Weird Wedding (PART 15B-END)

Gambar

Tittle : Weird Wedding (PART 15 B)

Author : @yuuripico26

Cast : Kwon Yuri & Choi Minho.

Other : Im Yoona, Lee Donghae, Choi Sooyoung & Kim Yesung.

Lenght : Chaptered

Ratting : PG-15

Genree : Romantic dan sedikit gaje..

 

 

– TYPO IS AN ART OF WRITING

 

– BUAT YANG COMMENT DI PART KEMARIN ATAUPUN YANG DARI AWAL.. GOMAWO YA :*

 

Hahaha.. 1 bulan nih ff molor lagi.. >.< Mianhae😀

ditagih2 sana-sini jadi ngerasa bersalah.. hoho.. jd ya udah ff ini dilanjut sekedarnya.. Semoga suka.. yuks,😀

 

                                       

 

                                          PART 15 B

 

Yuri terdiam duduk bersandar ditempat tidur rumah sakit. Pandangannya kosong menatap jendela, sudah 2 hari dia terbaring disini dan baru saja sadar. Diliriknya tangannya, sebuah infuse terpasang indah ditangannya, ada bekas tranfusi darah didekat botol infuse.

“Uisa..” Saat Yuri mencoba memanggil seorang perawat yang baru saja selesai mengecek kesehatannya, namun sayang perawat itu sudah pergi. Yuri hanya menghela nafas lemah.

Yuri menatap sendu kearah perutnya yang sudah tidak membesar itu.

“Apa yang terjadi pada aegiku?” Batin Yuri dalam hati seraya mengelus perutnya pelan yang sedikit terasa perih akibat bekas operasi, pikirannya seolah kembali mengingat kejadian sebelum dia tidak sadarkan diri.

“Jikapun sudah tidak ada kenapa tidak ada yang mengabari Umma.. “ Lirih Yuri mulai berkaca-kaca kembali.

“Yuri-ya.. Akhirnya kau sadar. Bogoshipo.” Yuri sedikit berbalik keasal suara dan tersenyum saat mendapati Ummanya datang dan memeluknya, dengan perlahan Yuri menghapus airmatanya agar sang Umma tidak melihatnya sedang menangis.

“Nado bogoshipo Umma.. Kapan Umma kembali dari Amerika?”

“Setelah mendengar kabarmu masuk rumah sakit Umma dan Appa langsung terbang ke Korea.” Yuri tersenyum haru mendengarnya

“Umma.. Bagaimana keadaan Bayiku umma?”

“Hmm.. Ahh Yuri-ya kau sudah makan sayang? Kajja Umma suapi.. Kau harus banyak makan.”

“Umma? Jangan mengalihkan pembicaraan..” Umma Yuri menghentikan kegiatannya dan memandang putrinya itu seraya memeluk Yuri.

“Umma?” Yuri mencoba menahan kesedihannya dan tetap berusaha tersenyum.

“Yuri-ya? Apa kabarmu hari ini?” Appa Yuri dan Appa Minho masuk beserta Umma Minho disaat bersamaan, membuat Umma Yuri melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.

“Baik.” Jawab Yuri mencoba bersikap tenang.

“Kemana Minho?” Tanya Yuri yang sedari tadi tidak menemukan sosok nampyeonnya itu.

“Dia sedikit ada urusan Chagi.” Jawab Umma Minho lembut.

“Apa Yoona juga tidak ada?”

“Yoona dan Donghae sepertinya sedang mengurus sesuatu Yul.”

Yuri sedikit memaksakan senyum saat mendengar Appanya dan Appa Minho memberikan lelucon-lelucon lucu seolah berusaha membawa Yuri tertawa bersama, tapi siapa yang tahu didalam hati Yuri sungguh sesak.

“Yeobo?” Yuri mengalihkan pandangannya kearah pintu, seketika Yuri mengigit bibir bawahnya yang sedikit bergetar. Berusaha menahan air mata dan mencoba tersenyum. Minho masuk kedalam dengan perlahan dan tak melepaskan pandangannya dari mata indah milik Yuri.

“Umma keluar dulu chagi.” Umma Yuri dengan lembut mengecup kening anaknya itu dan berjalan keluar, diikuti oleh Appa Yuri beserta orangtua Minho yang mengerti situasi mereka berdua saat ini.

“Kami pergi dulu Minho-ya, selesaikanlah secara gentle.” Pesan Appa Minho sebelum keluar.

“Mianhae.” Lirih Yuri tanpa suara, Minho mempercepat langkahnya dan segera memeluk anaenya itu.

“Mianhae.. Mianhae.. Mianhae..” Ujar Minho berulang kali sambil terisak didalam pelukannya. Yuri hanya mampu menangis sejadinya tanpa suara didalam pelukan Minho.

“Harusnya aku tidak percaya pada foto murahan itu, harusnya aku lebih percaya padamu  Yeobo.” Minho melepaskan pelukannya dan memegang pipi Yuri dengan kedua tangannya.

“Aku lah yang membuatmu begini, mianhae..” Yuri menggeleng dan melepaskan tangan Minho dari pipinya.

“Kau tidak perlu meminta maaf, disini akulah yang harusnya meminta maaf.. Harusnya aku lebih bisa menjaga kepercayaanmu dan aku harusnya bisa menjaga aegi kita.. Tapi lihat apa yang kulakukan.” Seketika Yuri menutup wajahnya dan mulai terisak.. “Kau bisa ceraikan aku sekarang, kau bisa memarahiku. Aku bukan Umma yang baik.” Minho sedikit terkejut mendengar kata yang sudah lama sekali tidak didengarnya dari Yuri bahkan kata-kata itu adalah kata-kata yang tidak pernah ingin didengarnya lagi. Minho memeluk anaenya itu dan mengelus lembut rambut Yuri.

“Harusnya aku..”

“Stopp Chagi.. Apa kau tidak memberiku jedah untuk bicara huh’?” Minho melepaskan pelukannya dan memegang punggung Yuri agar Yuri menatapnya saat ini, bulir-bulir bening dari manik mata Minho mulai bisa dilihat oleh Yuri.

“Aku pernah bilang padamu bukan? Jangan pernah mengucapkan kata itu. Aku tidak suka.” Ucap Minho dengan penuh penekanan pada setiap perkataannya.

“Bukankah dulu kita bertahan karna…”

“Apa kau tidak mencintaiku? Kita bertahan karna cintaku padamu Yuri-ya. Aku mencintaimu.” Yuri kembali sesenggukan mendengar pengakuan Minho.

“Aku juga, aku juga mencintaimu. Tapi aku tidak bisa menjaga hasil cinta kita, mianhae.” Minho menghapus airmata Yuri menggunakan ibu jarinya.

“Jangan menangis. Aku tidak akan mempermasalahkan itu, akulah yang salah Yeobo.. Aku yang salah. Mianhae.” Minho dengan lembut mengecup kening Yuri.

“Saranghae. Kau cengeng.” Desah Minho. Yuri dengan cepat memeluk Minho dan membenamkan kepalanya didada hangat nampyeonnya itu.

“Nado saranghae.. Nado..” Isak Yuri didalam pelukan Minho.

“Baik Chagi.. sekarang kau ikut aku ne..” Ujar Minho seraya melepaskan tangan Yuri dari pelukannya. Minho bangkit dan mengambil kursi roda yang ada didekat pintu.

“Chagi? Apa kau mengajakku untuk melihat……” Minho mengangguk dan dengan penuh kelembutan menuntun Yuri untuk duduk dikursi roda, Minho sedikit terlihat susah payah membantu Yuri yang masih sering meringis sakit pada perutnya dan selang infuse yang masih terpasang rapi.

“Tapi aku belum siap Chagi-ya.” Desah Yuri yang merasa belum siap melihat bayinya yang dirasa Yuri sudah tidak ada.

“Kita harus siap. Terima apapun yang terjadi.” Minho mulai mendorong kursi roda Yuri, Yuri hanya mengikutinya.

Yuri dapat melihat Orang tuanya dan orang tua Minho berdiri didepan suatu ruangan sambil mengintip-ngintip sesuatu dibalik kaca bening itu, ada Yoona dan Donghae yang melakukan hal serupa juga Sooyoung dan Yesung.

“Mereka sedang apa chagi?” Tanya Yuri heran.

“Mereka sedang melihat aegi kita.” Jawab Minho singkat. Yuri mengkerutkan keningnya bingung.

“Aegi kita?” Minho tak menjawab dan terus mendorong kursi roda itu mendekati ruangan itu.

Kini Minho dan Yuri tiba didepan suatu ruangan yang ditutup rapat dan hanya ada kaca-kaca bening untuk melihat isinya, Minho menggendong tubuh Yuri agar dapat melihat isi dari ruangan itu.  Mata Yuri menangkap satu bayi yang sedang tertidur lelap didalam incubator. Mata Yuri menatap bayi itu lekat dan kembali terlihat berkaca-kaca, bibir bawahnya bergetar menahan tangis.

“Seorang aegi yeoja lahir dari rahimmu Chagi. Gomawo.” Bisik Minho lembut ditelinga Yuri seraya menempelkan keningnya ke kening Yuri, Yuri mengangkat sedikit tangannya yang lemah itu dan menunjuk bayi mungil itu.

“Dia .. aegi kita?” Tanya Yuri seraya menatap Minho penuh tanda tanya, Minho mengangguk. Yuri tanpa banyak kata segera memeluk leher Minho membenamkan wajahnya dan terisak, Minho hanya bisa mengelus lembut kepala anaenya itu.

 

Flashback On

 

“Bayinya lemah.. Suster tolong bantu aku.”

“Dokter selamatkan bayiku!” Teriak Minho sambil terus memperat pelukannya pada Yuri, genggaman tangan Yuri perlahan terlepas dari tangan Minho.

“Yeobo!!! Sadar Yeobo, kau harus tetap berusaha demi bayi kita.” Minho mulai nampak frustasi, tidak tahu siapa yang harus difikirkannya, pikirannya terbagi 2, dia melihat Yuri yang pucat dengan mata yang terpejam rapat, disisi lain dokter dan perawat lain sedang berusaha menyelamatkan nyawa anaknya.

“Dokter, kondisi Ibu semakin lemah Dokter.” Lapor salah satu perawat yang menangani Yuri.

“Tetap pertahankan denyut nadinya.” Jawab Dokter itu terburu. Minho hanya dapat diam, menangis, memeluk Yuri sambil terus mengucapkan doa dalam hati dan memperhatikan proses penyelamatan anaknya.

“Tuhann. Izinkan aku untuk meminta maaf pada anaeku.. Izinkan kami untuk melihat malaikat kecil kami, izinkan dia untuk terlahir kedunia ini Tuhan, izinkan aku untuk menjadi seorang appa, dan izinkan dia untuk menjadi seorang Umma Tuhann.. Aku Mohon..” Batin Minho.

“Uisa cepat bantu aku mengangkat bayi ini.” Titah Dokter itu.. Seorang perawat dengan cekatan mengambil alih bayi yang berlumuran darah itu dari tangan Dokter dan segera menangani bayi itu. Minho sedikit tercekat memandang bayi itu..

“Tetap jaga kondisi Ummanya.” Koor perawat lain yang bergabung menangani tubuh Yuri.

“Dia tidak menangis dokter.” Keluh salah satu perawat.

 

DEG.. Hati Minho seakan mencelos mendengar itu. Dokter yang terlihat sedang serius menjahit bekas operasi Yuri terlihat menyerahkan pekerjaan itu keperawat lain dan segera menghampiri bayi itu, minho melepaskan dekapannya dari tubuh Yuri, tapi dekapan itu dilepaskan sebentar untuk menghampiri tubuh mungil aegi-nya.

Dokter mulai memeriksa bayi itu dan sedikit mengkerutkan kening melihat bayi itu hanya diam tak bergerak, Dokter memegang nadinya dan kemudian urat wajahnya berubah menjadi khawatir dan terkejut.

“Dokter..” Panggil Minho lagi yang bingung bercampur melihat ekspresi sang Dokter.

“Mianhae.. Sepertinya dia…” Dokter itu tidak meneruskan perkataannya dan hanya menunduk, perawat lain yang mendengar juga ikut menundukan kepala.

“Maksud kalian apa? Apa maksudnya!!! Tolong aegiku!!!” Histeris Minho sambil menatap aeginya tak percaya.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi lahir dengan kondisi prematur membuat bayi anda lemah.. Bahkan sepertinya saat kehamilan keadaan bayi sudah lemah.. Aku rasa.. itulah penyebabnya.” Tangis Minho seakan pecah mendengarnya. Dengan cepat Minho memeluk tubuh mungil yang sedang terdiam itu dan menumpahkan segala kesedihannya.

“Bangun aegi.. bangun.. maafkan appa chagi.. mianhae…. Beri appa kesempatan untuk merawatmu.. jangan tinggalkan Appa dan Umma..” Seluruh perawat dan dokter hanya menunduk menyaksikan itu.. Perlahan salah perawat tercengang, melihat kaki mungil sang aegi bergerak..Minho pun mulai bingung, merasa sesuatu bergerak-gerak dilengannya.

 

Oekkk.. Oekkk.

 

Terdengar suara lantang tangisan seorang bayi.

“Dokter.. Dia menangis.” Kaget salah satu perawat yang berada didekat sang bayi.

“Mwo? Cepat periksa kondisinya dan cepat tangani.” Titah Dokter itu, Minho mendongakan kepalanya saat merasakan bayinya menangis dan sedikit bergerak.

“Kau?” Minho sedikit heran melihatnya.

“Tuan.. Tolong minggir sebentar, kami harus menanganinya. Ini suatru keajaiban Tuan.” Ucap Dokter itu antara girang dan khawatir. Minho masih terdiam tak bergeming, perasaan duka dan suka masih bercampur aduk didalam hatinya.

“Tuan, kami harap anda bisa menunggu diluar..” Pinta salah satu perawat, Minho hanya diam, matanya beralih ketubuh lemah Yuri.

“Yuri?” baru saja Minho hendak berjalan, tubuhnya ditahan oleh salah satu perawat.

“Mianhae tuan.. Sebaiknya anda menunggu diluar, kami akan menanganinya..” Minho tak melepaskan pandangannya dari Yuri, Minho sedikit menggigit bibir bawahnya yang bergetar lalu melirik aegi mungilnyuua yang sedang ditangani.

“Tuan?” Minho tak menjawab dan segera berjalan lunglai keluar.

Minho terduduk lemah didepan pintu.

“Minho!!” Kaget Yoona dan langsung menghampiri Minho.

“Yeoja.. Aegiku seorang Yeoja.” Girang Minho dan menangis dalam kebahagiaannya, walau dihatinya masih ada rasa khawatir pada sang anae yang masih tak sadarkan diri.

 

Flashback off

 

Yuri mendengar cerita Minho dengan penuh haru, bagaimana ketika Minho melihat sang aegi yang lemah dan tidak menangis, pasti membuat suatu kekhawatiran yang lebih dari rasa khawatir dia tadi. Yuri menutup wajahnya dan kembali menangis.

“Jangan menangis Chagi.”

“Kau nappeun, kenapa tidak memberitahuku?” Kesal Yuri masih dalam posisi digendong  Minho dan membenamkan kepalanya dileher Minho.

“Hei.. Diamlah, banyak orang sedang melihat kearah kita.” Ujar Minho, Yuri melepaskan pelukannya dan menghapus kasar airmatanya

“Umma dan Appa sudah tau? Kalian semua sudah tau? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?” Umpat Yuri yang disambut anggukan dari mereka semua.

“Minho yang menyuruh kami, dia bilang ingin memberitahunya sendiri padamu.” Sahut Yoona seraya menghampiri Yuri dan memeluk sahabatnya itu.

“Mianhae tidak bisa ada disampingmu saat kau sadar tadi.”

“Gwenchana Yoong, aku tau kau akan selalu ada untukku.”

“Yuri-ya. Chukkae… Ah aku tidak menyangka si bocah tengil kini sudah menjadi Appa.” Ujar Donghae dengan nada menggoda.

“Ya!! Hyung, untung saja saat ini aku sedang menggendong anaeku. Jika tidak…”

“Jika tidak kenapa?”

“Ish.. cepatlah menyusul Hyung, dan buatkan dongsaeng untuk aegiku.” Ucap Minho seraya mendudukan Yuri kembali dikursi rodanya. Donghae terdiam sejenak dan menatap Yoona

“Tunggu aku lulus.” Sinis Yoona, Donghae seketika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu dan menatap Minho.

“Aku sudah tau jawabannya Hyung.” Seketika semuanya tertawa.

“Yuri-ya, chukkae Chagi… Gomawo sudah memberikan Umma dan Appa cucu.” Umma Yuri dengan haru memeluk anaknya itu, Yuri menyambut pelukan hangat itu tak kalah terharunya.

“Unnie.. Chukkae…” Sooyoung datang dan menghambur memeluk Yuri.

“Aw .. Appo..” Yuri sedikit meringis saat Sooyoung tanpa sengaja memeluknya erat.

“Ya!! Babo.. jangan terlalu kuat, bekas jahitannya belum kering.” Ketus Minho. Sooyoung melepaskan pelukannya dan menatap Yuri dengan tatapan bersalah.

“Unnie.. Mianhae.” Yuri tersenyum dan mengelus kepala Sooyoung.

“Gwenchana.”

“Unnie.. Kau tau, selama kau tidak sadar Minho Hyung selalu menjagamu. Ah dia beda sekali, sangat cengeng.” Polos Sooyoung .

“Ya!! Diamlah.” Sinis Minho.

“Yul.. Chukkae.” Yuri memalingkan pandangannya dan memandang pada seseorang yang baru saja mengucapkan selamat padanya.

“Yesung Oppa? Gomawo.”

“Yul.. Aku rasa kau juga harus mengucapkan Chukkae pada kedua orang itu.” Seketika Donghae dan Minho menutup mulut menahan tawa. Yuri menautkan alisnya heran, Yesung dan Sooyoung hanya saling pandang dan kemudian tersenyum malu.

“Untuk Apa?” Tanya Yuri heran.

“Mereka kini sudah menjadi pasangan kekasih Yuri-ya.” Seru Umma Minho dengan nada menggoda membuat wajah Sooyoung memerah menahan malu.

“Jinjja-yo? Ah Chukkae Sooyoung.. Oppa.”

“Kami belum berpacaran Unnie.” Malu Sooyoung, sedangan Yesung hanya bisa tersenyum kaku.

 

                                                            ***

 

Yuri berdiri lemah dan dengan seksama memperhatikan seorang perawat yang sedang memeriksa bayinya dari luar ruangan, tidak terlihat lagi selang infuse ditangan Yuri, sedangkan Minho dengan setia menemani dan membantu Yuri disamping juga melihat keadaan aeginya yang masih harus diletakan diincubator dan ini tepat hari ke 5 yeoja kecil itu ada didalam incubator.

“Aegoo.” Yuri nampak bahagia sekali melihat yeoja kecilnya itu menggeliat kecil.

“Dia pasti tau jika Ummanya ada didekatnya.” Sahut Minho sambil menepuk pelan kepala Yuri. Perawat itu segera merapikan kembali pakaian yeoja kecil itu lalu menutup pintu kecil incubator itu dan berjalan keluar menghampiri  Yuri dan Minho.

“Dia sudah nampak kuat sekarang, tidak seperti saat lahir.. Kondisinya benar-benar seperti bayi normal saat ini, mungkin besok dia sudah bisa dikeluarkan dari incubator.” Jelas perawat itu.

“Aku tidak sabar ingin menggendong dan mengecup aegi kecilku itu.” Ucap Yuri dengan nada yang sedikit sedih dan kembali melirik aeginya. Minho hanya bisa mengeratkan rangkulannya pada Yuri dan terus memberi ketenangan pada anaenya itu.

“Kau bisa melakukan itu besok nona.” Jawab Perawat itu ramah, Yuri mengalihkan pandangannya dan memandang perawat itu.

“Gomawo uisa.”

“Cheonma .. Baiklah, saya permisih dulu, Annyeong.” Pamit perawat itu.

“Ah Gomawo uisa..” Ucap Yuri dan Minho bersamaan. Saat perawat itu pergi Yuri dan Minho kembali melihat yeoja kecil itu.

“Gomawo sudah menghadirkan dia disisiku Yeobo.” Bisik Minho pelan seraya mengelus pelan rambut Yuri.

“Gomawo juga sudah selalu ada untukku .. Kau appa yang baik.”

“Aku tidak baik Yeobo, aku hampir membuatnya tidak bisa menghirup udara dunia ini.” Sesal Minho..  “Mianhae.” Yuri tersenyum lembut mendengarnya dan segera menghadapkan diri kearah Minho, untung saja suasana ditempat itu sepi.

“Jangan selalu menyalahkan dirimu, lupakan itu dan kita sambut kehidupan baru kita yeobo.” Yuri menyandarkan dirinya pada Minho yang disambut Minho dengan membalas mendekap tubuh Yuri.

“Saranghae.. Aku janji akan selalu menjagamu dan juga aegi kita.. Aku janji.”

“Nado saranghae yeobo.. Aku harap kau bisa memegang janjimu itu namja dingin.”

“Baiklah Yeoja aneh.. Aku akan memengangnya, kajja kita kembali kekamarmu. Kau harus banyak istirahat.” Ucap Minho seraya melepaskan pelukannya dari Yuri. Yuri mengangguk dan sedikit melirik kearah dimana bayinya sedang tidur dan kemudian dengan dibantu oleh Minho kembali kekamar dimana dia masih harus menjalani perawatan pasca operasi.

“Sampai..” Girang Minho saat dirinya dan Yuri sudah sampai dikamar inap Yuri.

“Ya!! Yeobo diamlah, kau pikir dirumah sakit ini hanya aku pasiennya.” Ketus Yuri.

“Hehe.. Mianhae.. Kajja Chagi.. Kita masuk.” Ajak Minho. dengan telaten minho membantu Yuri merebahkan diri.

“Chagi.. Apa bekas jahitan itu masih perih?” Tanya Minho seraya mencoba menyentuh perut Yuri.

“Masih, tapi sudah tidak seperti saat pertama aku sadar yeobo.” Jawab Yuri lembut, Minho mengangguk mengerti.

“Seandainya aku tidur disampingmu, apa bisa?” Minho terlihat ragu-ragu ketika menanyakan itu.

“Aish.. Untuk apa kau tidur disampingku.. Tidurlah disofa sana, seperti saat kau menjagaku waktu aku belum sadar.” Jawab Yuri cuek. Minho hanya mempoutkan bibirnya.

“Baiklah, sekarang tidurlah. Jika kau sudah tertidur, aku akan tidur disofa.” Ujar Minho lembut dan mulai mengelus-elus pelan kepala Yuri. Yuri mulai memejamkan matanya seakan terbuai dengan perlakuan Minho itu.

“Ya! Lihatlah, apa dia tega melihatku tidur disofa nanti. Ish.. apa salahnya membiarkanku tidur disampingnya seperti dulu dan ah.. tega sekali.” Umpat Minho dalam hati. Perlahan Minho mulai merasa jika Yuri sudah tidur, perlahan Minho mulai berdiri dan ingin menuju sofa yang merupakan tempat tidurnya selama Yuri ada dirumah sakit.

“Tunggu!” Sergah Yuri menahan tangan Minho.

“Ne chagi? Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?” Tanya Minho yang langsung menghentikan langkahnya.

“Anni.. Tidurlah disampingku yeobo.. Tempat tidur ini terlalu besar untukku, apa kau tidak lelah tidur disofa hm?”

“Tapi tadi kau bilang…”

“Kau tidak mau? Baiklah.. Selamat tidur.”

“Anniya… Baiklah.. Kau yang yang meminta aku akan tidur disini.” Ucap Minho tiba-tiba dan dengan cepat melepas alas kaki dan naik ketempat tidur pasien itu.

“Ya!! Yeobo, pelan-pelan.. Kau ingin tempat tidur ini ambruk dan menjatuhkan kita berdua? Lagian, aku tidak menyuruhmu tidur disini, aku hanya bilang tempat tidur ini besar.” Minho tidak mengindahkan kata-kata Yuri dan dengan cueknya mulai melingkarkan tangannya dipinggang Yuri.

“Aku tidak perduli Yeobo.. Aku ingin tidur disini, menemanimu.” Goda Minho seraya menatap lurus mata Yuri.

“Nappeun.” Kekeh Yuri memukul pelan dada Minho.

“Aku tidak nappeun, aku hanya ingin tidur bersama anaeku, apa salah?”

“Yeobo, kenapa kau berbicara terus.. Tidurlah..”

“Shirreo” Tolak Minho halus.

“ya baiklah.. aku saja yang tidur.”

“Kau tidak boleh tidur sebelum kau memberiku..” Minho melanjutkan permintaannya itu dengan menunjuk bibirnya.

“Aish nappeun.. Aku ingin tid..”

 

Chu~

 

“Ya!” Pekik Yuri saat Minho mengecup paksa bibirnya seketika.

“Ayo Tidur.” Cuek Minho mulai memejamkan matanya dan tidak melepaskan pelukannya pada Yuri. Yuri hanya menghela nafas, lalu tersenyum memandang wajah teduh Minho.

“Gomawo.” Desah Yuri dan kemudian ikut tidur didalam dekapan hangat Minho.

 

                                                         ***

 

Sinar mentari pagi mulai terlihat memasuki celah jendela ruangan dimana Yuri dirawat kini, cahaya itu menembus tepat diwajah Yuri yang membuat Yuri sedikit menggeliat dan mulai mendapatkan kesadaran. Yuri mengerjab-ngerjabkan matanya mencoba membiasakan sang mata melihat cahaya itu.

“Jam berapa ini?” Gumam Yuri, Yuri melirik sebuah jam tangan yang melingkar indah disebuah pergelangan tangan yang sedang memeluknya kini.

“Jam 8? Apa Minho tidak kerja huh’?” Yuri sedikit memutar bola matanya dan mendapati sosok seseorang yang sangat dicintainya itu sedang menatapnya penuh cinta.

“Yeobo? Kau sudah bangun?” Kaget Yuri yang baru menyadari jika Minho telah bangun.

“Aku sudah bangun dari tadi Yeobo.” Jawab Minho dengan satu kecupan hangat dikening Yuri.

“Kenapa tidak membangunkanku?”

“Untuk apa? Kau harus banyak istirahat.” Yuri sedikit kesal dan dengan pelan mencubit hidung indah Minho. Minho hanya menjawab cubitan itu dengan memajukan bibirnya yang menandakan dia kesal.

“Kau juga harus istirahat, kau lebih lelah dariku Yeobo.” Ucap Yuri lembut seraya mengelus pelan dada Minho. Minho tersenyum dan mengalihkan tangannya dari pinggang Yuri menuju pipi Yuri.

“Aku tidak akan pernah lelah hanya karna hal itu.” Minho mulai menempelkan keningnya dengan kening Yuri.

“Jinjja?”

“Hm.. Aku tidak perduli pada kelelahanku, bagiku.. Kau dan Aegi kita dapat menghilangkan rasa lelahku.” Yuri terkekeh dan mulai menyentuh kecil hidung Minho dengan hidungnya.

“Gombal.”

“Aku serius Chagi..”

“Aku juga serius Chagi.” Balas Yuri.

“Kau menggodaku huh?” Tanya Minho, Yuri yang sadar dengan perkataan Minho segera ingin menjauhkan kepalanya dari Minho. Namun tangan kekar Minho menahan kepala Yuri.

“Kau mau kemana Huh’?” Goda Minho.

‘Ya!! Yeobo lihatlah ini dirumah sakit, lepaskan.” Pinta Yuri, Minho tak menggubrisnya dan mulai memposisikan diri diatas Yuri, menopang tubuh menggunakan satu tangan diatas Yuri, memberikan jarak dirinya pada perut Yuri.

“Morning kiss.” Pinta Minho seraya menunjuk bibirnya, Yuri menggeleng.

“Ini dirumah sakit Yeobo, nanti saja.” Minho menggeleng.

“Jika dirumah sakit kenapa? Tadi malam juga tidak apa-apa kan?”

“Tapi jika pagi..”

‘Stt.. Pejamkan matamu.” Titah Minho.

“Tapi..”

“Pejamkan.” Yuri hanya mendengus dan memejamkan matanya mengikuti mau Minho agar cepat bisa lepas dari jerat nampyeonnya yang nappeun ini.

Minho memandang Yuri dan tersenyum kecil, dipejamkannya matanya seperti Yuri dan mulai mendekatkan wajahnya…. Setelah hampir menyentuh bibi mungil anaenya itu, suara pintu terbuka beserta suara khas seorang Yeoja memekik memanggil Yuri dan Minho…

“Oppa! Unnie.. Aku dat….. Ya!!” Pekik Yeoja itu… Minho dan Yuri sontak terkejut. Minho segera mengubah posisinya sedangkan Yuri langsung berbalik kearah pintu.

“Soo.. young?” Kaget Yuri, Minho hanya mendengus dan menatap kesal kearah Sooyoung yang sedang menutup matanya.. Seketika mata Yuri dan Minho melebar saat melihat ada Yoona dan Donghae yang juga kini menatapnya.

“Kenapa kalian tidak mengetuk pintu dulu huh’?” Kesal Minho sembari turun dari tempat tidur, lalu membantu Yuri duduk.

“Mesum.” Cibir Donghae..

“Kalian ini.. Selalu saja..”  Ketus Yoona.

“Bagaimana kami ingin mengetuk pintu, sedangkan kalian sedang dalam keadaan seperti itu.”  Minho hanya menanggapi omongan Sooyoung dengan decakan kesal.

“Yuri, bagaimana keadaanmu?” Tanya Yoona sembari mendekati Yuri ditempat tidur dan memposisikan diri duduk diatas tempat tidur, disisi kanan Yuri. Minho dengan kesal mulai mendekati Donghae, dan terlibat percakapan mengenai keadaan kantor akhir-akhir ini.

“Aku baik-baik saja Yoong.” Jawab Yuri. Yoona seketika memeluk sahabatnya itu dalam.

“Kau tau? Aku khawatir sekali padamu babo…” Yuri membalas pelukan Yoona tak kalah dalamnya.

“Kau pikir hanya kau yang khawatir huh’? Aku lebih khawatir padamu Yoong.”

“Kau tau Yul? Krystal menitipkan permintaan maafnya padaku.” Ucap yoona seraya melepas pelukannya.

“Jinjjayo?”

“Ne.. Ah kau harusnya melihat bagaimana si polos Sooyoung menampar Krystal.”

“Mwo?” Kaget Sooyoung dan Yuri bersamaan. Donghae dan Minho hanya memperhatikan perbincangan itu.

“Wah Sooyoung apa itu benar?” Tanya Yuri, Sooyoung tersenyum kaku dan mengangguk.

“Tapi aku kembali terdiam ketika melihat Yoona Unnie berubah menjadi namja saat menarik yeoja itu.” Polos Sooyoung.

“YA!!” Pekik Yoona.

“Aku rasa kau harus berhati-hati Hyung.” Goda Minho, Donghae hanya mengangguk kaku.

“Minho aku mendengar itu.” Ketus Yoona kesal.

“Mianhae.. Maaf menganggu waktu anda..” Sontak semua yang berada diruangan itu menoleh keasal suara.

“Uisa?” Perawat itu tersenyum, sambil menggendong seorang bayi kecil perawat itu masuk dan segera menghampiri Yuri yang sedang duduk bersandar ditempat tidur. Yoona segera menjauhkan diri dari Yuri. Mata Yuri bersinar dan senyumnya mengembang tertahan memandang lurus pada aegi yang dibawa perawat itu.

“Ini dia, yeoja kecil anda Nona.” Perawat itu dengan sopan dan berhati-berhati menyerahkan aegi mungil itu pada Yuri, Minho dengan sigap segera menghampiri Yuri dan membantu Yuri menyambut bayi mungil itu.

“Aegyeo…” Kagum Yuri saat sudah berhasil membawa bayi itu dalam pelukannya. Tak terasa bulir-bulir air mata haru Yuri menyeruak keluar.

“Yeobo.. Lihatlah, matanya persis seperti dirimu.” Seru Minho. Yoona, Donghae dan Sooyoung, ntah sejak kapan sudah berdiri ikut menyaksikan aegi kecil yang ada dipelukan Yuri itu.

“Wah.. Neumu yeppeo.. Semoga dia akan sepertimu Unnie.. Tidak seperti Minho oppa.” Celetuk Sooyoung tanpa beban.

“YA!! Kau ini.” Dengus Minho. Yuri hanya terkekeh pelan mendengarnya dan kembali sibuk memandang aeginya itu.

“Baiklah.. Kalau begitu saya permisih dulu.. Annyeong.” Ucap perawat itu tiba-tiba dan dengan ramah menunduk lalu pergi meninggalkan ruangan.

“Gomawo Uisa.” Sahut Yuri dan Minho.

“yeobo? Bolehkan aku mencoba menggendongnya?” Pinta Minho, Yuri berbalik sekilas kearah Minho dan tersenyum.

“tentu saja yeobo.. Dia sangat mirip denganmu.”

“Ah malang sekali nasib aegi itu.” Sindir Donghae, Minho hanya mempoutkan bibirnya mendengar itu. Minho dengan berhati-hati mengambil alih aegi itu dan memposisikan dirinya duduk disamping Yuri.

“aegyeo…” Senang Minho sambil terus memandang aegi yang sedang digendongnya.

“Ah Unniedeul.. Oppadeul… Aku permisih dulu, aku akan memanggil para orangtua untuk melihat cucu mereka.. Annyeong.” Seru Sooyoung dan langsung bergegas meninggalkan ruangan.

“Yul? Kenapa menangis?” Tanya Yoona, Yuri hanya tersenyum dan menghapus airmatanya.

“Chagi? Waeyo?” Kini Minholah yang bertanya.

“Anniya.. Aku hanya terharu melihatnya… dan aku mengingat bagaimana kalian menipuku dengan tidak memberi kabar tentang aegi itu.” Rutuk Yuri dengan kesal tapi juga menahan tawa.

“Marahi lah bocah tengil itu.. Dialah yang meminta kami melakukannya.” Seru Donghae yang masih betah berdiri berdampingan dengan Yoona.

“Nappeun.” Kesal Yuri seraya mencubit pelan lengan Minho.

“Ya!! Chagi.. jangan mencubitku, kau tidak lihat aku sedang menggendong aegi kita?” Ketus Minho pelan. “Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin akulah yang memberitahumu tentang aegi kita.” Tambah Minho, Yuri tersenyum haru lalu seketika memeluk pelan nampyeonnya itu.

“Gomawo..” Desah Yuri pelan..

“Cheonma..” Jawab Minho dengan senyum penuh karismanya.

Yoona dan Donghae saling berpandangan dan tersenyum… Perlahan Donghae memegang tangan Yoona.

“Kita biarkan mereka berdua dulu chagi. Kajja.” Ajak Donghae, Yoona mengangguk setuju.

 

                                             ***

 

“Hm.. Kau ingin memberikan nama apa padanya Chagi?” Tanya Minho yang tidak melepaskan pandangannya pada wajah mungil yang sedang tertidur pulas didalam gendongan Yuri, sesekali nampak Minho tersenyum senang dan mengelus lembut kepala aeginya yang baru 2 hari dibebaskan dari incubator.

 “Ah ya. Kau benar Chagi,, Appa dan Umma menyerahkan kepada kita untuk memberikan nama padanya, tapi sampai sekarang aku belum menemukan nama yang tepat untuknya.” Jawab Yuri.

“Hanna.” Ucap Minho tiba-tiba, Yuri berbalik sedikit dan menatap Minho.

“Hanna?”

“Hm.. Choi Hanna.” Yuri tersenyum dan kemudian menatap aegi yang sedang digendongnya itu.

“Choi Hanna.. Mulai sekarang Umma akan memanggilmu dengan nama itu. Hanna.” Seketika suasana menyenangkan dan gembira makin terpancar dari Minho dan Yuri yang sedang asyik duduk menatap putrimereka diatas tempat tidur rumah sakit.

 

                                               ***

 

Sudah beberapa bulan berlalu sejak hadirnya Hanna dalam kehidupan keluarga Choi, Minho mulai berubah menjadi penyabar, kesalahan masa lalu yang hampir menyebabkan hilangnya nyawa orang yang dicintainya membuat Minho semakin dewasa dan menjadi Appa maupun nampyeon yang baik.

 

Bulan ini, bulan keempat Hanna lahir, tak terasa Yuri dan Yoona sudah menjalani sidang tugas akhirnya yang membuat mereka memiliki gelar sekarang. Donghae juga beberapa minggu lalu sudah melamar Yoona dan mereka sepakat untuk menikah seminggu  setelah wisuda Yoona dan Yuri usai. Yesung sudah kembali ke Paris untuk berusaha menyelesaikan sekolahnya, namun hal itu tidak membuat hubungan Yesung dan Sooyoung retak.

Hari ini.. Hari dimana Yuri dan Yoona menjalani Wisuda mereka. Senyum sumringah terpancar indah dari peserta wisuda hari ini, tidak terkecuali Yoona dan Yuri.

 

“Ah Chukkae Unniedeul..” Seru Sooyoung seraya membawa bunga dan memeluk Yoona dan Yuri.

“Gomawo Sooyoungie.” Jawab Yuri dan Yoona bersamaan.

“Chukkae yeobo.” Yuri melepaskan pelukannya, kini dilihatnya Minho sudah berada didepannya dan tersenyum bangga padanya, Yuri sedikit menangis haru melihat Minho terutama ketika melihat yeoja mungil yang sedang digendong Minho itu.

“Gomawo yeobo.” Dengan cepat Yuri menghambur memeluk Minho dan Hanna. Orang tua Yuri dan Minho maupun Yoona hanya memaklumi kebahagian anak-anak mereka itu. Yoona yang dari tadi senyum tiba-tiba mulai tersadar dan mengedarkan pandangannya mencari seseorang.

“Kemana si ikan itu?” Gumam Yoona.

“Unnie? Mencari Donghae Oppa kah?” Yoona sedikit terkejut saat tiba-tiba Sooyoung memegang punggungnya, namun Yoona dengan cepat bisa mneguasai dirinya.

“Ne.. Apa kau melihatnya?” Sooyoung mengangguk dan menunjuk ke suatu arah. Yoona melebarkan matanya melihat Donghae sedang bersandar dipohon besar sambil sesekali terlihat berfikir sendiri.

“Sedang apa dia?” Yoona akhirnya berjalan menghampiri Donghae. Minho dan Yuri kebetulan melihat kejadian itu hanya bisa saling pandang dan kemudian tersenyum.

“Chagi?” Panggil Yoona. Donghae sedikit terkejut dan langsung mengelus dadanya.

“mengagetkan saja.” Keluh Donghae. “Apa acara wisudanya sudah selesai?” Lanjut Donghae, Yoona tersenyum dan mengangguk.

“Sudah.. Kau sedang apa disini Chagi? Kenapa menjauh dari kami?” Tanya Yoona. Donghae membuang pandangannya dari wajah Yoona, membuat Yoona sedikit terkejut.

“Ada apa?” Tanya Yoona.

“Ini sebenarnya.. Hm.. mengenai hubungan kita..” Donghae terlihat ragu meneruskan bicaranya.

“Chagi? Sebenarnya ada apa?” Yoona terlihat mulai tidak sabar. Dongae menarik nafas panjang lalu berbalik, memegang punggung Yoona.

“Aku .. Chagi.. sebenarnya aku disini untuk mengumpulkan kekuatan, aku ingin sekali lagi berbicara pada orang tuamu. Aku ingin kita menikah minggu depan.” Ujar Donghae mantap, Yoona seketika  menunduk dan menutup mulutnya, punggungnya bergetar.

“Chagi? Apa ada yang salah?” Yoona seketika menghapus air matanya dan tertawa.

“Hahaha.. Chagi.. Kau ada-ada saja, aku kira kau kenapa. Ah babo.. Ayo kita kembali kesana, kita akan membicarakannya dengan orang tuaku.” Ajak yoona dan segera menarik tangan Donghae, Donghae terlihat gugup namun kemudian dia tersenyum pasti.

“Yeobo.. Lihatlah Si ikan-hyung itu.. Wajahnya lucu sekali.” Kekeh Minho. Yuri berbalik dan ikut terkekeh ketika melihat Donghae dan Yoona sedang berbincang serius dengan orang tua mereka.

“Semoga mereka bisa cepat menyusul kita ya yeobo.”

“Kalau begitu, doakan untukku juga.” Sahut suara seseorang dari arah belakang MinYul yang membuat mereka berbalik.

“Yesung Oppa?”

“Yesung?” Kaget Minho dan Yuri bersamaan.

“Ne.. ini aku.” Jawab yesung dengan senyum merekah. “Chukkae Yul.” Lanjut Yesung dan kemudian mengulurkan tangannya. Yuri yang masih terlihat bingung membalas uluran tangan itu.

“Gomawo Oppa… Tapi.. bukankah Oppa ada di Paris?” Tanya Yuri. Yesung tersenyum dan memandang kearah Sooyoung yang dari tadi berada disampingnya.

“Aku ingin secara khusus memberimu selamat Yul.. Juga menemui yeojachinguku.. Kau tau? Aku sangat merindukannya.” Jawab Yesung mantap, Sooyoung hanya tersenyum malu.

“Oppa.. kau ini.” Yuri dan Minho hanya bisa tersenyum melihat itu.

“Yeobo?” Panggil Minho, Yuri berbalik.

“Ne yeobo?” Minho tersenyum dan kemudian menggenggam tangan Yuri dan kemudian membawa Yuri menjauh dari tempat dimana keluarga mereka dan sahabat-sahabat mereka berkumpul.

 

Yuri dan Minho  berjalan santai mengitari halaman belakang kampus dan memperhatikan beberapa orang yang sedang bersuka cita itu. Tangan hangat Minho menggenggam erat tangan lembut Yuri, senyum merekah mereka berdua terpancar indah diwajah mereka.

“Aku bahagia sekali.” Celetuk Yuri tiba-tiba.

“Hm? Apa yang membuatmu bahagia Yeobo?” Tanya Minho tanpa melepas pandangan lurusnya kedepan dan tetap melanjutkan jalan-jalan mereka.

“Semuanya.. Semuanya membuatku bahagia. Ada kamu yang selalu ada untukku, ada Hanna, Yoona yang selalu setia disampingku, ada Sooyoung, Donghae Oppa, Yesung Oppa, Umma dan Appa.” Yuri menghentikan langkahnya dan menatap satu-satu orang yang disebutkannya tadi.. Ada Yoona dan Donghae yang sedang mengobrol hangat berdua, ada Yesung dan Sooyoung yang melakukan hal serupa ditempat lain, ada Hanna yang sedang digendong Appa Minho dan dihibur dengan Appa dan Umma dari Yuri maupun Minho.

 

“Aku bahagia.. Bahagia yang tidak bisa kau ungkapkan dengan kata-kata yeobo.” Minho tersenyum dan kemudian berbalik memandang Yuri yang kebetulan juga memandangnya.

“Aku bahagia, memilikimu Yeobo.. Gomawo.. Kau dan Hanna membuat hari-hariku lebih berwarna.” Senyum Yuri mengembang dan segera melingkarkan tangannya dilengan Minho, menggelayut mesra seakan menumpahkan kebahagiaan. Minho mengelus pelan rambut Yuri.

“Aku tidak menyangka, pertemuan aneh dengan Yeoja aneh sepertimu bisa menjadi seperti ini.” Yuri memandang Minho dan mempoutkan bibirnya.

“Dan akupun tidak menyangka pernikahan aneh dengan namja dingin sepertimu bisa membuatku bahagia sekarang.” Sahut Yuri.

“Awal pernikahan yang sama sekali tidak pernah kuimpikan, keributan yang selalu terjadi diantara kita, hmmm kau tau Yeobo? Dulu, kau itu menyebalkan sekali.” Ujar Minho seraya mengacak lembut rambut Yuri.

“Dan kau juga tahu Yeobo? Akupun sangat, sangat dan sangatttt kesal padamu.. Selalu berkata dingin padaku, membuatmu terlihat menjadi orang yang menyebalkan.” Seketika mereka berdua terkekeh mengingat awal pernikahan mereka.

“Sekarang, ayo kita sambut hari-hari kedepan kita.. Kita dan Hanna.” Minho dengan mesra mengecup kening Yuri singkat, Yuri tersenyum dan mengangguk.

“Mari kita buat kebahagiaan kita terus meningkat dan meningkat Yeobo, bersama orang-orang yang kita cintai tentunya.”  Yuri dengan antusias menarik tangan Minho, menuju tempat dimana orang-orang yang mereka cintai berada.

 

“Pernikahan aneh antara namja dingin bersama yeoja aneh yang sama sekali tidak pernah ada dalam pikiranku sebelumnya.” – Minho

 

“Kini berubah menjadi pernikahan impian kita.” – Yuri

 

“Impian tentang kebahagiaan yang selalu ingin kuraih bersama orang yang kucinta.” – Minho

 

“Bersama .. terus membuat pernikahan aneh ini menjadi pernikahan terindah.” – Yuri

 

“Selalu… bersama.. Saranghae.. Yeoja anehku Choi Yuri..”

 

“Pasti… nado saranghae namja dinginku Choi Minho.”

 

“Saranghae Choi Hanna.”

 

                                                     ***

 

Hahaha.. ending apaan ni.. hoho .. Mianhae.. =,= aku bener2 dh kehabisan ide buat nerusinnya.. hehe.. mianhae juga buat yg nunggu, udh nunggu lama.. endingnya gaje lg😄

ya udah .. hehe ..  akhirnya selesai juga ff panjang ini.. tumpahkan semua kritik kalian ya.. d tunggu komentarnya..   Thanks all :*

Special thanks buat yang udah komen dari awal ff ini ada.. gomawo😀

Tagged: , , , , , , ,

84 thoughts on “Weird Wedding (PART 15B-END)

  1. Fania November 21, 2014 pukul 4:06 am Reply

    Ahh akhirnya happy ending waw hanna bayi nya minyul kaya nya lucu bnget deh hana, minyul akhirnya dpat hdup yg baik ga ada lg pengganggu kkeke🙂
    minyul jjang minyul jjang😀

  2. Rini Maharani Maret 22, 2015 pukul 12:19 pm Reply

    wah……… daebak eonni, wah … eonni,gomawo telah membuat ff ini. aku sepertinya terinspirasi membuat blog berisi ff ttg yuleonni ku yg cantikk… keep writing eonni, saranghe… :*❤

Yuk tinggalin jejaknya (ʃƪ˘ﻬ˘)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: