Why Umma? (PART 4A)

Minyul

Tittle : Why Umma?

Author : Yuuripico

Cast : Kwon Yuri, Kim Taeyeon, Choi Minho.

Other : Choi Sooyoung, Im Yoona

Lenght : Chaptered

Ratting : Bebas

Genree : Sad, Romantic & Friendship

 

Annyeong.. mianhae buat lamanya nih lanjutan.. ^^ tp tenang.. nih dh mau end kok…  Ada yg nunggu kan? aku buat part 4 nya kepanjangan, jd d buat A & B.. hoho :O

seperti biasa.. READERS BAIK PASTI NINGGALIN JEJAK…😀

“TYPO IS AN ART OF WRITING” dan yuk langsung saja..

 

PART 4A

 

Yuri nampak sudah tenang dan mencoba bertanya lagi pada Umma Sooyoung.

“Ahjumma? Tolong ceritakan padaku tentang seseorang yang bernama Tiffany.” Umma Sooyoung menarik nafas panjang lalu mulai bercerita.

“Tiffany.. adalah temanku dan juga Sunmi saat kami masih kuliah. Dia dekat dengan Ahjumma. Dia seorang yang baik dan memiliki teman dekat seorang namja bernama Kim Jong Woon (wkwkwk).”

“Jong Woon? Appa?” Tanya Yuri, Umma Sooyoung mengangguk dan membelai lembut rambut Yuri. Sooyoung duduk disamping Yuri ikut memperhatikan cerita Ummanya.

“Ne. Kim Jong Woon, dia dan fany sangat dekat sebagai sahabat sampai akhirnya fany mengenalkan kami padanya. Tak lama setelah perkenalan itu, Sunmi dan Jong Woon sudah menjalin hubungan khusus. Aku dan Fany sebagai sahabat tentu saja senang bukan?” Yuri mengangguk.

“Saat menjadi sahabat, Jong Woon sangat memperhatikan Fany, itu terbukti seringnya Jong Woon menolong Fany dan memperhatikan hidup Fany yang hidup diseoul sendirian, bahkan perhatian Jong Woon mengalahkan perhatian Ahjumma pada Tiffany saat itu. Sunmi tidak terlalu suka dengan hal itu, bahkan sering mendiamkan Tiffany karna rasa cemburunya. Fany sempat menjauhi Jong Woon karna tidak enak pada Sunmi, tapi Jong Woon yang sudah menganggap Fany adalah saudaranya terus mendekati fany, sampai akhirnya Fany menghilang ntah kemana saat Jong Woon dan Sunmi menikah, tapi 2 tahun kemudian. Fany kembali dengan kehamilan yang sudah tinggal menunggu hari, saat itu dia menemui Ahjumma, Sunmi dan Jong Woon. Tapi seperi biasa, Sunmi hanya menyambutnya dengan sikap dingin, Tiffany melahirkan seminggu setelah itu dan saat itu Ahjumma berada diluar negeri untuk menyelesaikan beberapa urusan. Dan saat Ahjumma pulang ke Korea, Ahjumma hanya mendapatkan kabar meninggalnya Tiffany. Pada saat itu Jong Woon sudah mengurus surat pengangkatan dirimu sebagai anaknya, ketika aku meminta hak asuhmu Jong Woon bersikeras menolaknya.” Cerita Umma Sooyoung panjang lebar dengan mata berkaca-kaca mengenang Tiffany sahabatnya, Yuri hanya mencoba tersenyum mendengarkan cerita itu. Senyum lirih…. Sooyoung menggenggam tangan Yuri kuat.

“Apakah Ummaku adalah yeoja yang baik, apakah Ummaku tidak menyesal saat melahirkanku ahjumma?” Tanya Yuri. Umma Sooyoung tersentak mendengar itu.

“Tentu saja.. dia yeoja yang baik dan kau jangan pernah berpikir seperti itu, Ummamu sangat bangga saat melahirkanmu. Itu cerita Jong Woon yang menemani Fany saat persalinannya.” Jawab Umma Sooyoung mencoba tersenyum.

“Apa ahjumma tau sesuatu tentang Appaku? Hmm maksud Yuri Appa kandung.” Tanya yuri lagi, perlahan airmata Umma Sooyoung jatuh mengalir dipipinya.

“Appamu? Sampai sekarang kita tidak tau siapa appamu, Mianhae.” Ucap Umma Sooyoung, Yuri mengangguk mengerti dan mulai memeluk Umma Sooyoung lagi.

“Ahjumma, tolong bilang pada Ummaku. Oh bukan, pada Mrs. Kim bahwa Ummaku tidak sejahat perkiraannya.” Ujar Yuri dengan tangisan tertahannya, tangan Sooyoung terus menggenggam tangan Yuri kuat dan dibalas dengan Yuri yang mengeratkan pegangannya pada tangan Sooyoung.

“Jika bisa, dari dulu aku sudah menjelaskannya. Tapi keegoisan menutup hatinya Yuri.”

“Aku yakin, Mrs. Kim itu baik.” Umma Sooyoung hanya tersenyum kecut mendengarnya.

“Yul, sabarlah.” Bisik Sooyoung, Yuri mengangguk.

“Ahjumma? Apakah aku seorang pembunuh?” Umma Sooyoung terlonjak kaget mendengarnya , begitupun Sooyoung.

“Ap.. Apa maksudmu?” Tanya Umma Sooyoung.

“Molla, lupakan Ahjumma. Ahjumma.. aku menyayangimu dan juga Sooyungie.. aku menyayangi kalian.” Yuri memeluk kedua anak dan Umma itu erat.

“Itu takdir, bukan kesalahanmu. Ingat itu.” Umma Sooyoung mengecup singkat puncak kepala Yuri. Lama Yuri disana, saling berbagi cerita bersama Sooyoung dan Ummanya, Yuri yang merasa tidak enak berlama-lama disitupun berpamitan pulang, tidak pulang bahkan Yuri tidak tau dia akan kemana.

 

***

 

Yuri POV

 

Aku melangkahkan kakiku menuju rumah sakit, hanya sekedar ingin tau kabar tentang Taeyeon Unnie. Aku hanya dapat menatap Umma yang menunggu dengan wajah khawatir didepan pintu UGD. Hatiku sekarang benar-benar tidak karuan, aku khawatir akan Taeyeon Unnie. Kulihat seorang Dokter yang aku ketahui bernama Dr. Oh  bersama seorang perawat keluar dari ruangan itu dan berbicara pada Umma dengan wajah yang sulit untuk kuartikan, saat itu wajah Umma sektika menjadi seperti orang yang terkejut dan berjalan mengikuti dokter itu. Akupun dengan perlahan megikuti mereka dari belakang, saat Umma dan Dr. Oh itu masuk kedalam ruangan saat itu juga aku mendekatkan telingaku kepintu agar mendengar pembicaraan mereka.

“Mianhae Mrs. Kim, jantung anak anda benar-benar tidak bisa ditolong. Saat ini aku hanya memasangkan alat pendukung detak jantung agar jantungnya tetap berdetak, tapi jika kita lepas alat itu. Saat itu juga detak jantung anak anda berhenti.” Aku melebarkan mata dan menutup mulutku mendengar itu, kakiku seketika terasa lemah dan terduduk dilantai.

“Mak.. maksud anda? Anakku sudah sama seperti mayat hidup yang hanya bertahan karna alat rumah sakit?” Kudengar suara lirih Umma bertanya seperti itu. Aku memegang perutku, nyeri.. yaa nyeri pada perutku kembali lagi. Tapi kutahan sebentar untuk mendengar keadaan Taeyeon Unnie.

“Benar Mrs. Kim, sesuatu membuat jantungnya shock dan untung saja kalian bisa membawanya sampai sini.”

“Apa tidak bisa disembuhkan dok? Apa harus anakku bertahan karna alat itu?” Kini suara Umma terdengar sendu, Umma…. Jangan menangis..

“Bisa… kita butuh sebuah jantung sehat untuk didonorkan kepadanya, tapi kemungkinanya juga sangat kecil, tidak mungkin ada orang yang rela mendonorkan jantungnya.” Aku yang sudah tak tahan mendengar penjelasan dokter langsung bangkit dan berlari keluar dari rumah sakit.. Aku terus berlari, tak peduli tatapan orang-orang..Kini lariku berhenti tepat didepan sebuah gereja… tanpa pikir panjang aku langsung memasuki gereja itu..

Perlahan aku masuk, berjalan menuju mimbar gereja itu, kakiku lemah disaat itu juga aku terduduk menghadap Tuhan..

“Tuhannnnnn… Kenapa ini semua terjadi pada hidupku dan Unnieku eoh?”

Tuhann.. Tolong aku, apa yang harus aku lakukan? Hiks.. Umma…. Umma lihatlah aku.. walau aku tidak tau siapa dirimu Umma, aku yakin kau adalah yeoja baik yang menyayangiku bukan? Mianhae Umma.. karna melahirkanku kedunia ini kau harus pergi dari dunia ini Umma… Umma.. tolong tunggu aku disana Umma, aku akan segera menuju tempatmu… Aku… hiks.. aku lelah Umma… aku lelah ..

Aku berdiri dan duduk disalah satu kursi digereja ini, dan mulai memikirkan apa yang harus aku lakukan.

 

Flashback On

 

Author POV

 

“Appa, kita jadikan hari ini kepameran lukisan itu?” Tanya seorang yeoja kecil berumur 6 tahun kepada Appanya.

“Tentu saja yuri-ya, kajja.” Ajak appanya seraya menggandeng tangan mungil anaknya itu menuju mobil.

“Appa kenapa Umma dan Unnie  tidak mau ikut bersama kita?” Tanya Yuri pada Appanya yang sedang fokus menyetir itu.

“Unniemu sedang sakit chagi, jadi tidak bisa ikut dan Umma harus merawatnya.” Jawab Appanya lembut. Yuri seakan mengerti dan kembali larut dalam fikirannya. Namun malang, dari arah depan mobil mereka ada sebuah truck yang ingin berbelok  tiba-tiba membuat Appa Yuri bingung untuk mengarahkan mobilnya dan dengan cepat membanting setir kearah luar jalan dan tak dapat menghindari tiang listrik yang ada didepannya, Appa Yuri segera melepas safety belt nya dan berusaha mendorong tubuh kecil Yuri keluar dari mobil namun malang saat Appanya ingin keluar dari mobil……….

 

BRAKKKK!

 

“APPA!!!!” 

 

 

Flashback off

 

Back To Yuri POV

 

Aku memejamkan mataku mengingat kejadian itu, Appa…  Apa aku seorang  pembunuh? Apa aku seorang pembunuh appa? Appa!! Kenapa kau tidak membiarkanku untuk ikut denganmu eoh? Kenapa appa!! Kenapa kau biarkan aku hidup seperti ini, kenapa? Hiks.. Hiks..

Kesunyian dan kedamaian gereja ini penuh dengan amarahku, penuh dengan penyesalan ku, penuh dengan suara tangisku. Aku lelah, lelah menangis, aku menyandarkan kepalaku dikursi dan mengambil ponselku, pandanganku sudah kabur oleh airmata yang terus membanjiri mataku seharian ini. Ku tatap layar ponsel itu, disana ada fotoku dan Taeyeon Unnie bersama Duo Shikshinku saat kami pergi ke dufan untuk bermain, sangat menyenangkan..

Unnie? Kau masih bisa hidup Unnie, kau masih bisa… Sedangkan aku? Aku sudah tidak punya harapan hidup lagi Unnie..

 

Flachback On

 

“Dokter? Jangan keluar dulu, apakah ada yang menungguku diluar?” Tanyaku, saat dokter selesai memeriksaku. Ah appo, bagian ini sakit sekali sungguh.

“Ah bagaimana apa bagian sini masih sakit?” Tanya Dokter seraya menekan pelan perut bagian kananku ini.

“Ahkk Ne dokter, sakit sekali.” Rintihku. Perlahan kulihat guratan wajah doktet itu menjadi serius.

“ada seorang namja menunggumu diluar, aku akan menemuinya untuk memberitahu keadaanmu.”  Dokter itu ingin beranjak pergi keluar.

“Tunggu Dokter, jangan.. jangan beritahu padanya. Tolong, bicarakan saja padaku.” Pintaku pada dokter, aku yakin saat ini aku mengidap penyakit yang tak biasa dan aku tidak ingin Minho tau.

“Kenapa?.”

“karna dia bukan siapa-siapa, dia.. hanya teman sekolahku, jadi aku rasa dia tidak perlu tau tentang keadaanku.” Bohongku.

“Ah baiklah.” Dokter itu mengambil sebuah kursi dan mempersilahkanku duduk, kemudian dia juga duduk dikursinya.

“Katakan padaku, sejak kapan kau merasakan gejala-gejala sakit seperti ini?” Tanya dokter itu serius.

“Sudah sering, dan bahkan makin terasa saat aku kehilangan salah satu ginjalku dokter.”

“Aku mengerti, kerja ginjalmu sudah tidak maksimal menyebabkan hatimu yang memang terluka bekerja semaksimal mungkin membantu ginjalmu dan menyebabkan peradangan pada hatimu semakin parah.” DEG… radang hatiku?

“Apa itu tidak berbahaya dokter?” tanyaku takut-takut.

“Tidak berbahaya jika ditangani sejak dulu, tapi sekarang. Dengan terpaksa aku katakan, hatimu sudah sangat rusak dan dapat dengan cepat mengakhiri hidupmu.” Dokter itu mengatakannya dengan perasaan menyesal. Aku seketika memejamkan mataku, inilah yang selalu kulakukan untuk mendapatkan kembali kekuatan hidupku. Aku mencoba tersenyum, senyum pahit.

“Tapi dokter? Seberapa lama aku akan hidup? apa penyakitku itu tidak menular? Dan apakah aku sudah pasti tidak bisa sembuh dokter?” Tanyaku bertubi-tubi.

“Aku tidak tau, tapi aku akan memberikanmu obat untuk mengurangi rasa sakitmu. Ini resepnya. Dan untuk jenis penyakitmu ini, tidak menular.. hanya membahayakan penderitanya.. Dan.. Mianhae aku harus menyampaikannya, penyakitmu sudah tidak bisa disembuhkan.”Aku menghela nafas panjang mendengarnya dan tersenyum,  Dokter itu menyerahkan secarik kertas resep obat, aku mengambilnya dan segera pamit dari dokter tersebut, aku dapat merasakan tatapan kasihan dari dokter itu. Aku mohon dokter jangan mengasihaniku. Inilah yang akan menolongku untuk pergi dari dunia ini.

 

Flashback off

 

Aku tersenyum getir mengingatnya, hatiku? Ginjalku? Semua sudah rusak, bagaimana aku bertahan hidup? sedangkan Taeyeon unnie, hanya membutuhkan 1 jantung untuk bisa bertahan hidup, aku melirik sedikit tanganku, sudah sedikit menguning ya tubuhku sudah mulai menguning, pertanda bahwa penyakitku sedang menjalankan aksinya untuk merenggut hidupku. Aku menyimpan ponselku dan menyapu kasar airmataku. Baiklah.. sudah kuputuskan..

 

***

 

“Mwo? Kau yakin akan mendonorkan jantungmu untuknya?” Tanya Dr. Oh, Aku mengangguk yakin dengan senyum yang bisa aku berikan.

“Yakin. Sangat yakin.” Ujarku mantap.

“Kau tau kan? Apa resikonya jika kau mendonorkannya?”

“Tau, sangat tau. Tentu saja aku akan mati kan?”

“Jika kau tau, bagaimana kau ingin mendonorkannya?”

“Karna aku sudah tidak punya harapan hidup dokter, radang pada hatiku benar-benar menyebabkan kerusakan parah pada hatiku. Sedangkan Taeyeon Unnie? Dia masih mempunyai harapan hidup dengan semua organ tubuh yang masih bekerja sempurna, hanya jantung.. tentu saja jika jantungnya diganti dengan jantungku dia tetap akan bisa hidup kan?” Dokter itu nampak menatapku.

“Kau yakin?” Tanyanya lagi, aku hanya mengangguk. Aku terkejut dengan tangan Dr. Oh yang tiba-tiba menepuk-nepuk kepalaku.

“Kau.. Kau benar-benar menyayangi Unniemu ya. Baiklah.” Ujar Dr. Oh dengan mata yang aku yakin berkaca-kaca itu. Dia sangat tau bagaimana hubunganku dengan Umma, bagaimana seringnya aku menemui Taeyeon Unnie untuk sekedar menjenguknya di Rumah Sakit ini.

“Sangat.” Jawabku singkat dengan senyum simpul diwajahku.

 

SKIPP

 

Aku membuka sedikit pintu ruang ICU, aku yakin jika tidak dengan campur tangan Dr. Oh aku tidak dapat masuk kesini, karna memang ruangan ini tidak sembarang orang boleh masuk.

Aku memandang sendu wajah Taeyeon Unnie, aku hanya bisa menangis dalam hati sekarang. Perlahan kudekati tubuh Taeyeon Unnie yang terpasang berbagai macam alat kesehatan itu. Kupegang tangannya. Dingin… Unnie jika seperti ini, kau benar-benar sudah seperti mayat hidup .. tapi tenang Unnie, besok? Disaat operasi cangkok jantung ini berhasil, tanganmu yang dingin ini akan segera menjadi hangat. Dengan pelan, aku mencoba menyentuh wajah Taeyeon Unnie, sebisa mungkin aku menahan airmata yang sudah saling berdesakan ingin keluar dari mataku, pandanganku kabur tertutupi oleh airmata tertahan dipelupuk mataku.

“Unnie, saranghae… Aku menyayangimu, aku pamit padamu Unnie.. Tetaplah menjadi Unnieku.. saranghae.” Bisikku pelan ditelinga Taeyeon Unnie dan dengan lembut sekali, kukecup kedua pipi Unnieku bergantian. Aku segera mundur dan memalingkan wajahku, airmataku benar-benar tidak dapat ditahan sekarang. Pandanganku beralih kearah Umma yang sedang tertidur disamping Taeyeon Unnie. Aku mendekati tubuh Umma, kutatap lembut wajah sosok seseorang yang selama ini ingin sekali kusentuh.

Aku duduk dilantai, disamping kursi yang diduduki Umma… Aku menatapnya sambil menangis..

“Umma.. Apakah aku tidak pantas bahagia Umma? Umma.. andai kau tau? Ummaku bukan wanita jahat Umma… hiks… dia tidak pernah merebut Appa dari Umma.. Mianhae Umma..Umma… izinkan aku untuk tetap menganggapmu sebagai Ummaku.. Umma yang selama ini merawatku, Umma.. Gomawo, walau kau membenciku,tapi kau masih mau membesarkanku, aku tau Umma, dihati kecil Umma, Umma menyayangiku kan? Aku menyayangimu Umma, Saranghae.. aku menyayangimu.” Lirihku pelan, perlahan dengan tangan bergetar aku mencoba menyentuh tangan Umma, saat tanganku berhasil menyentuh Umma dengan cepat aku berlari keluar dan tangisku kini sudah tak bisa kutahan lagi.. aku.. berhasil menyentuhnya Tuhann.. Gomawo…

 

End Yuri POV

 

Author POV

 

Mrs. Kim sedikit tersentak ketika merasa seseorang berbicara padanya dan menyentuh tangannya tadi, dia bangun dan memperhatikan sekitarnya. Dipegangnya dadanya dan perlahan senyuman kecil tersungging di bibirnya, matanya sedikit mengeluarkan air mata.

“Nappeun, aku memang membencimu tapi aku tidak bisa melepasmu ketangan orang lain. Mianhae.” Ucap Mrs. Kim pelan. Perlahan dilihatnya dengan detail tangannya.

“Apa kau sudah tau tentang Ummamu?” Lirih Mrs. Kim. Mrs. Kim seakan sadar dengan perkataan Yuri tadi segera berdiri dan berlari kearah pintu, pandangannya diedarkannya berusaha mencari sosok Yuri.

“Mianhae… Kau.. Semoga kau tidak menganggap serius ucapanku yang mengusirmu tadi.” Batin Mrs. Kim.

 

***

 

Yuri POV

 

Tadi.. aku sempat membersihkan diri dirumah Umma setelah semalaman tidur di gereja, tentu saja tanpa sepengetahuan Umma karna aku sudah diusir bukan? Hehe beruntung sekali diriku pastur di gereja itu membiarkanku tidur disana. Hari ini aku berniat pergi kesekolah untuk terakhir kalinya, dapat kulihat kulitku sudah semakin menguning.. Huft setidaknya aku harus berterima kasih pada Tuhan karna tidak memberikanku penyakit yang menular, jadi aku masih bisa memeluk orang-orang yang aku sayangi untuk terakhir kalinya.

 

End Yuri POV

 

Author POV

 

Kini Yuri sudah sampai disekolah, Yuri selalu mempertahankan senyum seraya membawa sesuatu didalam tas kecil yang sedari tadi dipegangnya. Hal pertama yang dia lakukan yaitu pergi menuju kelas Minho. Yuri berhenti tepat didepan pintu kelas Minho dan langsung menatap Minho yang sedang duduk mematung sedangkan disamping Minho ada Taeyang dan Seungri juga teman-teman lain yang membuat keriuhan tersendiri dikelas itu. Yuri tersenyum melihat Minho, tanpa sengaja Minho melirik kearah pintu dan saat itu juga pandangannya bertemu dengan pandangan Yuri. Yuri tersenyum dan melambaikan tangannya, Minho yang melihat Yuri langsung berdiri dan berlari kecil menghampiri Yuri.

“Pagi Noona. Sedang apa?” Tanya Minho sedikit senang juga heran, dia memperhatikan Yuri dari bawah sampai keatas. Ada sesuatu yang janggal dihati minho, tapi dengan cepat ditepisnya.

“Tentu saja melakukan apa yang kau lakukan dulu sebelum menjadi namjachinguku.” Ujar Yuri dengan senyum mengembang. Minho melirik kekiri dan kanan, Yuri bingung dengan sikap Minho itu.

“apa yang kau cari?” Tanya Yuri.

“tidak ada Taeyeon Noona?” Tanya balik Minho, Yuri menggeleng.

“Dia sakit Minho-ya.” Minho mengangguk mengerti.

“Baiklah, sekarang kau harus habiskan ini. Aku membuatnya khusus untukmu.” Yuri mengambil sesuatu dari tas kecil yang dibawanya dan diserahkannya ke Minho. Minho mengambilnya.

“Bekal? Tumben sekali.”

“Karna aku ada waktu membuatnya makanya aku buatkan.” Minho mencubit hidung Yuri gemas.

“Ya!! Apa yang kau lakukan.” Sungut Yuri.

“Bogoshipo.. Ah kajja kita kekelasmu Noona, aku akan mengantarmu.” Ajak Minho seraya menarik lembut tangan Yuri. Yuri hanya mengikutinya.

“Sudah sampai, masuklah. Aku akan memperhatikanmu masuk kelas dari sini.” Titah Minho, Yuri mengangguk dan mengecup singkat pipi Minho. Minho hanya melebarkan matanya atas prilaku Yuri.

“Ciuman semangat untuk sekolah hari ini.” Ujar Yuri seraya berjalan masuk kedalam kelasnya. Minho mengelus pipinya dan seketika tersenyum girang lalu berlari menuju kelasnya.

“Pagi-pagi sudah menunjukan kemesraan didepan kami. Oh anak muda.” Goda Sooyoung, Yuri hanya mempoutkan bibirnya kearah Sooyoung dan mengambil posisi duduk diantara Sooyoung dan Yoona.

“Haha. Lihatlah wajahmu Yul. Merah sekali.” Kekeh Yoona.

“Merah? Apa kau tidak salah liat.”  Tanya Yuri, Yoona mengernyitkan dahinya menatap Yuri

“Yul kulitmu kenapa?” Tanya Yoona heran, Sooyoung ikut menatap Yuri. Yuri tersenyum simpul tak menjawab dan mulai mengeluarkan isi dari tas kecil yang dibawanya.

“Ini untuk Duo Shikshinku.” Ujar Yuri seraya menyerahkan kotak bekal masing-masing ke SooNa. SooNa mengambil bekal itu dan menatap Yuri heran.

“Karna aku sempat membuatnya makanya aku buatkan untuk kalian.” Jawab Yuri cepat. SooNa langsung memeluk Yuri bersamaan.

“Gomawo My Yul.” Ujar  SooNa serentak.

Tak lama bel tanda kelas dimulaipun berbunyi.

 

SKIPPP

 

Kini Yuri dan SooNa menikmati makanan mereka ditaman belakang sekolah, dengan semilir angin musim gugur saat itu dan beberapa pepohonan yang menjatuhkan daun-daunnya lembut, membuat suasana makan Yuri dan SooNa nyaman. Sesekali Yuri menghentikan kegiatan makanannya dan memandang kedua sahabatnya itu makan dengan lahapnya. Tak terasa sebuah senyuman senang tersungging dibibir kecil Yuri. Yoona yang sadar akan tatapan Yuri menghentikan makanannya dan memiringkan kepalanya menatap Yuri.

“Yul? Kau tidak makan? Kenapa memandang kami seperti itu?” Heran Yoona. Sooyoung yang mendengar itu juga menghentikan makannya.

“Aku tidak lapar, makanlah bukankah itu aku masakan khusus untuk kalian berdua.” Ucap Yuri lalu memalingkan pandangannya, menatap lurus kedepan. Perlahan Yuri memejamkan matanya seolah meresapi semilir angin yang menerpanya saat itu.

“Youngie? Yoongie? Bolehkan aku meminta sesuatu pada kalian?” Ujar Yuri tak merubah posisinya. SooNa saling melempar pandangan bingung lalu beralih menatap Yuri lagi, saat ini SooNa tau benar Yuri sedang dalam masalah. Sooyoung sudah menceritakan semuanya ke Yoona.

“Yul? Kau ingin meminta apa pada kami?” Tanya Yoona lembut seraya meletakan sumpit dan mendekatkan duduknya kearah sisi kiri Yuri, begitupun Sooyoung yang mendudukan dirinya disisi kanan Yuri.

“Peluk aku, berikan aku sesuatu yang dapat membuatku semangat untuk menjalani semuanya, untuk yang terakhir kali.” Ucap Yuri masih dengan mata tertutup. SooNa lagi-lagi hanya saling menatap bingung, tapi dengan anggukan Sooyoung akhirnya mereka memeluk Yuri.

“Pelukan semangat untuk sahabatku tersayang.” Ujar Sooyoung yang ntah kenapa mulai mengeluarkan airmatanya mengingat cara Yuri menangis memeluk Ummanya semalam.

“Pelukan semangat untuk sahabatku tercinta.” Ujar Yoona yang juga menangis saat itu, Yuri menunduk merasakan pelukan kedua sahabatnya ini. Sahabat yang selalu ada untuknya, sahabat yang selalu mengisi hari-harinya yang sepi, sahabat yang selalu mengajarkan tentang arti kebersamaan. Perlahan Yuri melepaskan pelukan kedua sahabatnya itu, seutas senyum terukir indah dibibir Yuri. Yuri memandang sahabatnya bergantian.

“Kalian.. Duo shikshinku gomawo.. gomawo sudah hadir dalam hidupku. Aku bahagia memiliki kalian.” Ucap Yuri, dengan tatapan lirih.

“Cheonma Yul. Aku juga bahagia memiliki sahabat seperti kau dan Sooyoung.”

“Ne Yul, aku juga. Tapi kau jangan berbicara dengan nada dan tatapan seperti itu, aku tidak suka.” Sahut Sooyoung dengan tawa yang dipaksakan, hatinya saat ini gusar ntah kenapa, dia seolah-olah merasakan sesuatu yang tidak baik akan menimpa sahabatnya begitupun Yoona, walau dia diam segelumuk perasaan khawatir akan Yuri amat terasa dihatinya sekarang, Yuri menatap haru sahabatnya bergantian, dan dengan airmata yang sudah mulai membasahi pipinya dia memeluk sahabatnya itu erat. Sangat erat seolah tidak ingin melepas keduanya.

“Aku harap ini bukan pertemuan terakhir kita, tapi takdir berkata lain.” Batin Yuri lirih.

 

  ***

 

Kini Yuri dan Sooyoung berada diruang tamu keluarga Choi, Yuri ingin menemui Umma Sooyoung untuk bertanya dimana makam Ummanya.

“Yul?” Panggil Umma Sooyoung yang baru saja tiba. Yuri berdiri dan kemudian menunduk kearah Umma Sooyoung.

“Ahjumma? Bolehkah aku minta ahjumma memberitahu dimana makam Ummaku? Aku ingin mengunjunginya.” Pinta Yuri. Umma Sooyoung tersenyum dan mengelus rambut Yuri.

“Hmm. Mianhae, Umma tidak bisa menemanimu karna ahjumma ada suatu urusan mendesak, tapi kau tenang saja chagi, ahjumma akan memberimu catatan petunjuk jalan makam Ummamu.” Umma Sooyoung berjalan kearah kamarnya dan meninggalkan Yuri sebentar.  Yuri duduk dengan tenang mengedarkan pandangannya kesekeliling rumah ini.

“Yul? Kau melihat apa?” Tanya Sooyoung membuyarkan pikiran Yuri.

“Oh anni.. hehe aku pasti akan merindukan tempat ini.” Jawab Yuri, Sooyoung menautkan alisnya heran. Tapi saat dia ingin bertanya Ummanya sudah datang.

“Ini… Sooyoungie… Kau bisa menemani Yuri kan?” Tanya Umma Sooyoung.

“Tentu saja bis…”

“Anni ahjumma .. Sooyoungie.. kalian pasti mempunyai urusan masing-masing. Aku bisa pergi sendiri.” Jawab Yuri memotong perkataan Sooyoung.

“Aish, Yul. Aku antar saja ya.” Pinta Sooyoung, Yuri menggeleng. Sooyoung yang tau pasti sikap yuri hanya mendesah berat.

“Aku ingin berbicara serius dengan Ummaku.” Ucap Yuri.

“Dasar keras kepala.” Cibir Sooyoung. Yuri memeluk Singkat Sooyoung.

“Aku sayang Sooyoungie.” Ujar Yuri. Sooyoung akhirnya tersenyum dan mencubit pelan hidung Yuri.

“Aku juga menyayangi my Yul.” Ucap Sooyoung, Ummanya hanya memandang haru kedua sahabat itu. Yuri melepaskan pelukannya pada Sooyoung  dan perlahan melangkah mendekati Umma Sooyoung dan memeluknya.

“Ahjumma, Gomawo buat semuanya.. Gomawo.. Mianhae… Aku menyayangimu.” Ujar Yuri dengan tangisan terisaknya. Umma Sooyoungpun membalas pelukan itu dengan tangisan yang sudah tidak bisa dipendam.

“Cheonma… Ahjumma juga sangat menyayangimu.” Balas Umma Sooyoung, Sooyoung menutup matanya kuat, menahan tangisnya yang hampir meledak melihat sahabatnya itu.

 

***

 

Yuri duduk disamping makam yang sudah terlihat usang namun masih terawat, Umma Sooyoung selalu menyuruh pelayannya untuk membersihkan makam Tiffany.  Yuri menatap sendu nisan bertuliskan nama “Hwang Tiffany” itu.

“Hwang Tiffany? Umma.. namamu sungguh indah, bagaimana jika namaku mengikuti namamu. Hwang Yuri.. hehe lumayan.” Canda Yuri sambil mengelus pelan nisan itu.

“Umma? Mianhae… karna melahirkan Yuri kau harus merelakan nyawamu Umma.. Mianhae.. jeongmal Mianhae.” Yuri mulai mengeluarkan setitik demi setitik bulir-bulir bening dari matanya.

“Umma? Tunggu Yuri disana ne.. sebentar lagi, Yuri akan menyusulmu dan kau harus berjanji Umma untuk menunggu Yuri. Karna anakmu ini, ingin sekali melihat dan merasakan pelukan kasih sayangmu. Hehe.” Yuri terus berbicara sendirian ditengah makam yang sepi itu, Yuri terkesiap saat seseorang mengalungkan tangan ke lehernya. Yuri berbalik dan terkejut melihat orang itu.

“Minho-ya?” Kaget Yuri seraya berdiri menghadap Minho. Minho menggembungkan kedua pipinya.

“Jahat… kenapa tidak menungguku sepulang sekolah tadi.” Rajuk Minho. Yuri seketika tersenyum mendengar itu.

“Habisnya aku ada urusan Minho-ya.”

“Urusan? Urusan kemakam Ummanya Noona? Kenapa tidak mengajakku?” Minho terus saja menunjukan kekesalannya pada Yuri.

“Kau… bagaimana kau tau?”

“Sooyoung Sunbae sudah menceritakan semuanya padaku, tadi aku mencari Noona ke rumahnya.” Jelas Minho.

“Ternyata aku bukan adik kandung taeyeon Unnie.” Lirih Yuri seraya melemparkan pandangan tak tentu. Minho memegang kedua punggung Yuri dan memposisikan tubuh Yuri menghadapnya.

“Chagi?” Panggil Minho lembut, Yuri menatap minho dan kemudian menangis lagi.

“Walau dia bukan Unnieku tapi aku menyayanginya Minho-ya, aku mohon bahagiakan dia.” Minho menatap tak percaya kearah Yuri.

“Noona apa maksud Noona?” Heran Minho.

“Kita selamanya tidak akan bisa bersatu Minho, tapi hari ini .. bisakah aku memintamu untuk menjadi namjachingku dan menemaniku seharian ini?”

“Noona… bagaimana kau bisa berbicara seperti itu, tentu saja.. Aku milikmu selamanya.” Jawab Minho, Yuri yang mendengar itu langsung memeluk Minho singkat lalu menatap Minho dengan senyum mengembangnya.

“Kau mau aku kenalkan pada Ummaku? Kajja.” Yuri menarik tangan Minho untuk ikut duduk bersamanya.

“Umma? Kau lihat namja kecil yang bersama Yuri ini? Dia adalah namja paling baik setelah Appa yang Yuri temui.”

“Ya!! Noona kenapa kau mengataiku namja kecil.” Protes Minho dengan nada berbisik, seolah-olah memang yang mereka hadapi saat ini adalah tubuh Fany. Yuri menatap Minho sekilas lalu kembali menatap makam Ummanya.

“Umma.. namanya Choi Minho.. Dia..” Yuri menghentikan kata-katanya, ntah apa yang ada dihatinya dia benar-benar tidak dapat menahan air mata itu. Minho mengelus pelan punggung Yuri lalu menatap makam fany.

“Annyeong Ahjumma…. Choi Minho imnida… Ahjumma kau tau? Aku mencintai putrimu ini, hmmm tolong restui kami Ahjumma. Aku berjanji akan menjaganya.” Minho tersenyum penuh arti setelah mengucapkan itu, Yuri makin terisak mendengar itu. Perlahan Minho menarik tubuh Yuri kedalam pelukannya.

“Chagi… Jangan menangis, aku tidak suka melihatmu menangis.” Ujar Minho lembut, Yuri berusaha meredam tangisnya dan mengangkat kepalanya menghadap Minho.

“Chagi.. Kajja, kita kemakam Appa.” Yuri berdiri dan mulai berjalan mengandeng tangan Minho untuk mengikutinya.

Kini Yuri dan Minho sudah ada disebelah makam Appa Yuri. Yuri mengelus pelan nisan itu..

“Appa? Mianhae… mianhae telah menyusahkanmu untuk menjagaku saat aku masih kecil. Appa.. Dulu kau mengajari Yuri untuk tidak pernah menyerah dengan kehidupan kan? Tapi sekarang saatnya Yuri menyerah, bukan tak mampu untuk bertahan. Tapi keadaan yang memaksa Yuri menyerah appa.” Batin Yuri. Minho menatap Yuri dan kemudian mengelus punggung Yuri pelan, berusaha memberi kekuatan pada Yeojachingunya. Yuri memejamkan matanya sejenak…

“Appa?? Ummaku Yeoja yang baik bukan? Umma Taeyeon Unnie juga yeoja yang baik bukan? Appa? Gomawo… Gomawo telah menjaga Umma Yuri dlu, Gomawo telah memberi kebahagiaan untuk Yuri dan Gomawo telah mempertemukan Yuri dengan seorang Unnie yang menyayangi Yuri dan seorang Umma yang menjaga Yuri.” Ujar Yuri dalam hati. Yuri bangkit dan sejenak tersenyum memandang Minho.

“Kajja.” Ajak Yuri, Minho tersenyum dan mengangguk.

 

Yuri duduk dikursi taman tempat biasa dia dan Minho berada. Yuri seperti biasa, menyandarkan tubuhnya kedada bidang Minho, sedangkan Minho hanya memainkan rambut lurus hitam milik Yeojachingunya itu.

“Chagi.. berjanjilah padaku untuk tetap hidup bahagia.” Ujar Yuri dengan mata tertutup.

“Tentu saja aku akan hidup bahagia, bersamamu Noona.” Jawab Minho, Yuri membuka mata dan duduk mensejajarkan dirinya dengan duduk Minho. Yuri menatap Minho yang saat itu juga menatapnya.

“Kau tau? Kau seseorang yang berharga untukku.” Ucap Yuri lembut.

“Dan Noona tau? Noona adalah seorang Yeoja yang sangat berarti untukku.” Balas Minho, Yuri menatap haru Minho lalu menenggelamkan kepalanya kedada Minho.

“Saranghae.” Ujar Yuri.

“Nado saranghae Noona.” Minho mengecup singkat puncak kepala Yuri.

“Ah aku rasa My Noona sedang ingin bermanja-manja denganku, benarkah?” Tanya Minho pada Yuri yang masih menenggelamkan kepalanya.

“Hehe, tentu saja. Hari ini aku akan bermanja-manja denganmu.” Jawab Yuri dengan suara parau, Minho mengernyitkan dahinya mendengar suara Yuri dan dengan lembut mengangkat (?) kepala Yuri untuk menatapnya.

“Mwo? Kau menangis Noona? Waeyo?” Tanya Minho. Yuri menggeleng dan menghapus airmatanya.

“Anni, aku hanya bahagia bisa bersamamu sekarang.” Minho tersenyum dan memandang Yuri lama.. Minho memegang kedua pipi Yuri lembut dan  mulai mendekatkan wajahnya ke Yuri, Yuri yang tau maksud Minho mencoba memejamkan matanya. Kini bibir Minho berhasil menyentuh bibir mungil Yuri, awalnya hanya menempel tapi lama-kelamaan Minho mulai menggigit kecil bibir bawah Yuri, Yuri yang menerima perlakuan itu mencoba membalas ciuman Minho. Kini lumatan Minho pada bibir Yuri semakin dalam, suasana taman yang sepi itu membuat Minho dan Yuri semakin asyik dengan kegiatan mereka. Ciuman itu berlangsung lama sampai akhirnya Yuri mendorong kecil tubuh Minho, Yuri nampak mencoba mengatur nafas begitupun Minho.

“Aku rasa sudah cukup Chagi.” Ujar Yuri dengan senyum khasnya. Minho membalas senyum itu dan menarik lembut tubuh Yuri untuk memeluknya.

“Saranghae.” Desah Minho.

“nado saranghae Minho-ya.” Jawab yuri didalam pelukan Minho. Minho melihat sekilas kulit Yuri yang semakin menguning, dengan cepat Minho melepaskan pelukannya pada Yuri. Minho mengambil tangan yuri dan memperhatikannya dengan seksama.

“Chagi ada apa?” Tanya Yuri heran.

“Chagi? Kenapa kulitmu berwarna seperti ini? Kau sakit?” Tanya Minho, Yuri melebarkan matanya tapi dengan cepat dia menggeleng.

“Aku tidak apa-apa.” Bohong Yuri, Minho menatap Yuri serius.

“Chagi.. Bisakah aku meminjam sapu tangan yang kau gunakan untuk mengelap keringatku beberapa waktu lalu?”

“Kalau Noona mengambilnya untuk dicuci aku tidak mau.”

“Anni.. aku tidak akan mencucinya.” Minho menatap Yuri sambil mengambil sapu tangan itu dari dalam tasnya lalu menyerahkannya ke Yuri. Yuri mengambil sapu tangan itu, memandangnya dan menciumnya lembut.

“Noona apa yang kau lakukan?” Heran Minho, Yuri tersenyum dan menyerahkan sapu tangan itu ke minho.

“Jika kau merindukanku, kau tinggal melihat sapu tangan itu saja.” Ujar Yuri, Minho mengambil sapu tangan itu dengan tatapan bingung.

“Noona kau aneh sekali.”

“Sudahlah, kajja pulang.” Yuri mencoba bangkit dan berjalan mendahului Minho, Minho hanya mendesah nafas berat lalu berdiri mengikuti Yuri.

 

   Go to PART 4B..  ^_^

Tagged: , , , ,

19 thoughts on “Why Umma? (PART 4A)

  1. Vina Berliana Kimberly Desember 23, 2012 pukul 10:53 am Reply

    akhurnya update juga!!!! aku suka banget lanjut terus thor……

    • yuuripico26 Desember 24, 2012 pukul 2:19 am Reply

      hehe syukurlah klw suka… ^^ sip d lanjut😄

  2. Rositaemin^^ Desember 23, 2012 pukul 2:08 pm Reply

    Mana part 4Bnya thor ???(-,-? )/
    Ini FF mengharukan banget siiihh ?? *nangis bombay*
    Authooorrrr,,, Buatlah Minyul bahagiaa jangan biarkan hidup Yuri berakhir *emg saya siapa berani ngatur ?? Wkwk* Lanjut Thorr FIGHTING !! Oh ya WW part 13 cepetan yaakk .-.😄

    • yuuripico26 Desember 24, 2012 pukul 2:21 am Reply

      part 4B nya msh d tahan bentar .. hehe.. tp ga lama lg kok ^^
      cup cup cup… #tebar tissue…
      hehe liat d part B nnti ya😀 wkwkwkkw WW secepatnya nyusul… hbs ff ini WW d lanjut.. hoho..😄

  3. Yurisistable Desember 23, 2012 pukul 4:41 pm Reply

    Terharu thor bacanya😥 kasian banget yurinya…. Entar kalo yuri udah ga ada kasihan minho nya dong thor, ditinggal sama yuri… Lanjutkan thor, aku tunggu nih kelanjutannya hehe, kelanjutan WW parrt 13 nya juga ya thor😉 wkwkk

    • yuuripico26 Desember 24, 2012 pukul 2:22 am Reply

      huhu u,u ia bener ksian.. :’) #mianhae yulnie..
      hehe sip.. di tunggu ya😄 wkwkkw iya yg WW jga d tunggu ya😀

  4. FriskaLee93 Desember 23, 2012 pukul 7:18 pm Reply

    Hwee..eee..*nangis bombay* thor sedih bgt bca part in.. Kasian yul eonni thor, jngan biarin dia mati dong?.. Klo mati bagaimana dengan Minho..? Next Part jngn lm2 ya.. N jngn lupa lnjutanx ff WW mu jg.. Q tunggu..ok;)

    • yuuripico26 Desember 24, 2012 pukul 2:24 am Reply

      hehe #kasih tissue…🙂
      hiks,,, iya ksian😥 jawabannya ada d next part🙂 hehhee sip WW pasti ga lupa kok ^^ d tunggu ya😀

  5. mithaaa Desember 23, 2012 pukul 9:01 pm Reply

    😥😥😥
    Menyedihkan sekali…
    Ditunggu kelanjutannya😀

  6. justyurisistable Desember 24, 2012 pukul 3:25 am Reply

    sedih,… please jgn biarkan yuri oennie matii..😥

  7. Hwang Na Ri Februari 24, 2013 pukul 3:17 pm Reply

    author kebangetan udah bikin q nangis gara2 baca ni ff. Mana tanggung jawabmu thor. Hiks hiks jangan jahat dong umma kim. Hwaiting yuri ya

  8. sela Februari 28, 2013 pukul 1:54 pm Reply

    sedih banged.. selalu ada air mata..

    tp asik y punya sahabat n namjacingu ky mereka..

    wuahhh mauu…
    tp gk mau dgn penderitaan.a..

    hehehe

  9. 신하린 Maret 15, 2013 pukul 9:07 pm Reply

    Huaaaa sedih banget…Pliss thor jangan bikin Yuri eonni mati…hikss

  10. eni enooy Mei 3, 2013 pukul 9:49 am Reply

    hemm cuman baca aja perasaanku nggak karuan kasian banget sih Yuri eonni :* :* ayo semangaat Yuri eonni!

  11. Sara Desember 12, 2013 pukul 7:41 am Reply

    Aduh..Sedih bangeet

    Itu umma nya knp hayi nya agak lembutan sekarang?coba aja kl ibu yul masih hidup,yul pasti bahagia sekarang :’)

  12. Park Ahra Februari 7, 2014 pukul 6:56 pm Reply

    Bikin mewek thor, masa yurinya mau meninggal gitu, ga tega baca dia di hari terakhirnya/? Keren thor

    • yuuripico26 Februari 9, 2014 pukul 10:34 am Reply

      huhu u,u ia.😥 mkasih ya. jgn pnggil thor :p

  13. oebayoonyul Juni 18, 2014 pukul 6:46 am Reply

    sone of sad ff that i’ve read.. sedihhhhhh
    yul anaknya tiffany kkkkkk

Yuk tinggalin jejaknya (ʃƪ˘ﻬ˘)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: