Our Future (PART 1)

Our Future Cover

Tittle :

Our Future

Author :

@yuuripico26

Cast

Choi Minho || Kwon Yuri || Choi Seunhyun

Lee Donghae ||  Yoogeun

Support :

Sunny || Taeyeon || Hyoyeon

Lenght :

Chaptered

Genree :

Marriage Life – Romance – Family

Ratting :

Sementara PG-15

Hai! Aku kembali! #hening.. Oke. Sebelumnya Aku mau ucapin, makasih banyak buat Wisay yang udah mau buatin poster #Kecup :*  + Buat Ekha Unnie juga yang dah mau nemenin sharing2 hoho, buat semua yang dah mau mampir kemari juga :*

Dah yuk langsung aja. ^^

– READERS YANG BAIK PASTI NINGGALIN JEJAK😛

– TYPO IS AN ART OF WRITING

***

            Dulu aku memiliki sebuah keluarga yang hangat. Rumah yang nyaman, makan masakan Umma setiap hari, dan juga keceriaan Appa dan Yoogeun. Kami hidup bahagia di tengah kesederhanaan kami. Namun, itu hanya bertahan sampai di saat orang tua kami mengalami kecelakaan besar yang menyebabkan mereka harus pergi ke sisi Tuhan, meninggalkanku yang berumur 18 tahun dan namdongsaengku yang masih berumur 4 tahun.

Saat itu aku menangis keras di depan abu mereka yang di semayamkan di altar rumah kami. Banyak orang-orang berpakaian serba hitam untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa dan mengasihani diriku dan Yoogeun.. Banyak orang, tapi mereka sungguh jauh dari jangkauanku dan Yoogeun. Kala itu, aku baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Aku dan Yoogeun akan mulai hidup berdua, hanya berdua, karena kami tidak memiliki siapa pun. Hanya dengan rumah kecil peninggalan orang tua kami dan pekerjaan di kantor kecil sebagai tenaga honorer, bagaimana bisa aku bertahan hidup dan memenuhi kebutuhanku dan Yoogeun yang semakin hari terus meningkat? Haruskah aku mencari pekerjaaan lain? Oh Tuhan, itu pasti. Tapi bagaimana dengan Yoogeun? Siapa yang menjaganya jika aku bekerja full time? Dia masih terlalu kecil untuk kutinggal sendiri.

***

            Beberapa hari sejak kematian kedua orang tuaku. Aku mulai sedikit terbiasa pada rutinitas hidupku. Bangun pagi, menyiapkan sarapan untukku dan Yoogeun lalu membawa Yoogeun ke taman bermain yang merangkap sebagai penitipan anak sebelum pergi bekerja. Siang menjelang sore, aku pulang sekaligus menjemput Yoogeun di penitipan anak dan pulang bersama. Di sepanjang perjalanan pulang, Yoogeun akan menceritakan semua pengalaman bermainnya padaku dengan antusias. Hal itu cukup menjadi obat penyemangatku setelah lelah bekerja. Memang sedari dulu, Yoogeun dekat sekali denganku di banding dengan Umma dan Appa, itu semua karena memang Yoogeun lebih banyak menghabiskan waktu denganku karena Umma dan Appa bekerja sampai malam demi kebutuhan kami. Tapi, walau begitu, bukan berarti Yoogeun tidak menyayangi mereka. Yoogeun sangat menyayangi kami, sama seperti kami menyayangi Yoogeun.

Kami tiba di rumah. Aku masuk ke dalam rumah, mengunci pintu dan langsung merebahkan tubuh Yoogeun yang sedari tadi sudah tidur di gendongan belakangku. Ku elus pelan rambut halus miliknya. Melihat wajahnya yang terlelap tanpa beban, membuatku sedikit tersenyum lirih.

Esoknya, aku kembali pada rutinitasku. Tapi hal yang menakutkan terjadi hari ini. Aku mendapat surat dari kantor bahwa pendapatan kantor menurun drastis karena kelalaian manager perusahaan kami. Akibatnya sebagian pekerja harus rela di PHK dan sialnya aku salah satu dari mereka. Aku pulang dengan wajah lesu dan menjemput Yoogeun untuk pulang ke rumah.

***

Hari berikutnya, aku memutuskan untuk mencari pekerjaan baru. Hari ini Yoogeun tidak ku titipkan, karena sepertinya aku harus menghemat sedikit pengeluaran. Dari banyaknya tempat yang ku datangi, tidak satu pun yang sedang membutuhkan pekerja baru. Hari sudah hampir senja, saatnya aku pulang ke rumah dan memasakan makan malam untuk aku dan Yoogeun.

Besoknya, aku kembali membawa Yoogeun untuk mencari pekerjaan. Aku sungguh tidak tega membawa-bawa Yoogeun menemaniku, tapi mau bagaimana lagi?

Aku berhenti pada sebuah rumah hiburan. Aku berhenti lama di sana sambil memandang pintu bening dari rumah hiburan itu. Sebenarnya, kemarin wanita pemilik rumah hiburan ini bersedia menerima pekerja wanita sepertiku. Katanya, aku masih muda dan cocok untuk pekerjaan menemani para namja-namja dari golongan atas hingga bawah yang datang kemari untuk sekedar bersenang-senang. Tapi… Mana mungkin aku menerima pekerjaan begini.. Aku tidak mau bekerja di tempat seperti ini. Sungguh, Aku pasti akan malu pada Umma dan Appa, terutama pada Tuhan dan Yoogeun..

“Noona? Kita mau apa?” tanya Yoogeun padaku. Aku sedikit melirik ke arahnya dan tersenyum.

“Anniya.. Ayo kita pergi.. Yoogeun masih kuat, kan?” tanyaku balik padanya. Yoogeun mengangguk polos. “Kalau Yoogeun sudah lelah, bilang pada Noona, ya..” Dia kembali mengangguk sembari memperlihat deretan gigi mungilnya.

Sore kembali tiba, lagi-lagi aku gagal mendapatkan pekerjaan hari ini. Memang sangat sulit mencari pekerjaan yang jam kerjanya seperti pekerjaanku dulu. Tapi, aku sangat butuh itu, karena aku juga bertanggung jawab untuk menjaga Yoogeun. Kini kami tiba di sebuah taman yang terlihat sepi, aku membawa Yoogeun untuk duduk di sebuah kursi yang terdapat di taman. Aku membuang nafas lesu dan menyapu keringat lelahku dengan kasar. Pikiranku kembali menerawang pada masa depan Yoogeun.

“Bagaimana ini? Persediaan uang kami juga sudah sangat tipis..” gumamku pelan sambil melirik dompet milikku.. Terkadang aku juga menyesali kenapa Umma dan Appa tidak memiliki satu pun keluarga, tapi mungkin aku bisa mengerti itu.

“Noona?” Aku sedikit tersadar dari lamunan panjangku saat suara lembut milik Yoogeun memanggilku..

“Ne Chagi?” sahutku tak kalah lembutnya.. Yoogeun terlihat senyum. Tangan mungilnya terangkat lalu mendarat di kedua pipiku..

“Good girl. Good girl.. Jangan sedih ne.. Kalau Noona sedih, Yoogeun juga sedih…” celotehnya panjang khas logat anak kecil yang terasa begitu menggemaskan.. Tak terasa aku bergitu tersentuh akan perkataannya. Mataku perih, menahan bulir-bulir bening yang tertahan di pelupuk mataku. Cara Yoogeun menenangkanku sangat mirip dengan cara Umma  menenangkanku waktu kecil dan juga Yoogeun. Ku sentuh tangan mungilnya yang ada di pipiku lalu aku mengangguk dan tersenyum padanya..

“Noona tidak sedih Yoogeun.. Noona akan selalu bahagia kalau Yoogeun selalu ada di samping Noona,” ujarku seraya mulai memeluknya hangat.. Yoogeun, Noona janji akan selalu menjagamu, jadi tetaplah di samping Noona…

***

Aku duduk sembari terus memperhatikan Yoogeun yang nampak asyik bermain pasir. Kau masih terlalu kecil untuk ini, chagi… lirihku.. Aku menautkan kedua alisku saat melihat tubuh Yoogeun yang mulai tidak seimbang dan… Brug! Tanganku terasa sedikit nyeri karena mendarat secara tiba-tiba untuk menahan tubuh Yoogeun..

“Yoogeun?! Gwenchana?!” tanyaku sedikit tak terkontrol. Aku sedikit membesarkan mataku saat memegang keningnya.. “YOOGEUN!!!” tanpa pikir panjang aku segera menggendongnya dan berlari menuju rumah sakit terdekat. Ya Tuhan.. Ini pasti salahku karena membiarkannya lama berada di luar rumah sejak kemarin.

***

Aku sedikit bernafas lega saat Dokter mengatakan Yoogeun sudah boleh di bawa pulang, tapi harus tetap teratur minum obat. Beruntung tadi masih ada sisa uang yang di tinggalkan Umma dan Appa. Hal itu cukup untuk membayar pemeriksaan dan juga obat untuk Yoogeun..

“Noo…na.. mianhae…” Aku yang sedari tadi diam dalam perjalananku ke rumah sedikit terkejut mendengar Yoogeun yang ku pikir masih tidur di belakang gendonganku berbicara dengan nada terbata.

“Yoogeun-ah, kau sudah bangun? Apa kau merasa dingin, chagi?” tanyaku lembut. Suhu malam ini rasanya begitu menusuk kulit, selain cuacanya yang memang dingin, aku juga tidak memakai jaket, karena aku lebih memilih memakaikannya pada Yoogeun.

“Anni, Noona.. Yoogeun sudah merasa hangat…” jawab Yoogeun sambil mepererat lingkaran tangannya, memeluk pundakku.. “Terutama jika bersama Noona…” Aku sedikit melirik padanya dan tersenyum bangga lalu aku kembali memfokuskan pandangan ke depan..

“Uhmm.. Noona.. Yoogeun merindukan Umma dan Appa…” Aku sedikit terkejut mendengar penuturan Yoogeun. Setelah beberapa hari kepergian Umma dan Appa, baru kali ini Yoogeun berkata dia merindukan Umma dan Appa dengan nada selirih ini… Aku mencoba tersenyum dan mulai menatap langit malam kala itu.

“Hey.. Yoogeun-ah.. Coba lihat ke atas…” titahku.. Dapat kurasakan pergerakan kepala Yoogeun yang mulai menengadah ke atas.

“ Bintangnya banyak…” ujar Yoogeun..

“Yoogeun-ah, kau tau? Salah satu dari bintang itu adalah Umma dan Appa.. Mereka telah pergi ke langit dan menjadi bintang.. Mereka pasti sedang menatap kita dan juga merindukan kita dari atas sana…” kataku lembut..

“Benarkah?” girang Yoogeun antusias.. Aku mengangguk, mengiyakan. Tuhan.. Tolong beri selalu kekuatan untukku agar bisa melindungi satu-satunya keluarga yang aku punya sekarang. Umma.. Appa… Bogoshipo… Lirihku sembari ikut memandang ke atas.

***

Pagi sudah tiba. Matahari sudah terbit untuk memenuhi tugasnya. Aku berdiri di depan pintu rumah dengan pakaian rapi dan semangat yang tinggi. Hari ini, aku dapat tawaran wawancara dari sebuah perusahaan. Aku melirik ke altar dimana foto kedua orang tuaku berada. “Tolong doakan Yuri hari ini, Umma, Appa…” gumamku..

“Selamat pagi, Noona.. Yoogeun sudah meletakan piring kotornya di dapur..” Aku mengalihkan pandanganku pada Yoogeun yang baru saja selesai dari aktifitas sarapannya.

“Selamat pagi, Yoogeun.. Good boy..” sahutku dengan senyum merekah padanya. Yoogeun berjalan kecil menuju altar dan mengecup foto Umma dan Appa.. Kejadian itu mampu membuatku mendesah lirih dalam hati. Tuhan… Yoogeun masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orangtuaku…

Yoogeun telah siap. Dia segera berlari kecil menghampiriku dan menggandeng tanganku. Hari ini dia akan kembali ke taman penitipan anak-anak lagi. Aku sungguh beruntung memiliki namdongsaeng sepertinya. Yoogeun bukan tipikal anak manja, malah mungkin akulah yang lebih manja dari dirinya, padahal dia masih begitu kecil. Hari ini pasti akan berjalan lancar. Namun, harapan itu seakan sirna saat beberapa orang berpakaian kantor serba hitam dengan kacamata hitam  turun berbarengan dari sebuah mobil. Mereka secara serentak berjalan kearah kami yang masih berada di depan pintu rumah…

“Noona.. Nugu-ya?” tanya Yoogeun tiba-tiba. Aku menggeleng, tanda bahwa aku juga tidak tahu.

“Maaf menganggu waktu Anda.. Apakah benar ini kediaman keluarga Kwon?” tanya seorang pria tegap yang sepertinya pemimpin rombongan ini.

“Ne.. Benar.. Ada perlu apa?”

Akhirnya, aku memperilahkan mereka masuk ke dalam rumah. Setelah sekian lama mendengar penjelasan dari orang itu. Kakiku terasa lemas namun masih mampu bersikap seperti biasa di depan Yoogeun yang sepertinya tidak mengerti sama sekali arah pembicaraan kami ini. Cobaan apa lagi ini, Tuhan? Orang itu menjelaskan bahwa, Orangtuaku membeli rumah dari salah satu pengusaha dan angsuran pembayaran akhir belum di bayar oleh Appa. Jika pembayaran tidak di lakukan dengan segera maka rumah satu-satunya milik kami akan di tarik oleh pihak mereka. Awalnya aku tidak percaya, tapi mereka mampu menunjukan bukti-bukti perjanjian mereka dengan Appa. Tuhan…..

“Batas akhir pembayarannya hari, jadi bisakah Anda segera memberikan uang itu pada kami?” pinta orang itu.

“Be-berapayang harus kubayar?” tanyaku.

“Tiga juta won..” Aku begitu tertegun mendengarnya.. Aku mencoba menjelaskan keadaan keluargaku pada orang-orang itu. Namun, mereka menanggapinya dengan dingin. Mereka bilang, ini masalah kami bukan mereka. Mereka hanya menjalankan tugas dari atasan mereka. Bahkan, sertifikat dan surat-surat lainnya masih berada di tangan orang-orang itu. Ya, Tuhan……

***

Aku berjalan gontai sembari menggendong Yoogeun yang terlelap di punggungku. Aku melewatkan sesi wawancara pekerjaanku karena kejadian tadi pagi. Aku berjalan tanpa tujuan. Dari mana aku bisa mendapatatkan tiga juta won dalam waktu sesingkat ini? Mereka hanya memberikan tenggang waktu pembayaran sampai besok.  Aku sudah mencoba meminjam pada tetangga, namun mereka menolak dengan alasan ekonomi mereka juga sedang turun. Tuhan, bagaimana ini? Jika aku tidak mendapatkan uang itu, mereka akan datang lagi besok untuk mengusir kami secara paksa dari rumah itu. Jika aku hidup sendirian, mungkin aku tidak perduli apa yang terjadi pada diriku nanti. Tapi, Yoogeun? Demi apapun aku tidak akan rela dia hidup seperti itu..

Tak terasa hari sudah mulai sore. Aku sudah lelah, aku juga letih, mencari pinjaman itu beribu kali lebih susah dari pada harus mencari pekerjaan. Aku melirik Yoogeun yang sibuk membuat tumpukan pasir di taman. Aku melirik jauh ke depan, tanpa sengaja mataku melihat sebuah pintu bening. Aku melihat banyak pria-pria dan wanita-wanita berumur yang masuk ke dalam sana. Aku melihat pakaian mewah yang di pakai wanita-wanita itu. Mereka bergelayut manja dan merayu para pria untuk masuk ke dalam sana.

“Apa bekerja di sana bisa menghasilkan banyak uang?” pikirku..

Aku dan Yoogeun kembali berjalan. Kami akan segera pulang. Iseng melewati tempat itu, tanpa sengaja aku mendengar obrolan singkat seorang wanita yang ada di depan gedung itu bersama dengan seorang pria berpakaian rapi.

“Apa kau mau membawaku pergi, uhm?” tanya wanita dengan dandanan tebal itu, manja.

“Tentu saja. Kau siap kan?” sahut pria itu tak kalah manjanya.

“Berapa uang yang berani kau bayarkan padaku?” tantang wanita itu. Aku sedikit menautkan alisku. Aku melihat yeoja itu membisikan sesuatu pada sang namja dan membuat namja itu mengangguk dengan senyum, setelah itu mereka langsung pergi dengan saling merangkul. Aku terdiam, memperhatikan mereka. Pikiranku buyar saat sebuah tangan mungil menarik-narik bajuku.

“Noona… Kenapa kita berhenti?” tanyanya.. Aku bingung harus menjawab apa dan hanya bisa menunjukan senyumku.

“Tidak ada apa-apa, kajja kita jalan, hari sudah semakin sore…” ajakku sembari makin mengeratkan pegangan tanganku padanya. Saat aku berbalik, tanpa sengaja aku menabrak seorang namja yang sedang jalan dengan kopi yang tumpah dari tangannya..

“Mianhae!” ujarku refleks sembari menunduk.

“Haha.. Tidak perlu seperti itu.. Ini bukan masalah besar…” Mendengar kekehannya, aku segera mengangkat kepalaku. Aku yakin, saat itu untuk pertama kalinya aku melihat namja tampan dengan mata teduh tengah menatapku lurus. “Aku rasa, kopiku tadi mengenai bajumu… Mianhae..” ujarnya lagi. Aku segera menunduk dan menggeleng.

“I-ini bukan masalah besar..” jawabku sedikit pelan.

“Seunghyun-sajangnim, saya rasa kita harus segera pergi.. Bukankah kita ada meeting di cabang lain?” seru seseorang wanita dengan pakaian elegan dan wajah yang cantik berbicara pada namja di depanku ini..  Ohh jadi nama namja ini, Seunghyun..

“Ah ne.. Kau tunggu aku di mobil.. Aku akan segera ke sana..” titahnya. Wanita itu menurut dan langsung pergi menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat diriku dan namja ini berdiri.   Aku sedikit kecewa kala itu. Namun, tanpa di duga-duga, sebuah jaket besar di pasangkan secara asal padaku. Aku kembali mengangkat kepalaku, mencari tahu apa yang terjadi.. “Ini sebagai permintaan maafku atas bajumu yang terkena kopi itu…” katanya sebelum berlari pergi menyusul ke arah mobil itu.

Aku menatap kepergian namja itu heran.  “Ahjussi tadi baik ya, Noona..” celoteh Yoogeun.. Aku berbalik pada Yoogeun.

“Ah ne.. Dia baik ya, Yoogeun…” sahutku dengan senyum tertahan. Ku lirik jaket yang tadi di pakaikan oleh namja itu. Tak terasa, hatiku berdegup sedikit kencang. Jika nanti aku bertemu lagi dengannya, aku pasti akan mengembalikan ini padanya dan mengucapkan terima kasih.

***

Malam ini.. Aku memutuskan untuk pergi sebentar ke gereja yang jaraknya tak jauh dari rumah. Aku hanya butuh ketenangan dan aku ingin mencurahkan semua isi hatiku pada Tuhan. Aku teringat kala masuk ke dalam rumah, bau Umma dan Appa masih tercium di sana, kenangan kebersamaan kami berempat, awal kehidupanku dan Yoogeun semua di mulai di rumah itu. Aku tidak akan pernah rela menyerahkan rumah itu tanpa berusaha. Aku melirik tangan mungil yang menggenggam erat  tangan kananku. Aku tersenyum pada namja mungil yang nampak sangat antusias untuk ikut bersamaku ke gereja. Wajahnya masih terlihat pucat. Aku sedikit menunduk dan merapikan jaket yang menempel di tubuh mungilnya. Ku elus kepalanya lembut dan kemudian ku raih  tangannya untuk ikut bersamaku masuk ke dalam gereja menuju altar.

Tuhan… Mungkin aku harus melakukan ini. Aku mohon, jangan benci diriku…

Tak terasa sudah hampir satu jam aku berdoa di sana, jam sudah menunjukan pukul 21.00 KST. Aku memutuskan untuk menemani Yoogeun hingga dia tertidur. Tepat pukul 22.00 KST, aku keluar dengan pakaian yang lain dari biasanya dan ku lapis oleh jaket tebal.

Aku tiba di depan rumah hiburan yang berhiaskan lampu warna-warni yang kerlap-kerlip. Musik house terdengar hingga keluar. Aku menatap kegiatan yang ada di dalam melalui kaca bening. Tuhan.. Apakah aku harus melakukan ini? Aku menggenggam tanganku kuat dan mulai masuk ke dalam tempat itu. Alunan musik house bedentang semakin kuat meghentak telingaku, bau alcohol mulai menyeruak, aku benci bau ini! Aku mendatangi pemilik tempat ini. Ternyata dia masih menerima pekerja baru di sini. Katanya, aku bebas mencari ‘mangsa’ di tempat ini, asal keuntungan yang di dapat bisa di bagi dengannya. Aku mulai mengerti, apa maksud dari ‘mangsa’ itu. Aku mulai keluar, menuju ruang utama tempat hiburan ini. Aku bingung, harus memulainya dari mana. Pakaianku pun tidak mini seperti yang lainnya. Wajahku sudah ku poles sedikit dengan bedak tipis. Aku memperhatikan bagaimana yeoja-yeoja di sini bekerja, aku berpikir mungkin ini hal yang mudah. Aku akan coba… Aku mulai mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang. Aku menangkap satu sosok Ahjussi yang sedang duduk sendiri dengan minumannya. Aku mencoba berjalan ke sana dan berdiri mematung di sebelahnya.

“Ahm.. A…..” Aku menahan nafas saat suaraku tak kunjung keluar. Kau mulai menyadari, ternyata ini bukan hal yang mudah untuk ku lakukan. Ahjussi itu mulai bergerak dan memandang ke arahku dengan heran.

“Hai Nona.. Kau sedang apa berdiri di sana? Tidak punya pasangan? Kau bekerja di sini?” Aku terlonjak kaget mendengar seruan itu. Aku mencoba memandang Ahjussi itu, tapi hanya sebentar sebelum aku kembali menunduk menghindari tatapannya.

“Kau pasti pekerja baru. Mau menemaniku minum?” tawarnya. Aku masih menunduk dan tidak bisa menjawab. Aku menggenggam tanganku kuat.

“Cih! Sombong sekali.. Apa kau mempermainkanku?!” ketusnya yang mulai terlihat emosi. dia mulai menarik tanganku untuk mendekat ke arahnya. Aku melebarkan mataku.

“Kau cantik dan sepertinya masih minim pengalaman. Berapa harga yang bisa ku bayar untuk membawamu?” Mataku makin melebar sempurna. Aku berusaha menghindar dari Ahjussi ini, namun pegangannya begitu kuat.  “Bagaimana?” tanyanya dengan nada menggoda. Aku mencoba tenang dan menarik nafas panjang. Kutatap Ahjussi itu.

“A-aku akan ikut, jika Anda bisa memberikanku tiga juta won..” ucapku akhirnya dengan berat. Ahjussi itu mendorongku kasar ke arah dinding. Aku mencoba memberontak. Dapat kurasakan seisi rumah hiburan ini mulai melirik ke arahku dan Ahjussi ini. Ada yang menatap dengan tatapan kasihan dan ada yg menatap dengan tatapan merendahkan.

“Kau pikir seberapa mahalnya hargamu sampai aku harus membayar sebanyak itu? Ohh.. Atau mungkin kau belum pernah di sentuh oleh laki-laki, eoh? Kalau begitu, kau ingin aku menjadi yang pertama menyentuhmu?” Aku mengalihkan pandanganku darinya. Aku takut… Tapi, aku sudah terlanjur memilih jalan ini, kan? Aku mencoba bergerak, namun tubuh Ahjussi ini mengunci tubuhku kuat.

“I-itu benar, ini kali pertama bagiku…” ujarku terbata..

“Benarkah? Tapi aku tidak yakin.. Bagaimana kalau kita buktikan dulu, setelahnya aku akan membayarnya…” katanya.. Aku segera menatapnya tak percaya..

“Ba-bagaimana mungkin aku bisa percaya itu? Anda harus membayarnya terlebih dahulu…” Brak! Tubuhku tiba-tiba saja kembali terdorong kuat ke dinding. Mata Ahjussi itu melebar dan menatapku penuh kerendahan. Sungguh, aku sangat tidak ingin ditatap serendah itu…

“Kau ingin menipuku, huh?! Kau pikir aku akan percaya? Kau pasti sudah sering menipu laki-laki lain, tapi itu tidak berlaku untukku.. Yeoja sepertimu sangat murah, tidak pantas di hargai tiga juta won!” Serasa di hujam ribuan jarum hatiku ketika kalimat setajam itu. Tak terasa airmataku mulai keluar dan turun membasahi pipiku.. Aku tak dapat berucap sepatah katapun. Aku begitu terpukul. Yoogeun, bantu Noona, mianhae… Noona takut… Aku mulai memberontak melepaskan diri dari Ahjussi ini, namun tangannya begitu kuat menahanku. Aku mengedarkan pandangan, tak satu pun orang yang berniat menolongku. Aku pasrah, Tuhan..

Aku merasakan, Ahjussi itu tersenyum picik ke arahku dan mulai mendekatkan wajahnya. Aku mencoba mengalihkan pandanganku yang kabur akibat airmata untuk menghindari wajahnya. Aku memejamkan kedua mataku kuat.

“Jauhkan tanganmu darinya!” Brug! Seiringan dengan kalimat itu, suara hentakan dan rintihan seperti suara Ahjussi tadi terdengar. Aku membuka mataku, takut-takut. Belum terbuka sempurna, seseorang sudah menarik tanganku hingga jatuh ke dalam pelukannya. “Jika kau tidak sanggup membayarnya, tidak perlu mengatakan hal seperti itu!” ketus orang yang menarikku tadi. Aku tidak berani mengangkat kepalaku yang masih berada di dalam pelukan orang yang kuyakini adalah namja. Nyaman… Pelukannya begitu nyaman.. Ah tidak! Aku segera melepaskan diri dari orang ini, aku yakin dia adalah orang yang sama dengan Ahjussi dan namja-namja yang ada di rumah hiburan ini.

“Tolong tenang.. Aku akan membayarmu asal kau mau ikut denganku..” ujarnya yang seakan mengerti pikiranku.. Aku mengangkat kepalaku menatapnya. Wajahnya tampan dengan tatapan mata tajam dari kedua bola matanya yang bulat. Seketika bayangan wajah Umma, Appa, Yoogeun dan juga bayangan rumah beserta kenangan yang ada di dalamnya terlintas di pikiranku. Aku menunduk dan kemudian tanganku meraih ujung jas namja itu. Aku menangis kala itu dan dengan gentlenya dia menarikku pelan untuk keluar dari tempat itu. Beberapa yeoja di sana berbisik-bisik, mulai dari kekaguman mereka atas ketampanan orang ini juga ada beberapa yeoja yang nekat menawarkan dirinya pada namja yang jalan di depanku, tapi namja itu tidak menggubrisnya, malah terus menarikku pelan untuk ikut di belakangnya. Aku sedikit memberanikan diri melirik tanganku yang ada di genggamannya. Lalu aku beralih mencoba menatap punggungnya. Tegap dan sepertinya hangat.. Ah tidak! Aku mencoba menarik tanganku darinya. Dia pasti orang yang sama dengan Ahjussi tadi, perv…

“Kau jangan kira aku sepervert Ahjussi tadi…” ujarnya saat menyadari aku mencoba melepaskan tangan darinya. Aku menatapnya takut-takut.. Apa dia membaca pikiranku?

“Tapi kenapa kau ada di tempat itu?” tanyaku dengan suara pelan. Dia menghela nafas dan kemudian kembali memegang tanganku..

“Akan ku jelaskan di mobil nanti..” katanya. Ntah kenapa, aku hanya diam, mengikutinya..

***

            Pagi telah tiba.. Aku turun dari tangga menuju lantai bawah. Aku menatap koper yang ada di bawah sana dan juga Yoogeun yang sudah rapi dengan tas kecil di pungungnya. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah ini. Sudah sedikit kosong, bahkan altar Umma dan Appa sudah ku rapikan.

“Noona.. Kenapa Umma dan Appa sudah tidak ada di sana? Bagaimana kita ucapkan selamat pagi pada mereka?” celoteh Yoogeun. Aku melirik ke arahnya dan mencoba tersenyum. Ku elus pelan rambutnya sembari berkata, “Kita akan membawa Umma dan Appa ikut bersama kita.. Kajja..” Aku mulai menggandeng tangan Yoogeun, sedangkan tangan yang satu lagi mulai menarik koper besar.

“Kita mau kemana, Noona?” tanya Yoogeun.

“Ketempat yang bisa membuat Yoogeun nyaman..” jawabku seadanya. Yoogeun hanya mengangguk lugu. Aku kembali berbalik dan menatap seisi rumah sekali lagi. Beberapa perabot sudah ku tutupi dengan kain. Sudah ku putuskan, aku menyetujui permintaan namja itu.. Aku mengunci pintu utama rumah kecil kami. Setidaknya, walau kami tidak tinggal di sini, rumah ini sudah pasti akan selalu menjadi milikku dan Yoogeun. Semua berkat namja itu. Bukan… Ini semua, karena aku menjual diriku padanya…

Brumm…

Aku segera berbalik dan mendapati sebuah mobil hitam sudah tiba di depan. Seorang namja dengan tinggi sekitar 170cm dan memakai kacamata hitam turun dari mobil. Namja itu membuka kacamatanya, menampakan mata sipit miliknya. Aku semakin mengkerutkan keningku saat namja itu mulai berjalan menghampiriku dan Yoogeun.

“Annyeong.. Nanneun Lee Donghae imnida.. Asisten pribadi Choi Minho-sajangnim. Apa Anda sudah siap untuk pergi?” Aku mengangguk kaku. Jadi namja tadi malam hanya mengutus asistennya untuk menjemputku.

“Kwon Yuri imnida..” jawabku.. Namja yang bernama Donghae-ssi ini sedikit menunduk menghadap Yoogeun sembari mengulurkan tangan..

“Hai namja lucu.. Siapa namamu?” tanya Donghae ramah.

“Kata Noona, Yoogeun tidak boleh sembarangan berkenalan dengan orang asing yang mencurigakan..” sahut Yoogeun tanpa jedah. Aku dan Donghae-ssi terbengong akan penuturan Yoogeun. Aku lupa, kapan aku pernah bilang hal itu padanya? Aku menjadi sedikit tidak enak melihat wajah shock Donghae-ssi akiba perkataan Yoogeu ini..

“Yoogeun-ah.. Sejak kapan Noona berbicara seperti itu? Ayo ulurkan tanganmu..” ucapku sedikit berbisik pada Yoogeun. Dia mengangguk patuh dan langsung menyambut uluran tangan Donghae-ssi.

“Naneun, Kwon Yoogeun imnida..” ucap Yoogeun menggemaskan.

***

Aku dan Yoogeun mulai naik ke dalam mobil itu. Di dalam mobil, Donghae-ssi memberiku sebuah amplop besar berwarna coklat. Aku membuka amplop itu dan mataku melebar sempurna melihat sertifikat rumah beserta bukti-bukti kelunasan pembayaran rumah sudah ada di tanganku sekarang.

“Itu titipan dari Minho-sajangnim.. Tolong di simpan baik-baik.. Arasseo?” kata Donghae-ssi. Aku menangguk. Rasanya sesuatu yang berat dalam pikiranku sedikit berkurang. Jadi namja itu benar-benar membantuku…

Perjalanan berlalu sekitar 2 jam. Yoogeun sudah tertidur pulas di pangkuanku. Kami memasuki sebuah gerbang besar. Aku sedikit tertegun dengan jalanan yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan terawat di halaman luas ini, bahkan ada beberapa bunga-bunga cantik yang merekah indah.

Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah yang mungkin lebih tepat di katakan mansion tingkat dua. Donghae-ssi turun lalu berlari kecil membukakan pintu mobil untukku. Aku turun setelah Donghae-ssi mengambil alih tubuh Yoogeun dan menggendongnya. Aku memperhatikan rumah ini, semuanya terlihat putih, bersih dan terawat. Baru saja satu langkah, tiga orang pelayan wanita dengan seragam maid (pelayan) sudah menyambutku dengan penuh sopan santun. Aku hanya memandang itu dengan kaku.

“Tolong persiapkan dirinya untuk bertemu dengan Minho-sajangnim,” ujar Donghae-ssi seakan memberi perintah pada ketiga pelayan wanita itu. Mereka menunduk patuh dan mulai memperkenalkan diri mereka sebagai Sunny, Taeyeon dan Hyoyeon, lalu mereka mulai membawaku masuk ke dalam. Aku berbalik ke arah Donghae-ssi yang berjalan berlainan arah sambil menggendong Yoogeun.

Aku terus memasang wajah heran dengan semua yang di lakukan oleh Sunny, Taeyeon dan Hyoyeon. Mereka bermaksud membantuku mandi, aku menolak keras hal itu, namun mereka terus membujuk bahkan sedikit memaksaku. Kata mereka, “Ini perintah Minho-sajangnim.” Fiuh.. Aku hanya menghela nafas. Apa sebenarnya tujuan namja ini. Apa dia akan menjadikanku pelayan di rumah ini juga? Apa ini cara dia menyambut para pekerja baru?  Aku jadi sedikit heran pada namja ini. Katanya, dia bukan seperti Ahjussi itu, tapi kenapa dia memperkerjakan yeoja-yeoja cantik dengan seragam semanis ini…

Flashback ke kejadian semalam, aku dan namja ini berada di dalam mobil dalam diam. Aku duduk diam dan tidak berani memulai suatu percakapan. Suasana hening itu bertahan hingga namja itu memulai sebuah percakapan.

“Kemana kau ingin aku membawamu?” mulainya. Aku sedikit mengigit bibirku dan menunduk.

“A-aku tidak tau.. Aku tidak pernah melakukan pekerjaan ini sebelumnya,” jawabku, sedikit menjaga suara.

“Pekerjaan? Hei, jangan bilang kau masih mengira jika aku membawamu sekarang dengan tujuan seperti yang di lakukan Ahjussi tadi. Kau harus tau, aku bukan namja seperti itu…” ucapnya, datar. Aku sedikit menatapnya bingung. Dia ikut menatapku, namun hanya sebentar sebelum akhirnya dia kembali membuang pandangannya, fokus ke depan. “Kau pasti bukan yeoja yang berniat bekerja di sana, kan? Coba kau ceritakan, latar belakang hidupmu beserta alasan kenapa kau sangat membutuhkan uang sebanyak itu…” Aku mengalihkan pandangan, aku bingung harus memulainya dari mana. Akhirnya, aku mulai menceritakan semuanya, dari mulai kematian kedua orangku dan kebingunganku untuk mempertahankan rumah orang tuaku, terutama masa depan namdongsaengku. Aku membuang nafas lega setelah selesai mengungkapkannya. Rasanya seperti habis mencurahkan segalanya pada seorang sahabat. Aku mencuri pandang sedikit pada namja ini, dia hanya mengangguk-angguk serius sambil terus fokus menyetir. Dia mulai menghentikan mobilnya. Aku menatapnya heran. Dia ikut menatapku, dari atas hingga bawah, membuatku sedikit merasa tidak nyaman.

“A-ada apa?” tanyaku takut-takut. Baru saja dia ingin mengeluarkan suara, ponsel yang berada di saku jasnya berdering. Dia segera keluar dari pintu mobil dan terlihat menerima telepon menjauh dariku. Aku hanya bisa melihat ekspresi dinginnya menerima telepon. Dia menutup teleponnya dengan kesal dan kembali masuk ke mobil.  Dia menatapku yang juga sedang menatapnya heran.

“Tunjukan rumahmu segera. Kemas semua barangmu juga barang milik namdongsaengmu. Aku akan menjemputmu besok dan akan kujelaskan semuanya besok di rumahku! Rumahmu, akan ku urus. Kau tenang saja…” ujarnya panjang lebar dan cepat. Aku ingin protes, namun terhenti saat dia mulai melanjutkan perkataannya, “Itupun jika kau serius ingin mempertahankan rumah orangtuamu..” lanjutnya. Kini ekspresinya berubah dari yang sedikit panik, menjadi tenang dan terkesan dingin. Aku bersandar lemah pada kursi mobil dan menatap lurus keluar.

“Tentu saja aku serius.. Apapun permintaanmu  aku sudah tidak tahu bagaimana menolaknya.. Aku sudah menjual diriku padamu, kan?” desahku. Ntah dia dengar atau tidak, yang pasti dia tidak memberikan jawaban apapun setelah itu.

Begitulah… Asyik memikirkan kejadian semalam  membuatku tidak sadar jika yeoja-yeoja ini sudah selesai menanganiku. Aku melebarkan mataku saat melihat pantulan diriku di cermin besar yang ada di depan. Tubuhku sudah terbalut dress anggun berwarna biru laut dengan hiasan-hiasan simple namun terlihat berkelas, wajahku yang di poles dengan bedak dan perangkat kecantikan lainnya,  juga rambut hitam panjang yang biasa ku ikat asal kini sudah tergerai indah membentuk gelombang.

“I-itu aku?” tanyaku, menunjuk seseorang yang ada di pantulan kaca itu. Yeoja-yeoja ini terlihat menahan tawa sembari mengangguk-angguk. Ah babo! Aku terlihat bodoh sekali menanyakan hal itu.

Prok! Prok! Prok! Aku segera berbalik ke asal tepuk tangan itu. Donghae-ssi sudah berada tak jauh di dekatku dengan Yoogeun yang juga sudah memakai pakaian rapi.

“Kajja kita menghadap Minho-sajangnim..” ajak Donghae.. Aku berjalan dengan sedikit susah payah bersama Yoogeun mengikuti Donghae-ssi. Kami tiba di depan pintu. Donghae-ssi terlihat dengan sopannya mengetuk pintu itu dan mulai membukanya sebelum mendapat jawaban. Donghae-ssi terlihat berbincang sebentar dengan seseorang yang ku tau suara ini pasti milik namja itu. Donghae-ssi keluar dengan senyumnya kemudian mempersilahkanku masuk ke dalam. Donghae-ssi menunduk sekilas padaku sebelum akhirnya pergi dengan membawa Yoogeun. Aku terdiam cukup lama di depan pintu itu tanpa tau harus apa. Kenapa Yoogeun tiba-tiba dekat sekali dengan Donghae-ssi?

“Mau sampai kapan kau berdiri di sana.. Masuklah…” Aku segera mengangkat kepalaku. Aku menarik nafas panjang dan berusaha bersikap tenang lalu mulai berjalan masuk. Namja tinggi dengan kemeja rapi berdiri di dalam kamar, membelakangi diriku. Menyadari diriku yang sudah berada di dekatkan, namja itu berbalik dan menatapku…

AUTHOR POV

            Minho menatap Yuri sedikit terkejut. Sedangkan Yuri ikut memandang Minho heran. Melihat Minho yang terus menatapnya, membuat Yuri menunduk dan salah tingkah.

“Apa kau benar yeoja yang kemarin? Kwon Yu….” Minho menggantung perkataannya seolah mengingat sesuatu..

“Te-tentu saja ini aku. Kwon Yuri..” sahut Yuri masih menunduk. Minho menatap Yuri dari bawah sampai ke atas. Membuat Yuri sedikit tidak nyaman. Minho segera menggelengkan kepalanya cepat dan kemudian kembali memasang mimik serius.

“Jadi mereka benar-benar berbakat dalam membuatmu seperti ini.. Lumayan…” ujar Minho. Yuri mulai keheranan akan perkataan Minho itu.

“Uhmm.. Sebenarnya dimana aku bisa mendapatkan seragamku? Aku akan bekerja di sini, kan?” tanya Yuri sedikit ragu. Minho mengkerutkan keningnya. “Ah itu, maksudku.. Seperti Sunny-ssi, Taeyeon-ssi dan Hyoyeon-ssi..” lanjut Yuri kaku. Minho menghela nafas.

“Tidak mungkin kau akan berpenampilan seperti sekarang kalau kau akan ku jadikan pelayan.. Kau itu akan menjadi anaeku,” ucap Minho santai. Yuri tersentak kaget mendengar penuturan Minho.

“A-anae?! Maksudnya, kau dan aku akan….” Yuri menatap Minho seolah bertanya dan mencari jawaban. Minho mengangguk, menandakan jawaban ‘ya’ darinya. Yuri membuang pandangannya ke segala arah, dia bingung. Ya, dia tidak akan pernah menyangka jika namja ini membelinya untuk di jadikan anae. Minho duduk di kursi besar yang ada di kamarnya. Meninggalkan Yuri yang masih sibuk dengan pemikirannya.

“Sebenarnya, aku belum siap menikah. Bahkan, sepertinya aku tidak tertarik. Tapi, Kakekku yang sedang terbaring sakit memintaku untuk segera menikah dan mengenalkan anaeku padanya. Juga, ada alasan tertentu kenapa aku ingin menikah secepatnya…” jelas Minho panjang.

“Tapi, bukankah banyak yeoja yang sederajat denganmu yang menyukaimu dan lebih pantas menjadi anaemu.. Bukan yeoja seper…”

“Jangan salah paham dulu..” potong Minho. Yuri diam dan membiarkan Minho melanjutkan penjelasannya. “Banyak yeoja dan bahkan gampang sekali mencari yeoja yang mau menikah denganku, tapi aku tidak menemukan satupun yang cocok untuk di ku jadikan anae dan tanpa sengaja aku melihat kau di pojokan oleh Ahjussi pervert itu… Dengan keadaanmu yang kebetulan ku butuhkan, aku memilihmu…” lanjutnya. Minho berdiri dan mendekati Yuri yang masih mematung di tempatnya. “Pernikahan kita hanya formalitas, tanpa cinta..” Yuri melebarkan matanya.

Minho memegang bahu Yuri dan menatapnya lurus, “Dan kau tenang saja, aku tidak akan jatuh cinta padamu dan kau tidak boleh jatuh cinta padaku. Kau boleh bersikap kita tidak ada apa-apa jika hanya ada kau dan aku juga Donghae yang mengetahui hubungan kita, tapi kau harus menganggapku orang yang kau cintai di depan semua orang dan yang terpenting, jika ada yang bertanya masa lalumu dan orangtuamu, jangan katakan apapun terutama tentang tempat di mana aku menemukanmu, mengerti?” ujar Minho penuh tekanan. Yuri terus menatap Minho, lama, sampai akhirnya dia mengalihkan pandangannya.

“Bukankah aku tidak bisa menolak? Jadi lakukan saja sesukanya, toh pada dasarnya, aku sudah menjual diriku padamu…” ucap Yuri sedikit memelan.

Minho mengernyitkan dahinya. “Jangan pernah bilang jika aku membeli dirimu. Itu terdengar kau tidak sepenuhnya menyetujui rencana ini..” ujar Minho sarkatis. Yuri menunduk..

‘Tentu saja .. Menikah dengan orang yang baru di temui itu bukan hal mudah, tapi apa yang bisa ku lakukan,’ batin Yuri.

“Kau tidak memiliki orang yang kau sukai, kan?” Yuri kembali teringat wajah namja yang di temuinya beberapa hari  lalu. Namja yang sudah di anggapnya sebagai cinta pertamanya walau dia masih tidak yakin bisa bertemu namja itu lagi atau tidak..

Melihat Yuri yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, membuat Minho sedikit memasang wajah dinginnya.. “Oh jadi kau sudah punya, ya.. Baiklah.. Kau bisa mengembalikan uangku sekarang. Atau kau bisa mengembalikan sertifikat rumahmu itu padaku..” seringai Minho. Yuri segera menggeleng tidak menyetujuinya.

“A-Aku mau! Aku mau menikah denganmu!” putus Yuri akhirnya. Minho tersenyum dingin…

“Baiklah.. Kau bisa pergi ke kamarmu, mulai hari ini kau dan namdongsaengmu akan tinggal di sini. Aku sudah minta Sunny untuk mempersiapkan kamar buat kalian. Pergilah..” ujar Minho sembari mulai menjauh dari Yuri. Yuri berjalan pelan menuju pintu.

***

            Donghae yang baru saja selesai mengerjakan tugasnya, segera berjalan mendekati Minho yang sudah menunggunya di kamar. Minho melirik kecil ke arah Donghae..

“Hyung? Tolong siapkan segala kebutuhan pernikahanku besok di gereja… Undang saja beberapa rekan bisnis kita…” titah Minho.

“Aku sudah menyiapkan semua, jadi kau tenang saja. Undangan juga sudah aku kirim ke beberapa tempat rekan bisnis kita. Oh ya.. Apa kau tidak menunggu orang tuamu pulang dari Amerika dulu?” tanya Donghae. Minho menyipitkan matanya, wajahnya tiba-tiba saja menekuk.

“Untuk apa menunggu mereka? Tidak penting, kan? Aku tidak bisa lagi menunggu mereka. Pernikahanku harus cepat di adakan…” gerutu Minho.

“Baiklah-baiklah.. Setidaknya kau tidak mau mengabari mereka?” Minho menghela nafas dan membuang pandangannya keluar jendela.

“Aku rasa itu tidak perlu.. Biar mereka tau dengan sendirinya saja…” desah Minho. Donghae mengangguk mengerti.. Minho kembali memandang Donghae. “Oh ya.. Aku sudah memerintahkan pada Sunny, Taeyeon dan Hyoyeon untuk membantu persiapan yeoja itu. Tolong kau pantau ya, hyung..” Donghae memanyunkan bibirnya.

“Kenapa permintaanmu banyak sekali, dasar namja tengil..” gerutu Donghae yang langsung meninggalkan ruangan ini.

“Ya! Hyung! Kau itu bekerja sebagai asistenku!” pekik Minho. Donghae terkekeh sembari mulai berlari menjauh dari ruangan Minho.. “menyebalkan!” kesal Minho.

***

            Yuri duduk diam di depan kaca yang memantulkan dirinya dengan mengenakan gaun pengantin. Di sekitarnya ada Sunny dan Taeyeon yang masih terlihat sibuk merapikan penampilan Yuri.

“Noona yeppeo!” ucap Yoogeun yang mengenakan pakaian resmi khusus anak kecil itu. Yuri melirik sekilas ke arah Yoogeun dan tersenyum..

“Jinjjayo?” Yoogeun mengangguk menggemaskan. Membuat Yuri ingin mencubit pipinya. Bukan hanya Yuri. Sunny dan Taeyeon pun terlihat gemas pada Yoogeun.

Akhirnya, Yuri berjalan keluar dari ruangan persiapannya di bantu oleh Sunny dan Taeyeon. Yuri berhenti tepat di depan Minho yang sudah menunggunya di depan pintu gereja dengan tuxedo putih. Yuri terkesima melihat penampilan Minho yang persis seperti pangeran dalam cerita dongeng. Dia tidak menyangka jika dia akan menikah dengan namja setampan ini, namun dia segera membuang pemikirannya itu. ‘Ini pernikahan formalitas. Ya, formalitas!’ yakinnya dalam hati.

Minho mengulurkan tangannya pada Yuri dan di sambut oleh Yuri. Mereka mulai berjalan masuk menuju altar. Yuri menjadi sedikit gugup saat melihat banyak tamu yang datang ke gereja untuk menyaksikan pernikahannya. Minho menyadari kegugupan Yuri itu dan mulai mengeratkan genggaman tangannya pada Yuri. Yuri sedikit tertegun melihat seorang namja yang duduk di salah satu kursi tamu. Dia kan? Yuri melebarkan matanya…

‘Namja waktu itu?’ batin Yuri melihat seorang namja yang kini tengah menatap Minho dan Yuri dengan senyum coolnya.

“Jangan gugup..” bisik Minho. Yuri menarik nafas dan membuangnya, lalu memandang fokus ke depan. Dada Yuri sedikit sesak, kenapa dia harus bertemu dengan namja ini dalam keadaan dirinya akan menikah? Apa namja ini masih mengingatnya?. Jantung Yuri makin berdegup kencang saat melewati kursi namja itu..

Kini mereka sampai di altar. Di hadapan seorang pendeta yang akan memberkati pernikahan mereka.

“Choi Minho.. Apa kau siap menjaga yeoja yang ada di sebelahmu dalam suka maupun duka, hingga maut memisahkan kalian?”

“Ya.. Saya siap!” jawab Minho, tegas. Yuri memandang kaget melihat jawaban setegas itu dari Minho. Namun kemudian dia sadar bahwa ada cinta pandangan pertamanya yang sedang menyaksikan ini.

“Baiklah.. Nona Yuri, apa kau siap menjaga namja yang ada di sebelahmu dalam suka maupun duka, hingga maut memisahkan kalian?”

“Sa.. sa…”

Minho meremas sedikit tangan Yuri, membuat Yuri yang gugup sedikit terkejut. “Ya! Saya siap!!” sahut Yuri cepat, membuat pendeta yang ada di depannya sedikit terkejut. Namun, pendeta itu segera tersenyum lagi dan mempersilahkan kedua mempelai saling menunjukan kasih sayang mereka.

Minho memegang tangan Yuri sebagai sinyal agar Yuri memandangnya. Yuri memandang Minho. Minho menatap Yuri seolah berkata, ‘Ini hanya formalitas, ayo!’ Yuri menggeleng dalam hati. Dia bertingkah sedikit kaku saat wajah Minho mulai mendekat ke arahnya. Semakin dekat.. membuat Yuri merasa semakin gugup..Wajah Minho kini hanya tinggal beberapa centimeter aja untuk mendapatkan bibir Yuri, namun Yuri secara refleks menutup dan mendorong wajah Minho dengan telapak tangannya. Semua orang terlihat bengong akan sikap Yuri itu. Termasuk Seunghyun yang langsung melebarkan matanya, kaget. Donghae memukul keningnya. Yuri membuang pandangannya ke arah tamu..Keringat dingin mulai bercucuran dari keningnya. Perlahan wajahnya bergerak, berbalik ke arah Minho yang kini sudah menatapnya tajam. Beberapa tamu mulai berbisik-bisik, mencela apa yang di lakukan Yuri. Seunghyun mulai berdehem kecil, membuat tamu itu terdiam.

“Mianhae..” desah Yuri pelan. Minho menghela nafas, kemudian menarik tubuh Yuri dalam pelukannya.

“Aku tau kau gugup.. Gwenchana…” ucap Minho lantang dan terdengar bijaksana. Yuri tak dapat menahan ekspresi kagetnya dengan hal itu. “Tunggu pembalasanku di rumah, eoh…” bisik Minho. Yuri segera melepaskan diri dari Minho, namun Minho malah mengecup pipi Yuri secara tiba-tiba, membuat semua orang yang ada di gereja itu kagum pada pasangan baru ini. Beberapa yeoja mulai berbisik-bisik iri pada Yuri.Yuri terdiam shock sambil memegang pipinya.

Pemberkatan pernikahan selesai. Pesta pernikahan langsung di gelar di halaman luas gereja itu. Yuri dan Minho menyambut beberapa undangan yang datang memberi selamat.

“Minho-ya.. Chukkae! Aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini!” seru Seunghyun yang langsung berdiri di depan Minho dan Yuri. Yuri segera mengalihkan pandangannya menatap Seunghyun, sedangkan Minho menyambutnya dengan senyum.

“Gomawo, Seunghyun- hyung…” ujar Minho.. Seunghyun mengalihkan pandangannya pada Yuri.

“Chukkae Yuri-ssi… Aku Choi Seunghyun, sepupu Minho.. Sepertinya aku belum pernah bertemu denganmu..” ucap Seunghyun, memperkenalan diri. Yuri memasang wajah kecewanya, ternyata Seunghyun tidak mengingatnya. Pasti banyak yeoja yang sudah di temuinya, jadi mungkin dia tidak akan ingat padanya, lagipula penampilan Yuri sudah jauh berbeda dari sebelumnya, wajar saja kalau dia tidak ingat, pikir Yuri.

“Kamsahamnida, Seunghyun-ssi Oppa…” sahut Yuri dengan nada sedikit pelan.. Seunghyun mengalihkan pandangan pada Minho..

“Ahjussi dan Ahjumma tidak datang?” tanyanya, mulai serius..

“Aku tidak memberitahu mereka. Hanya kau, keluarga Choi yang aku beritahu…” sahut Minho dengan mimik tak kalah seriusnya..

“Bahkan, halboji sekalipun?” Minho seketika langsung menatap Seunghyun.

“Melihat keadaan Halboji yang seperti itu, apa kau sanggup membayangkan dia datang kemari? Jadi hyung tenang saja, aku akan membawa anaeku langsung di depannya… Biar bagaimana pun, dialah yang selalu memintaku untuk cepat menikah, kan?” Seunghyun mengangguk mengerti..

“Kau lagi-lagi mengambil satu langkah lebih cepat di depanku.. Baiklah.. Aku rasa aku harus cepat kembali ke kantor.. Sekali lagi Chukkae atas pernikahanmu…”  Yuri menatap heran kepergian Seunghyun, lalu dia juga menatap ekspresi Minho yang ternyata ikut menatap keperian Seunghyun itu..

‘Ada apa denan hubungan keluarga mereka sebenarnya?’ batin Yuri.

***

            Yuri meregangkan tubuh lelahnya yang sudah terbalut piyama di atas tempat tidur besar. Di sebelahnya sudah ada Yoogeun yang tertidur pulas. Yuri memiringkan tubuhnya menatap Yoogeun..

“Kau pasti lelah.. Noona juga,” desah Yuri sambil membetulkan posisi tidurnya.Hari ini benar-benar melelahkan..Sehabis acara pernikahan tadi, dia langsung mandi dan mengganti pakaian.  Yuri menatap langit-langit luas yang ada di kamar itu. Suatu kejadian di acara pernikahan itu kebali terlintas di pikiran Yuri. “Ah! Babo! Kenapa tadi aku melakukan itu?” gerutu Yuri sembari memukul keningnya. Dia begitu mengutuk dirinya sendiri, kenapa dia menahan wajah Minho di depan semua tamu undangan.

‘Aku dan namja itu belum bertemu sama sekali setelah kami di rumah. Dia pasti marah besar padaku,’ takut Yuri dalam hati.

Clek! Pintu kamar terbuka.Yuri segera terlonjak kaget dan langung menatap pintu itu.. Dia menunduk saat melihat Minho sudah berdiri di depan pintu dengan menggunakan piyama dan ekspresi menyeramkan.

“Kemari…” titah Minho. Yuri berdiri dan berjalan pelan menghampiri Minho.. Dia langsung menangkupkan kedua tangannya saat dirinya sudah sampai di depan Minho.

“Mianhae…Aku hanya gugup dan…” Yuri nampak bingung ingin mengatakan apa… Minho terlihat membuang nafasnya kasar dan langsung menarik Yuri untuk mengikutinya. “Tu-tunggu! Kita mau kemana?” tanya Yuri yang heran. Minho berhenti dan berbalik pada Yuri sebentar. Sunny dan Hyoyeon yang tengah membersihkan perabotan rumah tangga, tak sengaja melihat kejadian itu dari bawah. Taeyeon pun yang baru saja selesai mencuci ikut melihat kejadian itu, begitu pun Donghae yang sedang duduk santai di ruang tengah dan dapat melihat kelakuan Minho secara jelas dari bawah.

“Kemana? Tentu saja kekamar!” ketus Minho dan langung meneruskan jalannya kembali.

‘Hah? Kekamar? Jangan-jangan….’ Belum sempat Yuri berpikir jernih. Minho sudah berhasil membawa Yuri ke dalam kamarnya dan langung menutup pintu.

Blam!

Donghae menggeleng-gelengkan kepala, “Hal yang biasa untuk pengantin baru. Jadi, abaikan..” kata Donghae yang kembali fokus pada kegiatannya. Sunny, Hyoyeon dan Taeyeon saling mendekat dan  mulai bertukar kalimat seputar kejadian itu.

Minho terus menarik tangan Yuri dan sedikit mendorong Yuri hingga terjatuh di atas tempat tidur empuknya. Yuri begitu terkejut dengan perlakuan Minho, namun dia semakin terkejut saat Minho menindih tubuhnya, menyisakan sedikit ruang antara wajahnya dan Minho. Tangan Minho mulai bergerak dan meraih kasar wajah Yuri.

“Kau tahu? Apa yang kau lakukan padaku tadi siang, eoh?” sinis Minho.

“Mi-mianhae…” ujar Yuri tulus. Dia begitu takut menatap mata tajam Minho yang terlihats sedang menghakiminya. Minho mengdengus dan mulai menarik wajah Yuri mendekat ke arahnya..

“A-apa yang kau lakukan?” gugup Yuri.  Minho menghentikan pergerakannya sebentar..

“Tentu saja melakukan hal yang harus di lakukan oleh pengantin baru…” jawabnya, datar. Pipi Yuri seketika merona mendengar itu. Matanya melebar, menandakan dia juga sedikitr terkejut.

“He..hei.. i- itu..” Yuri terlihat bingung ingin mengatakan apa. Lama menyaksikan kebingungan Yuri, membuat Minho segera melepaskan tangannya dari wajah Yuri. Dia mulai berdiri dan menatap Yuri yang masih terbaring di atas tempat tidur.

“Hanya bercanda.. Itu hanya hukuman kecil karena sudah melakukan hal memalukan di pesta pernikahan tadi..” kata Minho santai. Yuri menggembungkan pipinya kesal karena itu. Dia menyesal sudah merona karena keisengan Minho. Dia segera mengangkat tubuhnya dan berniat meninggalkan kamar. Namun, langkahnya terhenti saat Minho menahan tangannya. “Mau kemana?” tanya Minho.

“Tentu saja ke kamarku…” jawab Yuri dengan suara yang di tinggikan, sepertinya dia masih terlihat kesal pada Minho. Walau dia mencoba meninggikan suaranya, namun masih terdengar lemah lembut karena memang tipikal Yuri seperti itu.

“Kamarmu? Oh ya.. Apa kau lupa, kalau anae dan nampyeon itu akan tidur di kamar yang sama.. Aku yakin kau pasti tahu itu, kan?” Yuri nampak ingin protes.. Namun tubuhnya kembali di tarik pelan oleh Minho hingga mendarat di tempat tidur.

“Tidurlah.. Aku tidak akan macam-macam padamu…” ucap Minho sembari mulai ikut naik ke tempat tidur. “Lagipula, aku tidak tertarik melakukan itu padamu…” Yuri menggembungkan pipinya, namun dia kembali menghela nafas. Dia memilih untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Dia kembali teringat pada Yoogeun..

“Tapi Yoogeun….”

“Aku sudah minta Donghae-hyung untuk tidur dengannya…” kata Minho dingin tanpa merubah posisinya yang membelakangi Yuri. Yuri menatap tubuh Minho sebentar, sebelum akhirnya ia ikut merebahkan diri, membelakangi Minho.

“Oh ya.. Aku perlu menekankan sesuatu lagi padamu.. Mulai sekarang, jangan pernah memperkenalkan diri dengan nama Kwon Yuri lagi.. Tapi, Choi Yuri dan Choi Yoogeun..” peringat Minho dengan datar. Yuri sedikit melirik Minho dengan ekspresi ingin mengatakan sesuatu, namun kembali di urungkannya.

“Ne…” sahut Yuri pasrah.

‘Umma. Appa.. Ini semua bukan karena Yuri tidak menginginkan nama Kwon lagi. Tapi, ini kewajiban. Bukankah, Yuri dan Yoogeun sudah menjadi bagian dari keluarga ini? Walau itu hanya perjanjian,’ lirih Yuri dalam hati.

***

Annyeong.. Gimana ceritanya? Kyaa! Dah lama banget ga nulis FF.. Kaku euy.. :’)

Mohon Kritik + Sarannya di kotak komentar, ya ^^

Gomawo udh mau baca sampe bawah.. See u next chapter ^_^

Tagged: , , , ,

130 thoughts on “Our Future (PART 1)

  1. mrslee040420 September 29, 2013 pukul 7:23 am Reply

    asikk ff baru lagi🙂

    cie minho mau jadi pahlawan malemnya yuri /? wkwkwk
    pernikahan tanpa cinta gak akan bertahan lama choi minho :p
    tar juga choi minho bsa jatuh cinta pada nona choi yuri :pwkwkwkw

  2. kartika melia Oktober 4, 2013 pukul 8:13 am Reply

    Kaget tiba-tiba minho ngajakin yuri nikah wkwk

  3. Imasari Oktober 17, 2013 pukul 8:19 am Reply

    Akhir.a cingu berkarya lgi..😉

    keren bgt. Suka sm karakter.a yuri yg lemah lembut. Biasa.a karakter dia itu agak beda. Hehehe.

  4. salsabillah juliatasya November 6, 2013 pukul 8:20 am Reply

    asikkk minyul🙂
    lanjut!!!

  5. sella mvp November 7, 2013 pukul 3:40 am Reply

    wahhhh aku ketinggalan baca.a.. daebak cerita.a. seneng seneng seneng d buatin cerita tentang marriege life.. lanjut nnti malam k part 2.. ^_^

  6. Ifa Desember 13, 2013 pukul 11:29 am Reply

    Ceritanya kereen abiisssssssssssssss…
    Minho nya jgn galak” sama yuri :p

  7. Fina Januari 24, 2014 pukul 8:45 am Reply

    Aku suka ff ini langsung dapat feel nya.
    Apa lagi sama karakter nya yuri.

  8. tarhy94 Januari 27, 2014 pukul 3:24 am Reply

    daebakk..critnyaa krenn prtma sdih ma khidupannnyaa yuleon tpi pas ad minhoo.smua brbahh..

    izin bca part 2 yah eon^_^

    • yuuripico26 Januari 27, 2014 pukul 6:29 am Reply

      hehe kaya avatar aja semuanya berubah😛
      yuk2 saeng😀

  9. shania salsabillah Januari 28, 2014 pukul 2:39 pm Reply

    sedih kehidupan yul eon nya:'(
    tapi untung ada minho oppa:)))
    MinYul fighting;)

    • yuuripico26 Januari 31, 2014 pukul 6:54 am Reply

      hhehe ia untung ada Minong😀

  10. kimikakyuri Februari 9, 2014 pukul 5:28 am Reply

    Daebak ,, tapi aku kok baru comment sekarang yaa ,, perasaan dulu waktu pertama kali aku baca aku langsung comment tapi aku cari2 kok gk ada ..KEMANa YAA “bingung”

    • yuuripico26 Februari 9, 2014 pukul 11:04 am Reply

      hayyu.. kmn atuh komennya? *ikutan-bingung :p

  11. oeba yoonyul April 6, 2014 pukul 4:46 am Reply

    waduhh serumaah,, paling-paling kek WW. ntar”nya suka kekekeke

  12. Choi soo gun Juni 14, 2014 pukul 1:56 am Reply

    Ff’y bgus, .sya suka, sya suka😉

  13. MYbaby Agustus 25, 2014 pukul 11:07 am Reply

    New reader imnida. Ffnya bagus ih. Kayanya banyak rahasia yang disembunyikan minho /? Hahaha mau lanjut ke next part.

  14. Fania Oktober 19, 2014 pukul 5:01 am Reply

    Mungkin ini agk telat buat coment, tp aku suka eon wah minong cpet bngt ngjakin yulnie nikah🙂 slam knal eon reader bru disini

  15. lanybears Januari 10, 2015 pukul 9:42 am Reply

    Bgus thor critany. . .lnjutin y, dtnggu. . ^^

  16. novia ulfah Juli 30, 2015 pukul 7:17 am Reply

    ffnya keren,ceritanya menarik bkn pnasaran..

Yuk tinggalin jejaknya (ʃƪ˘ﻬ˘)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: