ujar Hyoyeon dan Taeyeon. Yuri merasa tidak enak pada kedua orang ini dan mulai menundukkan sedikit kepalanya. Minho merebut bekal berisikan roti itu dari Yuri lalu meletakkan kasar. Yuri sedikit tesentak karena hal itu. Hyoyeon dan Taeyeon yang merasa tak enak dengan suasana ini mulai permisih pergi. Yuri menunduk, dia mulai menyesali perbuatannya.

“Mianhae.. Aku hanya tidak tahu jika aku tidak boleh memakai dapur ini.. Mianhae… Lagipula aku hanya ingin membuatkan sesuatu untukmu, sebagai permintaan maaf,” ujar Yuri panjang lebar. Minho sedikit terhenyak ketika mendengar suara parau dari nada bicara Yuri.

“Maaf?”  Yuri mengangguk pelan.

“Kau pasti marah padaku sehingga tadi malam kau menyuruhku untuk tidak tidur di kamar.”

“Babo…” cetus Minho dingin. Yuri sedikit mengangkat kepalanya dan melirik Minho. Hanya sebentar sebelum dia kembali menunduk. “Aku tidak punya alasan untuk marah pada yeoja babo sepertimu dan juga untuk mempertahankanmu untuk tidur bersamaku…” Yuri diam tak bergeming. Walau terlihat diam, tidak ada seorang pun yang tau Yuri menelan pahit-pahit perkataan Minho itu. “Sudahlah.. Lupakan masalah ini.. Ayo keluar…” Minho dengan cueknya mulai melangkah. Minho menghentikan langkahnya dan sedikit menautkan alis melirik tangan cantik yang sedang  menahan tasnya.

“Ada apa?” tanya Minho sinis pada Yuri yang sedang menatapnya. Yuri segera mengalihkan pandangannya dan melepas tangannya dari tas milik Minho.

“Bolehkah aku membantu membawa tas ini?”  Minho menatap Yuri sebentar sampai akhirnya dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Bukan hal yang buruk, tapi sebelum keluar, tolong rapikan rambutmu terlebih dahulu…”  kata Minho seraya memberikan tas itu pada Yuri. Yuri mengambil tas itu dan berdiri mematung, menyaksikan kepergian Minho yang berjalan lebih dahulu ke ruang makan. Yuri segera melepas ikat rambutnya dan membiarkan rambut itu tergerai bebas. Yuri menghela nafas melihat bekal yang tadi di buatnya di biarkan tergelak di sana. Namun perlahan Yuri mengambil bekal itu dan menatapnya lirih.

“Harusnya aku tau, makanan ini tidak akan selevel dengannya…” gumam Yuri sebelum akhirnya dia meletakannya kembali.

***

            Donghae berdiri dalam diamnya memperhatikan Minho dan Yuri yang sedang menyantap sarapannya. Minho seperti biasa terliat acuh. Sedangkan Yuri, terlihat kaku sambil sesekali memaksakan seulas senyum pada kepolosan Yoogeun.

“Hyung.. Nanti malam aku dan Yuri akan pergi ke rumah Haraboji…” ucap Minho tiba-tiba. Yuri segera melirik ke arah Yoogeun. Seperti dugaan Yuri, Yoogeun tengah menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Hanya sebentar, Yoogeun pintar, kan?” bisik Yuri.  Yoogeun mengangguk mengerti dan mulai melanjutkan sarapannya.

“Ke rumah Haraboji? Lagi? Bukankah kemarin kau sudah ke sana?” Donghae terlihat mengerutkan keningnya saat Minho berdiri dan mengambil tasnya.

“Kita harus ke kantor sekarang, hyung. Kajja…” ajak Minho dengan nada datar. “Tolong persiapkan dirimu untuk acara nanti malam,” kata Minho acuh pada Yuri. Yuri mengangguk pelan.. Donghae masih betah di kursinya saat Minho sudah berjalan keluar.

“Apa yang terjadi saat kau dan Minho berada di rumah Haraboji?” tanya Donghae pada Yuri.

“Yang terjadi? Haraboji menyambut kami dengan sangat  baik.”

“Kalau Haraboji memang sangat baik. Bagaimana dengan yang lain?” Yuri menautkan kedua alisnya. Ah! Yuri ingat sekarang, sedari kemarin sebenarnya dia ingin bertanya tentang keluarga Minho.  Siapa sebenarnya yang di sebut oleh Donghae dengan sebutan ‘yang lain’.. Kemarin bukankah Minho juga menyebut kata yang lain itu?

“Sebenarnya ada….”

“Hyungggggg!!!” Yuri menghentikan perkataannya saat suara bass memanggil nama Donghae dengan nada kesal. Donghae nampak mendengus dan langsung pamit pada Yuri untuk pergi dengan cepat. Meninggalkan Yuri yang menatap kepergiannya dengan heran.

***

            “Mwo?! Kau serius? Haraboji mempercayakan Choi’s Property padamu?” tanya Donghae dengan tatapan  tak percaya. Minho menangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas  yang di bawakan oleh Donghae untuk di tanda tanganinya. “Kau gila.. Bagaimana dengan tanggapan yang lain?”

“Molla.. Tapi aku rasa kau bisa menebaknya dan aku yakin tebakan dirimu sama dengan apa yang kupikirkan.. Kita bisa buktikan itu nanti malam…” Donghae menatap Minho intens, namun Minho tetap acuh sambil terus melakukan pekerjaannya.

“Kau tidak akan menerima tawaran Haraboji itu kan? Atau jangan-jangan kau menikah karena ini?” tanya Donghae penuh keingintahuan.. Minho terdiam sejenak. Hanya sejenak sampai dia kembali menekuni pekerjaannya.

“Bukankah aku sudah pernah mengatakan alasanku padamu, hyung? “

“Aku tau, tapi… Bagaimana dengan perusahaan ini?” Mendengar Donghae terus bertanya membuat Minho mendengus kesal. Di letakannya kasar pena miliknya dan di tatapnya tajam Donghae yang sedang duduk santai di sofa.

“Kau cerewet sekali, hyung ikan! Sudahlah, ada yang ingin kuberitahu padamu. Yoona sudah kembali ke Korea…” Donghae  seketika melebarkan matanya mendengar penuturan Minho.

“Kau bertemu dengannya? Lalu?” Minho menghela nafas dan segera menyusun semua berkasnya dan membawanya pada Donghae.

“Banyak tanya! Sekarang hyung bawa kembali berkas ini. Kita harus menyelesaikan semua urusan kantor kita hari ini…” titah Minho sembari menyerahkan setumpuk berkas-berkas pekerjaan pada Donghae. Donghae menerima berkas itu dengan bibir manyun.

“Iya-iya, Pak Direktur! Kau suka sekali memerintah! Menyebalkan!” sungut Donghae sambil keluar dari ruangan Minho dengan cepat.

“Hyunggg!! Kau itu bekerja denganku!” umpat Minho pelan. Perlahan Minho mulai terdiam. Dia kembali mengingat pertanyaan Donghae tadi..

Hyung, aku pun tidak tau. Aku… aku tiba-tiba saja ingin menikah dan  secara tak sengaja aku menemukan yeoja itu. Kau juga pasti tau, aku tidak bisa menolak permintaan Haraboji…

***

            Yuri berdiri di depan kaca besar dengan gaun malam panjang berwarna peach. Gaun itu tidak terbuka namun cukup membuat Yuri terlihat anggun dengan riasan wajah yang tidak terlalu tebal.  Donghae memperhatikan persiapan Yuri dari depan pintu bersama Yoogeun.

“Apa penampilanku tidak aneh Donghae-ssi?” tanya Yuri pada Donghae yang sudah berjalan masuk bersama Yoogeun setelah Sunny dkk keluar dari ruangan.

“Anni.. Kau  terlihat cantik, benar kan Yoogeun?” Yoogeun mengangguk riang menyambut pertanyaan Donghae. Yuri tersipu malu karena itu. Donghae sedikit menautkan alisnya melihat ekspresi Yuri. “Sepertinya kau terlihat senang Yuri-ya..” Yuri tersadar seketika dari pikirannya dan segera menggeleng pelan pada Donghae..

“Tidak juga..”

“Yuri-ya, aku harap kau bisa menahan Minho malam ini..” Yuri memandang Donghae dengan kedua alisnya yang tertaut.

“Maksudnya?” Donghae tidak menjawab, dia malah memperhatikan Yuri dan tak lama dia mulai permisih keluar pada Yuri untuk menyelesaikan sedikit urusannya sebelum Minho datang. Sepeninggal Donghae, Yuri mulai duduk di atas tempat tidur sambil memangku Yoogeun. Di mencoba tersenyum pada Yoogeun, menutupi keheranannya akan perkataan dan sikap Donghae tadi.

“Yoogeun-ah.. Kau tau? Hari ini Noona akan bertemu namja itu…” pekik Yuri girang, namun pelan… Yoogeun memandang Yuri penuh pertanyaan…

“Namja itu? Nugu, Noona?” Yuri perlahan mengulum senyumnya dan memeluk Yoogeun erat..

“Anni.. Anni… Kajja kita ke kamar untuk menyapa Umma dan Appa..” ajak Yuri mencoba mengalihkan perhatian Yoogeun. Yoogeun menyetujui ajakan itu dengan senang.

***

            Minho berjalan memasuki rumah besar miliknya. Minho berhenti dan mulai menghambur pandangannya, mencoba mencari keberadaan sosok seseorang. Donghae merasa mengetahui maksud Minho segera berjalan mendekatinya.

“Yuri sudah siap dan sepertinya dia tidak tau kau pulang cepat hari ini..”

Minho segera menatap Donghae, datar. Donghae ikut menatap Minho, seketika wajah Donghae menekuk ketika mendengar Minho berkata, “Kau sok tau sekali, Hyung.. Siapa yang mencari Yuri?” ketus Minho dan segera melangkahkan kakinya, tanpa memperdulikan umpatan kekesalan dari Donghae.

Minho memperlambat langkah kakinya saat melihat Yuri dan Yoogeun baru saja keluar dari kamar mereka. Yuri segera menunduk memberi salam. Melihat apa yang di lakukan Noonanya membuat Yoogeun ikut menunduk. Yuri terdiam tanpa tau ingin berbuat apa, Yoogeun sendiri ikut diam sambil terus menggandengkan tangan mungilnya pada Yuri. Minho memperhatikan kedua kakak beradik itu, namun pandangannya lebih lama tertuju pada Yuri.

“Sampai kapan kau terdiam di depan ku?” Yuri tersadar dari dunianya sendiri dan langsung memberi jalan pada Minho dengan kaku. Minho berjalan acuh, melewati Yoogeun dan Yuri.

“Se-selamat datang,” kata Yuri terbata.

“Selamat datang, Minho-hyung…” kata Yoogeun polos. Minho  menjawabnya dengan deheman kecil.

Apa panggilan hyung juga tidak dia sukai? batin Yuri yan terus memperhatikan punggung Minho yang hendak masuk ke kamarnya.

“Minho-ssi.. Apa yang harus aku siapkan untuk acara makan malam ini?” tanya Yuri pelan.

“Tidak ada.. Cukup menungguku di luar sampai aku siap…” kata Minho cuek sembari mulai membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam tanpa berbalik ke arah Yuri. Yuri mengangguk ragu dan mengajak Yoogeun pergi. Minho  menghela nafas panjang bersamaan dengan suara pintu yang di tutup pelan olehnya.

“Jika kau tau semua keluargaku, aku yakin kau tidak akan mempersiapkan apapun untuk mereka…” ucap Minho pelan.

“Noona apa Minho-hyung tidak menyukai Yoogeun?” tanya Yoogeun. Yuri spontan menggeleng kuat.

“Anniya.. Kajja chagi kita ke bawah.. Semoga Minho-ssi tidak mendengarnya…” kata Yuri cepat.

***

            Yuri   duduk tegang di kursi mobil, itu terlihat dari caranya duduk yang gelisah dan sesekali membuang nafas. Minho yang duduk bertopang dagu di sebelahnya mulai menyadari tingkah Yuri. Minho melirik Yuri tanpa merubah posisinya yang bersandar di jendela mobil.

“Berhentilah bersikap tegang…” ketus Minho. Yuri berbalik ke arah Minho.

“Minho-ssi? Apa tidak apa-apa kalau aku belum mempersiapkan apapun untuk bertemu keluargamu?” tanya Yuri. Minho mulai membalikan pandangannya kembali keluar jendela.

“Tidak perlu persiapan.. Kau hanya perlu berikap biasa saja. Jangan ceroboh. Jangan kaku. Tertutama jangan menundukkan kepalamu jika berhadapan denganku…” kata Minho panjang lebar. Yuri membesarkan sedikit bola matanya mendengar kata-kata Minho yang seperti sedang memberi wejangan pada anaknya. Minho mulai menyadari perkataannya segera memicingkan mata tajamnya pada Yuri, sehingga membuat Yuri langsung mengalihkan pandangannya dari Minho. Minho mulai memandang ke depan.

“Kau cerewet sekali, nampyeon…” Donghae segera menyembunyikan kekehannya saat Minho mendelik padanya. Yuri terdiam memperhatikan ekpresi Minho. Tak lama Yuri mengulum senyum manisnya sembari memandang keluar jendela.

***

              Beberapa penjaga mulai menyambut Minho dan Yuri yang baru saja turun dari mobil. Namun, dengan sebuah isyarat, Minho meminta mereka melanjutkan pekerjaan mereka saja dari pada harus menyambut Minho.  Yuri terlihat mengecup singkat pipi Yoogeun yang sedang tertidur pulas di kursi penumpang paling depan, tepatnya di sebelah Donghae. Minho nampak terlibat pembicaraan pada Donghae yang tidak turun dari mobil.

Akhirnya, Minho dan Yuri  mulai memasuki pintu utama rumah  Haraboji, ada beberapa pelayan wanita berseragam yang menunduk memberi salam pada mereka. Yuri membalasnya dengan senyuman kikuk.

“Uhm? Kau datang rupanya.. Sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu…” ujar orang itu dengan nada sedikit di buat-buat. Minho segera menatap orang itu dengan tatapan datarnya. Yuri sedikit terhenyak saat orang itu tiba-tiba menatapnya. “Oh ya.. aku dengar kau menikah tanpa pemberitahuan pada keluarga ini. Uhmm.. Jadi ini kah pengantin wanitanya? Aku pikir kau akan mencari wanita glamour seperti anak rekan bisnis Haraboji yang di jodohkan denganmu, tapi ini juga cukup manis…”  Yuri mulai terlihat risih pada kata-kata dan juga tatapan orang ini.

“Dia sepupuku.. Hyukjae..” kata Minho yang langsung to the point. Yuri terlihat sedikit terkejut.. tapi sedetik kemudian dia menunduk, memperkenalkan diri.

“Annyeong haseyo.. Nanneun, Choi Yuri imnida…” kata Yuri. Hyukjae  tersenyum kecil dan mulai memandang Minho lagi.

“Aku dengar perusahaan yang kau kelola saat ini sedang berkembang, ya? Apa kau kemari untuk memamerkannya pada Haraboji? Atau mungkin kami semua?” Minho tersenyum kecut. Yuri dapat merasakan tangan kirinya di raih dan di genggam oleh Minho.

“Tentu saja aku kemari atas undangan Haraboji,” jawab Minho sedikit datar dan langsung mulai membawa Yuri masuk meninggalkan Hyukjae. Yuri mulai berbalik ke belakang untuk melihat Hyukjae, namun ternyata Hyukjae sudah pergi meninggalkan tempat itu.

Mereka sepupu kan? Tapi kenapa jarak mereka terlihat jauh sekali? Yuri mulai bernafas berat.. Itu baru satu.. bagaimana di dalam nanti? Menyadari Yuri yang sedang memikirkan sesuatu membuat Minho menghentikan langkahnya. Yuri ikut berhenti dan mulai memasang ekspresi bingung.

“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Minho tanpa berbalik pada Yuri. Yuri sedikit memainkan kuku-kuku jemari tangan kanannya dan mulai menjawab pertanyaan Minho itu dengan menunduk.

“Aku tidak memikirkan apa-apa, Minho-ssi.. Mwo?!” Yuri memekik kecil ketika merasakan pipinya di pegang secara tiba-tiba oleh Minho yang memaksa Yuri untuk melihatnya.

“Bisakah kau tidak menunduk, eoh? Bukankah kemarin aku sudah memintamu untuk tidak menunduk dan aku juga mau, kau bersikaplah layaknya kita ini anae dan nampyeon. Apa tidak bisa?”  Yuri terdiam dengan matanya yang sedikit melebar memandang Minho. Melihat wajah Minho sedekat ini membuat Yuri terdiam tanpa suara. “Hei.. Yuri-ya?” panggil Minho. Yuri masih diam.. Minho terlihat menggertakan giginya. “Atau kau ingin aku ajari lagi, bagaimana cara agar kau tidak menunduk padaku seperti kemarin?!” Yuri seketika melebarkan matanya dan menggeleng cepat.

“Anniya.. Mi-mianhae, aku akan berusaha…” Minho akhirnya melepaskan tangannya dari pipi Yuri.

“Bagus.. Aku harap kau akan berusaha dengan baik…” kata Minho yang langsung meraih tangan Yuri. Yuri memperhatikan wajah Minho sebentar yang sedang berjalan dengan ekspresi penuh kharismanya. Perlahan Yuri mulai membuang nafas panjangnya.

“Kalian sudah datang rupanya?” seru Haraboji yang tiba-tiba saja berada di depan mereka dengan baju rapi dan juga tongkat yang membantunya berjalan. Yuri dan Minho serentak menunduk, tanda memberi salam pada Haraboji.. “Sepertinya pengantin baru ini terlihat mesra, benarkah?” Minho tersenyum kecil pada Haraboji. Yuri ikut berusaha menunjukan senyumnya. Haraboji berjalan pelan mendekati Yuri.

“Hey..  Bagaimana? Selama ini Minho memperlakukanmu dengan baik, kan? ” Minho menatap Haraboji dengan tatapan protes. Yuri sedikit heran pada pertanyaan Haraboji. Namun, mengingat Minho yang memintanya berusaha bersikap layaknya seorang anae malam ini, membuat Yuri harus segera menjawab pertanyaan Haraboji itu. Walau dia sendiri tidak tau bagaimana dia harus menjawabnya.

“Dia sangat baik dan lembut, Haraboji..” jawab Yuri dengan senyum polos. Haraboji seketika terkekeh pelan melihat ekspresi Yuri yang begitu polos dan juga Minho yang langsung mendelik pada Yuri.

Dasar babo! Apa dia tidak tau arti dari pertanyaan Haraboji itu? gerutu Minho dalam hati. Haraboji mulai berjalan dan menepuk-nepuk punggung Minho sebelum meneruskan jalannya.

“Haraboji sepertinya sudah tidak sabar ingin melihat aegi kecil dari cucu Haraboji ini.. . Kajja masuk dan bergabunglah dengan yang lain.”

“Mwo?!” protes Minho pelan dengan penuturan Haraboji tadi. Yuri terlihat mulai keheranan lagi.

“Aegi kecil? Apa maksud Haraboji tadi?” tanya Yuri pada Minho. Minho membuang nafas beratnya. “Jangan pikirkan itu, kajja..”

Yuri mulai melangkah mengikuti irama langkah Minho. Dia begitu kagum pada rumah milik Haraboji ini. Rumah yang di desain seperti istana kerajaan yang memiliki banyak ruangan, juga penempatan perabotan yang harganya mungkin mencapai ratusan juta itu di susun sedemikian rupa membuat suasana rumah ini terlihat mewah. Yuri menajamkan pandangannya saat menangkap satu benda yang sanggup menyita perhatiannya sekarang. Benda itu, pernah di lihat oleh Yuri sebelumnya. Sebuah figura foto yang menunjukan wajah penuh kesedihan dan kesepian terpancar dari seorang namja kecil. Yuri mengubah arah pandangnya menuju tangan kekar  yang sedang menggandeng tangan lentik milik nya, sedetik kemudian ia melirik Minho. Hanya sebentar sebelum  ia kembali melihat foto yang terlihat mulai menjauh.

Aku tidak mengerti ada apa ini, tapi yang aku tau, kau sangat kesepian kan? desah Yuri dengan terus memandang foto itu, seolah berbicara pada foto itu.

***

            Yuri melebarkan matanya. Dadanya makin berdegup kencang menandakan rasa gugupnya kian bertambah. Di hadapannya kini terdapat banyak sosok-sosok yang sama sekali belum Yuri kenal. Yuri kembali hanya diam mengikuti Minho yang membawanya masuk. Yuri benar-benar keheranan saat merasa tak seorang pun yang memperhatikan kehadirannya dan Minho sekarang. Bahkan, Hyukjae yang tadi berbicara dengannya juga Minho di depan tidak sedetik pun merasakan kehadirannya.

“Mereka semua bagian dari keluarga ini kan? Kenapa kau tidak memberi salam pada mereka?” heran Yuri saat Minho membawanya untuk duduk di salah satu kursi.

“Apa bisa kau memberikan salam pada orang yang sama sekali tidak memperhatikan dirimu?” sahut Minho. Yuri terdiam dan kembali memperhatikan sekeliling.Ruang pertemuan keluarga Choi yang di sulap menjadi ruang makan malam mewah kini terlihat ramai. Ramai tapi tidak satu pun dari mereka terlihat memperhatikan Yuri dan Minho.

Semuanya begitu berkelas. Kenapa mereka semua seolah sama sekali tak memandang Minho-ssi? Yuri mulai memainkan kuku-kuku jarinya. Dia bingung apa yang harus di lakukannya. Keluarga ini sungguh berbeda dari keluarga-keluarga pada umumnya yang ada di pikiran Yuri. Yuri sedikit melirik pada Minho. Dia sedikit heran melihat Minho yang seakan santai dan tidak memperdulikan sikap acuh dari orang-orang yang ada di sana.  Yuri akhirnya mulai duduk setelah di persilahkan oleh Minho, kemudian Minho ikut duduk di kursi sebelah Yuri.

“Selamat malam, Oppa..” sapa seseorang yang baru saja melewati kursi Yuri dan Minho.

“Selamat malam, Jinri-ya,” balas Minho dengan sedikit berbalik. Yuri mulai memandang Jinri dan mencoba tersenyum. Namun, Jinri mengacuhkan senyum itu dan mulai berjalan menuju kursinya. Yuri menghela nafas kecewa.

Apa dia tidak menyukaiku, eoh? gumam Yuri dalam hati.

“Selamat malam, aku pikir aku akan terlambat..” Yuri segera berbalik ke arah suara yang terdengar menyapa namun pelan tanpa nada. Yuri melebarkan matanya melihat sosok namja yang baru saja duduk di sebelahnya.  “Kau masih mengingatku, kan?” tanya namja itu saat menatap Yuri. Yuri mengangguk pelan, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tentu saja dia ingat, bahkan sangat ingin bertemu lagi.

“sepertinya, kau lah yang tidak mengingatku, Seunghyun-ssi..” ujar Yuri sedikit menurunkan kepalanya, mengalihkan pandangannya dari Seunghyun. Seunghyun menautkan alisnya..

“Tentu saja aku mengingatmu…” Deg! Hati Yuri mulai berdebar saat Seunghyun mengaku masih mengingatnya. Apa dia mengingat hari itu? Mengingatku? tanya Yuri dalam hatinya sendiri. Harapan Yuri seketika runtuh saat mendengar kelanjutan perkataan Seunghyun, “kita kan pernah bertemu di acara pernikahanmu dan Minho saat itu.”

Yuri dengan cepat menatap Seunghyun, dia dapat melihat Seunghyun tersenyum kecil padanya, Yuri mencoba tersenyum menyembunyikan sedikit kekecewaannya.

“Kau benar…” Yuri kembali mengalihkan pandangannya dari Seunghyun.. Tapi, dia kembali memandang  Seunghyun, terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu.. Namun, Yuri mengurungkan niatnya saat dirinya tak sengaja mendengar celetukan seseorang.

“Membawa orang baru  di tengah keluarga kita, tanpa mengenalkannya terlebih dahulu.. sangat tidak sopan sekali..” Seketika suasana menjadi hening. Minho yang dari tadi terlihat sedang berbincang dengan Haraboji yang baru saja tiba langsung terdiam. Begitu pun Haraboji. Yuri  mulai merasa suasana di sini kian kaku. Kata-kata Minho tadi kembali terngiang membuat Yuri segera menegakan kepalanya. Yuri juga dapat merasakan genggaman tangan Minho yang sepertinya memperingatkan ia untuk tidak menunduk.

“Mianhae baru memberitahu kalian.. Dia, nae anae…” kata Minho memperkenalkan Yuri. Yuri mulai menunduk kaku dengan senyum gugupnya.

“Nanneun Choi Yuri imnida..” kata Yuri memperkenalkan diri dengan senyum yang sebisa mungkin di tunjukannya untuk menutupi kegugupan. Minho ikut tersenyum kecil dengan kharismanya, tapi terasa kecut karena dia tau perkenalan ini hanya akan mendapat tanggapan acuh dari orang-orang ini. Yoona memandang Yuri sebentar. Jinri ikut memandang Yuri dengan bibir yang di poutkan.

“Jadi ini, anae dari si ‘pembangkang’ itu?” celetuk seorang Ahjumma muda, yang duduk tepat di sebelah Eunhyuk.  Yuri mulai menghela nafasnya, membuang sedikit kegugupannya. Ia memandang Minho, namun Yuri mulai bingung akan ekspresi Minho yang seakan tidak terusik pada kata-kata tadi.

“Sunmi-ya.. Tolong jaga bicaramu…” tegur Haraboji.. Ahjumma yang di panggil Sunmi berdecak kesal.            “Selamat datang di keluarga Choi, Yuri-ya..” kata Haraboji mencoba mencairkan suasana. Haraboji menyadari jika Yuri merasa sedikit tak nyaman.

“Kamsahamnida, Haraboji..” ucap Yuri pelan dengan sedikit menunduk.

“Selamat datang, Yuri…” sahut Seunghyun rendah di sebelah Yuri. Yuri kembali merona dengan senyum tertahannya.

Kau memang baik, Seunghyun-oppa batin Yuri.

“Uhm.. Yuri-ssi, bolehkah kami tau apa marga dirimu sebelum kau menikah ‘diam-diam’ dengan Minho…” tanya Victoria, wanita berumur yang masih terlihat anggun itu dengan sedikit menekankan kata-kata di akhir pertanyaannya. Yuri tersentak kaget dan berusaha tersenyum menyembunyikan kegusarannya.

Minho mengernyitkan keningnya, “bukankah dia sudah menikah denganku dan menjadi bagian dariku, jadi apa pentingnya membahas marga terdahulunya, Victoria-Imo?”

“Tentu saja itu penting.. Bagaimana pun keluarga Choi haruslah menikah dengan keluarga yang terpandang..” ketus Victoria. Yuri terdiam seribu bahasa. Seunghyun memandang datar ke arah Victoria.

“Apa jangan-jangan yeoja ini dari keluarga biasa yang kau pungut lalu kemudian kau nikahi untuk alasan tertentu dan mungkin saja itu alasan kau menikah tanpa memberi tahu kami semua..” celetuk Ji Hoon, namja yang juga berumur duduk tepat di samping Victoria. Yuri mulai makin tidak tenang. Dia segera berbalik pada Minho. Dapat di rasakannya genggaman tangan Minho makin menguat. Dia tau, ya Yuri dapat merasakan Minho pasti sedang menahan emosinya.

“Atau mungkin, kau sudah berbuat yang tidak-tidak dan menyebabkan Yuri……” Sunmi-Imo menghentikan kata-katanya saat sebuah suara gebrakan meja terdengar, pelan namun penuh tekanan. Semua mata tertuju pada Minho yang rupanya memukul meja itu. Yuri melebarkan matanya, menatap Minho.

“Tolong jangan katakan apapun yang tidak pantas di depan anaeku. Kami menikah sehat, tidak ada alasan khusus bagiku menikahinya selain hanya ingin hidup bersamanya. Tolong hargai kami…” ucap Minho panjang dan terkesan datar. Yuri makin menatap Minho dengan keterkejutannya.

“Hei .. Hei.. Ada apa dengan kalian ini?!” Semua terlihat mengalihkan pandangan mereka pada Haraboji yang terdengar meninggikan suaranya. “Minho tidak menikah diam-diam. Dia telah memberitahuku. Minho, jangan ambil hati ne…” Beberapa orang hanya diam dan mulai melanjutkan kegiatan mereka. Seakan acuh, begitupun Victoria. Hanya Sunmi dan Ji Hoon yang sepertinya merasa kesal.

Kenapa? Kenapa keadaannya begini? Apa mereka semua tidak menyukaiku? Atau… Kenapa aku merasa mereka semua tidak menyukai Minho?

“Baiklah.. Mungkin kalian sudah bosan berada di ruangan ini. Oleh karena itu, aku akan memberitahu kalian hal penting. Aku ingin kalian bisa menerimanya…” mulai Haraboji. Minho terlihat mulai membuang nafas. Seunghyun, Yoona dan Jinri beserta yang lainnya mulai memperhatikan Haraboji.

“Dengan melihat kerja keras Minho di perusahaan yang di kelola olehnya sekarang, membuatku dengan yakin mengambil keputusan ini….” Semua terlihat mulai serius menunggu keputusan apa yang akan di beritahu Haraboji.. Minho makin menggenggam tangan Yuri erat di bawah meja. Yuri sedikit mencuri pandang ke arah semuanya. Dia begitu bingung pada orang-orang yang baru saja di temuinya hari ini.

“Aku memutuskan untuk mempercayakan Choi’s Property pada Minho…” Semua sontak terkejut. Minho mencoba memasang wajah biasanya. Yoona menatap Seunghyun, dapat di lihatnya Seunghyun menatap heran pada Minho yang diam saja.

“Abonim.. Bagaimana mungkin abonim bisa memberi kepercayakan pada Minho untuk Mengelola Choi’s Property?”  tanya Han-kang samchon pada Haraboji. Seunghyun melirik kecil pada Appanya.

“Bukankah Choi’s Property lebih baik di urus dengan yang lebih berpengalaman? Bukan yang pembangkang dan tidak sopan seperti itu..” sahut Ji-Hoon samchon.

“Appa? Kenapa Appa berbicara seperti itu?” tegur Jinri pelan..

“Choi’s Property itu perusahaan besar Abonim.. Bukan hal mudah untuk mengurus perusahaan sebesar itu..” Minho mulai tersenyum miris. Ekpresi semua orang sangat sesuai dengan dugaan Minho. Terutama Ji Hoon-samchon, putra ketiga Haraboji ini memang dari dulu terlihat sangat ingin memegang penuh Choi’s Property. Begitupun Sunmi-Imo, putri keempat dari Haraboji dan juga Eomma dari Hyukjae terlihat sangat tidak respect pada Minho sedari awal.

“Abonim? Apa tidak sebaiknya di pikirkan dulu. Bukankah lebih baik yang mengurus Choi’s Property itu yang baru saja lulus dari Universitas, terlihat lebih fresh bukan?” usul Sunmi sembari melirik putranya, Hyukjae yang duduk tepat di sebelahnya.  Haraboji tersenyum  kecil.

“Seperti yang di bilang tadi. Menurus Choi’s Property bukan hal mudah, oleh karena itu aku membutuhkan yang lebih banyak pengalaman.. Untuk cucu Haraboji yang baru saja lulus ini, chukkae, Haraboji akan memberimu perusahaan lain untuk kau jalani sekaligus untuk mencari pengalaman dan Seunghyun akan Haraboji minta mengawasimu, Arra?” Hyukjae terlihat mengangguk dengan malas.

“Keputusanku sudah bulat… Minho sendiri akan mulai bekerja sebagai direktur Choi’s Property minggu depan….” Ji Hoon-samchon dan Sunmi-Imo hanya mampu berdecak kesal.

“Kami tau dia anak dari putra tersayang Abonim.. Tapi tetap saja dia tidak pantas memegang Choi’s Property…” Haraboji dan Minho segera memandang Sunmi, namun seketika Haraboji mengalihkan perhatiannya saat seorang pria berpakaian serba hitam terlihat menghampiri Haraboji dan menyerahkan sebuah telepon padanya. Haraboji beranjak dari tempatnya dengan di bantu oleh pria itu dan mulai menjauh menerima telepon.

“Minho.. Mungkin aku harus memberi tahu Appamu tentang masalah ini..” ucap Haraboji sebelum pergi. Minho mulai  menatap dua kursi kosong yang ada di sebelah Yoona dengan sinis. Menyadari itu, Yoona ikut melirik kecil kursi itu.  Yuri memperhatikan Minho dan juga Yoona bergantian dengan heran..

“Mianhae semua… Saya permisih.. Selamat malam…” ujar Yoona sambil membawa buku-bukunya pergi.  Minho mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Yuri semakin penasaran, apa sebenarnya yang terjadi. Hubungan apa ini?

“Mungkin kau juga harus segera menikah, Seunghyun-ah…” Seunghyun yang dari tadi diam spontan tersentak dan segera berbalik kecil pada Airi, Eommanya yang dari tadi duduk di sebelahnya.

“Apa maksud Eomma?”

“Kau sudah cukup umur untuk menikah Seunghyun-ah.. Bukankah kau sudah menyelesaikan pendidikan S2 mu? Kau juga sudah sering membantu Haraboji untuk menjalankan perusahaan, kan?” sahut Han-kang, Appa Seunghyun.

“Aku belum memikirkan pernikahan, Eomma.. Appa… ” sahut Seunghyun sedikit malas..

“Bagaimana kau ingin di anggap mampu jika kau tidak melakukan pergerakan.. Haraboji pasti juga menginginkan kau segera menikah.. Selamanya kau akan tertinggal dengannya? Walau kau bukan anak dari anak tertua Haraboji, tapi kau  itu putra tertua di sini,” sela Sunmi. Minho mencoba mengabaikan semua pembicaraan yang di dengarnya. Yuri mulai merasa kesal pada Ahjumma yang selalu mengatakan hal yang tidak mengenakkan ini.  Seunghyun melirik kecil pada Minho dan mulai menghela nafas malas sebagai jawaban atas perkataan Sunmi-Imo.

“Appa juga banyak mempunyai teman yang mungkin ingin menjodohkan putrinya denganmu…” sahut Appa Seunghyun..

“Bagaimana Yuri-ya? Apa menurutmu Seunghyun sudah pantas menikah?” tanya Eomma Seunghyun, tiba-tiba pada Yuri. Yuri terlihat keheranan.

“Eomma…. Appa hentikan…” pinta Seunghyun dengan nada tak suka… Eomma Seunghyun tak bergeming.

“Bagaimana Yuri-ya?” Minho melirik kecil pada Yuri tanpa sepatah katapun..

“I-itu.. Saya rasa Seunghyun-ssi sudah pantas menikah dan ….” Perkataan Yuri terputus saat suara decitan kursi Seunghyun menggema. Semua seketika menatap Seunghyun heran.

“Suasana di sini benar-benar panas. Mungkin pendinginnya tidak bekerja dengan sempurna.. Saya permisih..” kata Seunghyun ketus dan langsung meninggalkan ruangan itu. “Apa kalian akan menerima jika aku membawa yeoja yang tidak ‘selevel’dengan kalian?” oceh Seunghyun pelan sebelum dia keluar dari ruangan dengan sempurna. Yuri segera menatap Minho dengan pandangan khawatir..

“Minho-ya? Apa aku  telah membuat Seunghyun-ssi marah?” tanya Yuri pelan namun panik.

“Anniya.. Tapi jika kau merasa bersalah padanya, kau bisa pergi untuk meminta maaf padanya…” kata Minho dengan nada datar. Yuri mengangguk cepat dan segera menunduk sebentar pada semuanya sebelum pergi keluar. Jinri terlihat memicingkan matanya pada sikap Yuri.

Sesaat setelah Yuri pergi. Suasana menjadi semakin panas.Sunmi, Ji Hoon dan Victoria mulai mendiskusikan sesuatu yang menurut Minho mulai memojokannya lagi. Minho hanya mencoba bersikap santai dan acuh, seperti yang biasa di lakukannya jika berada di tengah-tengah mere. Namun seketika kesabarannya runtuh tatkala mereka mulai menyinggung tentang sikap pembangkang Minho yang membuat orang tua Minho tak datang malam itu.. Dengan sedikit kasar Minho mulai menggebrak meja dan berdiri.. Tanpa sepatah kata pun Minho keluar dari ruangan itu.

***

Donghae terlihat mulai tak tenang di dalam  mobil. Sudah 1 jam Minho dan Yuri masuk ke dalam dan sepertinya virus kebosanan mulai menghampiri Donghae. Donghae melirik Yoogeun yang masih tertidur pulas, dia menghela nafas. Donghae mulai menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, namun seketika dia mengurungkan niatnya saat menatap satu sosok yang sedang berjalan-jalan sendiri dengan sebuah buku di tangannya.

“Yoona?” desah Donghae.  “Benar.. Minho bilang Yoona sudah tiba di Korea. Mwo? Apa Ahjussi dan Ahjumma juga ada di sini?” gumam Donghae dan langsung menatap Yoona dari balik kaca mobilnya. Yoona berhenti berjalan dan tanpa sengaja melihat Donghae dari kejauhan. Donghae sedikit tersentak menerima tatapan Yoona itu, namun Yoona hanya menatap sebentar sampai akhirnya Yoona mengalihkan pandangannya dan kembali berjalan, menjauh dari tempat itu. Donghae ikut mengalihkan pandangannya dan segera terdiam dengan berbagai pikirannya.

***

Yuri terlihat sedang kebingungan ketika ia melewati begitu banyak kamar-kamar besar. Yuri akhirnya berhenti saat melihat Seunghyun sedang berada di balkon dan memandang keluar dengan menyandarkan dirinya. Yuri terlihat bingung, apa yang harus di katakannya? Sungguh dia hanya refleks mengikuti Seunghyun tadi.

“Kenapa kau mengikuti?” tanya Seunghyun tiba-tiba tanpa berbalik. Yuri sedikit terkejut. Namun, kemudian dia berjalan pelan menghampiri Seunghyun.

“A-aku ingin meminta maaf, Seunghyun-ssi…” kata Yuri pelan. Seunghyun segera berbalik dan saat itu juga matanya bertemu pandang dengan mata indah milik Yuri.

“Sepertinya aku tidak punya alasan untuk menerima permintaan maafmu itu. Kau tidak melakukan salah padaku, Yuri. Dan aku rasa, kau hanya perlu memanggilku Seunghyun tanpa sebutan ssi di belakangnya.” Yuri mulai mengulum senyum malu-malunya mendengar itu.

“Ja-jadi kau tidak marah padaku? Aku pikir kau marah karena aku telah mengatakan hal-hal yang tidak kau sukai.. ah… Syukurlah…” ujar Yuri polos dengan  mengelus dadanya. Seunghyun terlihat heran namun sedetik kemudian dia kembali membalik badannya membelakangi Yuri.

“Apa Minho tidak mencarimu jika kau berada di sini?” tanya Seunghyun, tanpa berbalik.

“Anniya.. Bahkan Minho-ssi lah yang mengatakan padaku untuk datang kemari jika aku merasa bersalah padamu,” jawab Yuri. Seunghyun segera berbalik kecil pada Yuri.

“Ssi?” herannya. Yuri melebarkan mata dan menutup mulutnya.

“Uhm itu.. sesekali aku rasa aku harus menghormatinya dan ingin menyebut namanya seperti itu, ya hanya ingin,” kata Yuri cepat. Seunghyun mengangguk-angguk.

“Pergilah kembali ke tempat Minho dan aku harap kau tidak marah akan sikap Eommaku tadi juga sikap Samchon dan Imo, mianhae,” kata Seunghyun pelan. Yuri diam, ia memperhatikan ekspresi Seunghyun yang sepertinya tidak selembut saat awal mereka bertemu dan juga di ruang makan tadi. Ekspresi Seunghyun kini seperti orang yang sangat dingin. Sama seperti Yoona dan Minho, pikir Yuri. Yuri mendadak teringat akan janjinya dulu.

“Seunghyun-ssi?” panggil Yuri, ragu. Seunghyun bereaksi dan mulai berbalik pada Yuri. Yuri sedikit tertegun ketika melihat Seunghyun mengusahakan seulas senyum kecil padanya.

“Nae?”

“Seunhyun-oppa.. Mungkin kau tidak mengingatku, tapi aku  ingin bilang kalau aku ingin….”

“Yuri-ya!” Yuri menghentikan perkataannya dan bersama-sama dengan Seunghyun langsung berbalik pada asal suara. Di sana Minho sudah berdiri dengan pandangan dingin. Yuri seketika terdiam dan memandang Minho. Namun, dia kembali menunduk ketika Minho berjalan menghampirinya. Dengan sekali gerakan, Minho meraih tangan Yuri untuk mendekat padanya. Seunghyun nampak terkejut pada perlakuan Minho itu.

“Permisih hyung.. Kami harus pergi…” kata Minho singkat. Seunghyun hanya diam tanpa menjawab pamit dari Minho. Minho segera berbalik dan membawa serta Yuri untuk ikut dengannya.

“Tunggu!” Minho menghentikan langkahnya.

“Ada apa, hyung?” tanya Minho tanpa berbalik.

“Aku tau kau sangat menyayangi Haraboji dan tidak mungkin menolak permintaanya. Aku juga yakin, kau menerima ini bukan karena maumu. Jadi aku harap kau bisa berusaha, karena ke depannya ini sangat sulit,” kata Seunghyun. Minho tersenyum kecut dan berbalik kecil.

“Aku tau itu, hyung.. Kau pun harus bekerja keras.. Jangan simpan semuanya di dalam sini..” jawab Minho sambil menepuk sekali dadanya. Yuri hanya diam, tak tau apa maksud dari pembicaraan kedua sepupu ini.

“Pintar sekali menceramahiku. Padahal kau juga begitu..” sungut Seunghyun sambil mulai berlalu pergi. Minho menghela nafasnya kecil. Yuri sedikit menengadahkan kepalanya dan menatap Minho.

Apa Seunghyun-oppa juga tidak menyukai Minho-ssi? Kenapa semua bersikap seperti itu padamu?

“Ya!” kaget Yuri saat wajahnya di tutup dengan tangan Minho.  Belum sempat protes. Minho sudah membawa pergi Yuri dengan mempertahankan posisi melingkarkan lengannya di pundak Yuri.

Tanpa Yuri dan Minho sadari, tak jauh dari tempatnya tadi ada dua orang yang tanpa sengaja melihat Minho dan Yuri yang mulai menjauh.

“Unnie, apa kau tidak sakit hati melihat itu?” goda Jinri dengan nada manja yang sangat menjengkelkan telinga Yoona.

“Bukankah kau yang sakit hati? Kau kan sangat menyayangi Oppa…” sahut Yoona datar sembari mulai berjalan pelan ingin meninggalkan Jinri. Jinri terlihat memanyunkan bibirnya, kesal.

“Minho-oppa juga sangat menyayangiku! Tidak sepeti menyayangi eonnie, padalah eonnie kan saudaranya…” kesal Jinri dengan menghentakan kaki lalu pergi. Yoona seketika mematung mendengar penuturan Jinri itu. Perlahan dia tertawa, tertawa kecil penuh keterpaksaan.

“Ya.. Aku memang saudaranya, Jinri-ya.. Saudara yang tidak di inginkan…” gumam Yoona.

***

Yuri memandang dirinya sendiri dari pantulan cermin. Dirinya kini sudah memakai piyama tidur tanpa riasan wajah yang di pakaikan oleh Hyoyeon tadi. Pikiran Yuri larut pada kejadian di rumah Haraboji tadi. Minho pun tidak sama sekali memberi penjelasan padanya. Di mobil tadi, mereka berdua hanya larut pada pikiran masing-masing. Cklek! Yuri segera membenarkan posisinya dan berpura-pura kembali membersihkan riasan wajahnya saat mendengar suara pintu ruang kerja Minho terbuka. Yuri dapat sedikit melirik Minho melalui cermin. Minho menatap Yuri sebentar lalu dia berjalan menuju tempat tidur kemudian mengambil posisi menyandar. Yuri masih diam seribu bahasa. Dia bingung, apa yang harus di lakukannya? Harusnya tadi dia tetap sajaa berada di kamar Yoogeun, tapi semua pakaiannya ada di kamar ini kan?

“Kau tidak tidur?” Tanya Minho sembari mengambil sebuah buku di atas nakas, tanpa melirik Yuri. Yuri mulai berdiri dan mencoba memandang ke arah Minho.

“Ne, aku baru saja selesai membersihkan wajah, kalau begitu aku kembali ke kamar. Annyeong…” Yuri menunduk kecil ke arah Minho dan mulai berjalan pelan.. Minho sedikit melirik Yuri lalu kemudian kembali melihat bukunya.

“Terimakasih atas usahamu hari ini…” Yuri menghentikan langkahnya dan terdiam.. Perlahan dia mencoba berbalik menghadap Minho. Yuri menatap Minho intens, bayangan foto namja kecil di rumah dan juga semua kejadian di rumah Haraboji kembali teringat di kepalanya.

“Minho-ssi?” Panggil Yuri pelan.. Minho merespon dengan langsung mengalihkan pandangannya pada Yuri. Yuri kembali terdiam, namun berhasil tidak menunduk…

“Waeyo?”

Yuri mencoba menarik nafasnya dalam lalu membuangnya kecil. “Sebenarnya aku…”

“Kau pasti heran pada keluarga itu kan?” Yuri lagi-lagi terdiam lalu mengangguk pelan..

“Apa mereka tidak menyukaiku? Atau mereka….”

“Sudahlah.. Jangan di pikirkan.. Aku sedang tidak mood membahas mereka…” Minho menutup bukunya dan langsung menarik selimut untuk melindungi tubuhnya. Yuri memandang Minho sebentar sebelum akhirnya dia mengangguk mengerti.

“Selamat tidur,” kata Yuri. Minho membuka sedikit selimutnya dan melihat Yuri yang hendak membuka pintu kamar.

“Jika kau sudah selesai menemani Yoogeun tidur, kembalilah..” Yuri segera berbalik pada Minho. Namun Minho sudah lebih dulu menenggelamkan diri dalam selimut.

***

Yuri masuk dengan pelan ke dalam kamar Yoogeun. Yuri mulai naik ke atas tempat tidur lalu mengelus puncak kepala Yoogeun yang sepertinya sudah tertidur pulas.

“Yoogeun-ah… Donghae-ssi sepertinya sudah tidur di kamar lain dan sepertinya Noona harus tidur di kamar lain bersama Minho-hyung… Uhmm…” Yuri nampak bingung sekali. Sejujurnya dia tak ingin membiarkan Yoogeun yang masih kecil ini tidur sendiri, tapi di sisi lain dia sudah menikah dan tadi Minho sepertinyaa meminta dia untuk tidur di kamar. Bukankah dia harus mengikuti mau Minho? Yuri sedikit tertegun saat merasa mata Yoogeun mulai sedikit terbuka..

“Kau belum tidur, Chagi?”

“Gwenchana Noona… Yoogeun bisa tidur sendiri. Yoogeun tidak mau Noona di marahi oleh Minho-hyung karena Yoogeun…” Yuri melebarkan matanya kaget akan perkataan Yoogeun.

“Anniya Yoogeun… Minho-ssi tidak akan mungkin marah pada Noonaa karena Yoogeun.. Arra Arraa.. Sekarang Yoogeun tidur ne? Noona akan menemani Yoogeun…”

“Tapi Noona…” Yuri menutup bibir Yoogeun dengan telunjuknya. Lalu ia tersenyum dan mulai merebahkan diri dengan memeluk Yoogeun..

“Yoogeun, apa kau tau chagi?” Yoogeun menggeleng polos. Yuri tersenyum dan terus memeluk Yoogeun sambil mengelus-elus kepala Yoogeun, lembut.

“Tadi Noona bertemu dengan namja itu… Namja yang pernah Noona tabrak dengan kopi.. Ah, kau pasti lupa…” Yoogeun memperhatikan cerita Noonanya itu dengan mata yang sudah sedikit terpejam. Merasa tak ada tanggapan dari Yoogeun, Yuri mulai melepaskan pelukannya dari Yoogeun lalu mengecup kening dongsaeng tercintanya itu. “Namja itu sangat baik, chagi.. Tapi Minho-ssi tak kalah baiknya… Kau harus tau, dia bukan membencimu chagi.. Tapi…” Yuri terdiam, dia sendiri bingung kenapa dia berkata bahwa Minho adalah namja yang baik. Yuri akhirnya menghela nafasnya.. “Mollayo…. Noona sendiri masih heran padanya.. Tidurlah yang nyenyak chagi.. Mianhae tidak bisa menemanimu malam ini…” Saat Yuri turun dari tempat tidur, tanpa sengaja mata Yuri bertemu pandang dengan mata teduh kedua orang tuanya yang ada di dalam foto. Yuri tersenyum dan menunduk..

“Selamat malam Eomma, Appa..”

***

Yuri dengan sedikit ragu-ragu  masuk ke dalam kamar Minho. Dengan sangat pelan sekali, Yuri menutup pintu itu. Bahkan nyaris tanpa suara. “Apa tidak apa-apa aku tidur di sini?” gumam Yuri pelan. Dia mulai memperhatikan Minho yang sudah damai dalam dunia mimpinya. Setelah lama berdiri akhirnya Yuri naik ke tempat tidur dan langsung mengambil posisi membelakangi Minho.

“Selamat tidur…” kata Yuri sekali lagi sebelum akhirnya dia mulai memejamkan mata. Sesaat setelah Yuri memejamkan matanya, Minho membuka sedikit matanya sebentar lalu kembali memejamkannya.

“Selamat tidur, juga,” ucap Minho seakan berbisik.

***

 Akhirnya bisa juga post part III ini.. xixi entah masih pada minat baca atau ga.. mian lama, ya begitulah.. virus males mulai merajalela di pikiran hoho.. ya udah.. gomawo udh baca smpe sini.. mohon kritik + sarannya ^,^ 

Tagged: , , ,

108 thoughts on “Our Future (PART 3)

  1. uzh_joon Januari 19, 2014 pukul 10:24 pm Reply

    serem amat choi’s family… hi hi… minyul mkin dket ajja🙂 …
    next part d’tnggu eon🙂

  2. tarhy94 Januari 27, 2014 pukul 5:08 am Reply

    Next mext next.jgan lma” yh eon.
    waahh mkinn ksinii crtnyaa makinn Mneganggakann ..kyak lgi nnton drama korea:-)

    #Minyul Fighting eaaa..mrekaa mkinn so sweatt euy.^^

  3. oeba yoonyul April 6, 2014 pukul 5:36 am Reply

    kapan lanjutttt

    • yuuripico26 April 10, 2014 pukul 6:31 am Reply

      hehe belum tau.. *ketawapolos. :’)

  4. Mrslee040420 April 18, 2014 pukul 4:56 am Reply

    Wah choi’s family galak2 banget sih ? -.- kasian atuh miyul dipojokan terus -.-
    Ditunggu part selanjutnya yaaa😀

    • yuuripico26 April 29, 2014 pukul 7:24 am Reply

      haha ia tu, pasti Yul gugup bgt ada di sana >.<

  5. nulnul29 Mei 5, 2014 pukul 4:07 pm Reply

    Kapan dilanjut pico??

  6. nulnul29 Mei 5, 2014 pukul 4:10 pm Reply

    Kapan dilanjutnya picoo?? Penasaaaraaannn…

  7. fatt Yulyurisistable Mei 20, 2014 pukul 10:06 pm Reply

    Daebak kak FFnya,,
    kpan kelanjutannya kak?

  8. fatt Yulyurisistable Mei 21, 2014 pukul 3:11 am Reply

    lanjutannya kpan kak?

Yuk tinggalin jejaknya (ʃƪ˘ﻬ˘)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: