Our Future (PART 2)

Our Future Cover

Tittle :

Our Future

Author :

@yuuripico26

Cast

Choi Minho || Kwon Yuri || Choi Seunhyun

Lee Donghae ||  Yoogeun

Support :

Sunny || Taeyeon || Hyoyeon

Lenght :

Chaptered

Genree :

Marriage Life – Romance – Family

Ratting :

PG-17

– READERS YANG BAIK PASTI NINGGALIN JEJAK :P

– TYPO IS AN ART OF WRITING

– HAPPY READING

***

Part II

            Yuri sudah rapi dengan pakaian khas istri muda seorang direktur, pagi-pagi sekali Sunny sudah menyiapkan pakaian ini untuknya. Rambutnya di ikat ke belakang dengan rapi. Wajahnya begitu cerah dengan polesan sedikit bedak dan perangkat lainnya.. Walau begitu, Yuri masih terlihat seperti seorang gadis muda yang manis. Yuri melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, menandakan seseorang yang ada di dalam sana masih sibuk. Yuri segera beranjak dari kamarnya menuju kamar Yoogeun. Dia masuk ke dalam dan mendapati Yoogeun yang kebetulan baru bangun dari tidurnya.

“Selamat pagi, Noona…” Yuri tersenyum dan langsung masuk ke dalam kamar Yoogeun.

“Selamat pagi, Chagi-ya…” sahut Yuri sembari mulai duduk di dekat tubuh Yoogeun. Yoogeun berdiri dan langsung mengecup pipi Yuri. Selesai mengecup pipi Yuri, Yoogeun langsung beranjak dari tempat tidurnya dan terlihat mulai mencari-cari sesuatu. Yuri mengernyitkan keningnya heran..

“Chagi-ya.. Kau sedang mencari apa?” heran Yuri. Yoogeun menunduk dan memasang ekspresi sedih..

“Lagi-lagi tidak ada Umma dan Appa di sini…” Yuri memukul keningnya pelan. Akibat kesibukannya kemarin. Dia benar-benar lupa meletakan foto orangtua mereka di sini. Yuri berdiri dan menghampiri kopernya yang berada di dekat lemari. Ternyata dia juga belum membongkar isi koper itu. Yuri mendapati foto kedua orangtuanya dan bermaksud ingin mengambilnya. Namun, dia kembali teringat di sini dia menumpang, apa boleh dia meletakan barang miliknya tanpa persetujuan sang empunya rumah. Apa lagi, Minho menekankan dia tidak boleh mengungkit masalalunya. Yuri teringat sesuatu dan mulai mendekati Yoogeun.

“Yoogeun-ah.. Noona rasa kita belum bisa meletakan Umma dan Appa di sini.. Karena Noona belum meminta izin…” ucap Yuri.. Yoogeung menunduk lemah..

“Apa Ahjussi itu marah jika kita membawa Umma dan Appa?” Yuri menautkan alisnya mendengar itu. Dia akhirnya merendahkan tubuhnya, menyamakan tingginya dengan Yoogeun..

“Bu-bukan begitu, Chagi… hanya aja, kita perlu bilang dulu padanya, kan?”

“Kalau begitu, nanti kita bilang pada Ahjussi itu ya, Noona..” Yuri mengangguk mengiyakan, dengan senyum manisnya..

“Yoogeun-ah, ntah apa yang akan di katakan Minho-ssi jika mendengarmu memanggilnya Ahjussi..” gumam Yuri tak enak.  Yuri mulai mengingat satu hal lagi yang harus di sampaikannya pada Yoogeun..  “Chagi-ya.. Kau masih mau menuruti permintaan Noona, kan?” tanya Yuri lembut sambil merapikan rambut Yoogeun yang nampak sedikit berantakan.

“Yoogeun mau, Noona.. Yoogeun akan selalu menuruti perkataan Noona…” sahutnya..

“Mulai sekarang kalau ada yang bertanya nama Yoogeun, tolong jawab Choi Yoogeun… Arraseo?” pinta Yuri hati-hati. Yoogeun memandang Yuri dengan mimik wajah herannya.

“Waeyo Noona? Bukankah nama Yoogeun, Kwon Yoogeun?” tanyanya.

“Karena nama Noona sudah menjadi Choi Yuri, jadi Yoogeun juga harus mengganti nama keluarganya menjadi Choi… jangan pernah sekalipun mengatakan, Kwon Yoogeun lagi..” jelas Yuri selembut mungkin. Yoogeun akhirnya mengangguk, mengerti..

“Arraseo Noona.. Yoogeun akan jawab dengan Choi Yoogeun…” Yuri mengelus kepala Yoogeun penuh kasih sayang, “Good boy…” Yuri mulai berdiri dan mengulurkan tangannya pada Yoogeun..

“Kajja kita mandi,” ajak Yuri. Namun saat Yuri berbalik, saat itu juga matanya bertemu dengan seorang namja yang sudah berdiri di ambang pintu dengan kemeja kerja yang sudah rapi…

“Sepertinya dari tadi kalian sedang membicarakanku?” ucap Minho, datar.

“I-itu..” Yuri nampak bingung ingin berkata apa…

“Minho-ahjussi.. Bolehkah kami meletakan foto Umma dan Appa di sini, seperti yang ada di rumah kami dulu…” pinta Yoogeun langsung.. Yuri menutup mulutnya refleks. Sedangkan Minho memasang tampang kecut ketika mendengar Yoogeun memanggilnya, Ahjussi..

“Ya! Bocah kecil.. Apa aku setua itu? Jangan panggil aku Ahjussi…” ketus Minho sambil menatap tajam Yoogeun.. Yuri ingin meraih tubuh Yoogeun dan membawanya menjauh, namun niatnya terhenti saat mendengar jawaban Yoogeun yang membuat Yuri dan Minho bertambah shock.

“Yoogeun bukan bocah.. Kata Noona Yoogeun adalah namja yang kuat.. Noona juga bilang, jika bertemu dengan orang yang lebih tua, panggilah dengan sopan.. Ahjussi itu panggilan yang sopan, kan?” Minho memijit keningnya mendengar itu. Sedetik kemudian dia menatap Yuri dengan tatapan mematikan.

Yuri hanya bisa menghela nafas, pasrah. “Yoogeun-ahhhh… bukan itu maksud Noona…” desah Yuri dalam hati.

***

            Kini Minho dan Yuri berada di dalam kamar mereka. Minho berdiri tepat di depan Yuri yang duduk di tepi tempat tidur dengan wajah menunduk. Yuri terus menunduk, menghindari kontak mata dengan Minho yang sepertinya sedang menatapnya dingin..

“Sebenarnya, apa yang kau ajarkan pada bocah kecil itu, eoh?” ketus Minho. Yuri kembali teringat pada perkataan Yoogeun yang membuatnya terkejut tadi.

“Aku hanya memintanya untuk memanggil seseorang yang lebih tua dengan sopan..” ucap Yuri dengan menunduk.

Minho membuang pandangannya ke sembarang arah, “Masih banyak panggilan sopan selain Ahjussi, kan?” sungut Minho. Yuri hanya bisa memasang ekspresi tak enak pada Minho.

“Sudahlah, lupakan masalah ini.. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang lebih penting.. Aku sudah minta Hyoyeon atau Sunny untuk membantumu bersiap-siap. Aku juga sudah minta Donghae-hyung untuk menjaga Yoogeun hari ini..” Yuri memandang Minho dengan tatapan penuh tanda tanya. “Kau dan aku akan mengunjungi Haraboji-nim hari ini,” lanjut Minho yang seakan mengerti pemikiran Yuri.

“Heeeee? Ha-haraboji?!” kaget Yuri. Minho mulai memakai dasi kerjanya. Yuri memperhatikan kegiatan Minho itu dengan seksama. Minho melirik kecil ke arah Yuri.

“Apa yang kau lihat?” tanya Minho. Yuri yang begitu sadar dengan perbuatannya segera mengalihkan pandangannya.

“Anniya, hanya saja aku ingin meminta maaf atas perkataan Yoogeun tadi..” jawabnnya pelan sembari kembali menunduk. Minho mengernyitkan dahinya. Sedetik kemudian Minho memakai jasnya, membuatnya semakin terlihat tegas dan berkharisma. Minho melirik kecil ke arah Yuri yang masih betah dalam posisi duduknya, tentu saja tanpa menatap Minho. “Hei.. Yuri-ya…” panggil Minho akhirnya. Yuri seketika mengangkat kepalanya menatap Minho. Sejak pertama datang ke rumah ini, baru kali ini lah Minho memanggil nama kecilnya.

“Ne?” sahut Yuri menjaga suara.

Minho menggerakan kepalanya seakan menunjuk sesuatu yang ada di dekat Yuri. Yuri memalingkan kepalanya pelan melihat apa yang di tunjukan Minho. Ternyata di dekat yuri duduk, ada sebuah tas kerja milik Minho. Yuri yang mulai mengerti maksud Minho segera meraih tas itu lalu berdiri untuk mengantarkannya kepada Minho. Yuri mulai memasang wajah heran saat Minho tak kunjung menerima tas itu dari tangannya. ‘Apa aku salah mengartikan arti isyaratnya tadi?’ batin Yuri.

“Baiklah.. Aku rasa sudah saatnya aku ke kantor. Kau siap-siap.. Aku akan menjemputmu setelah meeting pentingku selesai…” kata Minho cuek sembari mulai bergegas meninggalkan kamar. Yuri terbengong kala itu, masih dengan memegang tas kerja Minho. Minho yang menyadari Yuri masih terdiam dengan tas kerjanya, mulai menghentikan langkahnya. Dia berbalik kecil menatap Yuri. “Mau sampai kapan kau diam seperti itu dengan tas ku? Cepat kita ke bawah untuk sarapan sebentar, setelahnya aku akan kekantor..” ketus Minho. Yuri memukul kepalanya pelan setelah mengerti apa maksud Minho. Dia pun segera beranjak dan mengikuti Minho.

***

            Yuri dan Minho baru tiba di ruang makan yang terlihat cukup luas. Di sana sudah ada Taeyeon dan Hyoyeon yang sedang menata sarapan di atas meja makan yang besar. Yuri melebarkan matanya melihat ruang makan sebesar ini. Beberapa kali lebih besar dari ruang makannya di rumah yang dulu.

“Selamat pagi, Minho-nim.. Yuri-nim…” sapa Hyoyeon dan Taeyeon ramah.

“Selamat pagi..” sahut Yuri dan Minho bersamaan. Tentu saja, Yuri dengan ekspresi manisnya, sedangkan Minho dengan ekspresi dinginnya. Yuri dan Minho sudah duduk berhadapan. Minho mulai bergerak menyantap sarapannya. Sedangkan Yuri masih diam sambil memperhatikan berbagai jenis makanan yang di sediakan untuk santapan sarapan hari ini.

‘Apa style makan orang kaya memang seperti ini?’ batin Yuri. Jarak makan yang jauh karena mejanya yang panjang dan juga banyaknya makanan yang sepertinya lebih pantas untuk di makan ramai-ramai, membuat Yuri sedikit tertegun.

“Hei! Perutmu tidak akan terisi jika kau hanya memandangnya, makanlah…” titah Minho. Yuri seakan tersadar segera menyentuh sendok yang ada di dekat piringnya. Namun, dia kembali mengedarkan pandangannya mencari sesuatu. Minho mulai melirik Yuri lagi dan ingin menegurnya, namun niatnya terhenti saat suara Yoogeun mulai terdengar memanggil Yuri.

“Noonaaaaaa~” panggil Yoogeun lantang dengan suara yang menurut Yuri lain dari biasanya.. Yuri berdiri saat Yoogeun sudah mulai mendekat padanya. Yuri sedikit keheranan melihat Yoogeun yang langsung memeluknya.

“Mianhae… Karena Yoogeun, noona jadi di marahi oleh Ahjussi itu.. Mianhae…” kata Yooeun penuh ketulusan. Yuri segera melirik kecil ke arah Minho dengan takut-takut. Sedangkan Minho menekuk wajahnya menatap Yoogeun. Donghae yang tiba-tiba ada di samping Minho segera menepuk-nepuk punggung Minho, tanda meminta Minho untuk bersabar.

“Dia masih terlalu polos, Minho-ya…” keluh Donghae.. Minho menghela nafasnya dan mulai melanjutkan makannya dengan kasar.. Yuri memandang Minho dengan tatapan tak enak seraya terus mengelus kepala Yoogeun yang masih memeluknya dan mulai menjelaskan kalau dia tidak sekalipun di marahi oleh Minho. Yoogeun mengangguk mengerti dan mulai melepaskan pelukannya dari Yuri. Yuri begitu terkejut saat melihat Yoogeun mulai berlari kecil dan menghampiri Minho. Dia ingin menahan Yoogeun, tapi terlambat tangan mungil Yoogeun sudah berada di kaki bagian atas Minho. Donghae yang melihat itu hanya sedikit mengankat alisnya.

Minho yang tadinya asyik menyantap sarapannya, tiba-tiba saja menghentikan kegiatannya saat merasakan kakinya di sentuh oleh seseorang. Minho melirik kecil ke arah kakinya dan sedikit terkejut mendapati Yoogeun tengah memegang kakinya dan menatapnya..

“Ada apa?” heran Minho. Yoogeun menunduk saat Minho menatapnya dingin.

“Yoogeun-ah.. Apa yang kau lakukan?” ujar Yuri yang langsung menghampiri Yoogeun..

“Ahjussi…” Wajah Minho lagi-lagi tertekuk mendengar panggilan Yoogeun untuknya. Yuri menepuk keningnya pelan. Sedangkan Donghae, mengalihkan perhatiannya, menahan tawa. Taeyeon dkk pun sudah terlihat menjauh, melakukan pekerjaan mereka.

“Apa yang ingin kau katakan, bocah kecil?” ketus Minho. Yoogeun memainkan jari-jarinya dengan pandangan ke bawah.

“Kata Noona.. Yooeun harus minta maaf pada Ahjussi.. Yoogeun juga tidak tahu kenapa Ahjussi marah pada Yoogeun.. Tapi Yoogeun harap, Ahjussi tidak marah lagi pada Yoogeun dan Noona..” Yooeun membuang nafas leganya saat dirinya berhasil mengatakan hal itu. Yuri menatap Yoogeun sedikit kaget. Minho hanya memasang mimik wajah cuek dan mulai membersihkan bibirnya dengan tissue..  Minho berdiri dan langsung mengambil tas kerjanya.. Yuri memandang Minho dengan pandangan sedikit kesal, namun di tahannya. Bagaimana bisa dia secuek itu pada permintaan maaf Yoogeun..

“Yuri-ya.. Kau bersiap-siaplah.. Aku akan menjemputmu nanti.. Kajja Hyung, kita pergi..” ajak Minho. Yoogeun memandang sedih Minho yang sepertinya mengabaikan permintaan maafnya tadi. Yuri mulai mendekati Yoogeun dan mengelus kepalanya…

“Good boy.. Good boy… Jangan memasang wajah seperti itu…” hibur Yuri.. Yoogeun mengangguk patuh dengan wajah seolah menahan kesedihannya..

“Itu tidak baik..” bisik Donghae di sebelah Minho.. Minho yang rupanya melihat tingkah Yuri dan Yoogeun mulai berbalik arah dan kembali mendekat pada Yuri dan Yoogeun…

“Itu… “ Yuri dan Yoogeun nampak mengangkat sedikit kepala mereka ketika mendengar suara Minho. Minho mengalihkan pandangannya dan kembali memasang wajah dinginnya .. “Bocah kecil.. Aku tidak marah padamu..” Yoogeun segera menatap Minho.

“Benarkah, Ahjussi?” tanya Yoogeun. Minho kembali menekuk wajahnya, namun sedetik kemudian dia mencoba menatap Yoogeun..

“Ya.. Benar.. Dan kalian bisa lakukan apapun yang ingin kalian lakukan di sini.. termasuk meletakan foto orangtua kalian di kamar .. Sudahlah.. Aku bisa terlambat.. Kajja Donghae-hyung!” Minho berjalan terburu keluar dari rumah. Donghae berbalik sebentar ke arah Yuri dan Yoogeun sebelum dia berlari kecil menyusul Minho..

“Hyung pamit dulu, Yoogeun-ahh. Annyeong…” pamit Donghae cepat..

“Kamsahamnida, Minho-Ahjussi.. Donghae-Ahjussi..” ujar Yoogeun sedikit lantang.. Minho yang berjalan terburu, rupanya masih mendengar ucapan lantang milik Yoogeun. Itu terbukti dengan senyum tipis yang tersungging di ujung bibirnya. Yoogeun dan Yuri saling pandang, kemudian mereka berdua saling melempar senyum…

“Noona tadi dengar?  Minho-Ahjussi mempersilahkan kita meletakan foto Umma dan Appa.. yeay!” girang Yoogeun.. Yuri ikut tersenyum lebar..

“Kau benar Yoogeun-ah.. Ahh Kajja kau makan dulu, nanti setelah makan kita letakan foto Umma dan Appa bersama-sama..” pinta Yuri. Yoogeun segera mematuhi perkataan Yuri dan mulai duduk di atas kursi dengan sedikit di bantu Yuri…

***

            Persiapan Yuri sudah hampir selesai. Dia memakai dress yang pajangnya di bawah lutut. Tidak terbuka, namun masih mampu membuat Yuri terlihat dewasa dan manis. Rambutnya di biarkan tergerai rapi dengan tambahan pita kecil di sisi kanannya. Sunny dan Hyoyeon  berdecak kagum melihat penampilan Yuri kala itu.

“Yuri-nim, yeppo!” serentak keduanya. Yuri merona malu mendapat pujian seperti itu… Dia keluar dari kamar, bermaksud mencari Yoogeun yang sedari tadi tidak terlihat. Yuri tersenyum mendapati Yoogeun berada di lantai bawah, dia sedang duduk pintar di atas sofa besar yang ada di ruang tengah bersama Taeyeon yang terlihat sedang membacakan buku cerita untuknya. Yuri memutuskan untuk turun ke bawah, sekalian menunggu kedatangan Minho yang akan menjemputnya. Baru satu langkah turun, Minho tiba bersama Donghae yang mengikuti di belakang Minho.

“Selamat datang, Minho-nim,” ujar Sunny dan Hyoyeon, serentak di depan pintu. Taeyeon yang tadi duduk segera berdiri, mengikuti hal yang dilakukan Sunny dan Hyoyeon. Yuri yang terlihat bingung, ikut menunduk..

“Selamat datang, Minho-nim…” ucapnya dengan menunduk 90 derajat. Sontak Sunny, Hyoyeon dan Taeyeon memandang heran pada Yuri yang masih menunduk.

‘Apa itu cara anae menyambut nampyeonnya pulang ke rumah?’ batin mereka bertiga. Yuri yang mulai sadar jika dirinya sedang di perhatikan mulai menatap orang-orang yang ada di sana satu per satu. Minho mulai berjalan menghampiri Yuri yang masih berada di atas anak tangga itu.

“Babo…” kata Minho dengan suara berbisik dan terkesan dingin. Yuri hanya mampu membuang pandangannya dari Minho sambil mengutuk dirinya sendiri.

‘Apa kali ini aku salah lagi? padahal aku sudah mencoba melakukan yang terbaik,’ gerutu Yuri dalam hati.

“Ah… Yoogeun-ah.. Hari ini, mau jalan-jalan tidak? Kajja…” Donghae segera menghampiri Yoogeun dan mengajaknya keluar. Sunny, Hyoyeon dan Taeyeon juga permisih dari tempat itu untuk melanjutkan pekerjaan mereka kembali. Yuri masih menunduk. Minho akhirnya menghela nafas beratnya.

“Lain kali. Sambutlah aku dengan cara yang lebih layak bagi seorang anae… Untung saja yang melihat hanya mereka,” kata Minho dingin.

“Aku tidak tau bagaimana cara menyambut seorang nampyeon.. Ja-jadi, aku mengikuti cara mereka…” jawab Yuri polos. Minho mendengus kecil…

“Jika bahas masalah ini hanya akan membuang waktu.. Nanti akan kuminta Donghae-hyung mengajarimu.. Sekarang, kita pergi ke rumah Haraboji.. Kajja…” Minho mulai turun dari anak tangga itu, berjalan duluan. Yuri menurut dan mulai ikut berjalan pelan, menyusul Minho.

“Hacchhooo!” Donghae yang berjalan santai dengan Yoogeun di halaman belakang rumah, tiba-tiba saja bersin kencang sekali.

“Ahjussi kenapa?” tanya Yoogeun.. Donghae menekan-nekan hidungnya pelan..

“Mollayo.. Tapi sepertinya sedang ada orang yang menyebut-nyebut nama Hyung.. Ah! Yoogeun-ah! Jangan panggil aku Ahjussi!” keluh Donghae. Yoogeun tersenyum dan terus melanjutkan jalan-jalannya bersama Donghae.

***

            Yuri dan Minho mulai memasuki mansion besar berwarna putih keemasan. Mereka di sambut oleh beberapa pria berpakaian rapi di depan pintu. Yuri nampak gugup kala itu. Rumah ini terliat lebih besar dan menyeramkan dari pada rumah milik Minho, pikirnya. Minho meraih pinggul Yuri dan mendekatkan tubuh Yuri ke sisinya. Yuri spontan melayangkan tatapan terkejutnya pada Minho..

“Bersikap santai saja… Ada aku…” ucap Minho memberi keyakinan. Yuri menurut dan mulai berusaha bersikap tenang.

‘Rumah ini besar, namun terlihat sepi… Ada banyak pelayan, namun seperti tidak ada kehidupan…’ batin Yuri yang heran melihat keadaan rumah ini.. Minho melirik kecil ke arah Yuri yang terlihat sedang memikirkan sesuatu..

“Ini adalah mansion milik Haraboji. Tempat ini seperti markas besar keluarga Choi.. Pada saat-saat tertentu, mereka akan berkumpul di sini. Kalau sekarang, hanya ada beberapa orang saja yang tinggal di sini, itu pun mereka tidak selalu menghabiskan waktu di tempat ini…” jelas Minho yang seolah mengerti pemikiran Yuri. Yuri menanguk-angguk mengerti akan penjelasan Minho. Perlahan, mata Yuri tertuju pada tempat di mana foto-foto di letakan. Mata Yuri langsung menuju pada sebuah gambar yang Yuri yakini pasti foto keluarga besar Choi. Ada sekitar 10 orang lebih yang ikut berfoto dalam bingkai besar yang menempel pada dinding tembok itu. Yuri sedikit tersenyum kecil melihat orang yang dia yakini adalah Seunghyun..  Tapi senyum Yuri memadam ketika melihat namja yang berdiri di sebelah Seunghyun..  Penuh charisma dengan jas hitam dan senyum yang sedikit menyungging. Namun, Yuri melihat kekosongan pada tatapan mata namja itu.

“Hey.. Apa yang sedang kau lihat.?” Minho ikut melirik foto yang di lihat oleh Yuri. Perlahan, ekspresi Minho berubah. Senyum lirih mulai terlihat di wajahnya.. tak lama, Minho mengalihkan pandangannya pada salah satu bingkai kecil yang tertata rapi.

“Aigoo..” kata Yuri sembari memperdekat wajahnya pada bignkai foto yang memperlihatkan dua orang namja kecil dengan pakaian rapi, berserta seorang yeoja di tengah-tengah namja itu dengan dress mungil yang lucu.. Mungkin umur ,mereka sekitar 4 tahunan..

“Ini pasti foto dirimu kan, Minho-ssi?” ujar Yuri sambil menatap Minho. Tangannya menunjuk salah satu anak yang berdiri di ujung kiri. Minho mengangguk.. Yuri kembali memandang foto itu..

“Aigo.. Ini pasti Seunghyun Oppa dan ini…”

“Sudahlah.. Jangan bahas foto itu.. Kajja kita ke ruangan Haraboji-nim..” ketus Minho seraya mulai menggandeng tangan Yuri menjauh dari tempat itu. Yuri sedikit menoleh ke belakang dan kembali melihat foto itu sambil berjalan. Yuri sedikit melirik Minho yang berada di sampingnya dan melirik foto itu lagi bergantian.. Dia baru saja menyadari, ekspresi wajah Minho kecil yang terlihat sedih dan kesepian.. Berbeda dengan sekarang yang penuh dengan charisma dan lebih terlihat dingin..

Kini Minho dan Yuri sudah tiba di depan pintu yang di jaga oleh beberapa orang bodyguard berpakaian rapi. Yuri sedikit takut melihat orang-orang itu. Minho menyampaikan maksud dari tujuannya ingin bertemu Haraboji.. salah satu dari orang itu masuk ke dalam untuk meminta ijin dari orang yang ingin di temui Minho.

“Kau pernah tinggal di sini, kan? Kenapa mereka seolah tidak percaya padamu…” tanya Yuri pelan. Minho makin memperkecil jaraknya dengan Yuri.

“Karena aku pernah berbuat satu kesalahan pada Haraboji yang menyebabkan dia sedikit marah dan tidak membiarkanku datang kemari untuk bertemu dengannya ..” jawab Minho tegas. Belum sempat Yuri bertanya lagi, orang yang tadi meminta ijin keluar dari ruangan dan mempersilahkan Minho dan Yuri masuk.

Minho tidak melepaskan pegangan tangannya pada Yuri saat masuk ke dalam kamar besar milik Harabojinya. Yuri tertegun melihat seorang pria renta berusia sekitar 70 tahunan sedang terbaring lemah di atas tempat tidur besar. Kepalanya sedikit botak dengan rambut-rambut berwarna putih yang tumbuh di sekitaran dagunya juga di bagian atas bibirnya. Minho menuntun Yuri untuk lebih dekat dengan sosok yang di yakini Yuri adalah Haraboji Minho.

“Annyeong, Haraboji-nim..” sapa Minho dengan senyum kecilnya, terlihat tulus. Untuk pertama kalinya ekspresi ini Yuri lihat. Haraboji mulai membuka matanya perlahan. Setelah matanya terbuka, dia langsung menatap Minho.

“Akhirnya kau datang juga bocah nakal…” ucap Haraboji dengan nada khas seperti umumnya pria renta pada umur segini. Minho kembali tersenyum dan mulai menarik pelan tangan Yuri untuk lebih dekat lagi padanya.

“Haraboji-nim.. Aku ingin memperkenalkan nae Anae… Choi Yuri..” ucap Minho dengan nada bangga memperkenalkan Yuri. Yuri terlihat gugup, namun ia terus berusaha bertingkah sebaik mungkin.

“Naneun, K-kw…” Minho memicingkan matanya dan meremas sedikit tangan Yuri.. “Choi Yuri imnida..” kata Yuri akhirnya yang langsung membungkuk kecil, memberi hormat. Minho bernafas lega mendengar itu. Yuri spontan menangkat kepalanya dan menatap Haraboji, begitupun Minho yang ikut menatap Haraboji setelah mendengar kekehan renyah dari pria renta ini.

“Akhirnya kau bisa memberikanku alasan kenapa kau kabur dari pesta pertunganmu di Amerika.. Kau anak nakal yang patuh rupanya, kau benar-benar tidak menemuiku sebelum kau bisa memberikanku cucu menantu…” kata Haraboji. Haraboji berusaha duduk. Melihat itu, Yuri refleks membantu Haraboji. Minho yang juga berniat membantu, kalah cepat oleh gerakan Yuri dan akhirnya dia hanya melihatnya saja.

“Kamsahamnida, atas bantuannya.. Yuri-ya…” ucap Haraboji yang terasa akrab sekali. Yuri mengangguk dan tersenyum. Dia rasa, rasa gugupnya sedikit berkurang dengan sambutan hangat dari Haraboji.

“Berapa umurmu?” tanya Haraboji.

“18 tahun, Haraboji-nim,” sahut Yuri..  Haraboji mengangguk-angguk..

“Sudah cukup umur untuk bersanding dengan cucuku yang berumur 23 tahun ini.. (minong d sini aku buat lebih tua dari Yulnie lagi, hehe)… Minho sudah cukup bekerja keras mengurus salah satu perusahaan kami.. Jadi aku harap, kau bisa membahagiakannya..” Yuri yang duduk di kursi dekat tempat tidur Haraboji segera mengangguk. Minho yang berdiri tepat di belakang Yuri ikut memperhatikan perkataan Haraboji.

“Yuri akan berusaha, Haraboji-nim..” ucap Yuri. Perkataan itu mampu membuat Minho segera menatap Yuri dengan mata sedikit melebar.

“Haraboji menyerahkan Minho padamu,” ujar Haraboji sambil menepuk-nepuk kepala Yuri. Yuri menerima perlakuan itu dengan senyum merekah. Dia merasa seperti sedang berbicara dengan Harabojinya sendiri sekarang..

“Dan untuk kau, Minho-ya.. Haraboji pernah bilang, jika kau tidak segera menikah, Haraboji akan mengambil kembali perusahaan yang kau kelola sekarang dan juga kembali menarik hak izin mu untuk tinggal sendiri. Tapi, sebenarnya itu hanya gertakan agar kau segera menikah.. Hahaha..” kekeh Haraboji lantang. Minho sontak langsung menatap tak percaya pada Haraboji..

“Heeee??! Ah.. Haraboji begitu tega!” kesal Minho dengan nada manja..  Yuri memandang Minho yang memasang wajah kesal dan Haraboji yang tertawa lantang. Yuri tersenyum memandang keduanya. Mereka terlihat begitu akrab..

“Ah.. Aku rasa aku sudah lebih baik sekarang!” ujar Haraboji meregangkan tubuhnya. Minho dan Yuri serentak berniat membantu, namun mereka berhenti saat Haraboji bilang dia baik-baik saja..

“Kalian berdua terlihat cocok.. Semoga kalian selalu bahagia. Dan kau Minho, kapan-kapan bawalah lagi Yuri kemari.. Ah! Haraboji hampir lupa.. Minho-ya.. Karena kau sudah membuatku senang hari ini, kau akan mendapatkan reward..” Minho menatap Haraboji penuh tanda tanya. Begitupun Yuri. Haraboji terlihat mengambil sebuah map berwarna merah yang ada di atas meja kecil di dekat tempat tidurnya. Lalu, menyerahkannya pada Minho..

“Kau resmi memegang amanahku untuk mengelola Choi’s Property… Melihat kau berusaha keras mengelola perusahaan yang sekarang dan juga kau sudah menjadi seorang nampyeon, membuat Haraboji yakin untuk menjadikanmu Direktur utama di salah satu perusahaan kebanggaan Haraboji…” Minho menerima map itu dengan tatapan tak percaya.. Dia begitu terkejut menerima amanah untuk mengelola full perusahaan terbesar yang di miliki Choi’s Family yang ada di Korea.  Sebelumnya dia hanya menjadi wakil direktur di salah satu perusahaan sang Haraboji.

“Tapi, apa Haraboji-nim yakin? Bukankah Seung..”

“Dia akan mendapatkan reward yang lain jika dia mampu membuatku sesenang..” potong Haraboji.

“Ha-haraboji, tolong pikirkan dulu baik-baik keputusan Haraboji itu.. Bukankah aku masih terlalu cepat untuk mengelola Choi’s Property?” sanggah Minho.

“Lalu kenapa? Bukankah kau sudah mengelola dengan baik perusahaan yang kau pegang sekarang? Apa salahnya aku mempercayakan salah satu perusahaan kebanggaanku padamu?”

“Tapi Haraboji.. Bagaimana dengan yang lainnya?” tanya Minho dengan nada khawatir. Yuri hanya melihat ekspresi Minho dengan seksama. Ekspresi yang biasa di tunjukan Minho adalah ekspresi dingin tanpa perasaan, namun sekarang? Yuri melihat sebuah ekspresi kekhawatiran dari Minho.

“Kenapa yang lainnya? Bukankah mereka sudah ku beri kepercayaan juga? Mereka sudah memegang salah satu perusahaan kita juga, kan?”

“Tapi Choi’s Property itu sedikit berbeda, Haraboji-nim..” ujar Minho, masih mencoba beradu pendapat dengan Haraboji.

“Jadi kau tidak mau menerima amanat Haraboji?” Minho tersentak dengan pertanyaan Haraboji.. Tak kunjung mendapatkan jawaban dari Minho, Haraboji melirik ke arah Yuri..

“Yuri-ya, bagaimana pendapatmu.. Kau pasti mengenal sisi pekerja kerasnya minho kan? Apa kau rasa dia cocok untuk memimpin Choi’s Property?” Yuri sedikit tertegun dengan pertanyaan Haraboji. Bagaimana dia harus menjawab. Jangankan sisi pekerja kerasnyaa Minho. Choi’s Property aja yang umum di kenal orang-orang pun Yuri tidak tahu..

“I-itu..”

“Baiklah Haraboji-nim.. Aku terima! Aku akan mengelola Choi’s Property..” potong Minho akhirnya dengan cepat. Dia menyadari posisi Yuri yang kebingungan untuk memberi jawaban apa pada Haraboji. Yuri bernafas lega.

“Bagaimana Yuri?” tanya Haraboji lagi. Yuri mengangkat kepalanya menatap Haraboji. Lalu, dia sedikit membalikkan pandangannya pada Minho yang berdiri di sisi belakangnya..Yuri menatap Minho yang juga sedang menatapnya dengan tatapan ‘ayo beraktinglah!’.

Yuri tersenyum manis pada Minho lalu berbalik menghadap Haraboji lagi.. “Yuri rasa, Minho-ssi pasti bisa memimpin Choi’s Property.. Yuri yakin, dia pasti akan berusaha.. ” kata Yuri penuh semangat dengan mengepalkan telapak tangannya sedikit ke udara. Minho menepuk keningnya..

‘Babo-ya.. Kenapa kau bersikap begitu di depan Haraboji-nim?!’ pekik Minho dalam hati.

“Minho-ssi?” heran Haraboji. Minho nampak menggaruk keningnya frustasi. Sedangkan Yuri langsung menutup mulutnya, menyadari dia mulai terbiasa memanggil Minho dengan tambahan ‘ssi’.

“Mianhae, Haraboji-nim.. Yuri begitu gugup. Mungkin dia merasa harus mengatakan kata-kata sopan untuk bertemu Haraboji, termasuk panggilannya padaku.. Hehe.. Ya kan yeobo?” Minho memandang Yuri dengan tajam. Yuri mengangguk cepat dan langsung menghindari tatapan Minho itu…

“Haha. . Yuri-ya, kau lucu sekali.. Kalau begitu bersemangatlah!” Yuri dan Minho serentak memandang Haraboji yang mengikuti gaya Yuri tadi.

“Haraboji menyerahkan salah satu cucu kebanggaan Haraboji padamu.. Kalian begitu cocok.. semoga kalian selalu hidup bahagia..” kata Haraboji sambil menepuk-nepuk kepala Yuri. Yuri tersenyum lirih dan memegang kepalanya yang tadi di tepuk-tepuk pelan oleh Haraboji itu.

“Ah nae, Haraboji-nim.. Yuri akan berusaha menjaga dan menjadi anae yang baik untuk Minho..” kata Yuri dengan mimik penuh ketulusan pada Haraboji. Haraboji tersenyum dan kembali menepuk-nepuk puncak kepala Yuri. Minho tertegun memandang kejadian itu. Dia akhirnya tersenyum dan meletakan tangannya di punggung Yuri.. Yuri tersentak, namun dia memilih untuk tidak memandang Minho..

“Aku akan bekerja keras.. Kamsahamnida atas kepercayaannya, Haraboji-nim.. tapi sebelum itu, Aku ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan di perusahaan yang sekarang dulu, Haraboji-nim..” ujar Minho seraya menunduk.. Haraboji ikut tersenyum dan memandang keluar melalui jendela besar yang ada di kamarnya.

“Tentu saja.. Kau akan mulai menjadi direktur Choi’s Property setelah ku lantik.. Haraboji percaya padamu dan Yuri.. Haraboji akan menikmati masa tua ini dengan nyaman…” ucapnya. Minho ikut memandang keluar. Sedangkan Yuri memandang lirih ke arah tangan Minho yang bersandar di bahunya..

‘Jadi dia menikahiku hanya untuk mendapatkan kursi Direktur itu? Ternyata kami sama. Sama-sama membohongi semua orang untuk kepentingan pribadi kami.. Pertama pada Tuhan, pendeta, semua tamu dan juga pada Haraboji-nim,’ batin Yuri..

***

Yuri dan Minho baru saja keluar dari ruangan Haraboji. Seorang yeoja berambut pendek dengan pakaian khas yeoja muda keturunan keluarga kaya sedang menatap Minho dan Yuri dengan wajah tidak bersahabat. Minho menautkan alisnya melihat yeoja itu, sedangkan Yuri bertahan dalam diamnya. Yuri mulai tidak nyaman saat yeoja itu menatapnya dengan kedua alis yang saling tertaut.

“Nugu-ya? Oppa?” tanya yeoja itu dengan nada tak bersahabat.

“Nae anae…” jawab Minho tanpa ragu sembali mulai mendekatkan kembali tubuh Yuri padanya. Yuri kembali terkejut pada perlakuan Minho itu.

“Anae?! Jadi benar Oppa sudah menikah. Kenapa kau tidak memberitahu kami semua?” ucapnya kesal pada Minho.

“Karena ini mendadak Jinri-ya.. Aku harap kau dan semuanya mau mengerti.. Yuri-ya, kenalkan.. Dia Jinri, sepupuku.. Orangtuanya sering berangkat keluar negeri, jadi Haraboji-nim sering menyuruhnya untuk menghabiskan waktu di sini…” Yuri berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik senyum manisnya dan mulai mengulurkan tangannya pada Jinri. Yuri memandang miris tangannya yang tak kunjung di sambut itu. Minho segera menarik tangan Yuri dari hadapan Jinri ketika merasa Jinri tak kunjung membalas jabat tangan Yuri.

“Waeyo?” bisik Yuri.. Minho hanya menjawabnya dengan tatapan dingin.  Membuat Yuri akhirnya menunduk..

“Aku tau kau mungkin kesal, Jinri.. Seperti yang lainnya.. Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu..” Minho mulai membawa Yuri pergi, menjauh dari hadapan Jinri yang terlihat membuang pandangannya ke sembarang arah. Wajahnya menunjukan ketidaksukaannya pada yeoja yang sedang bersanding dengan Minho itu. Yuri dapat melirik sedikit ke arah Jinri. Namun, Jinri sudah tidak terlihat lagi.

***

Minho dan Yuri sudah sampai di pintu utama rumah ini. Namun, saat ingin keluar. Tanpa sengaja mata Minho, bertemu pandang dengan seorang yeoja yang baru saja hendak masuk ke dalam rumah keluarga Choi..

“Kau?..” Yuri sedikit mengernyitkan keningnya mendengar yeoja itu menegur Minho.

“Ne?”  sahut Minho singkat. Yeoja itu terenyum tipis dan mulai memandang Yuri.

“Jadi benar Oppa sudah menikah? Chukkae..” ujarnya singkat lalu tanpa sepatah katapun langsung meneruskan jalannya, masuk ke dalam rumah besar milik Haraboji ini. Minho tersenyum kecut akan kejadian itu. Sedangkan Yuri memandang Minho dengan tatapan penuh tanda tanya..

“Apa dia juga bagian dari keluarga ini?” Minho mengangguk.

“Dia Yoona.. Sudahlah..Sebaiknya kita cepat pulang, sebelum kita bertemu dengan yang lainnya.”

‘Ada apa dengan mereka semua? Kenapa mereka seperti tidak menyambut kedatangan kami dengan baik?’ batin Yuri..

Minho segera menancap gas kuat saat dirinya dan Yuri sudah berada di dalam mobil. Saat melewati gerbang besar, tanpa sengaja Yuri menangkap satu sosok namja yang sedang menyetirmobil dari arah berlawanan masuk ke dalam kawasan rumah Haraboji..

“Seunghyun-ssi?” desah Yuri pelan.. Namja yang di dalam mobil itu pun tanpa sengaja ikut menatap Minho dan Yuri sekilas melewati mobilnya.. Minho melirik kecil ke arah Yuri yang sedang serius melihat sesuatu. Namun, dia kembali fokus menyetir ….

“Jadi mereka sudah kemari?” batin Seunghyun…

***

            Seunghyun mulai berjalan menuju kamarnya. Namun langkahnya berhenti saat meliat Haraboji duduk santai di atas kursi rodanya di ruang tengah. Di sebelahnya ada Yoona yang sedang serius membaca buku. Haraboji memandang Seunghyun yang berdiri mematung di sana.

“Seunghyun, kau sudah pulang…” Seunghyun segera bergegas, menuruni beberapa anak tangga kecil dan segera menghampiri Haraboji. Seunghyun sempat bertemu pandang dengan Yoona yang meliriknya sedikit.

“Selamat datang..” kata Yoona dengan nada datar. Seunghyun tersenyum kecil dan kembali memeperhatikan Haraboji.

“Selamat siang Haraboji-nim.. Bagaimana keadaan Haraboji-nim hari ini?” tanya Seunghyun sembari mengambil posisi duduk di dekat Yoona.

“Seperti yang kau lihat sekarang.. Haraboji sangat sehat. Haha..” kekeh Haraboji pada Seunghyun. Seunghyun sedikit terlihat bingung pada sikap Harbojinya itu. Yoona masih acuh dengan buku bacaannya.

“Apa tadi Minho dan anaenya datang kemari?” tanya Seunghyun pelan pada Yoona. Matanya masih memperhatikan ekspresi Haraboji yang terlihat menahan senyumnya.

“Ya begitulah.. Kau tahu dia menikah?” tanya Yoona yang langsung menutup bukunya dan menatap Seunghyun tanpa ekspresi.

“Tentu saja.. Dia menghubungiku melalui telepon..” jawab Seunghyun dengan nafas menghela. Baru saja Yoona hendak bertanya lagi, sebuah seruan menghentikan niatnya..

“Oppa?! Kau tau Minho Oppa menikah, tapi kenapa kau tidak memberitahuku?” kata Jinri yang baru tiba dengan nada kesal yang manja. Seunghyun menghela nafasnya dan berniat menjawab…

“Itu perintah Haraboji..” sela Haraboji, menghentikan niatan Seunghyun yang hendak mengeluarkan suara. Yoona memandang Haraboji dan Seungyun dengan heran. Sedangkan Jinri segera menghampiri sang Haraboji dengan tingkah manjanya.

“Jadi Haraboji mengetahui jika Minho-oppa mau menikah? Kenapa Haraboji tidak memberitahu kami semua? Kenapa hanya Seunghyun Oppa yang tahu?” Haraboji berbalik kecil pada Jinri.

“Biar menjadi kejutan.. Sudahlah Jinri-ya.. Sebaiknya, cucu Haraboji yang aegyo ini pergilah bersama cucu Kakek yang yeppo itu berbelanja..” kata Haraboji sambil menatap Jinri dan Yoona bergantian, seakan sedang mengalihkan pembicaraan. Yoona menghela nafas beratnya seraya menutup buku bacaannya. Lalu dia menunduk sebentar ke arah Haraboji.

“Bukankah dari dulu Minho-oppa hanya menganggap Seunghyun-oppa sebagai orang terdekatnya.. Yoona permisih Haraboji-nim, ada buku yang harus di selesaikan hari ini.. Annyeong..” kata Yoona sebelum pergi. Jinri menatap kepergian Yoona dengan heran. Akhirnya Jinri meninggalkan tempat itu dengan sedikit kesal, menuju kamarnya. Seunghyun yang melihat itu juga terlihat bermaksud untuk pergi. Dia benar-benar sedikit tidak enak pada pernyataan Yoona tadi.

“Seunghyun, tunggu…” tahan Haraboji saat menyadari Seunghyun ingin pergi. Mendengar Haraboji memintanya menungu membuat Seunghyun menghentikan langkahnya tanpa berbalik pada Haraboji.

“Besok malam Haraboji akan mengadakan makan malam bersama keluarga besar Choi di rumah ini.. Ada pengumuman penting yang akan Haraboji sampaikan pada kalian.” Seunghyun berbalik dan menatap Haraboji yang duduk membelakanginya. Wajahnya menunjukan tanda tanya besar apa yang akan di sampaikan padanya dan yang lain besok malam.

***

            Minho masuk ke dalam rumah besarnya dengan terburu-buru. Sunny, Hyoyeon dan Taeyeon yang terlihat bingung, hanya menunduk dan berusaha memberi salam kedatangan seperti biasa. Minho berhenti sejenak dan memperhatikan seisi rumahnya, matanya menangkap satu sosok yang di carinya sedang membacakan buku cerita untuk namja kecil yang ada di sebelahnya..

“Yuri-ya!” sergah Minho langsung. .Tanpa aba-aba, Minho segera menghampiri yeoja itu dan langsung membawa yeoja itu pergi mengikutinya menuju kamar mereka yang ada di lantai dua. Yuri yang terkejut tidak bisa berkata apa-apa, selain berjalan cepat mengikuti irama langkah Minho yang sedang memegang tangannya..

Sunny, Hyoyeon dan Taeyeon kemudian saling pandang keheranan. Di pintu ada Donghae yang juga terlihat khawatir. Yoogeun terlihat bingung dengan apa yang terjadi, namun Donghae yang menyadari kebingungan Yoogeun segera mendekati Yoogeun dan membawanya pergi..

Minho membawa Yuri masuk ke dalam kamar. Yuri terlihat makin kebingungan saat Minho mengunci pintu kamar dengan cepat. Minho membuang nafas beratnya dan langsung menatap lurus pada Yuri.

“A-ada apa?” Tanya Yuri hati-hati..

“Mwo?!” Kaget Yuri ketika Minho langsung menarik tubuhnya dan membawanya ke atas tempat tidur. Minho langsung menindih tubuh Yuri, persis seperti yang di lakukannya kemarin malam.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yuri lagi, Minho tidak menjawab malah terus mentap Yuri yang kebingungan atas sikapnya. Yuri mengalihkan pandangannya dari Minho yang menatapnya lurus. Jarak wajah mereka tak lebih dari 5cm. Bahkan, hembusan nafas Minho dapat terasa di wajah Yuri. Minho mencoba lebih mendekatkan lagi wajahnya ke Yuri bermaksud ingin menangkap bibir ranum milik Yuri. Menyadari maksud Minho, Yuri refleks mendorong tubuh Minho ke samping. Yuri mencoba menjauh dari Minho dengan bermaksud untuk turun dari tempat tidur. Namun, niatnya terhenti saat Minho menahan tangannya. Yuri menatap tangannya yang di genggam Minho dengan takut-takut.

“Minho-ssi.. Ap…. Kyaa!” Yuri memekik saat Minho kembali menariknya hingga tubuhnya jatuh kembali ke atas tempat tidur. Minho kembali menindih Yuri, tapi kali ini dia mengunci kedua tangan Yuri ke atas. Yuri menatap Minho penuh guratan kekhawatiran dan ketakutan.

“A-apa yang ingin kau lakukan padaku?” tanya Yuri dengan suara memelan. Yuri segera menutup matanya kuat, saat Minho mulai mendekatkan bibirnya menuju telinganya.

“Tentu saja, melakukan hal yang harus kita lakukan sebagai pasangan yang sudah menikah…” bisik Minho tepat di telinga Yuri. Membuat Yuri sedikit merinding. Yuri mencoba melepaskan diri dari Minho, namun Minho mengunci dirinya begitu kuat.

“Kenapa kau menolakku, huh’? Kau sudah memilih menjadi anaeku, kan?” kata Minho dengan nada datar sembari mulai menghembuskan nafas kecil di leher Yuri. Yuri sedikit tersentak dengan perbuatan Minho itu. Yuri mencoba kembali berusaha melepaskan dirinya dari Minho. Bening-bening krystal mulai terlihat di pelupuk mata lentiknya.

“T-tolong lepaskan aku… Kita tidak boleh melakukan hal seperti ini, Minho-ssi..” mohon Yuri sambil terus berusaha melepaskan diri. Minho terlihat tidak bergeming dan mulai berani menyentuhkan bibirnya pada leher jenjang milik Yuri. Yuri yang menyadari jika Minho sudah bertingkah lebih mulai bergerak tak terkontrol untuk melepaskan diri dari Minho. Melihat perlawanan Yuri yang makin kuat, membuat Minho makin memperkuat genganggam tangannya pada kedua tangan Yuri.

“Kenapa aku tidak boleh melakukan hal ini? Kita sudah sah di mata Tuhan dan pendeta.. Kita sudah menikah.. Wajar kita melakukan hal ini, kan?” kata Minho dengan tatapan lurus menatap mata Yuri. Yuri membuang pandangannya…

“Tapi bukankah kau bilang kalau pernikahan ini….. Eungmmmppp!!!!” Yuri memekik tertahan saat mulutnya di tutup oleh salah satu tangan milik Minho dan lehernya di kecup dengan cepat oleh Minho… Yuri melebarkan matanya terkejut.. Minho kembali mendekatkan bibirnya pada leher Yuri, namun kali ini bukan sebuah kecupan lagi yang di lakukan oleh Minho. Melainkan, hisapan kecil yang Minho daratkan ke leher jenjang milik Yuri. Yuri mencoba memejamkan matanya kuat. Merasa Yuri sudah diam, membuat Minho sedikit mulai bergerak lebih. Yuri yang merasa pertahanan Minho mulai berkurang, segera mencoba melepaskan diri dan mendorong kuat tubuh Minho. Yuri segera turun dari tempat tidur dengan nafas tak teratur dan penampilan yang sedikit berantakan saat dirinya berhasil melepaskan diri dari Minho. Dia menatap Minho dengan tatapan kaget dan tangan yang menyentuh lehernya sendiri. Minho menatap Yuri yang ketakutan dengan tatapan sendu..

“Kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau bilang kita hanya menikah tanpa ada rasa cinta?” kata Yuri berusaha mencari jawaban atas perbuatan Minho ini.

“Jangan salah paham dulu… Pernikahan kita memang bukan karena cinta…” ucap Minho..

“Jika memang pernikahan ini tanpa cinta, kau tidak boleh melakukan hal itu padaku..” Minho mulai memicingkan matanya menatap Yuri.

“Kau ingat bagaimana ekspresimu setiap kali aku mendekatimu? Kau ketakutan! Bagaimana orang lain akan percaya kau anaeku, jika ku dekati saja kau ketakutan begini…” kata Minho dengan kesal. Yuri terdiam dan menghindari tatapan kesal Minho.. Memang benar apa yang di katakana Minho. Sepertinya Yuri memang belum terbiasa pada perannya sebagai anae Minho .

“A-aku hanya terkejut saat kau menarikku dan mulai melakukan hal yang mengejutkan seperti tadi.. Aku tidak biasa,” ucap Yuri dengan wajah tertunduk..

“Mianhae…” ujar Minho. Dia mulai bergerak ke tepi tempat tidur untuk lebih mendekatkan diri pada Yuri yang  berdiri di dekat sisi tempat tidur.. Dia mencoba menatap Yuri. Namun, rambut panjang Yuri sedikit menutupi wajahnya…

“Tadi sore.. Seunghyun-hyung meneleponku..” Yuri segera bereaksi saat Minho menyebut satu nama yang sangat di kenal Yuri..  “Katanya, Haraboji-nim akan mengadakan acara makan malam keluarga besar Choi. Haraboji-nim ingin aku datang bersama anaeku.. Tapi, bagaimana aku bisa membawamu ke tengah-tengah mereka jika kau sering kali ketakutan dan kaku jika di dekatku…” Yuri terdiam mendengar semua penjelasan Minho. Dia memberanikan dirinya untuk melirik ke arah Minho yang rupanya sedang membuang pandangannya ntah kemana. Yuri dapat melihat raut kekecewaan juga kekhawatiran mendalam dari Minho. Bayangan akan  hidupnya dan Yoogeun yang kebingungan karena rumahnya nyaris berpindah tangan membuatnya mengingat bagaimana Minho datang untuk menolongnya. Jahat sekali rasanya jika dia tidak berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi perjanjiannya dengan Minho.

“Apa yang bisa ku lakukan, Minho-ssi?” tanya Yuri pelan. Minho berbalik pada Yuri…

“Aku hanya ingin kita bersikap layaknya nampyeon dan anae yang sesungguhnya di depan mereka. Aku tidak ingin mereka curiga..” kata Minho dengan ekspresi wajah yang sama persis dia tunjukan saat berada di rumah Haraboji dan juga ekspresi dalam foto itu.

‘Kenapa kau memasang wajah itu lagi?’ batin Yuri.. Yuri mulai menggenggam tangannya kuat.. Yuri mulai mengangkat kepalanya dan menghapus pelan bulir-bulir kecil airmatanya yang tertahan di ujung manik matanya.

“A-aku akan berusaha.. Minho-ssi tolong bimbingannya..” ujar Yuri sambil membungkuk.. Kini giliran Minholah yang tercengang. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum lega…

“Tatap aku..” pinta Minho. Yuri menurut dan mulai mengangkat sedikit kepalanya, bermaksud menatap Minho. Yuri begitu terkejut saat tanpa di duga-duga Minho menarik lehernya belakangnya lembut dan langsung meraih bibir Yuri dengan bibirnya. Sangking terkejutnya, Yuri kembali berupaya untuk mendorong Minho. Tapi kali ini, Minho mengetahui maksud Yuri lebih cepat. Dia segera menjauhkan bibirnya dari dari bibir Yuri sebelum Yuri mendorongnya. Minho menatap wajah Yuri yang terkejut dengan bibirnya yang terkatup rapat.

“Ayolah Yuri.. Berusahalah..” ucap Minho dengan tatapan memohon. Yuri masih betah terdiam dengan keterkejutannya. Tanpa menunggu reaksi dari Yuri, Minho berdiri dan langsung mendaratkan bibirnya lagi pada bibir mungil Yuri. Yuri berusaha menerima perlakuan Minho. Dia menggenggam tangannya dan menutup matanya kuat, seolah berusaha meredam kegugupannya. Dia membiarkan Minho melakukan aktifitasnya, mengulum bibir mungil miliknya. Menyadari bibir Yuri yang kaku, membuat Minho melepas pagutannya lagi dari Yuri. Minho menatap Yuri lurus. Wajah Minho kali ini, benar-benar berbeda seperti biasanya.

“Kau benar-benar masih minim pengalaman..” Perkataan singkat Minho mampu membuat pipi Yuri semakin merona. Memang benar. Jangankan melakukan hal ini, membayangkannya pun dia tak pernah.

‘Begitulah.. I-ini adalah ciuman pertamaku,’ batin Yuri.

“ Buka mulutmu…” Yuri melebarkan matanya mendengar Minho yang tiba-tiba saja mengucapkan kata itu…

“Mulut? Bu-buka? Nghhmppp…” Melihat bibir Yuri yang terbuka, membuat Minho yang  telapak tanganya tepat berada di belakang kepala Yuri segera menarik lembut Yuri mendekat ke arahnya. Yuri semakin membuka matanya lebar, saat merasakan lidah Minho mulai menjalar memasuki rongga mulutnya.. Yuri kembali menutup matanya kuat. Dia berusaha membalas pagutan bibir Minho. Hanya beberapa saat. Minho kembali melepaskan bibirnya dengan nafas tersenggal. Dia tersenyum dan memegang kedua pipi Yuri.

“Aku mohon berusahalah.. Aku akan membawamu bertemu keluargaku di rumah Haraboji besok malam.. Mari berjuang, Yuri-ya… Donghae-hyung dan yang lain akan membantu persiapanmu.. Aku akan mandi dan menyelesaikan semua pekerjaanku di ruang kerja.. Aku serahkan semuanya padamu!” kata Minho dan langsung meninggalkan Yuri yang masih terdiam dengan bibir memerah… Perlahan Yuri menyentuh bibirnya dengan pipi yang merona..

“Kenapa dia menciumku dengan hangat sekali? Ini benar pernikahan tanpa cinta, kan?” gumam Yuri pelan sembari menatap pintu kamar mandi yang baru saja di tutup Minho. Yuri  mulai merapikan dirinya. Dia berjalan menuju sebuah lemari besar tempat pakaiannya berada. Dia menunduk dan mencari sesuatu yang di simpannya di bawah tumpukan pakaiannya. Dia mengambil tas kecil dan memperhatikan sesuatu yang berada di dalamnya..

‘Kerumah Haraboji-nim, huh’? Apa kau juga ada di sana?’ batin Yuri sembari mengelus sebuah jaket tebal yang ada di dalam tas kecil itu. Perlahan, raut wajah Yuri berubah dan dia segera menaruh kembali tas kecil itu rapi di tempat yang aman.. ‘Ntah bagaimana aku bisa berterimakasih padamu.. tapi, aku akan memenuhi janjiku untuk berterimakasih jika kita bertemu kembali..’ lanjut Yuri.

***

            Minho terlihat sedang berada di sebuah ruangan yang penuh dengan buku-buku yang tertata sedikit tak beraturan di rak buku dan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja kerja. Tidak nyaman memang keadaan di sini, tapi hal itu tidak membuat sang empunya ruangan terganggu  akan hal itu.. Dia masih asyik di depan laptopnya, memeriksa semua proposal yang akan di gunakannya besok. Akhirnya pekerjaannya selesai juga, setelah setengah jam lebih dia fokus untuk mengerjakan pekerjaan kantornya yang sedikit lebih banyak dari biasanya, sehingga mengharuskannya untuk meneruskannya di rumah. Dia bersandar pada sandaran kursi kerjanya. Dia melirik kalender.

“Belum lama aku menikah dengan yeoja itu.. tapi, aku sudah meminta hal yang berat untuknya.. Arg.. Ini juga sangat berat untukku…” keluhnya. Perlahan, Minho menyentuh bibirnya pelan.. “Apa tadi aku tidak keterlaluan padanya? Tapi jika tidak begitu, bagaimana aku bisa membuatnya untuk tidak kaku di dekatku?” gumamnya. “Makan malam keluarga besar, huh’? Apa kalian akan datang? Aku rasa itu hanya akan menjadi harapan kosong jika aku mengharapkan kalian datang..” lirih Minho saat melihat sebuah figura yang di letakan terbalik, sehingga gambarnya tidak terlihat..

Minho mulai bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari ruang kerjanya yang langsung terhubung pada kamar besarnya. Dia sedikit mengkerutan keningnya ketika dia tak mendapati seseorang yang harusnya sudah tidur santai di atas tempat tidur besar itu.

“Kemana dia?” heran Minho. Dia melirik kecil ke arah jam dinding. Ternyata jam sudah menunjukan jam 22.00 KST. Akhirnya, Minho memutuskan untuk keluar kamar dengan piyama. Dia ingin turun ke lantai bawah untuk sekedar membuat kopi sendiri, karena pasti Sunny dan yang lain sudah lelah.

“Anniya.. Yoogeun harus tidur.. Besok kan Yoogeun akan pergi bersama Donghae-hyung.. Arra?” Minho menghentikan langkahnya saat melewati sebuah kamar. Minho melirik kecil ke dalam sebuah kamar melalui pintu yang sedikit terbuka.. Dia melebarkan matanya, melihat Yuri yang sedang berada di kamar Yoogeun dan terlihat memeluk Yoogeun yang nampak susah tidur..

“Tapi Noona.. Yoogeun mau tidur dengan Noona…” ujar Yoogeun, sedikit manja.. Minho melirik kecil ke arah lantai bawah, ternyata Donghae sudah tidur nyenyak di sofa.. Minho mempoutkan bibirnya melihat gaya tidur Donghae yang terlentang santai di atas sofa.

“Yoogeun-ah.. Tapi Noona harus tidur di kamar Noona..” ucap Yuri lembut.. Minho kembali melirik ke dalam kamar Yoogeun..

“Tapi Yoogeun merasa ingin tidur bersama Noona.. Yoogeun merindukan Noona…” Yuri terdiam melihat Yoogeun berbicara seperti itu.. Dia memeluk Yoogeun.. Bukan hanya Yoogeun yang merindukannya. Diapun sangat merindukan Yoogeun, karena sejak dahulu dia selalu tidur bersama dengan namdongsaeng tersayangnya itu..

“Arra Arra… Noona akan di sini, menemani Yoogeun.. Tidurlah…” kata Yuri sembari mulai menepuk-nepuk punggung Yoogeun. Minho berpindah sedikit dari tempat itu dan bersandar pada tembok di samping pintu.. Melihat kejadian tadi, membuatnya teringat pada suatu kejadian.. Kejadian yang kira-kira sudah lama sekali.

            “Appa… Jangan pergi.. Minho ingin tidur bersama Appa…”

            “Minho-ya.. Appa tidak bisa.. Appa ada pekerjaan penting…”

            “Tapi Appa..”

            “Sudahlah Minho-ya.. Umma dan Appa akan segera pergi.. Kau jangan manja, tidurlah bersama yeodongsaengmu..” sepeninggalan Umma dan Appanya. Minho kecil mulai masuk ke dalam kamar besarnya. Dia menatap sedikit pada yeoja kecil yang sedang tidur di atas tempat tidur besar yang ada di kamar itu.. Perlahan dia memandang satu sosok yeoja dewasa yang ada dalam foto di atas nakas. Minho kecil meraih foto itu. lalu memeluknya sembari membawanya ke atas sofa. ‘Dia bukan dongsaeng Minho.. Minho mau tidur dengan mama saja’ kicaunya, sebelum akhirnya dia tidur sambil memegang foto itu.

Minho tersenyum miris mengingat itu.. Dia menggeleng cepat bermaksud menghapus pemikirannya dan ingin segera kembali ke kamarnya. Bersamaan saat dia ingin melangkah, Yuri keluar dari pintu kamar Yoogeun. Yuri segera menunduk cepat. Dia tidak tau harus bersikap bagaimana jika bertemu Minho. Bagaimana pun, kejadian tadi masih membuat Yuri tidak tau harus berbuat apa..

“Aku pikir kau sudah tidak akan menunduk jika bertemu denganku.. Tapi rupanya…” Minho melirik datar pada Yuri..Yuri memainkan kuku-kuku jarinya sambil menunduk..

“I-itu.. Hanya… Mianhae.. Aku akan berusaha besok..” ujar Yuri penuh keseriusan. Minho mengangguk-angguk malas.

“Selamat berjuang…” ucap Minho datar seraya mulai berjalan melalui Yuri. Yuri ikut berbalik dan berjalan mengikuti Minho.

“Mwo!” pekik Yuri pelan saat Minho tiba-tiba saja berbalik padanya..

“Kenapa mengikutiku?” ketus Minho.. Yuri menggeleng pelan..

“Aku hanya ingin kembali ke kamar..” jawab Yuri menjaga suara..

“Sekarang aku sedang tidak ingin sekamar denganmu.. Jadi kau bisa tidur dengan namdongsaengmu itu…” ujar Minho masih dengan nada datar. Yuri menatap heran pada Minho.

“Tapi bukankah kau bilang…” Minho memicingkan matanya pada Yuri. Membuat Yuri menghentikan perkataannya.

“Aku sedang tidak mood tidur bersamamu hari ini.. Lagian, namdongsaengmu itu tipe yang manja, kan? Pergilah tidur bersamanya…” ucap Minho datar dan langsung pergi ke kamarnya.

‘Apa aku berbuat suatu kesalahan?’ batin Yuri ambil menatap pintu kamar Minho sudah tertutup. “Minho-ssi.. Aku dan Yoogeun ingin mengucapkan terimakasih karena sudah memperbolehkan kami meletakan foto orangtua kami..” Yuri terdiam sejenak, menunggu jawaban dari balik pintu itu. Namun, dia mulai menghela nafas saat merasa tak kunjung mendapat jawaban. “Mianhae..” ucap Yuri sembari mulai berjalan kembali ke kamar Yoogeun. Yuri begitu terkejut saat melihat Yoogeun berdiri di pintu kamarnya dengan wajah sedih..

“Yoogeun-ah.. kenapa kau berdiri di sana? Kajja kita tidur..” ucap Yuri yang langsung menghampiri Yoogeun..

“Noona.. Apa Ahjussi tadi memarahi Noona lagi?” tanya Yoogeun dengan suara bergetar..  Yuri menggeleng cepat dan segera mengelus pelan kepala Yoogeun lembut..

“Anniya.. Minho-ssi hanya mempersilahkan Noona untuk tidur bersama Yoogeun.. Kan kata Yoogeun tadi, Yoogeun merindukan Noona…” kata Yuri lembut..

“Mianhae Noona… Ahjussi tadi pasti masih marah pada Yoogeun” kata Yoogeun sembari memeluk Yuri. Yuri menerima pelukan namdongsaeng kecilnya itu dengan lembut.

“Yoogeun tidak bersalah.. Arra?…” Yoogeun melepas pelukannya dari Yuri dan memegang kedua pipi Noonanya itu.

“Yoogeun akan berterimakasih pada Ahjussi itu besok..” kata Yoogeun tiba-tiba.. Yuri menautkan kedua alisnya.

“Berterimakasih? Untuk apa chagi?”

“Tentu aja karena Ahjussi itu membiarkan Noona menemani Yoogeun malam ini..” Yuri sedikit kaget pada perkataan Yoogeun yang mau berterimakasih pada Minho. Namun, dia segera mengubur keterkejutannya itu. Dia tersenyum pada Yoogeun dan mulai mengajak Yoogeun untuk kembali ke tempat tidur..

‘Kau benar-benar masih terlalu polos, Chagi-ya.. Harusnya Minho-ssi tau, kau bukanlah tipe anak manja.. Kau itu hanya butuh Noona, kan?’ lirih Yuri dalam hati. Perlahan Yuri memandang foto kedua orangtuanya yang baru tadi siang dia letakan di atas nakas. Yuri tersenyum dan mulai menutup pintu kamar Yoogeun..

Bersamaan dengan di tutupnya pintu kamar Yoogeun, Minho membuka pintu kamarnya dan menatap pintu kamar Yoogeun yang tertutup rapat.. Minho terdiam menatap pintu atau lebih tepatnya  dua orang yang berada di balik pintu itu. Hanya sebentar, sebelum akhirnya Minho kembali menutup pintunya..

***

 #Cmiw.. Akhirnya kelar juga part ini.. Doh! Mian kalau kurang memuaskan.. Editnya rada buru + fokusnya berkurang, soalnya besok dah mulai ngerjain tugas laporan.. Mian juga lama update part II ini.. Soalnya kemarin ada sedikit tugas dari kampus yang mesti di kelarin.. huhu.. mungkin juga buat part selanjutnya agak lama..  :’) Oh ya… Biar ceritanya makin gaje gini, aku tetap minta RCL nya ya.. ^^ terimakasih banyak udah mau baca sampai sini + buat komentarnya :D 

Tagged: , , , ,

114 thoughts on “Our Future (PART 2)

  1. Imasari Oktober 17, 2013 pukul 12:28 pm Reply

    Aku suka cerita.a . Seru ! Hwaiting for the next chapt !😉

  2. DzanisyaKyuri November 1, 2013 pukul 9:54 am Reply

    eon next dong ..

  3. salsabillah juliatasya November 6, 2013 pukul 8:22 am Reply

    wahh keren ceritanya😉
    lanjut yaa penasaran!!!

  4. sella mvp November 7, 2013 pukul 11:34 am Reply

    wah lanjut lanjut lanjut . keren bgd cerita.a.. gemes bgd deh sm yoogeun.. polos bgd…yuri jg. gk kalah polos.a sm yoogeun.. d tunggu part 3 chinggu.. ^_^

  5. myeolchi040420 November 12, 2013 pukul 12:38 am Reply

    cepat dilanjutkan😀 penasaran …

  6. kimicha November 17, 2013 pukul 12:24 pm Reply

    Mian saeng baru baca dan komen.
    Jiah min ngajarin yul buka mulut.haha lucu bgd
    Min mah bilang aja suka ma yul gak usaha cari alasan segala.
    Suka banget karakter min disini cool dan berkharisma banget^^

  7. caca amanda November 18, 2013 pukul 5:59 am Reply

    *GLEK*
    Saeng lupa comment kemarin, gak apa ninggalin jejak dulu dahh…
    Ficny bagus kok eon, ahh ya, flashbacknya minho jd penasaran sama adik Minho, wkwk…😀

  8. Ifa Desember 13, 2013 pukul 11:37 am Reply

    Makin penasaran sm jalan ceritanya ^^ bagus bgt eon sumpah.

  9. yeyye Desember 22, 2013 pukul 2:33 am Reply

    seruuuuu!!!

  10. Sara Desember 26, 2013 pukul 11:55 am Reply

    kereeen..maaf gal comment di part 1

  11. Fina Januari 24, 2014 pukul 8:49 am Reply

    Wah makin kesini aku baca..makin keren cerita nya. Bener2 puas aku.
    Yuri sm adik nya sama2 polos. Hehehe

  12. tarhy94 Januari 27, 2014 pukul 4:52 am Reply

    yeogeun poloss bngettt…gemeessss ap ank it..^_^
    waah harabojii suka ma yuleonn yeee…
    yuleon luce deh.krakernyaa guaa sukaa bngett.^^

    izin bca part 3 yahh eon^^

    • yuuripico26 Januari 27, 2014 pukul 6:30 am Reply

      hehe ia, gemesin bgt…
      wahh… yuk2 baca😀

  13. oeba yoonyul April 6, 2014 pukul 5:12 am Reply

    waduhh yul, gx kebayang deh dia digituin ma minho kagtet bgt tuh lol
    yoogeunnn kyeowo

  14. Choi soo gun Juni 14, 2014 pukul 3:15 am Reply

    Suka bgt sma sikap’y minho, .itu dongsaeng’y minho siapa ya?

    • yuuripico26 Juni 21, 2014 pukul 8:20 am Reply

      belum di kasih tau ama Minong T.T

  15. MYbaby Agustus 25, 2014 pukul 12:52 pm Reply

    Tuhkan bener minho menyimpan banyak rahasia huuuu!

Yuk tinggalin jejaknya (ʃƪ˘ﻬ˘)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: